로그인Setelah tidak ada kabar hampir sebulan tiba-tiba sang mantan kekasih datang untuk melamarnya. Alvira yang sudah kecewa karena mantannya yang bernama Kevin berselingkuh dan perselingkuhan itu dilihat sendiri olehnya membuat Alvira tidak ingin kembali bersamanya apalagi menikah. Tapi karena Kevin sudah begitu banyak membantunya membuat Alvira mengiyakan tapi dengan syarat! Namun, tiba-tiba Alvira dipertemukan dengan seorang pengusaha tampan tapi dingin. Karena sesuatu terjadi diantara mereka membuat sang pengusaha melamar Alvira. Dengan siapakah Alvira akan menikah? Apakah Alvira bisa menjalani hidup rumah tangganya? Ikuti terus kisahnya, masukkan dalam rak buku kalian biar jika update kalian bisa langsung baca.. Ceritanya akan mengandung konten Dewasa, bebijaklah membaca... Jangan lupa untuk memberikan riview nya yah... ~Happy reading~ IG_yulianaHartman
더 보기LYRA’S POV
On the night of my 18th birthday, I walked in on my mate fucking my best friend just as I was about to propose to him!
I never saw the betrayal coming, not when I was that excited about getting married, that sure of the love we shared.
My jaw dropped in horror as I froze at the doorway.
My mate Rowan’s jeans hung off his hips like he couldn’t even wait to get naked before shoving his cock inside her. My best friend Callia’s dress was pushed up to her ribs, and Rowan was pounding into her rough and hard. She moaned his name loudly, clearly enjoying it.
What the hell?
The ring box in my hand mocked me. And so did the sight in front of me.
“What are you two doing!?” I yelled in anger, finally snapping out of my shock and storming into the bedroom.
Callia’s head snapped up, her face draining of colour. “L-Lyra?” She shoved Rowan off her and dropped to her knees. “P-please, Lyra! This isn't what it looks like!”
I laughed bitterly. “Oh? So you didn’t just have my mate inside you?” Tears stung at the corners of my eyes. “Callia, we’ve been friends since we were kids! I shared all my nice things with you. You ate at my table, wore my clothes, slept under my roof. And you still did this?”
My father is the Alpha of our pack, and Callia is just a mere servant in the packhouse. Every day she sang my praises, swore she was lucky to be my best friend. And now this?
It was then Rowan laughed darkly. And the worst part? There was no remorse on his face, he didn't even have the decency to pull his pants up.
“There’s no need to apologize to her, Calli. You’re the one I chose.” Rowan smirked and then he grabbed her, pulled her up and wiped her tears. She let out a shaky breath, but didn’t resist as he pressed a kiss to her cheek.
What?
A cold shudder ran down my spine and it felt like my heart had been cracked open.
“Are you out of your fucking mind, Rowan?” I screamed, “It’s my birthday and you didn’t even bother to show up! And like an idiot, I came here to ask you to be my husband!”
I flung the ring box across the room and it hit the wall. “And here you are….” I paused, my gaze slowly shifting to Callia, “Screwing my best friend behind my back?”
“P-please, Lyra, I’m sorry. I never meant for this to happen but I love him. I’ve always loved him and—”
Rowan scoffed. “I said don’t waste your breath on her, Callia.” And then he turned to face me, “I was never going to mark a pathetic daddy’s girl like you anyways, Lyra.”
With that, he pulled Callia back against him, his hands tracing the curve of her waist. Callia’s eyes moved between me and him, but she didn’t resist. Instead, she leaned into his touch, melting as he tilted her chin up and kissed her.
A sharp pain twisted in my chest.
My fists clenched, “Enjoy it while you can, because I’ll make sure you suffer for this!”
I turned on my heel and fled Rowan’s house before my tears could fall. I stormed back to the packhouse and went to my father Alpha Garrick's office.
He sat at his desk and my mother, Luna Eva, was standing beside him as they discussed. They both paused and looked up the moment I entered.
I would make sure my father gets rid of them both.
My mother frowned, “Lyra dear, where have you been? Your party wasn’t even over before you had left.”
I clenched my fists so hard my nails dug into my palms. “Rowan,” I spat his name like venom. “I found him—” I whispered, “I found him cheating on me with Callia.”
My father’s eyes narrowed. My mother’s lips parted, her hand flying to her chest.
“What?” she whispered.
“Father,” I hissed, slamming my hands onto his desk. “I want them banished. Immediately!”
Father looked up, his brows furrowing. “Lyra, calm down.”
“Calm down?” I let out a bitter laugh. “I walked in on my mate having sex with my best friend. On my birthday! I won’t share a pack with those traitors.”
“She’s right, Garrick. Rowan is just an ordinary pack member. He should’ve shown our daughter the same respect every other member does—if not more. But instead, he betrayed her and their mate-bond. And Callia, I treated that girl like my own. And this is how she repays us?”
Father exhaled slowly, rubbing his temples. “I understand you’re hurt, Lyra, but you need to be more understanding. Callia—”
“Understanding?” I snapped, “She betrayed me! You’ve always made excuses for her, always told me to forgive her, but this?” My throat tightened. “I can’t.”
My mother stepped forward. “Enough of this. I’m giving the order.” She turned to the guards outside. “Banish Rowan and Callia from the pack. Now.”
But before the warriors could move, my father rose from his seat and spoke.
“Stand down.”
Silence.
I turned to my father, my whole body stiff. “You’re protecting them?”
My mother’s face hardened. “Garrick, if you don’t explain yourself right now, I swear to the Goddess—”
“I can’t banish them!” My father’s jaw clenched. He looked between us, then let out a heavy sigh.
My brows furrowed but before I could protest, my father continued, “Because Callia… is your half-sister.”
Belum sempat Daffin menjawab panggilan teleponnya suara Alvira dari dalam kamarnya menghentikan pergerakkan tangannya. Kini kakinya melangkah dengan cepat menuju kamar mereka.“Ada apa?” tanya Daffin begitu pintu kayu berwarna putih itu berhasil di bukanya.Terlihat Alvira sedang berdiri di atas ranjang sambil kedua tangannya menahan batrobe matanya mengintari lantai.Daffin jalan mendekat,” Kenapa?” tanyanya lagi.“I-itu ada kecoa besar,” lirih Alvira, membuat Daffin langsung melebarkan senyumnya.“Sama kecoa aja takut. Di mana?” tanya Daffin, dengan posisi yang menunduk mencari keberadaan kecoa yang dibilang oleh wanita tercintanya.“Ada di situ tadi, coba cari di sana,” balas Alvira menunjukkan letak di mana ia bertemu dengan kecoa itu.Alvira menunjuk lantai bawah dekat kamar mandi mereka. Daffin masih berusaha mencarinya.“Apa bibi nggak membersihkan ini apartemen? Kenapa ada kecoa masuk,” gumam Daffin, tanpa mengalihkan perhatiannya dari lantai.“Nah itu dia!”seru Daffin begitu
Panggilan video call masuk di ponsel Daffin. Nama sang mami tercinta tertera di layar pipih itu.“Mami,” ujar Daffin kepada Alvira.“Ya, udah angkat.”Dengan santainya Alvira menyuruh Daffin menjawab panggilan tersebut. Tanpa sadar jika mereka saat ini hanya menggunakan batrobe saja.“Panggilan video call,” ujar Daffin lagi.Seketika Alvira menepuk keningnya mendengar ucapan dari Daffin. Matanya langsung tertuju pada tubuhnya yang hanya berbalut batrobe saja.“Kamu aja yang jawab, bilang aja habis mandi,” usul Alvira.Akhirnya Daffin menggeser icon hijaunya, setelah panggilan itu tidak mau berhenti.“Iya mi,” sapa Daffin begitu terlihat jelas wajah Shela dilayar pipih itu.“Hey, Alvira mana? Mami kangen nih sama dia,” sahut Shela.“Lagi di kamar mandi mi.”“Bagaimana pengobatannya mi?” tanya Daffin lagi.“Lancar Fin, kamu katanya sama Alvira mau ke sini?” terdengar suara sang papi yang berada di sebelah sang istri tercinta.“Maaf mi, Pi, sepertinya kami nggak bisa ke sana soalnya Alvi
Daffin mengerjapkan matanya saat cahaya matahari dari bilik tirai itu mengganggu tidur nyenyaknya. Perlahan ia membuka matanya. Saat mata itu berhasil dibuka, pertama kali yang ia lihat adalah wajah sang istri yang kini tengah berada di dadanya.Kedua sudut bibirnya langsung mengembangkan senyuman yang begitu lebar. Setelah pertempuran semalam yang di lakukan hingga beronde-ronde. Membuat Alvira susah sekali membuka matanya. Hingga saat ini dirinya masih tertidur begitu nyenyaknya di dada Daffin berselimutkan kain tebal yang menutup kedua tubuh mereka yang tidak menggunakan apapun.Daffin bergerak secara pelan, bibirnya kini menyentuh kening Alvira.“Terima kasih atas semua yang kamu berikan saat ini, aku merasa ini adalah hal yang begitu sangat bahagia buatku,” ungkap Daffin pelan sambil memandangi wajah Alvira yang tampak begitu cantik dan natural.Terlihat Alvira mulai bergerak pelan. Namun, ternyata matanya masih tertutup rapat, dan ia hanya berpindah posisi tidur saja yang semak
“Kalau mau bicara soal kerjaan besok saja gua lagi sibuk,” ungkap Daffin lagi dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian ia mematikan ponselnya agar tidak ada lagi yang mengganggu kegiatan malamnya ini.Di seberang sana Reiki yang tadi menelepon bosnya itu sekedar ingin memberitahukan jika mereka besok akan ada pertemuan penting dengan salah satu klien dari luar negeri. Namun, belum sempat Reiki memberitahu sambungan telepon itu sudah diputus Daffin.“Huuft.”Hembusan nafas Reiki terdengar begitu berat. Susah menghadapi sang bos yang moodnya berubah-rubah dan ia sampai saat ini tidak mengetahui sela-nya.Reiki yang masih bingung dengan pertemuan besok apakah akan berlangsung apa tidak. Berbeda dengan Daffin yang kini telah kembali melakukan aktivitas panasnya.Alvira yang tadi duduk di atas meja mini bar telah ia turunkan dan digedongnya diletakkan di sofa living room. Sofa yang mempunyai ukuran hanya
Kehidupan suami-istri itu terlihat begitu harmonis dan sangat bahagia. Semakin hari Daffin menunjukkan sikap baik, ia selalu memperlakukan Alvira dengan begitu lembut. Alvira menikmati setiap perlakukan Daffin terhadapnya. Namun, tanpa mereka sadari ada seseorang yang terganggu dengan keromantisa
Daffin tidak mengalihkan pandangannya dari Alvira, “ kamu cantik sekali malam ini?”puji Daffin. “Memangnya kemarin-kemarin aku nggak cantik apa?” protes Alvira. Daffin merapatkan tubuhnya ke tubuh Alvira. “Cantik, tapi saat ini terlihat lebih cantik lagi,” ujar Daffin me
Alvira diam sejenak mendengar pertanyaan dari Daffin. Ia bingung harus menjawab apa. Keraguannya itu terlihat jelas di mata indahnya.“Kamu kenapa? Katakan saja, jika kamu memang memilih dia, aku akan mundur dan memutuskan semuanya dengan baik-baik tapi jika kamu memilih pernikahan in
Saat ia berbalik badan sungguh dirinya kaget akan kehadiran Daffin yang berada di sisinya. Matanya langsung terbuka lebar, niat menjauh malah yang ada Daffin semakin mendekatkan.“Kamu mau ngapain?” tanya Alvira melihat Daffin semakin mendekat.Dengan refleks Alvira












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기