بيت / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 15. Siapa yang bayar?

مشاركة

15. Siapa yang bayar?

last update تاريخ النشر: 2025-12-25 09:01:42

“Gak bisa, Bu. Kan yang suruh pesan ibu tadi,” ujar Nayla akhirnya, nada suaranya mengeras. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat, seolah angka empat juta di layar itu benda rapuh yang harus dijaga mati-matian. “Uang segitu buat kebutuhan aku. Aku bentar lagi lahiran.”

Laila menatapnya tak percaya, lalu mendecak. “Ibu juga gak bisa,” sahutnya tegas. “Uang itu buat arisan ibu. Sama beli tas. Masa ibu terus yang ngalah?”

Suasana di ruang tamu menegang. Udara seperti berhenti bergerak.

Kurir yan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 157. kembali romantis

    Zidan perlahan kembali masuk ke kamar.Lampu kamar masih menyala redup. Khalisa masih membelakanginya, tubuhnya terdiam di balik selimut.Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Setelah berbicara dengan Nadya, ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak ia mengerti tentang istrinya.Ia kemudian naik ke tempat tidur.Perlahan, Zidan mendekat dan memeluk Khalisa dari belakang.Tubuh Khalisa sempat menegang.Namun hanya beberapa detik.Setelah itu ia kembali diam.Tidak menolak.Tidak pula membalas pelukan tersebut.Zidan merapatkan pelukannya.Tangannya hanya melingkar lembut di pinggang Khalisa.Ia tidak mengatakan apa-apa.Malam itu, untuk pertama kalinya, Zidan memilih diam dan membiarkan Khalisa dengan perasaannya sendiri.Khalisa memejamkan mata.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir.Namun kali ini ia tidak mengusapnya.Entah kenapa, pelukan Zidan membuat pertahanannya sedikit runtuh.Ia tahu suaminya tidak bersalah.Ia tahu Zidan tidak melakukan apa pun

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 156. Ketakutan Khalisa

    Zidan akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia tidak ingin terus membangunkan Khalisa dengan pertanyaan yang sama. Perempuan itu jelas sedang tidak ingin bicara. Zidan keluar dari kamar dan duduk di teras. Udara malam di desa terasa dingin. Suara jangkrik terdengar dari sekitar rumah, sementara lampu-lampu rumah warga terlihat samar dari kejauhan. Zidan menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikirannya masih tertuju pada Khalisa. Sejak mereka meninggalkan restoran tadi, sikap istrinya berubah. Awalnya Zidan mengira Khalisa hanya memikirkan masalah toko. Tetapi semakin ia mengingat kejadian sepanjang perjalanan, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak ia pahami. Khalisa tidak biasanya seperti itu. Kalau sedang kesal karena sesuatu, biasanya perempuan itu akan mengatakan dengan jelas. Tetapi kali ini tidak. Ia hanya diam. Menjawab seperlunya. Bahkan ketika Zidan menawarkan untuk mengganti kerugian toko, Khalisa tetap tidak menunjukkan ketertarikan. Zidan mengusap

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 155. Salah percaya?

    Mereka akhirnya meninggalkan kawasan kota dan kembali menuju desa. Jalanan perlahan kembali sepi. Deretan toko dan restoran mulai berganti menjadi perkebunan serta rumah-rumah yang jaraknya berjauhan.Beberapa menit dalam perjalanan, Zidan melirik Khalisa yang duduk diam di sampingnya."Sayang, nggak mau nginap di hotel sini aja?"Khalisa langsung menoleh."Nggak perlu. Kenapa mau nginap di sini?"Nada suaranya terdengar sedikit judes.Zidan kembali fokus ke jalan."Kan sudah sore. Kalau kita nginap di sini, besok nggak perlu buru-buru balik ke desa."Khalisa menggeleng."Nggak usah."Ia kembali memandang keluar jendela.Entah kenapa, sejak bertemu Fatimah tadi, perasaannya semakin tidak tenang. Ada rasa cemburu yang sulit ia kendalikan. Bukan karena Zidan melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena pengalaman masa lalu membuatnya lebih sensitif terhadap hal-hal seperti itu.Trauma pernah dikhianati masih tersimpan rapi di dalam ingatannya.Khalisa tidak ingin kembali berada dalam pos

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 154. Masalah toko

    "Aku bilang nggak apa-apa," jawab Khalisa singkat.Ia belum ingin membicarakan soal Fatimah. Apalagi Zidan masih berdiri di dekatnya dengan pandangan sesekali mengarah ke dalam restoran.Ponsel Khalisa tiba-tiba berdering.Nama Dinda muncul di layar.Khalisa langsung mengangkatnya."Assalamualaikum, Din.""Waalaikumsalam, Lis."Suara Dinda terdengar berbeda dari biasanya. Ada nada panik yang cukup jelas.Khalisa langsung berjalan beberapa langkah menjauh dari Zidan agar bisa mendengar dengan jelas."Kenapa? Suaramu kok kayak panik?""Lis, aku minta maaf."Khalisa mengernyit."Minta maaf buat apa?"Dinda terdiam sebentar."Lis...""Hm?""Aku sudah bikin toko kamu rugi puluhan juta."Langkah Khalisa berhenti."Rugi?""Iya."Khalisa menarik napas, berusaha tetap tenang."Gimana ceritanya, Din?""Aku sudah ketipu."Khalisa tidak langsung menyalahkan sahabatnya. Ia tahu Dinda sedang panik."Kamu tenang dulu. Ceritain pelan-pelan."Dinda menarik napas panjang dari seberang telepon."Aku ket

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 153. Cemburu

    Fatimah berhenti beberapa langkah dari meja mereka."Iya."Namun sebelum benar-benar pergi, ia menambahkan dengan santai,"Lebih tepatnya, aku yang punya tempat ini."Zidan yang semula hendak mengambil sendok langsung menoleh."Kamu?"Fatimah mengangguk."Iya."Zidan terlihat cukup terkejut. Pandangannya beralih ke sekeliling restoran yang semakin ramai. Baru sekarang ia menyadari bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya bukan sekadar pegawai."Sejak kapan kamu punya restoran di sini?""Sudah lama. Sekitar empat tahun lalu."Zidan mengangguk pelan."Empat tahun?""Iya."Khalisa yang sejak tadi diam akhirnya ikut memperhatikan percakapan mereka. Sesekali matanya melihat Fatimah, kemudian beralih kepada Zidan."Bukannya waktu itu kamu masih kuliah, Fatimah?" tanya Zidan.Fatimah tersenyum."Iya, aku masih kuliah."Ia menarik kursi kosong di meja sebelah sebelum duduk sebentar. Restoran sedang ramai, tetapi ia tampaknya tidak keberatan menjelaskan."Sambil kuliah, aku mulai bangun rest

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 152. Fatimah lagi

    Iya, bagian tadi memang masih terlalu dibuat-buat. Saya akan turunkan kadar dialog dan candanya, lebih banyak narasi, dan percakapannya dibuat seperti pasangan yang sudah nyaman satu sama lain.Zidan berdiri dari tempatnya."Sayang, ayo balik. Kita ke kota."Khalisa ikut berdiri sambil mengenakan kembali sepatunya."Ke kota?""Iya. Cari makan."Khalisa mengambil ponselnya dan membuka maps."Jauh nggak?""Nggak terlalu. Sekitar empat puluh menit."Khalisa melihat rute yang tertera di layar."Empat puluh menit?""Iya.""Kirain dekat."Zidan hanya tersenyum kecil.Mereka berjalan kembali ke rumah melalui jalan yang sama. Setelah sampai, Zidan mengambil kunci mobil, sementara Khalisa mengambil tas kecilnya.Tidak lama kemudian mereka berangkat.Mobil melewati jalan desa yang masih sepi. Perkebunan dan rumah-rumah batu perlahan tertinggal di belakang. Beberapa menit pertama, Khalisa lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan dari balik jendela.Setelah sekitar dua puluh menit, jalan mu

  • Ku Miskinkan Suamiku   35. Arini bertingkah

    Saat sore menjelang malam, Fahri akhirnya pulang.Motor tua itu berhenti di depan rumah yang masih berantakan. Fahri turun tanpa semangat, helm dilempar ke kursi plastik di teras. Langkahnya berat ketika masuk ke ruang tengah. Bau semen dan debu masih menyengat, bercampur dengan aroma pewangi ruang

  • Ku Miskinkan Suamiku   34. Surat peringatan

    Di rumah Laila, suasana jauh dari kata tenang. Rumah itu masih setengah jadi. Cat dinding belum rata, lantai keramik sebagian masih tertutup debu semen, dan beberapa sudut ruangan dipenuhi ember serta peralatan tukang. Renovasinya berjalan lambat. Bukan karena konsepnya rumit, tapi karena uang ser

  • Ku Miskinkan Suamiku   42. Support buat khalisa

    Malam itu Khalisa baru benar-benar berhenti bergerak ketika jam di ponselnya menunjukkan hampir sebelas. Ia duduk di lantai ruko, punggung bersandar ke dinding yang masih dingin. Tangannya pegal. Kakinya terasa berat. Tapi kepalanya justru terasa penuh oleh rencana-rencana yang belum selesai. Lelah

  • Ku Miskinkan Suamiku   40. Ibu tidak rela Fahri

    Nayla berpaling. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia merasa malu. Tatapan orang-orang di sekitar pengadilan menusuknya dari berbagai arah. Tidak ada lagi senyum angkuh. Tidak ada lagi rasa bangga.Arini mendengus pelan.“Jangan terlalu naif,” ucapnya ketus sa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status