แชร์

4. Ketahuan?!

ผู้เขียน: Risya Petrova
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 17:31:39

“Aku mau ganti baju," gumam Indra, tangannya sudah terangkat dan ujung jarinya hampir menyentuh gagang pintu lemari tempat Wildan menahan napas dengan jantung berdegup kencang. Satu senti lagi, dan rahasia mereka akan terbongkar.

Maya bergerak cepat. Dengan nekat dia menghadang suaminya, menyusupkan tubuhnya di antara Indra dan gagang pintu lemari, memotong pergerakan tangan pria itu. "Mas, biar aku saja yang ambilkan bajunya! Kamu bersih-bersih saja dulu di kamar mandi luar, biar cepat selesai."

Indra menatap Maya dengan pandangan menyipit tajam, meneliti kegugupan di wajah istrinya selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad bagi Wildan di dalam lemari. Wildan sudah bersiap menggenggam kunci inggrisnya, bersiap untuk skenario terburuk jika pintu ini terbuka.

"Ya sudah, cepat ambilkan. Jangan lamban seperti biasanya," sahut Indra dingin, akhirnya menurunkan tangannya.

Maya dengan tangan gemetar membuka lemari di sebelah posisi Wildan, mengambil selembar kaos bersih, lalu menyerahkannya pada suaminya. Setelah menerima kaos dari tangan Maya, Indra memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamar menuju ruang tengah bawah tanpa menaruh curiga, menyisakan keheningan yang luar biasa mencekam di dalam kamar utama. 

Suara langkah kakinya perlahan menghilang di turunan tangga.

Wildan perlahan mendorong pintu lemari hingga terbuka, melangkah keluar sambil menarik nafas lega yang panjang. Dia langsung berhadapan dengan Maya yang kini sudah terduduk lemas di tepi ranjang besar itu.

Pertahanan wanita elit itu runtuh total. Air mata mulai menetes perlahan memandangi lantai marmer, membasahi pipinya yang semula merona merah karena ketakutan. Bahunya terguncang hebat dalam keheningan, menampilkan sisi rapuh dari seorang istri Jaksa yang selama ini terlihat sempurna.

Wildan menatap punggung Maya yang bergetar. ‘Kasar banget suaminya,’ batinnya. ‘Apa aku peluk aja ya, buat nenangin?’ 

Tangan Wildan yang kasar dan masih menyisakan sedikit noda oli perlahan terangkat. Dia berniat mengusap bahu Maya yang terbalut gaun tidur satin marun. 

Namun, baru beberapa sentimeter sebelum kulit mereka bersentuhan, gerakan tangan Wildan mendadak menggantung di udara. Logikanya kembali berteriak. Dia sadar posisi. Siapa dia? Cuma seorang montir dan juga kerja serabutan, menjadi help keeper panggilan yang kebetulan terjebak di dalam pusaran konflik rumah tangga orang kaya. 

Wildan menarik kembali tangannya dengan ragu, memilih untuk berdiri mematung di samping wanita yang sedang rapuh itu.

BRUMMM!

Keheningan di antara mereka mendadak terpecah oleh raungan mesin mobil sedan mewah di lantai bawah. 

Suara deru knalpot itu terdengar menjauh, disusul suara pagar besi otomatis yang tertutup rapat. Indra benar-benar pergi meninggalkan rumah untuk mencari makan di restoran, persis seperti ucapannya tadi.

Wildan menarik napas panjang, mencoba menetralkan sisa-sisa ketegangan yang masih menguji kejantannya di balik celana jeans yang basah. Netranya menatap Maya yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. 

Baru juga Wildan hendak berinisiatif untuk menenangkan Maya, ponsel Maya berdering. Ia langsung buru-buru mengambilnya. Melewati Wildan tanpa permisi.

Wildan spontan berjalan mundur, memberikan ruang bagi Maya yang bergerak tergesa-gesa meraih ponsel di atas nakas.  Membaca nama di layar ponsel tersebut dan seketika membuat wajah Maya menjadi tegang dan pucat Ia menekan tombol hijau dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Halo, Ma—"

"Maya! Di mana Indra? Kenapa dari tadi teleponnya tidak diangkat?!"

Suara lengkingan keras dari seberang sana langsung memotong kalimat Maya. Begitu nyaringnya intonasi itu, sampai-sampai Wildan yang berdiri tiga langkah di belakang bisa mendengar setiap kata dengan sangat jelas karena posisi loudspeaker ponsel yang bocor.

"Mas Indra baru saja keluar, Ma. Katanya mau cari makan di luar karena—"

"Pasti kamu bikin gara-gara lagi, kan?!" tuduh suara itu.

Wildan langsung tahu kalau itu suara Ibu Ratna, ibu kandung Indra alias mertua Maya. Suaranya terdengar penuh intimidasi dan penghakiman.

"Suami pulang kerja capek-capek itu diurus, dilayani, bukan malah dibuat emosi sampai minggat dari rumah jam segini! Dasar istri tidak tahu diuntung!"

Maya memejamkan matanya rapat-rapat, menahan sesak di dadanya. "Bukan begitu, Ma. Tadi di rumah ada kendala pipa saluran air yang meledak, jadi—"

"Halah! Jangan cari-cari alasan! Dari dulu kerjaanmu cuma bisa mengeluh dan bikin repot saja!" potong Ibu Ratna lagi, sama sekali tidak peduli.

Jeda beberapa detik di telepon, sebelum wanita paruh baya itu melontarkan kalimat yang jauh lebih menusuk tepat ke ulu hati Maya.

"Lalu, bagaimana kelanjutan urusan yang kemarin? Kapan kamu mau hamil, Maya?! Ini sudah tahun kelima! Teman-teman Mama selalu menanyakan kapan aku punya cucu dari Indra. Aku harus taruh di mana mukaku ini? Kamu itu mandul, ya?! Liat saja, kalau sampai kamu tidak hamil-hamil, aku akan suruh Indra nikah lagi dan kamu akan ku usir dari rumah itu!”

Pertanyaan tajam itu laksana sembilu yang menyayat harga diri Maya, tepat di depan seorang montir asing.

"Aku ... aku nggak mandul, Ma," bela Maya. Suaranya naik satu oktav, bergetar menahan tangis yang sudah di ujung tanduk. "Aku sudah berulang kali cek ke dokter spesialis, dan hasil lab menyatakan aku benar-benar sehat. Rahimku subur, Ma ...."

"Heh! Maksudmu apa bicara begitu?!" Suara Ibu Ratna mendadak meninggi, kedengaran sangat marah. "Kamu mau menuduh anakku, Indra, yang mandul?! Kurang ajar kamu! Indra itu anakku, dia tidak mungkin mandul! Dari kecil dia selalu hidup sehat, makan makanan bergizi, tidak pernah kekurangan satu apa pun!"

Wildan yang mendengarkan dari posisinya hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku celana jeansnya. Dadanya ikut bergemuruh panas mendengar kesombongan yang tidak masuk akal itu.

"Tidak seperti kamu yang berasal dari keluarga orang susah!" cibir Ibu Ratna, lanjut menguliti latar belakang Maya dengan kata-kata yang teramat merendahkan. "Masih bagus kamu diperistri oleh Indra. Kalau bukan karena Indra yang mau menampungmu, kamu tidak akan pernah bisa naik kasta, adikmu tidak bisa kuliah, dan kamu tidak bisa tinggal di rumah megah seperti sekarang! Harusnya kamu itu tahu diri, rajin berdoa, bukan malah menyalahkan anakku!"

Pip.

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Ibu Ratna, meninggalkan bunyi tutur monoton yang memuakkan di dalam keheningan kamar.

Maya perlahan menurunkan ponselnya. Tubuhnya lemas seketika hingga dia terpaksa berpegangan pada tepi ranjang agar tidak ambruk ke lantai marmer. Tangisnya yang tadi sempat reda kini pecah kembali.

Wildan menatap wanita di depannya dengan rasa simpati yang amat mendalam. Rasa benci pada keangkuhan keluarga Indra mendadak bergolak di dalam dadanya. Di balik kemegahan istana kaca ini, Maya ternyata tidak lebih dari seorang tawanan yang terus-menerus diinjak harga dirinya hanya karena urusan keturunan.

"Mbak Maya? Mbak Maya gak apa-apa? Ini tisu, Mbak, dilap dulu air matanya. Mbak Maya nggak pantes nangis kayak gitu, nanti Mbak Maya kurang keliatan cantik, loh."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 194. Penyangkalan

    Mendengar ucapan Wildan yang menusuk tajam, dunia seolah berhenti berputar bagi Indra Wiguna. Jari telunjuknya yang tadinya menempel erat pada pelatuk pistol otomatis mendadak kaku, urat-urat di pelipisnya menegang hebat, dan napasnya tertahan di kerongkongan."A-apa maksudmu ...?" suara Indra tercekat, nada tinggi penuh amarah itu seketika runtuh berganti menjadi getaran ketakutan yang luar biasa. "Ayah dan Ibu ... mendengarkan apa melalui radio ...?"Di kejauhan, tersembunyi di balik kegelapan ruang kerja yang hancur di kediaman Soebroto, perangkat radio penerima militer yang ditinggalkan menyala mengeluarkan suara bising dari pelabuhan. Jenderal Soebroto dan Ibu Ratna yang terduduk lemas di lantai terpaku ngeri. Jantung mereka bagaikan berhenti berdetak saat mendengar suara putra tunggal mereka bergetar ketakutan melalui gelombang udara malam yang sunyi."Mereka mendengar setiap rintihan putus asamu, Indra," lanjut Wildan dengan suara bariton yang menghujam jiwa. "Mereka mendengar

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 193.

    ​Desir angin laut malam di pesisir utara Jakarta terasa begitu pekat membawa bau amis air asin dan kelembapan malam. Garis pantai yang membentang luas di kawasan pelabuhan tua itu tampak gelap gulita, diselimuti bayangan kontainer-kontainer logistik berukuran raksasa yang berjejer rapi bagaikan kuburan besi raksasa.​Di balik tumpukan kontainer dan kegelapan dermaga, puluhan kendaraan taktis lapis baja milik pasukan Black Wolf terparkir tanpa menyalakan lampu satu pun. Mesin-mesin diesel mereka dimatikan, menyisakan keheningan mati yang mematikan.​Wildan berdiri tegak di atas lambung sebuah truk kargo terbengkalai, mengenakan rompi taktis serba hitam dengan senapan serbu laras panjang yang terkokang sempurna di tangannya. Sorot mata elangnya menatap lurus ke arah cakrawala laut lepas di ufuk utara, tempat titik cahaya merah sebuah helikopter perlahan-lahan mulai membesar.​"Semua unit posisikan diri," suara berat Beno berbisik tegas melalui alat komunikasi intercom internal yang te

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 192. Apa ini akhirnya?

    "Saya tadinya sempat berpikir harus mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menuntaskan urusan kami. Ternyata, dia sendiri yang mengantarkan nyawanya ke mulut singa."Ibu Ratna membelalakkan matanya, napasnya tak beraturan di balik rangkulan suaminya. "Jangan sombong kamu, bajingan! Indra tidak sendiri! Dia bersama pasukan bayaran internasional dan dipersenjatai perlengkapan militer mutakhir! Kali ini kamu pasti mati!" teriak wanita paruh baya itu dengan sisa-sisa tenaga dan kebencian yang meluap-luap.Wildan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah Ibu Ratna tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Silakan pegang keyakinan itu erat-erat, Bu Ratna. Nikmati setiap detik harapan palsu sebelum anak kebanggaan Ibu itu berlutut di hadapan saya dengan kepala tertunduk."Wildan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jenderal Soebroto. Pria tua yang dulunya disegani sebagai perwira tinggi bintang dua itu kini tampak begitu rapuh, terseret dalam pusaran kehancuran total yang diciptakan oleh kebodo

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 191. Kebetulan

    Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 190. Hardikan belakang

    Debu sisa ledakan masih melayang di udara ruang kerja yang porak-poranda. Jenderal Soebroto tidak bergeming di balik meja kerjanya. Tongkat kayu tua digenggamnya erat, bukan untuk menopang tubuhnya yang sudah mulai menua, melainkan untuk menahan amarah yang hampir meledak.​Di hadapannya, Wildan berdiri tegak. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Laras senjatanya dibiarkan menunjuk ke lantai, tetapi sorot matanya jauh lebih mematikan dari peluru mana pun.​"Kenapa Anda terus cari mati, Jenderal?" suara Wildan memecah sunyi, rendah namun bergetar penuh tekanan.​Soebroto mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis. "Cari mati? Kau hanya anak kemarin sore yang kebetulan memegang senjata di atas runtuhannya dinasti orang lain, Wildan."​"Dinasti?" Wildan terkekeh pelan, tawa tanpa rasa humor. Ia melangkah maju satu langkah, memangkas jarak hingga meja kerja menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka. "Yang tersisa dari dinasti Anda malam ini cuma debu dan bangkai pengawal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 189. Kembali

    ​Suara letupan senjata api dan deru mesin kendaraan taktis yang menggema di kediaman Jenderal Soebroto tampaknya berada di dunia yang sangat berbeda dengan tempat pelarian Indra saat ini. Di sebuah kamp latihan militer rahasia yang terletak di wilayah terpencil di seberang lautan, suasana sore itu tampak terik dan dipenuhi bau mesiu serta debu jalanan.​Indra berdiri tegak di lapangan tembak terbuka dengan postur tubuh yang mulai pulih sepenuhnya. Meskipun tangan dan sebagian fisiknya masih menyisakan sisa-sisa luka akibat insiden pelarian di laut lepas beberapa waktu lalu, sorot mata beringas dan ambisi gelapnya tidak pernah surut sedikit pun. Di hadapannya, target sasaran berupa siluet manusia berlubang-lubang akibat terjangan peluru kaliber besar.​Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, sekutu baru sekaligus pemimpin faksi militer bayaran lokal yang menampung pelariannya—seorang gembong senjata bernama Victor.​Victor menurunkan senapan serbunya, melirik ke arah Indra

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status