Selama liburan, Andini mengerjakan endorse yang sudah ia terima. F*e yang diterima juga lumayan banyak. Andini tidak menyangka akan bekerja sama dengan sebuah brand terkenal.
Memang beberapa video transisi make up-nya ada yang fyp. Mungkin karena video tersebut, banyak brand-brand yang menawarkan langsung untuk bekerja sama dengannya. Semakin hari, konten-konten Andini semakin banyak yang menonton. Bahkan mereka banyak yang penasaran dengan YouTube Andini. Beberapa video YouTube Andini, sudah mulai bertambah subscribernya. Andini merasa sangat bersukur. “Ibu, maafkan aku ya Bu. Nggak bisa bantuin ibu masak. Aku harus kerjakan ini, karena sudah di tunggu,” ujar Andini merasa tidak enak dengan ibunya. Liburan di rumah karena ingin membantu ibunya tapi tetap saja, Andini tidak bisa membantu ibunya karena ternyata banyak kerjaan masuk. Andini harus memikirkan ide membuat konten, dan berganti-ganti make up untuk memasarkan produk yang berbeda-beda. Meskipun capek, tapi Andini merasa sangat bersukur. “Iya nggak apa-apa sayang. Kamu bekerja seperti ini juga untuk membantu ibu. Kamu nggak usah pikirkan ibu, yang terpenting kamu selesaikan kerjamu ya. Ibu datang cuma mau mengantarkan ubi goreng untuk kamu,” ujar Ratna meletakkan ubi di meja. “Terimakasih banyak ya Bu,” ucap Andini tersenyum kepada ibunya. “Iya Sayang.” “Ratna! Ratna!” Panggil Bu Rodhiah dengan nada teriak-teriak. “Nenek panggil ibu,” ucap Andini. “Iya. Ibu keluar dulu ya. Ibu juga mau melihat Athala barangkali adik kamu berbuat yang aneh-aneh,” ujar Ratna kemudian keluar kamar. Ratna langsung berjalan keluar rumah, karena mertuanya sudah memanggilnya. Bu Rodiah sudah berkacak pinggang di halaman rumah sambil melihat para sales menurunkan barang-barang. “Ini mau dimasukkan ke warung nggak Bu?” tanya sales yang mengantar barang-barang jualan Bu Rodhiah. “Nggak usah, nanti kamu minta bayaran lagi. Nanti biar menantuku saja yang bawa ke dalam warung,” jawab Bu Rodhiah. Ratna yang masih berdiri di pintu, hanya bisa menarik napas panjang. Barang-barang itu cukup banyak. Bahkan banyak minuman botol kartonan, yang memang cukup berat. Apa daya, Ratna tidak bisa menolak. Ratna dengan lunglai berjalan mendekat ke arah mertuanya. “Ada apa Bu?” “Barang-barang ini kamu masukkan ke dalam warung ya. Andini mana sih? Liburan kok di kamar terus. Mbok keluar bantu-bantu gitu, biar cepat beres. Ini malah dinkamar terus!!” cerocos Bu Rodhiah. “Andini lagi mengerjakan tugas liburannya. Biar lah Bu. Aku juga bisa kok pindahkan ini semua sendiri,” jawab Ratna takut kalau ibu mertuanya akan mengganggu Andini. “Ya sudah masukan cepat. Jangan lama-lama,” pinta Bu Rodhiah dengan nada kasar kemudian masuk ke dalam. Baru saja masuk ke dalam, Bu Rodhiah mencium bau hangus. Wanita tua itu segera ke dapur, untuk melihat apa terjadi sesuatu di dapurnya. Dan benar saja, dapur sudah penuh asap. Melihat itu semua, Bu Rodhiah langsung mengecek kompor. Dan ternyata masih menyala. Bu Rodhiah segera mematikan kompor, dan memanggil pelaku yang membuat rumahnya penuh dengan asap. “Ratna!” teriak Bu Rodhiah dari dalam rumah. Panggilan pertamanya nggak mempan. Bu Rodhiah terus berteriak memanggil menantunya, sampai menantunya datang. Wanita tua itu merasa sangat jengkel melihat dapurnya yang sudah penuh dengan asap, dan masakannya yang gosong. “Ratna!” panggil Rodhiah dengan suara lebih keras. Tetapi yang datang bukannya Ratna malah Linda. “Ada apa sih Bu?” tanya Linda. “Ya Allah ini kenapa banyak asap gini?” “Kelakuan Ratna lah ini,” jawab Bu Rodhiah. Ratna yang mendengar teriakan mertuanya segera meletakkan barang yang dibawanya ke atas rak di dalam warung. Setelah itu ia segera berlari ke dalam menemui ibu mertuanya. Ratna tidak menemukan ibu mertuanya di ruang tamu. Tiba-tiba ia mencium bau hangus, Ratna baru teringat sedang memasak. Ia segera berlari ke dapur. Terlihat ibu mertuanya sudah berdiri dengan kedua tangan dilipat diatas dadanya, dan Linda yang berdiri disamping ibunya. “Kamu ini gimana sih, masak nggak becus gini. Kamu kira bahan-bahan masakan itu murah, hah!” marah Bu Rodhiah dengan mata melotot. “Terus kalau rumah ini kebakaran, gimana?” “Maaf Bu, tadi ibu panggil aku keluar, jadi aku lupa mengecilkan kompornya,” ujar Ratna membela diri. “Kalau sudah gosong begini, bagaimana? Terus kita makan apa siang ini?” tanya Linda mendekat ke masakan yang sudah gosong. “Saya akan masakan ulang,” jawab Ratna. “Minggu ini aku nggak mau kasih kamu uang. Kamu sudah merugikanku dengan membuang bahan makanan. Dasar goblog!” ucap Linda kemudian menoyor kepala Ratna tanpa rasa bersalah. Tidak ada sopan santunnya sama sekali. Padahal Ratna adalah istri dari almarhum kakaknya. Cuma karena kesalahan yang tidak sengaja, Linda melakukan hal merendahkan seperti itu. Andini yang baru saja tiba di dapur, melihat tantenya menoyor ibunya dengan rasa tidak bersalah, langsung emosi. “Tante Linda!” teriak Andini kemudian menghampiri ibunya. “Selama ini ibu yang selalu masak kan Tante dan Nenek, baru kali ini ibu melakukan kesalahan. Itupun karena Nenek yang menyuruh ibu keluar. Kenapa Tante seenak jidat menoyor ibu?” “Andini sudah lah, jangan diperpanjang,” ucap Ratna memohon kepada anaknya untuk tidak memperkeruh keadaan. Meskipun sejujurnya Ratna pun merasa sakit hati dengan sikap Linda yang tidak sopan itu. “Heh! Kamu anak kecil, sudah berani? Apa kamu nggak ingat, kamu dan ibu kamu itu menumpang di rumah kami. Jadi wajar kalau ibu kamu yang memasak untuk kami sebagai gantinya,” ujar Linda dengan mata melotot, tidak terima di omelin keponakannya. “Apa?” tanya Andini kepada Linda. Andini sudah tahu kalau rumah ini adalah milik ayahnya, harusnya mereka itu yang malu karena sudah menumpang dan menyuruh ibunya layaknya pembantu. “Andini!” teriak Bu Rodhiah. “Kamu itu masih kecil tapi berani sama orang tua! Kalau ayahmu masih hidup, pasti kamu sudah diusir dari rumah ini.” “Sudah Andini, ayo kita kembali ke kamar,” ajak Ratna tidak mau anaknya menjadi korban hinaan mertua dan adik iparnya. Ratna langsung menarik anaknya untuk keluar dari dapur, dan berjalan ke kamar. Ratna juga takut kalau mertuanya marah dan malah mengusir mereka. Mau tinggal dimana kalau benar-benar di usir dari rumah ini. Sedangkan di dapur, Linda dan Bu Rodhiah masih ngomel-ngomel karena tingkah Ratna, dan juga Andini, anak Ratna yang berani melawan. “Terus siang ini, kita makan apa Bu?” tanya Linda pada ibunya. “Suruh aja Ratna masak ulang. Apa susahnya,” jawab Bu Rodhiah enteng. “Bahan-bahan di kulkas habis Bu. Mas Robi kan belum gajian, jadi aku belum belanja lagi. Ada juga bahan-bahan punya Mba Anisa.” “Yasudah ambil aja punya Anisa. Nanti ibu yang ngomong ke Anisa. Daripada siang ini kita nggak makan,” ujar Bu Rodhiah. “Anisa belum pulang?” “Belum Bu. Mbak Anisa kan kerjaannya arisan, shopping. Kalau belum sore, ya belum pulang,” jawab Linda. “Anisa ini, gimana mau punya tabungan. Kalau kerjaannya jalan-jalan terus. Untung belum punya anak,” ujar Bu Rodhiah merasa kesal dengan menantunya yang satu ini. “Biarlah Bu. Yang penting tidak merepotkan kita. Yang penting uang bulanan Mas Andi tiap bulan lancar kan?” tanya Linda. “Lancar, itu kalau ibu paksa. Kalau ibu nggak memaksa, Mas mu itu selalu lupa.” “Yasudah, Ibu ya yang ngomong ke Mba Ratna. Aku malas ketemu dengan wajah anaknya yang nyolot itu. Aku mau kembali ke kamar,” ujar Linda meninggalkan Rodhiah sendirian di dapur, dan berjalan menuju kamar. Linda memilih tidur untuk melupakan sejenak rasa laparnya sampai Ratna memasak lagi. Di kamar, Ratna menangis di pelukan anaknya. Ia merasa kasihan dengan Andini yang harus membela dirinya. Ratna tahu bagaimana rasanya menjadi Andini, yang pasti tidak tega melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Tapi Ratna bisa apa, dia tidak bisa membawa kedua anaknya keluar dari rumah ini mengingat dirinya yang yatim piatu dan tidak punya saudara sama sekali. “Maafkan aku Bu,” ucap Andini merasa menyesal. “Ibu yang harusnya minta maaf karena tidak bisa memberi kebahagiaan untuk kamu dan Athala,” ucap Ratna sambil menghapus air matanya. “Ibu jangan berkata begitu. Dengan ibu menjadi ibuku saja, aku sudah bahagia. Ibu adalah wanita tangguh dan hebat. Ibu jangan menangis lagi ya,” ujar Andini membantu ibunya menghapus air mata. Ratna pun mengangguk, ia tidak mau terlarut sedih memikirkan semua ini. Bagaimanapun dirinya harus kuat menghadapi cobaan ini demi kedua anaknya. Ia harus bertahan di rumah mertuanya, agar tetap diizinkan menumpang. “Aku janji aku akan membawa ibu dan Athala keluar dari sini. Aku janji, Bu,” ucap Andini dengan senyuman. Ia meyakinkan ibunya kelak dia akan membawa ibunya pergi dari rumah ini. “Ibu akan menunggu hari bahagia itu, Andini. Ibu berdoa kelak kamu dan Athala akan menjadi orang yang sukses. Dan kita bertiga bisa bahagia bersama.” “Aamiin.” Keduanya pun berpelukan. Saling melepas beban hati. Andini sudah begitu muak dengan semua anggota rumah ini yang selalu menghina ibunya. Tok! Tok! Tok! “Ratna kamu masak ulang, pakai bahan-bahan masakan milik Anisa. Setelah masak, jangan lupa bawa barang-barang jualan ke warung!” perintah Bu Rodhiah dari luar pintu. “Iya Bu,” jawab Ratna dari dalam. “Ibu masak aja, nanti barang-barang di depan biaqr aku yang masukkan ke dalam warung,” ucap Andini. “Kamu makan dulu aja sana. Lauk punya ibu sudah matang. Tapi ibu letakkan di lemari bawah, biar mereka nggak tahu. Kalau ibu letakkan di atas, pasti nanti di ambil mereka,” ucap Ratna pada anaknya. “Kita makan bareng dulu ya Bu. Baru setelah itu ibu masak, dan aku masukan barang ke dalam warung.” “Oke. Tolong ambil Athala di rumah sebelah ya Kak, ibu mau ambil nasi dan lauk ke kamar dulu,” ujar Ratna. _______ Hari Minggu suasana rumah Bu Rodhiah begitu sepi. Andini yang baru bangun pukul 7 pagi, baru keluar kamar. Andini merasa aneh karena rumahnya begitu sepi. Apalagi ini hari Minggu. Andini yang melakukan live streaming dari jam 2 pagi sampai subuh, dan tertidur kembali setelah sholat subuh. Sebab itulah dia bangun agak siang, tidak seperti biasanya. Adiknya pun, Athala, juga masih tertidur pulas. Andini keluar kamar dan segera ke belakang, mencari ibunya. Dan benar saja ibunya sedang menjemur baju milik nenek, dan yang lainnya. “Ibu, aku bantuin ya,” ucap Andini sambil mengambil cucian yanga da di bak, dan menjemurnya. “Kakak sudah bangun. Athala masih tidur?” tanya Ratna pada anaknya. “Dia masih pulas tidurnya Bu. Tadi pas aku live, dia kan juga ikut bangun. Jadi pasti masih mengantuk,” jawab Andini. “Oh ya Bu, kok tumben sepi. Belum pada bangun?” “Nenek kamu dan yang lain sedang liburan. Entah katanya merayakan sesuatu, ibu juga nggak tahu merayakan apa. Katanya sih mau menginap di hotel segala, dan pulangnya besok malam,” cerita Ratna sambil menjemur. ‘Pasti mereka merayakan penjualan tanah milik Kakek. Tapi ibuku tidak diberi bagian sedikitpun. Jahat bener mereka’ gumam Andini dalam hati. Melihat anaknya yang tiba-tiba melamun, Ratna langsung menoleh ke Andini dan memanggil-manggil nama anaknya. “Kakak!” panggil Ratna. Tapi yang dipanggil tidak merespon, masih saja melamun. Entah apa yang dipikirkan anaknya itu. “Andini!” Panggil Ratna dengan menyebut nama anaknya. “Hmm, iya Bu,” jawab Andini. “Kenapa? Kok melamun?” “Nggak apa-apa Bu,” jawab Andini asal. Gadis itu tidak mungkin jujur pada ibunya tentang penjualan tanah kakeknya. Pasti ibunya sedih mendengar kenyataan kalau dirinya selalu tidak dianggap. Dan Andini tidak mau ibunya sedih. “Oh ya Bu, inshaAllah Minggu depan aku ke Jakarta. Ada kontrak kerjasama yang harus aku tandatangani. Ibu mau ikut?” “Kok jauh banget. Itu beneran Kak, bukan tipuan kan?” tanya Ratna seperti tidak percaya. “Beneran Bu. Ibu tenang saja. Kalau ibu mau ikut, nanti aku belikan tiket.” “Ibu beneran boleh ikut?” tanya Ratna dengan wajah berbunga-bunga. “Boleh.” “MasyaAllah, akhirnya ibu bisa liburan juga,” ujar Ratna dengan senyum mengembang di bibirnya. Baru saja meras bahagia, tapi tiba-tiba saja senyum itu langsung memudar. “Tapi kalau ibu ikut, pasti bayarnya jadi lebih mahal ya Kak.” “Nggak lah Bu. Aku kan kan dapat uang transport untuk kesana, jadi ibu nggak perlu khawatir.” “Serius Kak?” tanya Ratan memastikan. “Iya,” jawab Andini singkat tapi penuh keyakinan. Ratna pun langsung tersenyum kembali mendengar jawaban anaknya. “Ibu dan Athala ikut deh. Sudah lama ibu nggak jalan-jalan,” ujarnya dengan penuh bahagia. Andini tersenyum melihat ibunya bahagia seperti itu. Jarang sekali melihat ibunya tertawa bahagia seperti itu. Impian Andini untuk membeli rumah, berharap segera terwujud. Tabungan Andini semakin hari, semakin bertambah dari hasil content creator. ‘Aku akan ajak ibu bersenang-senang di Jakarta. Melupakan semua beban yang ada disini’.Di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, Robi duduk bersama beberapa temannya. Asap rokok mengepul di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang mereka seruput. Mereka sudah berkumpul sejak tadi, mengobrol tentang banyak hal, dari kerjaan yang tak kunjung datang hingga tentang judi online yang sedang mereka mainkan. "Jadi kamu kembali lagi dengan istrimu, Rob?" tanya salah satu temannya, sambil mengaduk kopi dalam gelas kecilnya. Robi menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik yang sudah reyot. Ia menghembuskan napas berat sebelum menjawab. "Iya. Mau gimana lagi? Di rumah orang tuaku, kena sindir terus gara-gara nggak kerja." Matanya melirik temannya dengan ekspresi malas. "Ya gimana mau kerja, motor aja nggak ada." Temannya tertawa kecil. "Untungnya kamu, Rob. Masih diterima istrimu meskipun punya banyak kesalahan." Robi menyeringai, bibirnya melengkung dengan kesombongan terselubung. "Dia nggak bisa lepas dari aku. Apapun masalahnya, dia nggak akan bisa lepas dari aku,"
Rio menatap lembaran kertas di tangannya. Tanda tangan yang Andini minta sebagai syarat Alvin meminjam uang."Kamu ngomong apa ke mereka, kok bisa dapat tanda tangan secepat itu?" tanya Rio curiga, matanya mengamati Alvin yang berdiri dengan santai di depannya. "Kamu nggak bilang yang minta tanda tangan itu Andini, kan?"Alvin tertawa kecil, menggeleng. "Nggak kok. Santai aja, Rio."“Tapi ngomong-ngomong, Andini mau pakai buat apa?” tanya Alvin.“Entahlah. Aku pun nggak tahu,” jawab Rio pura-pura nggak tahu. “Yakin, kamu nggak tahu Yo?” tanya Alvin.“Iya,” jawab Rio singkat.Keduanya pun terdiam sesaat. Rio yang Alvin kenal, tidak seperti dulu. Jika dulu Rio akan bercerita semua apa yang dialaminya. Sekarang tidak. Bahkan Alvin baru tahu kemarin, kalau Andini sudah menjadi calon istri Rio. Entah kapan mereka jadian."Kamu berubah, Rio," lanjut Alvin tiba-tiba, suaranya le
"Mas, aku mau keluar dulu ya. Temanku kecelakaan," ujar Anisa dengan nada cemas sambil meraih tas kecilnya.Andi, yang tengah duduk di sofa sambil memangku Disa, anak mereka yang baru berusia dua bulan lebih, langsung menatap istrinya. "Aku antar," katanya tegas.Anisa menggeleng cepat. "Nggak usah, Mas. Aku sendirian aja. Kamu jaga Disa. Dia lagi tidur, kan?"Andi melirik ke arah putrinya yang terlelap dalam dekapan. Tarikan napasnya terdengar berat, seakan ingin membantah, tapi dia tahu Anisa benar. Dia tidak bisa meninggalkan Disa sendirian."Yaudah, hati-hati. Jangan lama-lama," ucapnya akhirnya, meski raut wajahnya masih tampak ragu.Tanpa banyak bicara lagi, Anisa segera meraih kunci motor dan melesat keluar rumah. Hatinya penuh kegelisahan. Farhan Hartawan, pria yang selama ini menjadi tumpuannya dalam diam, mengalami kecelakaan. Bagaimana kondisinya sekarang?Sesampainya di Rumah Sakit Bhakti
Bu Rodhiah tiba di rumah sakit tepat pukul delapan malam. Udara malam yang dingin menyelinap ke dalam jaket tipisnya saat ia melangkah menuju kamar rawat Hera. Di dalam tirai bagian Hera, hanya ada Hera yang terlelap di ranjang rumah sakit, dengan bayinya meringkuk di sampingnya. Cahaya lampu temaram membuat wajah Hera tampak lebih pucat, kelelahan masih tergambar jelas di raut wajahnya.Bu Rodhiah mendekat, lalu dengan lembut menepuk tangan putrinya."Hera," panggilnya pelan.Hera tersentak dan membuka matanya, lalu terkejut mendapati ibunya berdiri di samping tempat tidur."Ibu," gumamnya dengan suara serak.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Bu Rodhiah.“Sudah mendingan Bu. Ibu kok lama banget sih datangnya?”“Tadi tanggung, ada pembeli. Jadi nunggu melayani pembeli selesai, baru kesini,” jawab Bu Rodhiah."Alvin mana?" tanya Bu Rodhiah, matanya langsung menyapu ruangan, menc
"Maaf ya, Yo. Aku terlalu sering merepotkan kamu," ucap Andini pelan. Ada nada sungkan dalam suaranya sambil melanjutkan makanannya yang belum habis.Rio tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Santai aja. Selama itu demi kebaikan, aku pasti dukung. Lagipula, rumah itu memang hak kamu dan adikmu. Kalian berhak mendapatkannya."Andini mendesah pelan. "Tapi aku butuh bukti otentik. Kalau nanti masalah ini diperdebatkan, aku nggak mau kalah begitu saja.""Kita berdoa aja, semoga Alvin bisa dapetin tanda tangan nenek dan om tantemu," kata Rio, suaranya penuh keyakinan."Aamiin," gumam Andini.Mereka kembali melanjutkan makan. Sendok-sendok beradu dengan piring, tapi keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari sebelumnya. Sesekali, Rio melirik Andini yang duduk di hadapannya. Tatapannya lembut, nyaris sendu. Ia mengamati cara Andini menyuap makanan, caranya menghela napas sejenak sebelum mengambil
Hera akhirnya melahirkan melalui operasi sesar. Bayinya seorang perempuan, cantik, dengan wajah yang begitu mirip dengan Alvin.Di luar ruang operasi, Alvin asik duduk sambil bermain game nya. Saat seorang suster memanggil Alvin untuk masuk ke dalam, Alvin mengikutinya memasuki ruangan yang di dalamnya ternyata terdapat banyak ruangan lagi. Terlihat suster membawa bayi mungil dalam selimut putih, ia segera menghampiri."Pak, anaknya diazankan dulu," ucap suster itu sambil tersenyum.Alvin terdiam, menatap bayi kecil yang kini ada di hadapannya. Tubuhnya begitu mungil, wajahnya tenang meski napasnya masih terdengar kecil. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Tapi, begitu bayi itu ada di pelukannya, rasa panik justru menyerangnya."Istri saya mana, Bu?" tanyanya, suaranya terdengar kaku."Masih di ruang operasi. Sebentar lagi selesai."Alvin mengangguk, lalu kembali menatap bayinya.