แชร์

3. Gimana ini?

ผู้เขียน: Risya Petrova
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 17:29:17

Suara teriakan Indra dari lantai bawah yang menggema kasar seketika memutus sisa-sisa suasana mesra, canggung, dan jengah di antara mereka. 

"M-Mas Indra beneran pulang …," gumam Maya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi seolah seluruh darahnya disedot habis ke bumi. “Ini bahaya … Kalau dia liat kamu ada di sini sama aku … Dia bisa ….”

"Mbak, mending sekarang kita bergerak! Jangan panik!" seru Wildan, ikut panik melihat nyonya rumah itu malah mematung tapi kebingungan.

"A-ah, iya! Kamu harus sembunyi!"

Panik membuat gerakan Maya menjadi tidak terkontrol. Dia berniat mendorong Wildan keluar dari kamar mandi, tetapi karena lantai marmer masih licin oleh sisa sabun dan air, kaki Maya malah terpeleset lagi.

"Eh—eh!" pekik Maya.

Wildan yang berniat menghindar ke arah berlawanan justru ikut kehilangan keseimbangan karena ditarik paksa. Tubuh tegapnya condong ke depan, mencoba menahan tubuh Maya agar tidak jatuh terlentang.

Bruk!

Bukannya selamat, mereka malah bertubrukan dengan sangat tidak estetik. Kepala Wildan membentur dahi Maya dengan cukup keras.

"Aduh! Jidatku!" ringis Maya, matanya berkunang-kunang.

"Aduh, maaf Mbak! Kepala Mbak keras juga ya," rintih Wildan sambil mengusap keningnya. Tapi sedetik kemudian dia sadar posisinya kembali salah. Wajahnya mendarat tepat di lekuk leher Maya, sementara tangannya entah bagaimana bisa memeluk pinggul wanita itu dengan erat untuk menahan bobot mereka berdua di lantai.

"Wildan! Kamu sengaja ya nyari kesempatan?!" semprot Maya dengan suara tertahan. Pipinya kembali memerah, setengah kesal setengah malu karena bagian sensitifnya kembali tertekan dada bidang Wildan. "Cepat berdiri! Malah keenakan!"

"Lah, demi Tuhan, Mbak! Siapa juga yang kepikiran mesum kalau taruhannya digebukin Jaksa!" balas Wildan sewot sambil buru-buru menegakkan tubuhnya, lalu menarik Maya berdiri. "Ayo cepat, Mbak! Jangan salah paham terus!"

Suara gedoran pintu semakin terdengar kencang. 

"Maya! Buka pintu! Sialan, kamu sengaja mengunci aku di luar?!" Raungan Indra dari lantai bawah semakin kencang, disusul hantaman keras pada pintu kamar yang terdengar seperti sengaja ditendang.

Brak! Brak!

Tendangan keras berirama kasar itu mengirimkan sensasi dingin yang menjalar ke punggung Wildan. 

"Wildan, lewat pintu belakang tidak mungkin, Mas Indra pasti lewat garasi samping," bisik Maya, suaranya bergetar hebat saat menarik tangan Wildan keluar dari kamar mandi. "Kamu ... kamu harus sembunyi di sini!"

Maya menarik pintu geser besar berlapis cermin yang ada di sudut kamar—sebuah walk-in closet mewah yang sangat luas.

"Sembunyi di antara baju-baju aku, cepat!" perintah Maya sambil mendorong punggung tegap Wildan ke dalam ruangan sempit tersebut.

"Mbak, baju Mbak wangi semua, nanti kaos saya yang bau oli ini malah mengotori gaun-gaun mahal Mbak," protes Wildan saat tubuhnya mulai terhimpit di antara gantungan gaun tidur satin dan renda-renda seksi milik Maya.

"Nggak usah mikirin baju, cukup pikirin nyawa kamu aja, gimana sih?!" desis Maya tajam, matanya melotot. Namun, sebelum dia menutup pintu lemari, tatapannya secara refleks sempat turun ke arah jeans Wildan yang masih mencetak tonjolan tegang karena sisa gairah tadi. 

Maya menelan ludah canggung, wajahnya makin merona merah. "Wildan ... tolong kondisikan punya kamu itu! Iya sih gede, tapi jangan sampai merusak lemariku, mahal harganya!"

"Ini reflek alami laki-laki, Mbak! Nggak bisa di-remote!" bisik Wildan membela diri dengan wajah merona menahan malu.

Gebrak!

Pintu lemari ditutup rapat oleh Maya, menenggelamkan Wildan dalam kegelapan total yang sarat akan aroma parfum melati yang memabukkan. Wildan terpaksa berdiri kaku, menahan nafasnya dalam-dalam di antara kelembutan kain-kain sutra tipis milik sang nyonya rumah.

Dari luar, terdengar suara langkah kaki yang berat, mantap, dan berirama tegas menaiki anak tangga marmer. Aura intimidasi dari sang pemilik rumah terasa bahkan sebelum sosoknya terlihat. Itu langkah kaki Indra.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar utama digedor dengan kasar dari luar. "Maya! Buka! Kenapa lama sekali sih?! Dasar lamban!" bentak Indra dari balik pintu.

Wildan bisa mendengar suara gerendel pintu kamar dibuka oleh Maya yang tampaknya sudah buru-buru memakai gaun tidur kering untuk menyembunyikan tubuh basahnya.

Cklek.

"I-iya, Mas. Maaf, aku baru selesai mandi jadi tidak dengar bel," suara Maya terdengar dari luar, sedikit bergetar namun coba diredam sebisa mungkin agar terlihat natural.

"Mandi sampai tidak dengar bel setinggi ini? Kamu sengaja, ya?" Nada suara Indra mendadak turun beberapa oktaf, berubah menjadi sangat dingin dan penuh selidik. "Kenapa lantai koridor luar basah semua? Dan bau apa ini? Bau besi dan oli?"

Melalui celah tipis di pintu lemari, Wildan mencoba mengintip. Dia bisa melihat sosok Indra yang tegap mengenakan kemeja kerja yang kusut, wajahnya tampak mengeras penuh kekesalan. 

Pria itu melempar tas kerjanya dengan kasar ke atas kasur, lalu menatap Maya dengan pandangan dingin tanpa kehangatan seorang suami. Indra benar-benar mengabaikan fakta bahwa mata Maya masih sedikit sembab karena panik.

"Pipa saluran atas di kamar mandi mendadak pecah total, Mas. Airnya langsung meluap ke mana-mana," jelas Maya cepat, mencoba bersikap tegar walau jemarinya meremas ujung gaun tidurnya dengan gelisah. "Tadi aku sempat panggil montir suruhan Mario, tapi dia sudah pulang lewat pintu belakang setelah mematikan keran utamanya."

Indra tidak langsung merespons. Dia berjalan perlahan dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa lembab. Langkah sepatunya yang mengkilap menyisakan suara ketukan yang berat di atas marmer, bergerak mendekati area lemari tempat Wildan bersembunyi.

"Tukang sialan, kerja tidak beres. Rumah jadi bau oli begini," keluh Indra dengan egois sambil melonggarkan dasinya. Pria itu sama sekali tidak menanyakan apakah istrinya terluka atau syok karena insiden pipa meledak tadi. Dia justru mengeluhkan hal lain. "Kenapa jam segini makan malam belum siap di meja bawah? 

“Aku pulang capek kerja dan istriku malah bermalas-malasan di kamar! Aku bilang kan, kalau aku pulang, kamu harus masakin aku. Tugas istri tuh masak dan ngurus rumah! Ini bersih-bersih rumah udah ada yang bantuin. Masa masak doang aja gak ada waktu!”

“A-aku … aku tadi gak enak badan Mas. Makanya nggak masak. Gimana kalau kita beli makanan matang aja ya? Aku order makanan online aja ya? Mas mau apa?”

“Nggak usah! Aku pengennya kamu yang masak!” bentak Indra. “Dasar istri nggak guna!”

Dari posisinya, Wildan bisa melihat bagaimana jemari tangan Maya yang tersembunyi di balik punggungnya bergetar hebat menahan luapan emosi, air mata, harga diri yang terinjak, dan rasa sepi yang mendalam. 

Sebuah kontras yang menyedihkan dari kehidupan pernikahan megah yang selama ini dipamerkan di media sosial. 

Wildan yang melihatnya dari balik kegelapan lemari mendadak merasakan denyutan aneh di dadanya. Rasa benci pada keangkuhan Indra, sekaligus rasa iba yang mendalam pada Maya.

Sembari meraba kain gaun di sekelilingnya agar tidak membuat suara sekecil apapun, tangan Wildan yang kasar tidak sengaja menyentuh selembar kain renda tipis yang ternyata merupakan g-string milik Maya yang tergantung rendah di sudut lemari. 

Sentuhan sensual yang tak terduga itu, dikombinasikan dengan bayangan lekuk tubuh padat Maya beberapa menit lalu, membuat kejantanan Wildan yang berada di balik celana jeans basah semakin mengeras kaku karena imajinasinya sendiri.

Situasi berganti menegangkan sewaktu Indra melangkah lurus mendekati lemari pakaian tempat Wildan bersembunyi. 

“Aku mau beli makanan saja di restoran!” seru Indra, sembari hendak mengambil satu kaos di dalam lemari itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 188. Tidak terima

    Suara ledakan susulan yang menggema di luar jendela membuat debu dan serpihan plester langit-langit berjatuhan ke lantai ruang kerja. Jenderal Soebroto, meskipun usianya sudah senja, masih menunjukkan ketegasan seorang perwira tinggi militer yang terbiasa menghadapi medan perang. Namun di balik tatapan kerasnya, terselip kepanikan luar biasa saat ia melihat situasi di luar sudah benar-benar di ambang kehancuran total.Ia dengan cepat mencengkeram kedua bahu istrinya yang sedang syok berat. Wajah Ibu Ratna pucat pasi, air matanya meleleh deras membasahi pipi, menatap suaminya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab."Ratna, dengar baik-baik apa kataku sekarang!" suara Soebroto terdengar tegas, berusaha menerobos suara bising di luar. "Masuklah ke dalam kamar tidur utama, kunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah keluar apa pun yang terjadi di luar sana! Paham?!"Ibu Ratna tidak langsung menjawab. Netranya yang basah hanya menatap nanar suaminya, seolah sedang membaca akhir dar

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 187. Hancur

    Konvoi kendaraan taktis Black Wolf melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu depan kendaraan dimatikan, hanya menyisakan sorot inframerah dan kegelapan total yang menyelimuti barisan mobil SUV hitam pekat tersebut. Di kursi kemudi kendaraan utama, Wildan duduk dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapan matanya lurus ke depan, memantulkan nyala api dendam yang tidak akan padam sebelum seluruh sisa pertahanan musuhnya benar-benar runtuh. Di belakangnya, dua puluh unit kendaraan taktis bermuatan pasukan elit mengikuti dalam formasi tempur yang sangat rapi dan senyap, bagaikan bayangan maut yang siap menerkam mangsanya kapan saja.Sementara itu, di sebuah kediaman mewah namun terisolasi di kawasan pinggiran kota yang menjadi tempat persembunyian terakhir Jenderal Soebroto, suasana malam terasa begitu sunyi dan mencekam. Di ruang kerja utamanya yang luas, Jenderal Soebroto duduk di kursi kebesarannya sambil memegang segelas wiski. Pria tua itu mencoba menenan

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 186. Marah

    Wildan berdiri tegak di hadapan pembunuh bayaran yang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara sebelah lengannya tetap mendekap erat sang buah hati. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, namun sorot matanya memancarkan aura haus darah yang sanggup membuat siapa pun merinding ketakutan.Agar tidak menarik perhatian keamanan rumah sakit atau memicu kepanikan di area VVIP, dengan isyarat tangan singkat, Beno langsung menyeret tubuh sang pembunuh bayaran menuju ruang utilitas servis bawah tanah yang kedap suara.Di ruangan remang-remang itulah interogasi dingin tanpa ampun dilangsungkan."Siapa yang suruh kalian?" tanya Wildan dengan suara yang sangat dingin, datar, dan berbisik, namun terdengar bagaikan vonis mati di telinga sang penyusup. "A-ampun, Bos ... ampun…," rintih pembunuh itu terbata-bata, meraba ujung sepatu Wildan dengan tangan gemetar. "Tulang rusuk sayav ..." "Gue nggak nanya kondisi tulang lo," potong Wildan cepat, suaranya makin menekan penuh ancaman. "Sekali lagi lo buang

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 185. Kurang ajar!

    Bunyi denting lift utama di ujung lorong lantai VVIP bergemerincing nyaring, memecah keheningan malam yang mendadak terasa begitu mencekam. Suara logam bergesekan itu bergema tegas di antara dinding-dinding putih rumah sakit yang steril.Di dalam ruang NICU yang hangat, tangan eksekutor suruhan Jenderal Soebroto yang bersarung tangan karet baru saja menyelip di bawah selimut bayi, bersiap mengangkat putra pertama Wildan keluar dari kotak inkubator."Cepat! Jangan biarkan dia bernapas atau bersuara!" bisik eksekutor pertama dengan nada panik, sementara tangannya sendiri gemetar hebat menahan rasa takut yang teramat sangat.Mendengar suara lift tersebut, sang pembunuh bayaran langsung menoleh kaget ke arah pintu kaca. Waktu seolah berjalan lambat, menghimpit setiap detik yang tersisa di ruangan itu.Pintu lift utama di luar perlahan terbuka lebar. Dari balik pintu, sosok Wildan melangkah keluar dengan tenang, menjinjing kantong belanjaan berisi makanan hangat untuk istrinya di tangan ka

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 184. Bayi Wildan dibekap

    Pukul tiga pagi. Lorong rumah sakit VVIP terasa begitu lengang, diselimuti cahaya lampu kuning temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding putih steril. Suasana sunyi senyap itu seolah menelan setiap suara, membuat malam terasa jauh lebih panjang dan mencekam bagi siapa saja yang terjaga di dalamnya.Dari dalam lift servis yang berdengung pelan, dua sosok pria berbadan tegap melangkah keluar dengan tenang. Mereka mengenakan seragam medis lengkap—jas lab putih bersih di atas pakaian taktis, masker penutup wajah berwarna hijau muda, serta mendorong sebuah troli besar berisi tumpukan handuk, obat-obatan, dan peralatan rumah sakit. Penampilan luar mereka tampak begitu meyakinkan, menyatu sempurna sebagai staf malam rumah sakit yang sibuk berpatroli.Dua orang pembunuh bayaran profesional suruhan Jenderal Soebroto itu bergerak dengan presisi tingkat militer. Berbekal kartu akses curian serta cetak biru ruangan digital yang dikirimkan oleh petugas medis korup dari dalam, mereka be

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 183. Diam-diam

    Suasana di dalam kamar VVIP nomor 402 itu terasa begitu kontras dengan dunia luar yang keras dan penuh darah. Ruangan steril tersebut beraroma antiseptik lembut, tenang, dan dipenuhi oleh kehangatan domestik yang sudah lama diidam-idamkan oleh keluarga kecil Wildan.Di atas ranjang pesakit, Maya bersandar nyaman dengan bantal empuk di belakang punggungnya. Wajahnya yang kemarin sempat pucat pasi akibat teror di kapal kargo kini berangsur membaik, memancarkan ketulusan serta kelegaan luar biasa di balik senyuman tipisnya. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari kotak inkubator transparan yang terletak tepat di sisi tempat tidurnya.Di dalam kotak hangat bernyala lembut itu, tubuh mungil bayi laki-laki mereka sedang tidur lelap. Hidung kecil sang bayi tampak dibantu oleh alat medis ringan guna memastikan pernapasannya stabil di masa-masa awal kelahiran prematurnya.Wildan berdiri di samping inkubator tersebut. Jemari kasar tangan seorang mantan montir yang terbiasa memegang barang dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status