Share

Bab 4

Author: Hes
Pukul 11 malam, Timo belum juga pulang.

Aku duduk di ruang tamu rumah baru yang telah kami siapkan, membaca ulang seluruh susunan acara pernikahan dari awal hingga akhir.

Namaku hanya muncul 2 kali … pernikahan ini sama sekali tidak terasa seperti pernikahanku dengan Timo.

Pukul 1 dini hari, terdengar suara pintu terbuka.

Timo masuk dengan aroma disinfektan yang masih melekat di tubuhnya. Melihatku masih duduk di ruang tamu, dia mengerutkan kening.

“Belum tidur?”

Aku bertanya, “Mana antingku?”

Gerakannya yang sedang melonggarkan dasi langsung terhenti.

“Maya masih harus syuting video besok pagi. Untuk sementara, anting itu kusimpan di tempatnya.”

Aku berdiri, “Ambil kembali sekarang.”

Wajah Timo menggelap. Kesabaran dalam tatapannya perlahan terkikis habis.

“Freya, besok aku akan menikahimu. Sebenarnya apa lagi yang kamu inginkan?”

Aku menjawab, “Aku ingin barang milikku kembali.”

Timo tiba-tiba tertawa sinis. Suaranya pelan, tetapi kesombongan dalam nada bicaranya begitu menusuk telinga.

“Maya cuma memakai anting itu sebentar dan kamu sudah tidak tahan? Freya, manusia tidak boleh serakah.”

Aku menatapnya dengan pandangan kosong.

Ternyata di matanya, meminta kembali barang peninggalan ibuku sendiri dianggap sebagai keserakahan.

Tepat saat itu, Edwin menelepon. Suaranya terdengar sangat panik.

“Timo, ada masalah! Maya bilang antingnya hilang!”

Tubuhku pun menegang.

30 menit kemudian, kami tiba di ruang belakang hotel.

Maya duduk di depan meja rias dengan mengenakan jas Timo di bahunya. Kedua matanya merah karena menangis.

Meja rias itu tampak berantakan. Satu-satunya benda yang tidak ada di sana adalah sepasang anting mutiara peninggalan ibuku.

Aku bertanya kepada penata rias, “Bagaimana dengan rekaman CCTV?”

Penata rias itu menundukkan kepala, “CCTV-nya rusak sejak sore.”

Kebetulan sekali.

Aku menoleh ke arah Maya, “Kembalikan barangku.”

Air mata Maya langsung mengalir.

“Kak Freya, aku benar-benar tidak mengambilnya.”

“Kalau begitu, kita lapor polisi.”

Wajah Maya segera memucat. Tiba-tiba, dia berusaha membenturkan dirinya ke dinding.

“Semua salahku! Seharusnya aku tidak menyentuh barang milik Kakak! Lebih baik aku mati saja!”

Timo langsung menariknya. Edwin juga bergegas menghampiri dan menopangnya. Keduanya berdiri di kanan dan kiri Maya, melindunginya di tengah-tengah.

Timo menoleh kepadaku dengan tatapan sedingin es.

“Minta maaf.”

Aku mengira telah salah dengar.

“Apa katamu?”

“Minta maaf padanya.”

Dia mengucapkan setiap kata dengan tegas, “Dia sudah sangat terpukul. Sampai kapan kamu mau terus menekannya?”

Aku menatapnya, “Timo, dialah yang menghilangkan barang peninggalan ibuku.”

“Dia sudah bilang itu tidak disengaja.”

“Dia bilang tidak sengaja, dan kamu langsung percaya?”

“Lalu, apa kamu punya bukti kalau dia sengaja melakukannya?”

Aku terdiam, tidak mampu menjawab. Edwin juga membujukku dengan suara rendah.

“Freya, mengalahlah sedikit. Kamu sudah menang. Kenapa masih harus mempermalukannya?”

Aku memandangi mereka berdua dan tiba-tiba merasa sangat lelah.

Padahal Maya yang jelas-jelas mendapatkan segalanya, tetapi semua orang justru menganggap dialah yang paling patut dikasihani.

Akhirnya aku mengangguk. Aku tidak ingin berjuang lagi.

“Baiklah.”

Ruang belakang itu mendadak hening.

Timo mengerutkan kening, seolah tidak menyangka aku akan menyetujuinya secepat itu. Edwin juga tertegun.

Aku berbalik menghadap Maya.

Dia masih bersembunyi di belakang Timo, dengan air mata yang menggantung di sudut matanya.

Aku berkata, “Maaf.”

Edwin menatapku. Bibirnya bergerak sedikit.

“Freya ….”

Aku tidak lagi memandang mereka dan melepaskan cincin pertunanganku, lalu meletakkannya perlahan di atas meja rias.

“Besok, lanjutkan saja pesta pernikahannya seperti biasa. Jangan sampai kehadiranku merusak kesenangan kalian.”

Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Timo tampak hendak mengatakan sesuatu. Namun, Maya tiba-tiba memegangi lehernya. Suaranya bergetar.

“Timo, sakit sekali .…”

Timo refleks menoleh ke arahnya. Edwin juga langsung mengalihkan perhatiannya kepada Maya. Dalam sekejap, aku sudah berjalan keluar dari ruang belakang.

Ketika mereka kembali menoleh, pintunya telah tertutup.

Dan aku sama sekali tidak menoleh ke belakang ….

Malam itu, aku kembali ke rumah pengantin kami. Satu per satu, aku membatalkan seluruh pesanan untuk acara pernikahan.

Ketika menerima teleponku pada dini hari, suara perencana pernikahan terdengar panik.

“Apakah Tuan Howart sudah mengetahui hal ini?”

“Dia tidak perlu tahu.”

Sebelum matahari terbit, aku akan menyeret koperku dan meninggalkan tempat ini.

....

Pukul 10 pagi di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan kami, Timo datang sendiri ke sebuah toko perhiasan.

Dalam sekali pandang, dia langsung memilih sebuah cincin berlian berbentuk tetesan air mata.

Timo menunduk memandangi cincin itu lalu berkata dengan nada datar, “Sejak usia 18 tahun, dia sudah menyukai bentuk seperti ini.”

Sementara itu, Edwin membawa sebuah payung hitam bergagang panjang. Pada gagang payung tersebut terukir namaku.

Dia terkekeh, “Hadiah dariku juga tidak kalah bagus. Hujan pada ulang tahunnya yang ke-18 itu masih diingatnya sampai sekarang.”

Timo meliriknya.

“Jadi, kamu masih ingat?”

Senyum Edwin sedikit memudar, “Ingat.”

Dia terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Tadi malam, dia terlalu cepat meminta maaf.”

Timo mendengus, “Dia cuma kelelahan. Setelah membuat keributan sepanjang malam, pada akhirnya dia pasti mencari alasan untuk menyelamatkan harga dirinya sendiri.”

Edwin mengangguk, “Benar juga.”

Dia tersenyum tipis.

“Freya itu berhati lembut. Kamu memberinya cincin, sementara aku memberinya payung. Jika melihat semua ini, dia pasti langsung luluh.”

Ketika keduanya tiba di hotel, penanggung jawab acara sedang mengarahkan para pekerja untuk membongkar papan penyambutan tamu.

Langkah Timo langsung terhenti.

“Siapa yang menyuruh kalian membongkarnya?”

Penanggung jawab itu tampak sangat terkejut saat melihatnya.

“Tuan Howart, bukankah acara pernikahannya sudah dibatalkan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 10

    Ketika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 9

    Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 8

    Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 7

    Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 6

    Aku baru menyalakan kembali ponselku saat sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.Begitu layar ponsel menyala, pesan demi pesan langsung bermunculan. Dari Timo, Edwin, dan Ibu Howart. Aku tidak membuka satu pun ….Sang sopir melirikku melalui kaca spion.“Nona, hari ini mau menikah, ya?”Aku menunduk memandangi kerudung pengantin di tanganku. Kerudung inilah yang kemarin dibawakan oleh pegawai butik yang berlari mengejarku.Awalnya, aku ingin membuangnya. Namun pada akhirnya aku tetap membawanya. Karena kerudung pengantin ini kupilih sendiri.Dulu, aku benar-benar sangat ingin menikah dengan Timo. Bahkan aku sudah berkali-kali mengubah dan menghafalkan janji pernikahanku tanpa sepengetahuannya.Aku ingin mengucapkan kalimat “Aku bersedia” dengan suara selembut mungkin. Karena aku takut akan menangis saat mengatakannya.Ketika mobil berhenti di gerbang pemakaman, hujan kembali turun. Aku tidak membawa payung.Saat berusia 18 tahun, aku tidak punya payung. Hari ini pun sama.Namun kali

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 5

    Begitu penanggung jawab acara selesai berbicara, kotak cincin di tangan Timo langsung terjatuh ke lantai.Cincin berlian berbentuk tetesan air mata itu terlepas dari kotaknya, menggelinding hingga membentur ujung sepatu kulitnya.Senyum di wajah Edwin pun membeku.“Apa katamu?”Penanggung jawab acara itu ketakutan melihat ekspresi wajah Timo. Dia segera menyerahkan sebuah tablet kepadanya.“Pukul 4 dini hari tadi, Nona Molt menelepon sendiri untuk membatalkan seluruh rangkaian acara pernikahan. Jamuan hotel, dekorasi pernikahan, fotografer dan videografer, grup musik, hingga dekorasi bunga, semuanya sudah dibatalkan.”“Beliau juga mengatakan jika Tuan Howart tidak menyetujuinya, kami bisa mengirimkan tagihan biaya pembatalan secara terpisah kepadanya.”Timo menatap layar tablet itu tanpa berkedip.Pada kolom nama orang yang mengonfirmasi pembatalan, tertulis jelas namaku ….Freya.Waktu pembatalan, 04.17 dini hari.Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Timo segera mengelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status