Share

101. EGOIS

Author: Ryanty_tian
last update Last Updated: 2025-12-30 16:34:35

“Pasien sudah melewati masa kritis, tapi untuk saat ini belum sadarkan diri. Dan kaki pasien akan mengalami kelumpuhan untuk sementara akibat benturan yang terlalu keras, pasien bisa melakukan terapi dan kemungkinan berjalan masih 80%,” jelas Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin.

“Terima kasih,” jawab Alby lega sekaligus sedih.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Alexandra, tapi wanita itu berusaha tenang. Yang terpenting adalah Alfred sudah melewati masa kritisnya.

“Siapa yang menabrak anak kita?” tanya Alexandra ketika mereka berada di ruangan Alfred.

“Reza, dan sepertinya dugaan. Dia memang ingin menabrak Melody, lalu Nesya juga berhubungan dengan hal ini. Beberapa hari yang lalu Nesya mendapatkan telepon dari seseorang, dan ternyata orang tersebut adalah Reza. Jadi, bisa dikatakan Nesya yang menyuruh Reza menabrak Melody,” jelas Alby yang mendapat laporan dari kepolisian.

“Mereka berdua tidak pernah jera,” geram Ivander yang tak terima akan hal itu.

“Reza mengalami l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • LANGIT penuh MELODY   105. AJAKAN YANG MENGGODA

    “Iya, aku ingin melepas lelahku,” jawab Melody rasanya begitu lega meninggalkan Alfred dan mengungkapkan isi hatinya.“Kamu bilang apa nanti kalau ditanya sama ayah kamu?” tanya Langit memastikan.“Gampang, tinggal bilang pergi sama kamu,” jawab Melody dengan santai, “Ayah pasti udah mengerti, Honey. Kayak kita masih anak kecil aja.”“Baiklah kalau begitu.”Langit dan Melody saling bercerita dan mungkin saatnya dia ingin menanyakan perihal Darel pada Langit.“Memang hubunganmu dan papa kamu begitu buruk?” tanya Melody hanya menebak.“Bisa dikatakan begitu, sejak kecil saya selalu sendiri dan tidak mendapatkan kasih sayang darinya. Bahkan ketika Ibu pergi, dia malah semakin sibuk lalu menikah lagi. Saya selalu sendiri, entah itu sedih maupun senang. Dan satu-satunya yang menguatkan saya adalah gelang yang kamu berikan,” cerita Langit mengingat masa lalu yang sedikit menyedihkan.“Tante Roseline apa nggak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Melody lagi, karena penasaran tentang h

  • LANGIT penuh MELODY   104. KEKESALAN YANG MENCUAT

    Melody tak mampu menahan rasa yang bergemuruh dalam jiwanya, beberapa hari dia tahan karena berharap akan menjadi lebih baik jika dia menemani Alfred menjalani segala terapi dan bersamanya. Tapi, ternyata hal itu salah besar. “Aku tahu ini salahku kamu lumpuh seperti ini, aku udah berusaha menemani kamu, jaga kamu dan bantu kamu terapi,” tatap Melody berkaca-kaca karena diperlakukan seperti ini, “tapi... tapi kenapa kamu terus memojokkanku, menambah rasa bersalah yang berusaha udah aku terima dengan lapang. Aku juga nggak meminta kamu selamatkan, kalau perlu biarlah aku yang tertabrak dan aku nggak perlu merasakan perasaan ini!”Melody menangis meluapkan emosinya pada Alfred, padahal dia berharap lelaki itu bisa lebih baik menyikapi tapi ternyata itu salah besar.“Apa kamu begitu puas menyiksaku begini? Puas,” teriak Melody mengusap air mata yang tak bisa dibendung lagi.Melihat reaksi Melody seketika membuat Alfred panik bukan main, maksud dia tidak seperti ini. Dia hanya ingin

  • LANGIT penuh MELODY   103. LELAKI TIDAK TAHU DIRI

    Alexandra sendiri terkejut dengan pernyataan Alfred yang baginya terlalu aneh, dia menatap keduanya penuh pertanyaan. Karena yang Alexandra tahu adalah Melody akan menikah dengan Langit.“Kamu jangan bercanda, jangan mengganggu hubungan mereka,” ingatkan Alexandra yang tahu kalau Alfred berusaha keras untuk mempertahankan Melody di sisinya.“Aku beneran, Ma. Melo nggak akan meninggalkanku, iya ‘kan?” balas Alfred menatap Melody, diikuti oleh Alexandra.“Iya, Tan. Tapi hanya sebagai sahabat aja, dan tentu aku akan tetap menikah dengan Langit,” tegas Melody.Jawaban Melody kembali membuat Alfred bungkam, kenapa Melody terus saja menolaknya? Bukankah dia harusnya berterima kasih padanya karena sudah menolong hidupnya? Setidaknya balaslah dengan perasaan yang tulus, keluh Alfred.“Maaf, saya dan Melody harus pergi. Kami masih harus melakukan fitting baju pengantin setelah ini,” ujar Langit pamit pada Alexandra.“Iya, maaf merepotkan kalian,” jawab Alexandra begitu ramah karena melih

  • LANGIT penuh MELODY   102. PERKARA BARU

    Melody masih tak menjawab, memilih berdiam diri untuk memberikan jawaban yang pas untuk dirinya. Dan dia juga harus berpikir dengan tenang, meski menyakitkan tapi Melody tetap harus mengatakan semuanya. “Iya, aku nggak akan meninggalkanmu,” jawab Melody membuat senyum Alfred mengembang seketika, tak menyangka kalau wanita itu akan memberikan respons seperti ini.“Aku yakin kamu emang masih mencintaiku,” jawab Alfred tersenyum lega, meski masih lemas tapi mendengar Melody mengatakan hal ini membuatnya bersemangat untuk sembuh.Langit tampak belum bereaksi sedikit pun ketika mendengar jawaban Melody, lelaki itu ingin mendengar lebih lanjut ucapan Melody. Dia yakin kalau perkataan Melody belum sepenuhnya selesai.“Aku tetap akan bersama kamu, tapi sebagai sahabat,” lanjut Melody mengatakan hal ini, meski berat tapi mau bagaimana lagi.Wajah Alfred seketika berubah murung, dan Melody melihat hal itu. Melody sendiri memang merasa bersalah atas keadaan yang menimpa Alfred, tapi meski

  • LANGIT penuh MELODY   101. EGOIS

    “Pasien sudah melewati masa kritis, tapi untuk saat ini belum sadarkan diri. Dan kaki pasien akan mengalami kelumpuhan untuk sementara akibat benturan yang terlalu keras, pasien bisa melakukan terapi dan kemungkinan berjalan masih 80%,” jelas Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin.“Terima kasih,” jawab Alby lega sekaligus sedih.Hal yang sama juga dirasakan oleh Alexandra, tapi wanita itu berusaha tenang. Yang terpenting adalah Alfred sudah melewati masa kritisnya. “Siapa yang menabrak anak kita?” tanya Alexandra ketika mereka berada di ruangan Alfred.“Reza, dan sepertinya dugaan. Dia memang ingin menabrak Melody, lalu Nesya juga berhubungan dengan hal ini. Beberapa hari yang lalu Nesya mendapatkan telepon dari seseorang, dan ternyata orang tersebut adalah Reza. Jadi, bisa dikatakan Nesya yang menyuruh Reza menabrak Melody,” jelas Alby yang mendapat laporan dari kepolisian.“Mereka berdua tidak pernah jera,” geram Ivander yang tak terima akan hal itu.“Reza mengalami l

  • LANGIT penuh MELODY   100. TAKUT

    Melody menunggu di IGD seorang diri, tangan masih bergetar hebat karena melihat Alfred tak sadarkan diri ketika dibawa ke rumah sakit. Jemari Melody tersisa bekas darah, dan wajah pun sama karena mengusap air mata yang tiada henti. “Melo,” panggil Alexandra langsung memeluk Melody.“Tante,” ucap Melody kembali menangis dalam pelukan Alexandra, “Alfred.”“Tidak apa, Sayang. Alfred pasti bisa melalui ini semua,” jawab Alexandra lebih dulu menenangkan Melody.Terlihat Melody begitu berantakan dan memiliki luka di tubuhnya, tapi sepertinya tidak dia rasakan itu. Alexandra mengajaknya untuk duduk dan menggenggam tangan Melody yang masih bergetar.“Ini salahku, seharusnya aku yang tertabrak,” kata Melody teringat kejadian tadi.“Ini bukan salah kamu, pasti Alfred melakukan itu semua demi melindungi kamu,” jawab Alexandra tetap berusaha tenang, dia tidak ingin membuat Melody semakin kalut.“Maafin aku,” kata Melody kembali memeluk Alexandra.Dalam hati, Alexandra juga merasa khawati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status