LOGINBab 51Derasnya hujan badai seolah menelan sosok Maya yang rapuh di tengah kelamnya malam ibu kota. Setelah berhasil melompati pagar belakang dan mengelabui Wulan serta para penjaga, Maya terus berlari tertatih-tatih menembus gang-gang sempit yang mulai tergenang air keruh."Bertahanlah ... aku harus bertahan …," gumam Maya dengan gigi bergemeretak menahan dingin yang menusuk tulang.Rambut panjangnya lepek menempel di wajah. Kardigan tipis yang ia kenakan basah kuyup, menempel ketat di kulitnya. Telapak kaki kanannya yang sengaja ia gores dengan pecahan gelas kaca kini terasa sangat perih akibat gesekan dengan aspal kasar dan genangan air. Setiap pijakan meninggalkan jejak darah yang samar, yang dengan cepat langsung tersapu bersih oleh derasnya air hujan.Akan tetapi, rasa perih di kakinya itu sama sekali tidak sebanding dengan hancur leburnya hati Maya malam ini.Setiap kali ia mengedipkan mata, bayangan kertas usang bertuliskan nama Indra sebagai penuntut, dan nama ibu Wildan seba
Bab 50Suara deru motor Wildan perlahan ditelan oleh bisingnya badai di luar. Kepergian Wildan di tengah cuaca buruk itu justru menjadi kesempatan emas yang sudah ditunggu Maya.Didorong oleh rasa penasaran yang sudah tak terbendung dan menggerogoti akal sehatnya, Maya memastikan Wulan sedang sibuk di dapur. Dengan langkah mengendap-endap, Maya mengambil kunci cadangan rumah yang sempat ia lihat tergantung di sebelah rak piring.Jantung Maya berdebar kencang saat ia melangkah menuju ruang kerja Wildan. Ia memasukkan anak kunci, memutarnya, dan pintu itu terbuka dengan bunyi klik pelan.Maya masuk dan menyalakan lampu. Ruangan itu hanya berisi sebuah meja kayu, kursi, dan lemari kecil. Dengan nafas tertahan, Maya mendekati meja kerja tersebut dan menarik laci utamanya. Matanya langsung tertuju pada sebuah map tebal usang yang tersimpan rapi di bawah tumpukan nota bengkel.Tangan Maya bergetar saat ia membuka map tersebut. Ia menarik selembar kertas yang sudah menguning, dan matanya lan
Hujan badai mengguyur ibu kota sejak sore, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Tetapi di dalam ruang kantor bengkel yang gelap dan sepi, keringat dingin justru mengucur deras di dahi Mario.Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu, mondar-mandir bagaikan setrikaan rusak. Napasnya memburu tak beraturan, mencerminkan keputusasaan yang tengah menjepit lehernya. Ancaman dari kakak iparnya, Indra, terus berputar di kepalanya tanpa henti."Kalau kamu nggak bisa nemuin Wildan, aku yang akan cari celah hukum buat cabut izin usaha dan sita bengkelmu itu, Mario!"Kalimat mematikan sang jaksa korup itu menekan Mario tanpa ampun. Bengkel ini adalah harta satu-satunya, lambang kemandiriannya dari bayang-bayang kekuasaan Indra. Jika bengkel ini disita, ia akan kembali menjadi adik ipar benalu yang tak punya harga diri.Masalah utamanya adalah, Mario benar-benar tidak mengetahui di mana keberadaan Wildan saat ini. Jangankan soal rumah sewaan atau proyek gudang bengkel elite yang baru dirint
Gerakan tangan Wildan terhenti seketika. Suasana di dalam kamar mandi yang sempit itu mendadak berubah tegang. Urat di leher pria itu terlihat menonjol menahan reaksi."Apa yang sebenarnya kamu lakukan di ruangan itu sampai larut malam begini, Wil?" cecar Maya langsung pada intinya. "Tumpukan kertas tebal dan usang berlambang pengadilan negeri di lantai itu ... dokumen apa? Kenapa kamu menelitinya diam-diam?"Mendengar pertanyaan mendadak yang tepat sasaran tersebut, raut wajah Wildan mengeras sejenak. Sorot matanya menegang, sebuah reaksi insting pertahanan diri yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya dari tatapan tajam Maya. Wanita ini terlalu jeli.Hanya dalam sepersekian detik, Wildan memaksakan dirinya untuk memasang topeng tenang. Ia belum siap berterus terang. Mengungkapkan rencana balas dendam atas kematian ibunya di masa lalu, tepat saat Maya sedang hamil dan secara emosional rapuh hanya akan membuat wanita itu merasa bahwa pendekatannya selama ini dan juga kehamilannya hany
Jantung Maya seakan meronta ingin lepas dari tulang rusuknya. Setelah menangkap nama Indra Wiguna tertulis tebal di atas tumpukan dokumen usang berlambang pengadilan itu, rentetan pertanyaan mengerikan langsung membombardir isi kepalanya.Rasa panik yang luar biasa pekat menyergap dada Maya. Ia buru-buru melangkah mundur dari celah pintu ruang kerja Wildan. Nafasnya memburu tak beraturan, dadanya naik-turun menahan sesak. Dalam kepanikannya untuk segera menjauh, kaki Maya tanpa sengaja menyenggol ujung lemari kecil di lorong tersebut.Duk.Suara benturan tumpul itu memecah keheningan rumah. Maya merutuki kecerobohannya. Ia segera membalikkan badan dan berjalan setengah berlari menjauhi lorong yang gelap itu menuju kamar utamanya.Akan tetapi, derap langkah kaki tergesa-gesa di atas lantai keramik itu ternyata tertangkap oleh pendengaran Wildan yang sangat tajam. Di dalam ruang kerjanya, gerakan tangan Wildan yang sedang memilah dokumen seketika terhenti. Matanya menyipit waspada."Sia
Di dalam pelukan Wildan yang menenangkan, Maya perlahan mulai menemukan kembali ritme napasnya yang sempat kacau. Tapi di tengah rasa amannya, sebersit kekhawatiran baru muncul di benaknya. Ia mendongak menatap wajah tegas pria pelindungnya itu, matanya masih sedikit sembab namun memancarkan kepedulian yang mendalam."Tapi kamu harus bolak-balik ngurusin proyek gudang dan bengkel baru itu, Wil. Urusan sama preman-preman itu pasti menguras tenaga dan pikiranmu," ucap Maya dengan nada cemas yang kental. … Tangannya masih memegang erat sisi kemeja Wildan. "Kamu pasti capek banget kalau harus ngurusin aku juga di sini setiap hari. Aku nggak mau jadi beban yang menghambat langkahmu."Mendengar perhatian manis dari bibir Maya, Wildan tersenyum tipis. Sorot matanya yang tajam seolah luluh seketika saat berhadapan dengan wanita ini. Ia menyentuh pipi Maya dengan punggung tangannya, menghapus sisa air mata di sana dengan lembut."Mbak nggak usah khawatir soal itu," jawab Wildan dengan nada pe







