Home / Romansa / Kontrak Suci / 94~Nggak Boleh!

Share

94~Nggak Boleh!

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-09-06 22:58:15

Ivan tertawa geli setelah mendengar cerita Arif mengenai Deswita. Bahkan, putranya juga memperlihatkan video rekaman CCTV di ruang tengah rumah Arif, ketika Deswita berada bersama Aska.

Ivan bisa melihat, betapa hati-hatinya Deswita memperlakukan cucu mereka. Dari interaksi yang terekam, rasa sayang istrinya itu pada Aska terlihat begitu tulus dan sulit untuk disangkal.

Ternyata, usaha Ivan selama ini berhasil juga. Deswita akhirnya tidak bisa membendung rasa penasarannya dan mencoba menepis s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
carsun18106
mungkin gengsi mah udh ngga ya, tapi rasa malu nya itu yg menahan
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
Arif pasti ngerasa rame y punya sodara banyak kompak pula.. saling sayang & saling dukung satu sama lain..
goodnovel comment avatar
Murnawati
segitu ngilernya Suci sama mi goreng, tapi apalah daya tiga cowok itu kompak banget bilang g boleh wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   101~Hanya Sementara

    “Yakin mau ngambil psikologi?” tanya Sahli duduk melantai di samping Suci yang sedang menatap laptop. Ia meremas mi instan yang dibawanya dari dapur lalu membuka bungkusnya. Suci menoleh pelan. Menatap mi instan yang ada di tangan Sahli lalu menelan ludah. “Nggak dimasak minya?”“Nggak,” jawab Sahli sambil mengeluarkan bumbu mi tersebut dari dalam bungkus. “Mau kumakan gini aja.”Suci menghela panjang. Ia harus bersabar, karena masih tidak diperkenankan memakan makanan seperti itu oleh Arif dan kedua adiknya. “Eh, itu tadi belum dijawab,” ujar Sahli mengingatkan. “Jadi ngambil psikologi?”Suci mengangguk pelan. Harusnya ia sudah mendaftar kuliah beberapa bulan lalu. Namun, karena ada insiden dengan Deswita yang mengharuskannya bedrest, maka Suci terpaksa menunda niatnya untuk kuliah. “Nggak jadi,” jawab Suci kemudian menoleh pada Hadi yang sedang bersama Aska area bermain.Setelah kembali dari rumah mertuanya kala itu, Suci pun berinisiatif untuk mengubah sebagian ruang keluarganya

  • Kontrak Suci   100~Jangan Diganggu

    “Wah …” Langkah Suci berhenti di ruang tengah kediaman Adiningrat. Ia takjub, terkejut, dan tidak menduga jika separuh ruangan tersebut ternyata dijadikan area bermain. Untuk siapa lagi jika bukan untuk Aska. Sebuah playmat luas terhampar dengan beragam mainan bayi dan tempat tidur mungil di sisinya. Pagar pengaman warna-warni pun juga sudah disiapkan sebagai pengaman di sekitarnya. Padahal, saat ini Aska belum bisa berguling ke mana-mana, tetapi semua sudah tersedia di rumah mertuanya. Bahkan, Suci tidak memiliki barang-barang seperti itu di rumahnya sendiri. Sepertinya, Aska akan menjadi “Raja” kecil di keluarga Adiningrat.“Langsung ke atas aja,” ujar Deswita yang sudah duduk lebih dulu di area bermain bersama Aska. “Aska biar sama Oma.”Suci menggaruk pelan sisi lehernya. Sebenarnya, hubungannya dengan Deswita sampai saat ini masih tetap berjarak. Mereka memang sudah tidak lagi bersitegang seperti dulu, tetapi keduanya juga belum memiliki kedekatan yang membuat Suci bisa bersik

  • Kontrak Suci   99~Menjalankan Rencana

    “Ayah tadi itu serius, ngajak kita minggu depan nginap di rumahnya?” tanya Suci setelah mobil Ivan keluar dari pagar. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arif, sementara Aska sudah tidur dengan lelapnya di ayunan di ruang tengah. Arif mengangguk sambil mengalungkan sata tangan di pinggang Suci. Ia mengangguk dan tersenyum kecil pada Jaja yang baru menutup pagar, kemudian membawa istrinya kembali masuk ke dalam rumah. “Tadinya cuma makan malam,” terang Arif, “tapi, mendadak Bunda nyuruh sekalian nginap sana. Bawa Aska.”“Haaah …” Setelah mendesah panjang, Suci lantas memajukan bibirnya. Masih separuh hati dengan ajakan Ivan tersebut. Bukan karena trauma, tetapi ia pasti merasa canggung bila harus menginap di rumah mertua yang pernah membenci dan menolaknya mati-matian. “Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Arif.“Aku nggak enak,” jawab Suci sambil melingkarkan tangan di lengan Arif. “Mana bawa bayi, terus juga masih nyusuin. Kalau aku lapar, terus mau makan ini itu pas malam, kan, su

  • Kontrak Suci   98~Tinggal Menunggu Waktu

    “Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti,” ujar Ivan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setelah duduk sofa. Deswita yang sedang menatap ponselnya langsung menoleh. Apa ia tidak salah dengar?Arif mengundang Deswita makan malam Sabtu nanti?“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti?” Deswita mengulang kalimat yang dilontarkan Ivan. “Malam minggu nanti?”“Iya.” Ivan meluruskan kedua kakinya, meletakkan di atas meja. “Kalau mau, kita berangkat sore biar bisa lama dengan Aska.”Deswita terdiam. Dari ekspresi dan kalimat Ivan, tampaknya suaminya itu juga sudah tahu jika Deswita sering berkunjung ke rumah Arif untuk menengok Aska. “Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi,” lanjut Ivan ketika melihat istrinya tidak bersuara. “Aku sudah tau kalau Bunda sering ke rumah Arif kalau siang.”Deswita langsung membuang wajah dari suaminya. Enggan menanggapi ucapan tersebut.“Kalau bisa, jam tiga sudah berangkat,” ujar Deswita kembali melihat vi

  • Kontrak Suci   97~Ayo Buruan!

    Langkah Arif berhenti tepat di bibir pintu rumah. Ia membuang napas panjang dan terasa berat. Pada akhirnya, ia benar-benar melajukan mobilnya pulang ke rumah untuk menuruti permintaan Ivan. Sempat terlintas harapan bahwa Deswita sudah pergi ketika ia tiba di rumah. Namun, harapan itu pupus seketika begitu melihat mobil ibunya masih terparkir di carport. Begitu Arif masuk ke ruang tamu, langkahnya kembali terhenti. Ia menatap Deswita yang ternyata juga baru memasuki ruang yang sama dari dari bagian dalam rumah, bersama Masni. Pandangan mereka pun bertemu, membuat keduanya terdiam dalam kecanggungan. “Aku habis ketemu klien dekat sini,” ujar Arif lebih dulu membuka suara sambil mengarahkan telunjuknya dengan asal. Rasanya benar-benar canggung, padahal wanita itu sudah menjadi ibunya selama lebih dari tiga puluh tahun. “Pulang karena mau lihat Aska.”Deswita mengangguk pelan. Ia juga yakin Arif sudah mengetahui kalau dirinya sering datang untuk menemui Aska. Tidak mungkin Suci tidak

  • Kontrak Suci   96~Aku Pulang

    Sore itu, Suci meminta Sahli dan Hadi berkumpul di ruang tengah untuk membahas sesuatu yang serius. Ada hal yang harus dibicarakan, setelah Arif memberi sebuah kabar tadi siang. “Setelah potong remisi, Bapak bakal keluar sekitar bulan Februari,” ujar Suci menatap Sahli dan Hadi bergantian. “Aku no comment,” jawab Hadi lebih dulu dengan gelengan. Masih ada rasa sakit hati dan trauma akan sikap Bapaknya dahulu kala, sehingga ia tidak ingin membicarakan hal itu lebih lanjut. “Jangan dikasihkan sertifikat rumahnya,” sahut Sahli ketika mengingat banyak hal yang sudah terjadi. “Biarin aja Bapak tinggal di rumahnya, tapi semua surat tetap sama kita. Nanti aku yang jemput kalau dia keluar.”Tatapan Suci dan Hadi langsung tertuju pada Sahli. Saudara mereka itu terlihat santai-santai saja menanggapi hal tersebut.“Yakin kamu mau jemput Bapak?” tanya Suci memastikan.Sahli mengangguk yakin. “Kujemput, terus kuantar ke rumahnya. Sekalian bicara sama Te Nurul juga.”Suci mengerut dahi. “Mau bic

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status