공유

Chapter 8

작가: M. Sevian F
last update 게시일: 2026-10-27 04:32:08

Nama pemeriksa yang telah meninggal tiga tahun lalu itu tercetak jelas di bagian bawah laporan.

Mo Jian menatapnya cukup lama hingga nyala lampu minyak di atas meja berkedip dua kali.

“Tidak mungkin,” katanya.

Lian duduk bersandar pada dinding gudang, lengan kanannya terbungkus kain seadanya. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa nyeri menjalar dari pergelangan hingga siku. Menggunakan Api Hitam untuk merusak formasi tadi memang berhasil menyelamatkan Yue Ning, tetapi tubuhnya seolah masih menagih harga dari keputusan itu.

“Kalau namanya benar-benar milik orang mati, mungkin dia sudah bosan beristirahat di kuburan,” gumam Lian. “Sekarang dia bekerja lembur.”

Tidak ada yang tertawa.

Lian mengembuskan napas. Rupanya leluconnya juga kelelahan.

Yue Ning mengambil laporan itu dari tangan Mo Jian, lalu memeriksa cap merah di sudut bawah. Ia membandingkannya dengan cap pada dua lembar lain yang mereka temukan di ruang bawah tanah.

“Ketiganya menggunakan nama pemeriksa yang sama,” katanya. “Tapi tinta capnya berbeda.”

“Bisa jadi dibuat ulang,” jawab Mo Jian. “Itu belum membuktikan siapa yang memalsukannya.”

“Benar. Namun, kalau hanya satu laporan, kita bisa menyebutnya pemalsuan biasa. Tiga desa dalam dua bulan, nama yang sama, dan pemeriksa yang sudah meninggal. Kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa seseorang sengaja membangun pola.”

Mo Jian tidak segera membalas.

Han Rui, yang duduk dengan punggung menempel pada peti kayu, memegangi lehernya. Bekas tanda hitam di sana telah berhenti menyebar setelah Lian membakar sebagian kutukannya, tetapi garis-garis menyerupai akar masih terlihat di bawah kulit.

Penjaga kedua yang mereka selamatkan berdiri dekat pintu. Wajahnya pucat, pakaiannya kotor oleh debu lorong bawah tanah.

“Namaku Zhao Peng,” katanya tiba-tiba. “Aku penjaga gudang bagian timur. Kalau kalian membutuhkan kesaksian, aku akan bicara.”

Mo Jian menoleh kepadanya. “Kau melihat siapa yang membuat laporan itu?”

“Aku melihat orang-orang berjubah putih membawa dokumen ke gudang. Aku tidak melihat wajah mereka. Salah satu dari mereka menyebut nama pemeriksa itu, lalu berkata bahwa semua tanda tangan harus diselesaikan sebelum pemeriksaan dari sekte datang.”

“Pemeriksaan dari sekte mana?”

Zhao Peng ragu-ragu.

“Balai Pedang Putih.”

Tatapan Mo Jian mengeras.

“Jadi mereka tahu kita akan datang,” ujar Yue Ning.

“Belum tentu,” kata Mo Jian. “Mereka mungkin mengetahui jadwal pemeriksaan umum. Balai Pedang Putih mengirim petugas ke banyak desa.”

“Dan mereka kebetulan menyiapkan laporan yang menuduh kultivator sesat, menggunakan nama orang mati, di tempat yang menyimpan dua penjaga yang diculik?”

“Yue Ning.”

Nada suara Mo Jian cukup tajam untuk menghentikan kalimat berikutnya.

Yue Ning menutup mulut, tetapi tidak menunduk.

Lian memperhatikan keduanya. Mo Jian bukan orang bodoh. Ia juga bukan jenis kultivator yang akan mengabaikan bukti hanya karena bukti itu mengganggu keyakinannya. Namun, ada sesuatu yang menahannya. Lambang Balai Pedang Putih di dadanya bukan sekadar hiasan. Kalau laporan palsu itu berasal dari dalam organisasi, penyelidikan ini bisa menghancurkan reputasi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

Atau lebih buruk, membuatnya dituduh sebagai bagian dari konspirasi.

Lian memahami perasaan itu. Ia sendiri baru saja mengenal sebuah kitab yang bisa membuat orang ingin membakarnya hidup-hidup. Kalau bisa memilih, ia lebih suka kembali menjadi murid rendahan yang tugas hariannya hanya mengangkut kayu bakar.

Sayangnya, dunia tampaknya tidak menyediakan formulir pengajuan untuk hidup tenang.

“Kita tidak bisa tinggal di sini,” kata Mo Jian akhirnya. “Orang-orang yang menyerang kita tahu lokasi saksi. Kalau mereka kembali dengan lebih banyak orang, kita tidak punya cukup tenaga untuk mempertahankan gudang ini.”

“Ke mana kita pergi?” tanya Han Rui.

“Pos pengamatan.”

Zhao Peng langsung menggeleng. “Tidak. Kalau mereka punya orang di Balai Pedang Putih, membawa kami ke sana sama saja menyerahkan leher kami.”

Mo Jian menatapnya dingin. “Kau menuduh organisasi yang belum tentu terlibat.”

“Aku tidak menuduh semua orang di dalamnya.” Suara Zhao Peng bergetar, tetapi ia tetap berdiri. “Aku hanya tahu orang-orang yang menculikku memakai kata-kata yang sama dengan yang tertulis di laporan kalian. Mereka bilang semua ini demi menjaga kemurnian dunia kultivasi. Mereka juga tahu nama kalian sebelum kalian tiba.”

Keheningan turun di antara mereka.

Lian mengangkat tangan kirinya. “Aku punya usul yang mungkin tidak disukai siapa pun.”

“Silakan,” kata Yue Ning.

“Kita jangan membawa kedua saksi ke tempat yang sudah diperkirakan musuh. Kita juga jangan berpisah, karena itu akan memudahkan mereka mengambil satu per satu. Dan kalau memungkinkan, kita cari tempat untuk mengobati leher Han Rui sebelum tanda itu memutuskan untuk tumbuh sampai ke telinganya.”

Han Rui menatapnya kesal. “Itu bukan hal yang lucu.”

“Aku tahu. Aku sedang mencoba membuatnya terdengar tidak terlalu mengerikan.”

Mo Jian memijat pangkal hidungnya. “Ada rumah singgah milik sekte sekitar tiga li dari sini. Bukan pos resmi, hanya tempat untuk beristirahat bagi petugas yang melewati wilayah timur. Tidak tercantum dalam jadwal pemeriksaan.”

“Apakah ada orang di sana?” tanya Yue Ning.

“Seharusnya kosong.”

“Seharusnya?”

“Penjaganya pulang untuk mengurus keluarganya beberapa hari lalu.”

Lian menatap langit-langit gudang yang retak. “Aku mulai membenci kata itu.”

Mereka memutuskan bergerak sebelum fajar benar-benar menyingsing. Mo Jian berjalan paling depan bersama Yue Ning, sementara Lian berada di tengah dengan kedua saksi. Dua murid Balai Pedang Putih yang sebelumnya ikut menyelidiki gudang tertinggal di luar lorong, salah satunya mengawasi jalan keluar dan yang lain mengirim pesan ke pos pengamatan.

Mo Jian menolak mengirim pesan yang memuat nama para saksi atau lokasi mereka. Ia hanya meminta pengiriman tabib dan melaporkan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Itu keputusan kecil, tetapi Lian melihatnya.

Setidaknya, Mo Jian mulai berhati-hati terhadap informasi yang mereka sebarkan.

Jalan menuju rumah singgah melewati rumpun bambu dan saluran air yang mengering. Udara pagi membawa bau tanah basah. Beberapa kali, Lian merasa ada sesuatu yang mengganggu aliran spiritual di sekitarnya, seperti benang halus yang tersangkut pada kulit.

Kitab di balik jubahnya menghangat.

Ia tidak mengeluarkannya. Setelah semua kejadian semalam, ia mulai curiga bahwa benda itu punya kebiasaan buruk: selalu bereaksi tepat ketika ia tidak ingin menarik perhatian.

“Yue Ning,” bisiknya. “Apa kau merasakan sesuatu?”

Yue Ning mengamati pepohonan. “Ada gangguan kecil pada aliran energi. Tapi aku belum tahu sumbernya.”

“Bagus. Berarti bukan cuma aku yang kurang tidur.”

“Lian.”

“Ya?”

“Diam sebentar.”

Ia menurut.

Mereka terus berjalan sampai rumah singgah terlihat di balik rumpun bambu. Bangunannya kecil, berdinding kayu dengan atap genting kusam. Papan nama di atas pintu telah miring, dan halaman depannya dipenuhi daun kering. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara orang.

Mo Jian mengangkat tangan, memberi isyarat agar yang lain berhenti.

Pintu depan tidak terkunci.

Di ambang pintu, ada tiga garis tipis berwarna kelabu yang hampir tidak terlihat.

Yue Ning berjongkok tanpa menyentuhnya. Ia mengeluarkan jarum perak dari kantong pinggang, lalu mendekatkannya pada salah satu garis. Ujung jarum berubah kehitaman.

“Racun?” tanya Lian.

“Belum tentu. Bisa jadi residu formasi yang bereaksi dengan logam.”

“Kalau begitu, kita tidak masuk lewat pintu depan.”

Mo Jian memeriksa sisi bangunan. Mereka menemukan jendela belakang yang terbuka sedikit, tetapi ruangan di baliknya tampak gelap. Sebuah tali tipis membentang di dekat lantai, nyaris tersembunyi oleh debu.

Lian menunjuknya dengan dagu.

“Orang yang memasang jebakan ini sangat suka garis-garis kecil.”

“Jangan sentuh apa pun,” kata Mo Jian.

“Aku sedang berusaha mempertahankan reputasiku sebagai orang yang tidak menyentuh jebakan.”

Mereka memutar ke sisi bangunan. Di sana, Yue Ning menemukan jejak sepatu baru di tanah lembap. Jejak itu berasal dari halaman belakang, melewati dinding, lalu berhenti di dekat sebuah sumur tua yang telah ditutup papan.

Mo Jian memeriksa sumur tersebut, sementara Lian mencoba merasakan gangguan spiritual yang tadi ia temukan di jalan.

Kitab di balik jubahnya mendadak terasa panas.

Lian menahan napas. Sebuah bayangan samar melintas dalam pikirannya. Ia melihat ruangan sempit, lampu minyak, dan meja dengan lembaran-lembaran laporan. Seseorang sedang menulis menggunakan kuas hitam. Di sebelahnya terletak lempeng kelabu berbentuk setengah lingkaran.

Lalu terdengar suara seorang lelaki.

“Nama itu harus tetap berada dalam daftar. Kalau dia hidup, semua catatan lama bisa terbuka.”

Bayangan itu lenyap.

Lian terhuyung. Yue Ning segera menangkap lengannya yang tidak terluka.

“Apa yang kau lihat?”

“Entahlah. Sebuah ruangan. Seseorang sedang menulis laporan.”

“Wajahnya?”

“Tidak terlihat.”

Mo Jian mendekat. “Apakah kitabmu menunjukkan sesuatu?”

Lian ragu sejenak, lalu mengangguk.

“Kalau begitu, kita tidak boleh menganggapnya sebagai bukti,” kata Mo Jian. “Kita hanya punya penglihatan yang tidak bisa diverifikasi.”

“Aku tahu.”

“Namun, kita juga tidak boleh mengabaikannya.”

Lian menatapnya, sedikit terkejut.

Mo Jian mengalihkan pandangan ke sumur. “Kalau benar ada orang yang mengawasi rumah singgah ini, kita perlu tahu apa yang mereka tinggalkan.”

Mereka mengangkat papan penutup sumur. Tidak ada air di bawah sana. Sebagai gantinya, sebuah tangga batu turun menuju ruang kecil yang tersembunyi di bawah tanah. Bau minyak lampu dan kertas tua menguar dari kegelapan.

Mo Jian turun lebih dahulu. Yue Ning menyusul, lalu Lian membantu Han Rui dan Zhao Peng menuruni tangga dengan hati-hati.

Ruang bawah tanah itu bukan gudang biasa.

Rak-rak kayu memenuhi dua dinding. Di atasnya tersusun gulungan dokumen, sebagian dibungkus kain putih tanpa lambang. Meja di tengah ruangan memuat beberapa lempeng kelabu, botol tinta, dan sebuah kotak kayu yang terkunci.

Yue Ning mengambil satu gulungan yang tidak tersegel. Ia membukanya perlahan.

“Ini laporan dari Desa Qinghe.”

Lian mendekat. Di halaman pertama tertulis nama dua penjaga yang hilang, disusul keterangan mengenai gangguan energi di gudang timur. Namun, di bagian bawah halaman, ada catatan tambahan yang ditulis dengan tinta berbeda.

**Subjek: Lian.**

**Klasifikasi: Penerus Api Hitam.**

**Tingkat ancaman: tinggi.**

Di bawahnya ada tanggal pencatatan.

Tiga hari sebelum Lian menyelamatkan anak di tebing.

Lian membaca kalimat itu dua kali. Ia tidak merasakan marah pada awalnya. Hanya kehampaan yang dingin, seolah seseorang baru saja menghapus jalan pulang dari peta.

“Bagaimana mereka tahu namaku?” tanyanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Yue Ning membalik halaman. Di belakangnya ada daftar singkat yang mencatat ciri-ciri fisik, kebiasaan bertarung, dan lokasi terakhir Lian terlihat. Sebagian informasi keliru. Namun, satu keterangan membuat tengkuknya meremang.

**Kemungkinan pewaris telah menerima kitab dari seorang saksi tua. Pantau hubungan dengan Tetua Shen.**

Lian meraih tepi meja agar tetap berdiri tegak.

Tetua Shen.

Orang tua yang sekarat itu telah memberinya kitab tiga hari sebelum insiden di tebing. Saat itu, Lian mengira ia hanya menolong seorang pengembara yang terluka. Ia tidak pernah menyebut nama Tetua Shen kepada siapa pun di Desa Qinghe.

“Lian?” Yue Ning memanggil.

“Aku baik-baik saja.”

Bohong. Lengan kanannya berdenyut, kepalanya terasa berat, dan sekarang ia tahu seseorang telah mencatat hidupnya sebelum ia memahami apa yang sedang terjadi.

Kitab di balik jubahnya terbuka sendiri.

Tulisan hitam muncul di halaman kosong.

[Catatan subjek ditemukan.]

[Waktu pencatatan: tiga hari sebelum kebangkitan Api Hitam.]

[Status: telah ditentukan sebelum kejadian.]

Lalu, satu baris tambahan muncul, lebih lambat dari yang lain.

[Kesimpulan: pewaris tidak dipilih oleh catatan.]

Lian menatap tulisan itu.

“Kalau bukan catatan yang memilihku,” bisiknya, “lalu siapa?”

Dari luar ruang bawah tanah terdengar bunyi papan berderit.

Mo Jian langsung menghunus pedangnya. Yue Ning memadamkan lampu minyak, menyisakan cahaya redup dari celah tangga. Han Rui dan Zhao Peng bersembunyi di balik rak, sementara Lian menahan napas dan menggenggam kitabnya.

Langkah kaki turun dari atas.

Satu orang.

Lalu suara itu terdengar, tenang dan akrab, seolah pemiliknya baru pulang setelah perjalanan singkat.

“Mo Jian. Yue Ning. Kalian seharusnya tidak menemukan ruangan ini.”

Mo Jian membeku.

Lian tidak mengenali suara itu. Namun, ia melihat perubahan pada wajah Mo Jian. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, murid Balai Pedang Putih itu tampak benar-benar takut.

“Tidak mungkin,” bisik Mo Jian.

Sosok di ujung tangga melangkah ke dalam cahaya.

Jubah putihnya bersih. Di pinggangnya tergantung lencana pemeriksa Balai Pedang Putih. Wajahnya kurus, rambutnya telah memutih di pelipis, dan matanya menatap mereka tanpa sedikit pun keterkejutan.

Mo Jian menurunkan pedangnya beberapa jari, tetapi tidak menyarungkannya.

“Guru Xu,” katanya lirih. “Anda seharusnya sudah meninggalkan wilayah ini.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Dan kau seharusnya tidak membaca laporan yang bukan wewenangmu.”

Lian merasakan kitab di tangannya kembali memanas.

Sebuah tulisan baru terbentuk di halaman hitamnya.

[Peringatan: pemilik nama pemeriksa terdeteksi.]

[Status catatan: tidak cocok.]

[Identitas: Xu Wen.]

[Catatan kematian: tiga tahun lalu.]

Lian mengangkat pandangan dari kitab menuju pria berjubah putih itu.

Jadi, pemeriksa yang telah mati tiga tahun lalu bukan sekadar nama palsu.

Seseorang yang mengenakan wajah masa kini sedang berdiri di hadapan mereka, sementara dunia kultivasi telah mencatat kematiannya sejak lama.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 8

    Nama pemeriksa yang telah meninggal tiga tahun lalu itu tercetak jelas di bagian bawah laporan.Mo Jian menatapnya cukup lama hingga nyala lampu minyak di atas meja berkedip dua kali.“Tidak mungkin,” katanya.Lian duduk bersandar pada dinding gudang, lengan kanannya terbungkus kain seadanya. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa nyeri menjalar dari pergelangan hingga siku. Menggunakan Api Hitam untuk merusak formasi tadi memang berhasil menyelamatkan Yue Ning, tetapi tubuhnya seolah masih menagih harga dari keputusan itu.“Kalau namanya benar-benar milik orang mati, mungkin dia sudah bosan beristirahat di kuburan,” gumam Lian. “Sekarang dia bekerja lembur.”Tidak ada yang tertawa.Lian mengembuskan napas. Rupanya leluconnya juga kelelahan.Yue Ning mengambil laporan itu dari tangan Mo Jian, lalu memeriksa cap merah di sudut bawah. Ia membandingkannya dengan cap pada dua lembar lain yang mereka temukan di ruang bawah tanah.“Ketiganya menggunakan nama pemeriksa yang sama,” katanya. “

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 7

    Anak panah kedua menghantam kusen pintu sebelum Mo Jian sempat memerintahkan siapa pun bergerak.Kali ini tidak ada pesan yang diikatkan padanya. Ujung panahnya berwarna hijau kusam, dan asap tipis keluar dari bagian logam yang menancap di kayu.“Menjauh dari panah itu!” seru Yue Ning.Kedua murid Balai Pedang Putih segera menarik Han Rui menjauh dari peti. Mo Jian berdiri di antara pintu dan orang-orang di dalam gudang, pedangnya terhunus. Ia tidak langsung mengejar penyerang. Matanya menyapu atap, jendela, dan celah-celah dinding, mencari arah tembakan berikutnya.Lian berusaha berdiri dengan bantuan meja tua.Kakinya masih lemas akibat penggunaan Api Hitam. Lengan kanannya terasa seperti dipenuhi semut yang menggigit dari dalam. Kalau penyerang memutuskan masuk sekarang, kontribusinya dalam pertempuran mungkin hanya menjadi penghalang jalan.“Berapa orang?” bisiknya.“Belum diketahui,” jawab Mo Jian.“Bagus. Aku takut jawabannya terlalu menyenangkan.”Mo Jian meliriknya. “Kalau kau

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 6

    Gudang tua di sisi timur Desa Qinghe ternyata lebih buruk daripada yang Lian bayangkan.Atapnya miring, beberapa papan dinding sudah lapuk, dan rumput liar tumbuh di antara batu-batu fondasi. Dari jalan, bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun, jejak kaki di tanah basah menceritakan hal berbeda. Ada terlalu banyak tapak baru untuk sebuah gudang yang konon tidak digunakan siapa pun.Lian berhenti di belakang Mo Jian.“Kalau tempat ini benar-benar kosong, kenapa jejak kakinya lebih ramai daripada halaman sekteku?”Mo Jian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.Dua murid Balai Pedang Putih bergerak ke sisi bangunan. Yue Ning berjongkok di dekat pagar roboh, memeriksa bekas goresan pada tanah. Lian sendiri diminta tetap berada di belakang garis batu yang ditandai Mo Jian dengan pedangnya.Ia mematuhi perintah itu.Bukan karena ia mendadak menjadi murid teladan, melainkan karena lengannya masih terasa nyeri setiap kali ia mengingat nya

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 5

    Lian baru menyadari betapa buruknya keadaan ketika penjaga di depan kamarnya mengganti posisi untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setengah jam.Dua orang berdiri di depan pintu. Seorang lagi berjaga di ujung lorong. Di luar jendela, ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di balik pagar kayu.Kalau mereka menambahkan rantai dan menggantung papan bertuliskan *Jangan Diberi Makan*, pikir Lian, tempat ini akan cocok dijadikan kandang binatang langka.Sayangnya, binatang langka yang dimaksud tampaknya adalah dirinya.Ia duduk di tepi ranjang, memijat pergelangan tangan yang masih terasa panas sejak kemunculan penyusup malam sebelumnya. Kitab Api Hitam Penembus Dosa tergeletak di atas meja. Sampulnya yang gelap tampak biasa saja, seolah benda itu tidak baru saja membuat hidupnya jauh lebih rumit.Lian menyentuh sudut kitab.“Kalau kau punya penjelasan, sekarang waktu yang bagus.”Tidak ada jawaban.“Petunjuk? Sedikit saja?”Sampul kitab bergetar halus.Lian langsung menarik ta

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 4

    Lian terbangun karena suara seseorang mengetuk pintu.Bukan ketukan sopan. Orang di luar mengetuk tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk lagi seolah pintu itu punya utang kepadanya.Lian menarik selimut sampai menutupi kepala.“Kalau aku sudah mati, silakan masuk. Kalau belum, datang lagi besok.”“Buka pintunya, Lian.”Ia mengenali suara Yue Ning.Lian duduk sambil mengusap wajah. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di tebing dan pemeriksaan lempeng spiritual. Ia sempat tertidur tanpa makan malam, sesuatu yang biasanya tidak akan ia lakukan bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun.“Sebentar.”“Sekarang.”“Kalau semua orang di tempat ini selalu terburu-buru, kapan mereka sempat menikmati hidup?”“Lima detik.”Lian membuka pintu.Yue Ning berdiri di lorong dengan sebuah bungkusan kain di tangannya. Ia masih mengenakan jubah biru muda, tetapi rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, lorong pos pengawas tampak sepi.“Kau belum makan,” katanya.Lian menatap bungkusan

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 3

    Jalan menuju pos pengawas melewati ladang kering dan sebuah kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lian berusaha mengabaikan buku hitam yang terasa berat di balik pakaiannya.Usahanya gagal.Setiap kali ia mengingat tulisan yang muncul di halaman buku, telapak tangannya kembali terasa panas.**[Peringatan: catatan telah dimanipulasi.]**Catatan apa?Siapa yang memanipulasinya?Dan yang paling penting, kenapa sebuah buku tua bisa bertingkah seperti orang cerewet yang tahu terlalu banyak?“Berhenti mengerutkan kening,” kata Yue Ning di sampingnya.Lian menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Wajahmu seperti orang yang baru menyadari utangnya jatuh tempo.”“Kalau aku punya utang, setidaknya aku tahu siapa yang harus kuhindari.”Yue Ning menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kau selalu bercanda ketika berada dalam masalah?”“Tidak selalu. Kadang-kadang aku juga panik.”“Sekarang?”“Sekarang aku sedang mempertimbangkan pilihan ketiga.”“Apa itu?”“Pingsan. Sayangnya,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status