Home / Romansa / Kontrak Suci / 107~Sampai Kapan pun

Share

107~Sampai Kapan pun

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-10-06 23:20:43

Bab ini free, ya ~ Hepi ridiiing 

💙💙💙💙💙💙💙

“Jadi, kalian betul-betul mau ngebiarin Bapak hidup begini? Sendirian?”

Suci yang baru berbalik dan berniat pergi itu, tidak jadi mengayunkan kaki ketika mendengar suara Ginanjar. Tubuhnya kembali berputar bersama Sahli dan menghela lelah saat menatap bapaknya. 

“Hidup itu pilihan,” ujar Suci menarik napas panjang. “Aku sudah bilang, kami bertiga masih membuka pintu dengan lebar buat Bapak. Jadi, semua keputusan ada di tangan Bapak.”

“Kamu bisa ngomong begitu, karena kehidupanmu sekarang sudah enak.” Ginanjar kembali memberi alasan untuk membantah.

“Justru karena hidupku sekarang sudah enak, itu yang mau kujaga,” balas Suci kembali menarik napas. “Aku, Sahli, sama Hadi nggak mau lagi hidup kayak dulu.”

“Dan harusnya Bapak mikir,” timpal Sahli menyambung dengan cepat. “Kalau kami mau, kami bisa kok, nggak peduli sama Bapak. Kami bisa langsung putus hubungan sama Bapak. Apalagi kalau ingat semua yang sudah Bapak lakuin ke kami, terutama sama Hadi, sama Ibu.”

“Sombong kalian, ya!” sahut Nurul.

“Nggak usah ikut campur!” bentak Sahli sudah muak dengan tantenya yang satu itu. “Tante selama ini bisanya cuma jadi kompor! Aku tau, Tante itu nggak suka lihat keluarga kami tenang!”

“Kurang ajar!” Bahlil berdiri seketika untuk membela istrinya sambil menunjuk Sahli. “Kalian itu–”

“APA!” Sahli memutus berang. Tidak mau kalah dan mengalah seperti dulu. “Om mau ngomong kalau keluarga Om sudah bantu keluarga kami? Sekarang aku tanya, bantuan yang mana? Pinjaman yang pake bunga sampe 100 juta? Atau, bantuan yang katanya jagain keluarga kami dari debt collector? Pake acara naroh Irul di rumah, terus Hadi dijadiin babu gitu?”

“Li, sudah, Li,” bisik Suci menelan ludah sambil menggenggam erat lengan adiknya. Tangannya sedikit tremor, karena Bahlil dan Sahli terlihat sama-sama emosi.

Suci khawatir, mereka berdua akan berakhir baku hantam. Ia hanya tidak ingin melihat adiknya terluka.

“Kita pulang aja,” ajak Suci menarik lengan Sahli, tetapi adiknya itu bergeming di tempat. “Nggak ada utungnya ngeladenin mereka.”

“Nggak,” tolak Sahli menarik keras lengannya hingga terlepas dari Suci. “Kita selesaikan semuanya sekarang. Aku capek punya keluarga kayak kayak gini. Kalau ada uang kita di dekat-dekatin. Kalau nggak ada uang, kita dijadiin babu. Nggak ada harganya sama sekali.”

“Lihat kelakuan anakmu, Bang!” Nurul ikut bangkit. Tidak terima dengan ucapan Sahli. “Mentang-mentang sekarang hidupnya sudah enak, langsung belagak! Padahal yang kaya juga Arif, bukan kalian berdua!”

“Te–”

“PAK!” Suci memutus keras ucapan Sahli. Ia bergeser dan berdiri di hadapan adiknya, menatap Ginanjar. Lelah rasanya jika harus terus berdebat dengan orang-orang seperti Nurul ataupun Bahlil. 

“Sekali lagi aku bilang, aku nggak mau ribut. Keputusan ada di Bapak. Kalau masih mau hubungan ini tetap ada, tolong berubah. Tapi kalau masih mau nurutin ego di umur dan status Bapak yang sekarang, aku angkat tangan.”

Suci menarik napas cepat, lalu beralih menatap Nurul dan Bahlil bergantian. “Kalau Om sama Te Nurul nganggap kami durhaka dan kurang ajar, ya, sudah. Anggaplah kami memang seperti itu. Jadi, jangan pernah lagi anggap kami keluarga.”

“Sok bener kamu–”

“Te, sudah!” Suci refleks membentak Nurul yang baru membuka mulut. 

“Berani-beraninya–”

“OM!” Suci pun langsung membentak Bahlil yang kembali mencoba membela istrinya. “Sudah ya! Aku capek! Aku ke sini cuma mau bicara sama Bapak. Aku, Sahli, bahkan Bapak sekali pun nggak pernah ikut campur dengan urusan keluarga kalian. Jadi, jangan campuri urusan keluarga kami.”

“Kalian memang nggak ikut campur,” bantah Nurul menunjuk-nunjuk Suci. “Tapi kalau ada apa-apa, ke mana larinya kalau nggak ke kami? Nggak ingat, tuh, ibumu bawa kabur uang yang–”

“Uang itu sudah kubayar LUNAS dengan BUNGANYA!” putus Suci dengan kedua tangan mengepal erat. 

“Sekarang ujung-ujungnya uang,” sahut Bahlil.

“Kami belajar itu semua dari kalian,” timpal Sahli kembali bersuara. “Om sama Te Nurul juga gitu, kan? Semua-semua ujungnya pasti uang.”

“Kalian–”

“CUKUP!” sentak Ginanjar mulai muak sendiri mendengar perdebatan sejak tadi. “Kalian berdua pulang,” tunjuknya pada Bahlil dan Nurul. “Sekarang!”

“Bang!” Nurul menghentak kaki tidak terima. 

“Keluar!” usir Ginanjar sekali lagi, kemudian memijat kepalanya karena terlalu pusing untuk mencerna semua hal yang terjadi di depan mata. “Sakit kepalaku lihat kalian ribut dari tadi!”

“Abang jangan mau diatur-atur sama mereka,” timpal Bahlil menunjuk Suci dan Sahli bergantian. “Mereka itu–”

“Keluar!” sentak Ginanjar akhirnya berdiri dan menunjuk ke arah pintu. 

Nurul mendesis tajam. Ia menarik tangan suaminya, lalu keluar sambil menatap sinis pada Sahli dan Suci bergantian. Harusnya, keponakannyalah yang diusir keluar karena sudah keterlaluan, bukan mereka. 

“Mau Bapak gimana sekarang?” tanya Sahli setelah kedua orang itu pergi dari rumah mereka. “Andai Bapak nggak mau, kami juga nggak rugi apa-apa. Dan kita lihat, sampe kapan Om Bahlil sama Te Nurul bisa baik sama Bapak.”

Ginanjar membuang napas panjang dan kembali duduk di kursi. Sebenarnya, ia kesal karena kedua anaknya tidak menuruti permintaannya. Bahkan, baik Suci maupun Sahli tidak lagi mau mendengarkan ucapan om dan tantenya sama sekali. 

“Pak …” tegur Suci ingin mengakhiri pembicaraan mereka secepatnya. “Kalau Bapak butuh waktu buat berpikir, kami kasih waktu sampe besok pagi. Kalau nggak ngasih kabar, ini bakal jadi terakhir kalinya kami nginjakkan kaki di rumah ini.”

“Jangan sampe masuk penjara lagi,” pesan Sahli keras dan tegas. “Jadi, sudah-sudah buat masalah.”

“Dan harusnya Bapak mikir,” timpal Suci mulai menurunkan nada bicaranya. “Antara kami sama Te Nurul, siapa yang lebih mau ngurusin semua kebutuhan Bapak? Apa mereka mau nanggung semua keperluan rumah?”

“Mereka itu, taunya cuma ngomporin Bapak,” sahut Sahli lagi. Ia sudah malas bicara baik-baik dengan bapaknya itu. “Mikir dikitlah, Pak! Kami begini karena Bapak itu masih orang tua, walaupun nggak nggak becus!”

“Makin kurang ajar kamu sekarang,” balas Ginanjar hanya bisa berdecak. 

“Karena ngomong sama Bapak itu nggak bisa baik-baik,” ujar Sahli. “Pokoknya, sekarang terserah Bapak.”

Sahli meraih siku Suci. Bersiap membawa kakaknya keluar dan pulang. “Kami sudah ngasih kesempatan buat tobat dan jalani hidup dengan benar. Kalau Bapak masih mau kayak dulu, silakan. Tapi, jangan pernah lagi anggap kami keluarga! Sampai kapan pun!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (17)
goodnovel comment avatar
Helviasanty Hamid
semakin jarang up
goodnovel comment avatar
Ari Yanti
nungguin suci mbk
goodnovel comment avatar
Winda Fauziah
makin jarang UP sekarang mbk Beib
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   107~Sampai Kapan pun

    Bab ini free, ya ~ Hepi ridiiing 💙💙💙💙💙💙💙“Jadi, kalian betul-betul mau ngebiarin Bapak hidup begini? Sendirian?”Suci yang baru berbalik dan berniat pergi itu, tidak jadi mengayunkan kaki ketika mendengar suara Ginanjar. Tubuhnya kembali berputar bersama Sahli dan menghela lelah saat menatap bapaknya. “Hidup itu pilihan,” ujar Suci menarik napas panjang. “Aku sudah bilang, kami bertiga masih membuka pintu dengan lebar buat Bapak. Jadi, semua keputusan ada di tangan Bapak.”“Kamu bisa ngomong begitu, karena kehidupanmu sekarang sudah enak.” Ginanjar kembali memberi alasan untuk membantah.“Justru karena hidupku sekarang sudah enak, itu yang mau kujaga,” balas Suci kembali menarik napas. “Aku, Sahli, sama Hadi nggak mau lagi hidup kayak dulu.”“Dan harusnya Bapak mikir,” timpal Sahli menyambung dengan cepat. “Kalau kami mau, kami bisa kok, nggak peduli sama Bapak. Kami bisa langsung putus hubungan sama Bapak. Apalagi kalau ingat semua yang sudah Bapak lakuin ke kami, terutama sa

  • Kontrak Suci   106~Untuk Selamanya!

    “Roman-romanya begitu,” ujar Arif menjawab pertanyaan Ivan mengenai Ginanjar. “Awal datang, dia minta ikut tinggal di sini sambil marah-marah. Terus tadi, semuanya berubah 180 derajat. Tapi tetap kelihatan kalau tujuannya masih sama. Cuma caranya aja yang beda.”“Dan kamu diam aja?”“Selama dia nggak buat masalah, ya, sudah.”“Berarti, ada di penjara nggak membuat dia berubah,” ujar Ivan menarik kesimpulan. “Yang aku tangkap dari obrolan Suci sama Sahli, Bapaknya memang nggak berubah,” terang Arif.“Uang?”Arif mengangguk. “Uang, status sosial. Intinya, semua nggak jauh-jauh dari situ.”“Kalau dibiarkan, pasti jadi benalu.” “Hm.” Arif menyerahkan tabletnya pada Ivan. Meminta ayahnya untuk melihat laporan keuangan sementara. “Tapi Suci sama adik-adiknya tetap jaga jarak dengan Bapak mereka.”Ivan menatap deretan angka-angka di layar dengan mengerut dahi. Sejurus itu, ia kembali menyerahkan tablet tersebut pada Arif. “Kacamata Ayah di mobil,” ujar Ivan. “Kirim ke e-mail aja.”“Oke.” A

  • Kontrak Suci   105~Berhadapan Langsung

    Begitu pintu pagar rumah Arif ditutup, Ginanjar langsung berdecih kesal. Ia sudah datang baik-baik, tetapi tetap saja keduanya memasang jarak yang sangat jelas. Baik Suci maupun Arif, seolah kompak menghindarinya dan tidak memberi celah untuk mendekat. Namun, sebelum sempat menarik gas, Ginanjar terpaku di tempat karena sebuah sedan hitam yang berbelok perlahan dan berhenti di sampingnya. Ia mengurungkan niat untuk pergi dan memilih menunggu karena penasaran. Siapakah gerangan yang ada di dalam mobil tersebut.Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil. Justru sebaliknya, Ginanjar melihat Jaja membuka pintu pagar tidak lama setelah mobil tersebut membunyikan klakson. Pria itu membiarkan pagar terbuka lebar sampai sedan tersebut masuk ke dalam carport.“Siapa, Pak?” tanya Ginanjar masih berada di motornya. Jaja tersenyum sopan. “Tamu, Pak,” ucapnya lalu bergeser ke balik pagar dan menutupnya kembali dari dalam. Ginanjar mendengkus ker

  • Kontrak Suci   104~Masih Ada Hari Esok

    “Mas …” Suci berbaring miring menatap Arif, setelah selesai menidurkan Aska. Hanya tersisa satu lampu tidur yang menyala di sisi sang suami, sehingga ia masih bisa melihat wajah Arif dengan jelas. “Maaf yang tadi, ya.”Arif menghela pendek. “Sudah kubilang, kamu nggak salah jadi nggak usah minta maaf.”“Tapi tetap aja, aku nggak enak.” Suci mengerucutkan bibir. “Dari awal nikah, kayaknya aku sama keluargaku selalu ngerepotin.”“Kalau begitu, aku mau kita nggak ngomongin masalah itu lagi?” Arif yang sejak tadi berbaring miring melihat aktivitas Suci, lantas menarik selimut. “Dan jangan pernah minta maaf untuk hal yang nggak kamu perbuat. Oke?”“Oke …” jawab Suci masih dengan bibir mengerucut. Arif tersenyum tipis melihat wajah Suci. Karena gemas, ia pun mencubit bibir yang masih maju itu dengan geregetan. “Bibirnya nggak usah gini. Nanti kalau aku pengen bahaya!” Suci menepis pelan tangan Arif. Namun, bibirnya masih saja mengerucut. “Aku lagi dapet.”Arif mencebik. “Kenapa juga pake

  • Kontrak Suci   103~Belum Berakhir

    Langkah Nurul memelan, saat melihat sebuah motor terparkir di depan rumah keponakannya. Sebuah motor yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, pintu rumah itu pun terbuka, berikut dengan jendela di ruang tamu.Yakin ada seseorang di dalamnya, Nurul bergegas memasuki rumahnya lebih dulu untuk meletakkan kantong kresek berisi barang belanjaan. Setelah itu, ia langsung pergi menuju rumah itu. Dan tebakannya benar, pemilik sebenarnya telah berada di rumah. Ginanjar!“Dah keluar, Bang?” tanya Nurul hanya berdiri di bibir pintu ketika melihat Ginanjar sibuk mengotak-atik ponselnya. Tidak banyak yang berubah dalam penampilan pria itu, semuanya hampir sama seperti terakhir kali mereka bertemu. “Masih aja ditanya,” sahut Ginanjar masih menyimpan kesal setelah kepergian Sahli. “Masak apa kamu di rumah? Aku lapar,” ujarnya lalu menatap wanita itu.Nurul mendesis. “Adanya nasi. Telurnya goreng sendiri.”Ginanjar berdecak. “Beliin ayam bakar bentar.”“Lah!” Nurul yang enggan disuruh-suruh

  • Kontrak Suci   102~Firasat Suci

    Sahli berdiri di depan lembaga pemasyarakatan sambil bermain game di ponselnya untuk mengisi waktu. Sesekali, tatapannya tertuju pada pintu gerbang, menunggu Ginanjar keluar dari sana. Semua informasi sudah diberitahu lebih dulu oleh Arif, sehingga ia tidak akan menunggu bapaknya terlalu lama. Benar saja. Hanya sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Sahli melihat Ginanjar keluar melewati gerbang lembaga pemasyarakatan. “Pak!” panggil Sahli sambil melambai kecil.Ginanjar menoleh. Untuk beberapa saat, ia menatap ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah yakin, ia pun tersenyum tipis sambil menghampiri Sahli yang hanya berdiri di tempatnya. “Sendirian?” tanya Ginanjar saat berhenti di hadapan putranya. Lama tidak berjumpa, Ginanjar cukup terkejut melihat perubahan dari penampilan Sahli. Putranya kini tampak jauh lebih bersih, rapi, terawat, dan berisi dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Sungguh berbeda dari sosok Sahli yang masih ia ingat.“Sendiri,” jawab Sahli meraih

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status