MasukBeberapa perawat dan dokter kandungan sudah menunggu dengan sebuah brankar kosong di pintu masuk UGD. Mereka adalah tim dokter yang memang khusus di bayar Liam sejak pemeriksaan Anaya, untuk menangani proses kelahiran anaknya. Bahkan dokter yang didatangkan pun bukan dokter biasa, tetapi dokter yang berpengalaman dari rumah sakit terkenal dunia. Begitu Anaya datang, ia langsung dinaikkan ke atas brankar pasien dan dibawa ke ruangan observasi sebelum lanjut ke ruang persalinan. "Nyonya, kami akan memeriksa keadaan Ibu Anaya dulu, tolong tetap dampingi untuk menyemangati beliau," ucap salah satu tim dokter pada Lena. Wanita paruh baya itu mengangguk paham, dan ikut masuk sambil terus menggenggam tangan sang anak. "Mami, di mana Liam? Naya butuh Liam, Mi?" tanya Anaya dengan lirih sambil terus meringis ketika gelombang cinta itu kembali datang. "Sabar, Sayang. Liam pasti datang. Dia tidak akan melewatkan momen kelahiran anak kalian," jawab Lena sambil mengusap keringat di
Dua bulan kemudian... Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat Anaya merasakan sakit yang hebat pada perutnya. Keringat mulai membasahi kening serta leher akibat rasa sakit yang mulai datang silih berganti. "Sshhhh, Ya Tuhan! Sakit sekali! Sayang, apa kalian sudah mau keluar?" rintih Anaya menahan rasa sakit sembari berbicara pada janin dalam perutnya. Entah ini memang takdir atau kebetulan semata, Liam tidak ada disaat seperti menegangkan seperti ini. Liam mendadak ke Singapura karena cabang perusahaan disana mengalami masalah. Pria itu berangkat sore atas desakan Anaya yang tidak mau suaminya tidak bertanggung jawab atas para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Dengan berat hati, calon Daddy itu terpaksa berangkat menggunakan pesawat pribadinya sebelum magrib. Anaya perlahan bangkit untuk duduk dan menekan tombol panggilan yang sengaja disiapkan Liam sejak sebulan lalu untuk memudahkan sang istri jika meminta bantuan. Suara alarm peringatan dari kamar
Saat ini keluarga mereka menjadi keluarga besar dengan berkumpulnya Anaya dengan Ibu kandungnya. Saat ini Anaya sedang menikmati angin sepoi-sepoi sambil menatap foto pria Bule tampan yang memiliki mata yang sama seperti matanya dan senyum mereka juga sama dengan tatapan penuh kerinduan. Meskipun hanya menatap sebuah foto lama yang masih terawat, Anaya merasakan hatinya begitu dekat saat menatap wajah tampan itu. "Serius amat lihatin tuh foto? Kalau saja itu bukan fotonya Papi pasti Daddy sudah cemburu berat lihat Mommy menatap foto itu dengan tatapan cinta dan kerinduan yang besar," sindir Liam yang datang sambil membawa piring berisi buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil. Anaya tersenyum lebar mendengar sindiran sang suami yang datang dengan memasang wajah pura-pura cemburu. Liam mengecup pipi tembem sang istri begitu duduk di samping ibu hamil yang sangat ia cintai itu. "Meskipun hanya bisa melihat dari selembar foto, Mommy sangat sayang sama Papi dan berharap Papi
Roxy dan Gladys ikut bergabung bersama Lena, Anaya dan Liam makan siang dengan wajah tersenyum bahagia. Terlebih lagi Lena yang selalu mengambilkan Anaya lauk-pauk yang ternyata sama kesukaannya dengan mendiang ayah kandung Anaya. "Mi, Mami juga ikut makan? Jangan terus ngambilin untuk Naya?" tegur Anaya sambil mengambilkan lauk untuk Lena dan menaruhnya di piring sang Mami. "Mami terlalu bahagia, Sayang? Mami hanya ingin menebus masa-masa kecilmu dulu yang seharusnya dilimpahi kasih sayang Mami," sahut Lena sambil tersenyum dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Liam meletakkan sendoknya lalu meminum seteguk air putih sambil berkata, "Mi, semuanya sudah berlalu dan kita tidak bisa mengulang waktu karena itu sudah takdir yang harus kita jalani atas kehendak Tuhan. Mami bisa menebus kasih sayang Mami dengan cucu-cucu kembar Mami nanti! Lagi pula Mami masih punya banyak waktu dan kesempatan buat melimpahkan kasih sayang Mami sama Naya." "Kamu benar, Liam! Mami tidak akan mele
"Apa ini benar?" tanya Lena seraya menatap Liam dan Anaya dengan jantung berdebar-debar. Anaya duduk di samping Liam dengan jantung dagdigdug sambil menggenggam tangannya sendiri yang mulai berkeringat dingin. "Aku tidak pernah mempermainkan hidup seseorang, Tante! Dan bukti di kertas itu memang benar adanya! Anaya adalah anak yang Tante lahirkan dua puluh tujuh tahun yang lalu, yang di buang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan memisahkan kalian berdua sekian lamanya!" jawab Liam dengan ekspresi muka yang serius. Tangis Lena pecah begitu Liam selesai bicara. Ia meraung-raung sambil memukuli dadanya sehingga tubuhnya melorot dari atas sofa ke lantai. Anaya ikut menangis melihat reaksi Ibu kandungnya yang begitu dramatis saat mendengar kenyataan jika anak kandungnya masih hidup. "Sayangku! Anakku sayang! Maafkan Mami yang tidak bisa mempertahankan mu saat kau lahir! Maafkan kekurangan Mamimu ini, Sayang? Maafkan Mami!" ucap Lena saat Anaya mendatangi nya dan lang
Anaya terdiam karena teringat masa lalu saat masih menjadi menantu wanita itu. "Sweetheart, apa kau ingin melayat kesana? Aku akan menemanimu jika kau ingin ke sana," tanya Liam sembari tangannya merengkuh bahu sang istri. Anaya mendongak menatap wajah tampan suaminya yang semakin hari semakin enak dipandang. "Daddy, masa lalu biarkan menjadi masa lalu! Aku ikut berduka cita karena hal kemanusiaan, tapi aku tidak bisa pergi ke sana karena aku masih mengingat perlakuan jahat dia padaku dulu. Aku memaafkannya, tapi aku tidak pernah lupa jika aku hampir mati karena kejahatannya padaku! Biarkan Tuhan yang membalasnya karena setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasannya! Aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah lupa bagaimana mereka menjahatiku," jawab Anaya dengan mata berkaca-kaca. Liam membawa tubuh Anaya kedalam pelukannya. Ia mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan sang istri. Bagaimanapun juga orang-orang itu sudah menyakiti istrinya dengan begitu dalam. "Ji
Raka terkejut melihat penampilan ibunya yang begitu mencengangkan saat ia kembali ke rumah. "Ma, apa yang terjadi? Kenapa muka Mama jadi seperti ini?" "Kamu! Kenapa kamu tidak menjaga Mama selama saya keluar kota!" tuding Raka dengan menatap tajam Amira yang sedang duduk santai di sofa. "Mas, j
Sudah tiga hari Amira di kurung Raka di rumahnya tanpa bisa menghirup udara luar dan tugasnya hanya memenuhi hasrat Raka yang semakin menjadi-jadi. Sudah tiga hari juga Bu Yati tinggal di kontrakan temannya yang kebetulan sedang kosong karena belum di sewa. Melihat uangnya sudah semakin menip
Faraz mondar-mandir di rumah yang baru saja ia beli dikawasan yang penghuninya para pekerja semua. Pria itu gelisah karena sudah tiga hari Amira tidak membalas dan cenderung mengabaikan pesan yang ia kirimkan. Perasaannya juga gelisah tidak menentu dan merasa tidak enak sejak dua hari yang lalu.
"Nyonya," tegur Andi keluar dari tempat persembunyiannya begitu melihat Amira keluar dari hotel. "Astaga!" seru Amira dengan wajah terkejut sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Ia melirik kiri kanan melihat keberadaan Faraz dan saat tidak menemukan siapa-siapa, ia tanpa sadar menghela







