เข้าสู่ระบบ"Uhuk!"
Darah segar menyembur dari mulut Adrian, menodai karpet persia abu-abu di ruang kerjanya yang kini lebih mirip kapal pecah.
Sebuah sepatu kulit booth yang berat menginjak dada Adrian, menekan tulang rusuknya hingga terdengar bunyi retakan halus yang mengerikan. Adrian mengerang, matanya terbelalak menatap langit-langit kantor yang berputar.
"Kau dengar aku, Pak Adrian Pratama yang terhormat?"
Suara itu berat, serak, dan berbau tembakau murah. Pria berbadan kekar dengan tato naga di leher itu menunduk, menepuk pipi Adrian yang lebam dengan laras pistol dingin.
"Tiga hari," desis pria itu. "Bos besar tidak mau dengar alasan 'dana macet' atau 'proyek pending'. Lima puluh miliar. Tunai. Atau kami akan mengirim potongan tubuhmu ke istri cantikmu itu. Mulai dari jari kelingking."
Adrian gemetar. Rasa sakit di perutnya akibat tendangan bertubi-tubi tidak sebanding dengan teror yang merayapi tulang punggungnya. "Aku... aku janji. Tiga hari. Tolong... jangan sentuh istriku."
Pria itu tertawa, sebuah suara kering yang tidak lucu. Dia menarik kakinya dari dada Adrian, lalu meludahi wajah Adrian yang dulu selalu terlihat klimis dan angkuh. "Kita lihat saja. Nyawamu ada di jam tanganmu yang mahal itu. Tik-tok, Adrian."
Gerombolan penagih utang itu keluar dari ruangan, membanting pintu kayu mahoni hingga bingkainya retak.
Keheningan yang menyusul terasa lebih menyakitkan. Hanya ada suara napas Adrian yang putus-putus dan dengung pendingin ruangan.
Adrian berusaha bangkit, merangkak menuju meja kerjanya yang terbalik. Dokumen-dokumen penting berserakan, bercampur dengan pecahan gelas kristal dan noda darah. Dia meraih botol air mineral yang menggelinding di lantai, meneguknya dengan rakus untuk membasuh rasa besi di mulutnya.
Habis. Semuanya habis.
Saham anjlok. Investor kabur. Dan sekarang utang judi saham di pasar gelap menagih nyawanya. Dia tidak punya 50 miliar. Asetnya sudah digadaikan. Rumah mewahnya, mobil-mobilnya, semua sudah dijaminkan ke bank. Dia adalah raja tanpa mahkota. Penipu yang bersembunyi di balik setelan jas Armani.
Pintu ruangan terbuka pelan.
"Adrian?"
Suara wanita. Bukan Elena.
Sisca melangkah masuk dengan heels merah 12 cm, melangkahi pecahan kaca dengan hati-hati seolah dia sedang berjalan di catwalk. Sekretaris sekaligus wanita simpanannya itu tidak tampak kaget melihat kondisi ruangan. Wajah cantiknya yang dipoles make-up tebal justru terlihat... dingin.
"Ya Tuhan, lihat dirimu," desis Sisca. Dia tidak berlari memeluk Adrian. Dia justru berdiri bersedekap, menatap Adrian dengan tatapan menilai. "Mereka benar-benar menghajarmu kali ini."
"Bantu aku berdiri, bodoh!" bentak Adrian, harga dirinya terluka dilihat dalam kondisi menyedihkan begini oleh bawahannya.
Sisca mendengus, tapi dia mengulurkan tangan manicured-nya, membantu Adrian duduk di sofa kulit yang robek tersayat pisau.
"Kita butuh uang, Adrian," kata Sisca tanpa basa-basi. Dia mengambil tisu basah dari tasnya, membersihkan darah di sudut bibir Adrian dengan gerakan kasar. "Kalau kamu mati, siapa yang akan membiayai gaya hidupku? Apartemenku bulan depan jatuh tempo."
Adrian menepis tangan Sisca. "Kamu pikir aku tidak tahu?! Aku butuh 50 miliar dalam 72 jam! Bank mana yang mau mencairkan dana segitu tanpa agunan dalam tiga hari? Mustahil!"
Adrian menjambak rambutnya frustrasi. "Mungkin aku harus lari. Ke luar negeri. Tinggalkan Elena, tinggalkan semuanya."
"Dan jadi buronan miskin seumur hidup?" potong Sisca tajam. Matanya menyipit, bibir merahnya menyunggingkan senyum licik. "Ada satu orang... satu orang yang punya uang tunai sebanyak itu dan bisa mencairkannya dalam hitungan jam."
Adrian menoleh. "Siapa? Rentenir lain? Aku sudah gali lubang tutup lubang!"
"Bukan. Investor," Sisca berjalan menuju jendela, menatap gedung pencakar langit di seberang jalan yang menjulang angkuh, menembus awan Jakarta. Gedung dengan logo huruf 'C' raksasa di puncaknya. "Cakra Dirgantara."
Tubuh Adrian menegang.
"Cakra?" Adrian tertawa histeris. "Kau gila! Dia musuhku sejak kuliah! Aku menjebak ayahnya, Sisca! Dia membenciku sampai ke tulang sumsum. Datang padanya sama saja bunuh diri!"
"Justru itu," Sisca berbalik, tatapannya tajam. "Dia membencimu. Artinya, dia akan menikmati melihatmu merangkak memohon di kakinya. Itu 'bayaran' yang mungkin dia terima selain bunga bank."
"Kau tidak mengerti..." Adrian menggeleng. "Dia iblis."
"Dia iblis yang kaya raya, Adrian!" Sisca mencengkeram kerah kemeja Adrian yang robek, memaksanya menatap mata wanita itu. "Dengar rumornya. Cakra itu kolektor gila. Dia suka mengoleksi barang-barang unik. Lukisan langka, mobil antik, pulau pribadi... dia membeli apa saja yang memuaskan egonya."
Sisca mendekatkan wajahnya, suaranya merendah penuh racun. "Tawarkan sesuatu. Apa saja. Saham mayoritas perusahanmu? Atau mungkin... sesuatu yang lebih pribadi yang bisa melukai harga dirimu tapi menyelamatkan nyawamu."
"Apa maksudmu?"
"Pikirkan, Adrian. Kamu penjual yang hebat, kan? Kamu bisa menjual es batu ke orang Eskimo," bisik Sisca memprovokasi. "Datanglah padanya. Jilat sepatunya kalau perlu. Tawarkan kesepakatan. Kau masih punya satu 'aset' berharga di rumah yang selalu dipuji-puji orang, kan?"
Adrian terdiam. Bayangan Elena—wajah cantiknya yang polos, tubuhnya yang sempurna—melintas di benaknya.
"Elena?" Adrian berbisik ngeri. "Maksudmu... kau menyuruhku menjual istriku?"
Sisca mengangkat bahu, melepaskan cengkeramannya. "Aku tidak bilang begitu. Aku cuma bilang, Cakra suka barang bagus. Dan istrimu... yah, harus diakui, dia 'barang' kualitas ekspor yang kau anggurkan di rumah."
Hening yang mencekam memenuhi ruangan.
Adrian menatap pantulan dirinya di pecahan kaca di lantai. Wajah lebam, bibir pecah, mata penuh ketakutan. Dia bukan lagi Adrian si pengusaha sukses. Dia adalah tikus yang terpojok.
50 Miliar. Atau mati.
Perlahan, Adrian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya retak. Jemarinya gemetar saat mencari sebuah nomor yang sudah sepuluh tahun tidak ia hubungi, namun ia simpan sebagai 'Rival'.
"Harga diriku..." gumam Adrian lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
"Hanya sepadan jika kau masih bernapas untuk menikmatinya, Sayang," sambar Sisca dingin.
Adrian menekan tombol panggil.
Gedung Dirgantara Tower bukan sekadar kantor. Di lantai paling atas, tersembunyi di balik pintu biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Cakra, terdapat sebuah sanctuary.Bukan kamar tidur, melainkan sebuah studio lukis.Ruangan itu luas, berlantai beton ekspos dengan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap matahari terbenam. Di tengah ruangan, sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati berdiri kokoh, menopang kanvas putih besar yang masih kosong. Di sampingnya, meja penuh dengan cat minyak Old Holland—sama persis dengan yang dia kirimkan ke rumahku."Ini... ini kantormu?" tanyaku takjub, langkahku menggema di ruangan sunyi itu."Ini tempat pelarianku," koreksi Cakra. Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. "Dulu aku ingin jadi arsitek, tapi ayahku memaksaku jadi pebisnis. Jadi aku membangun ruangan ini untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya sisi manusia."Dia berjalan menuju easel
Adrian berangkat ke bandara pukul enam pagi, menyeret koper Louis Vuitton-nya dengan wajah pucat sisa sakit perut semalam. Dia mencium pipiku sekilas—ciuman formalitas yang hambar—lalu masuk ke taksi online."Jaga rumah. Jangan keluyuran," pesan terakhirnya sebelum pintu mobil tertutup.Begitu taksi itu hilang di tikungan, senyumku mengembang.Aku tidak menjaga rumah. Dan aku pasti akan keluyuran.Pukul sebelas siang, aku sudah berdiri di depan cermin, mematut diri. Aku mengenakan gaun midi berwarna cream yang lembut dengan potongan leher sabrina, dipadukan dengan heels cokelat muda. Rambutku kigerai bebas, tidak digelung kaku seperti yang disukai Adrian. Aku menyemprotkan sedikit parfum—bukan yang dipilihkan Adrian, tapi Jo Malone aroma Pear & Freesia yang kubeli diam-diam. Wanginya segar, ringan, dan... bebas.Ponsel hitam di saku tasku bergetar.Cakra:
"Aduh... Sialan..."Suara erangan Adrian terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi, diikuti bunyi flush toilet yang ketiga kalinya dalam satu jam. Rencana kopi "spesial"-ku bekerja lebih efektif dari dugaan. Adrian batal ke kantor, dan jadwal dinasnya ke Surabaya pun terancam mundur."Sayang, kamu masih di dalam?" tanyaku dari depan pintu, menahan senyum puas di balik nada suaraku yang dibuat cemas. "Perlu aku panggilkan dokter?""Nggak usah!" sahut Adrian ketus di sela-sela rintihan. "Cuma salah makan kayaknya. Perutku melilit banget. Tolong cariin obat diare di kotak obat dong!""Iya, sebentar aku carikan."Aku berbalik, melangkah santai menuju lemari di dekat ruang tamu. Rasanya lega sekali tidak melihat wajahnya berkeliaran di sekitarnya.Ting-tong.Bel pintu berbunyi.Aku melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Tidak ada jadwal tamu.Aku membuka pintu utama. Seorang kurir bermotor dengan jaket o
Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah gorden ruang tamu, menyoroti kekacauan yang ada di sana.Adrian tertidur di sofa panjang dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kemeja pestanya yang kusut dan bernoda tumpahan wine. Sepatu pantofelnya terlempar entah ke mana, satu di bawah meja kopi, satu lagi di dekat rak TV. Bau alkohol basi dan muntahan samar menguar di udara, mengubah ruang tamu mewah ini menjadi tempat sampah.Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malamku yang kini terasa lengket. Aku baru saja menyelinap masuk lima menit yang lalu, mencuci muka sebentar di wastafel dapur agar terlihat "bangun tidur", lalu berjalan ke ruang tamu.Aku menatap suamiku.Dulu, pemandangan ini akan membuatku panik. Aku akan lari mengambil air hangat, memijat kepalanya, dan membuatkan sup pereda mabuk. Aku akan khawatir setengah mati pada kesehatannya.Tapi hari ini, aku hanya merasakan... kehampaan."Eungh..." Adrian me
Kembang api terakhir telah padam di langit Jakarta, menyisakan asap tipis yang segera ditelan angin malam. Namun, api di dalam diriku masih menyala, membakar habis sisa-sisa kewarasanku.Cakra melepaskan pelukannya perlahan, memberiku ruang untuk bernapas, meski matanya enggan melepaskan tatapannya dariku.Aku mundur selangkah, menyandarkan punggung pada pagar balkon yang dingin. Tanganku gemetar saat menyentuh bibirku sendiri. Bibir yang baru saja melumat bibir pria lain dengan nafsu yang tidak pernah kuberikan pada suamiku.Realitas menghantamku seperti palu godam.Apa yang baru saja kulakukan?"Elena?" Cakra memanggil, suaranya rendah dan waspada. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh."Jangan," cicitku. Napasku memburu, panik mulai merambat naik ke tenggorokan. "Ya Tuhan... aku... aku berzina. Aku istri orang, Cakra. Aku baru saja mengkhianati Tuhan."Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bayangan ib
Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam ini berubah menjadi lautan topeng. Tema pesta perusahaan Adrian tahun ini adalah Venetian Masquerade. Ratusan tamu mengenakan topeng berbulu, berhias permata, dan berlapis emas, menyembunyikan wajah asli mereka di balik kemewahan palsu.Sangat cocok. Karena malam ini, hidupku juga penuh kepalsuan.Aku mengenakan gaun midnight blue yang elegan, wajahku tertutup separuh oleh topeng perak dengan hiasan renda hitam. Di sampingku, Adrian mengenakan topeng emas mencolok, seolah ingin berteriak pada dunia: Lihat aku! Aku raja malam ini!Dan dia memang merasa jadi raja.Sejak kami datang satu jam lalu, Adrian tidak berhenti minum. Dia berkeliling dari satu meja investor ke meja lain, memamerkan kesuksesan semunya, tertawa terlalu keras, dan merangkulku terlalu erat."Ini istriku, Pak Budi!" Adrian berseru dengan napas berbau whisky, menarik pinggangku kasar di depan







