LOGINSuasana di atas langit Oakhaven berubah dari fajar yang tenang menjadi malam yang mencekam dalam hitungan menit. Ribuan kapal organik milik The Architects menggantung di atmosfer, bentuknya menyerupai obsidian cair yang terus bergerak, seolah-olah kapal-kapal itu sendiri adalah makhluk hidup yang bernapas. Tidak ada suara mesin, hanya dengungan frekuensi rendah yang membuat dada setiap penduduk Aethelgard terasa sesak.Celina berdiri di barisan terdepan balkon istana. Gaun sutranya berkibar tertiup angin kencang yang membawa aroma ozon. Di sampingnya, Lucien telah mengenakan armor tempur lengkapnya—baja perak yang kini ditempa dengan kristal Aether biru yang berdenyut selaras dengan jantungnya."Mereka tidak mengirim pesan diplomatik, Lucien," bisik Celina. "Mereka mengirim eksekusi."Tiba-tiba, sebuah proyeksi cahaya raksasa muncul di tengah langit, menutupi matahari. Sesosok figur tanpa wajah, hanya berupa siluet cahaya putih dengan pola geometris d
Keputusan hukum di Aethelgard adalah mutlak. Meskipun Lyra adalah istri dari Pangeran Mahkota, pengkhianatan selama masa perang adalah kejahatan tertinggi. Namun, karena motifnya adalah delusi perlindungan dan bukan kebencian murni, Lucien memberikan keringanan."Kau akan dicopot dari segala gelar kebangsawananmu," Lucien membacakan vonis. "Kau akan diasingkan ke wilayah pesisir selatan, tempat klan asalmu pertama kali mendarat. Kau dilarang menginjakkan kaki di Oakhaven atau menghubungi Arthurian sampai waktu yang tidak ditentukan."Arthurian tidak memprotes. Ia bahkan tidak menoleh saat pengawal istana menuntun Lyra keluar dari aula. Hatinya telah membeku sejak ia melihat wajah Lyra di layar Sektor Nol, mencoba mengunci gerbang kematiannya.Setelah aula kosong, Arthurian mendekati takhta ibunya. Ia berlutut, meletakkan kepalanya di pangkuan Celina—posisi yang sering ia lakukan saat masih kecil."Aku merasa gagal, Ibu," bisik Arthurian parau. "Bagaimana aku bisa memimpin rakyat jika
Kembali ke Sektor Nol, pintu menuju pusat kendali terbuka. Di tengah ruangan yang sangat luas, terdapat sebuah otak organik raksasa yang terbungkus dalam tabung kaca kristal, dihubungkan oleh ribuan kabel saraf perak.Itulah Logika Ibu.Namun, di depan tabung itu, telah menunggu pasukan penjaga yang berbeda dari yang pernah mereka temui. Mereka adalah *Android* yang menyerupai manusia, dengan wajah yang mirip dengan orang-orang yang dicintai Arthurian."Elena, pasang virusnya sekarang!" perintah Arthurian sambil menerjang maju.Salah satu android, yang memiliki wajah mirip Lucien, menahan pedang Arthurian dengan tangan kosong. Kekuatannya luar biasa."Kau berani melawan ayahmu?" android itu berbicara dengan suara Lucien."Kau bukan ayahku!" Arthurian memutar pedangnya, menyalurkan seluruh energi Aether-nya. Ledakan cahaya putih memenuhi ruangan.Sementara itu, Elena merangkak menuju konsol utama. Namun, saat tangannya hampir menyentuh port data, sebuah tembakan laser menyerempet bahun
Malam sebelum misi dilakukan, Celina menemui Arthurian. Ia memberikan pedang Rose-Thorn milik Lucien yang telah ditempa ulang dengan kristal Aether murni."Gunakan ini bukan untuk membalas dendam kakekmu, Arthur," ujar Celina. "Tapi gunakan ini untuk memastikan tidak ada lagi kakek di masa depan yang harus mengorbankan dirinya."Arthurian menerima pedang itu, merasakan kekuatan yang berdenyut di dalamnya. "Aku berjanji, Ibu."Di sisi lain istana, Lucien berdiri di atas menara, menatap langit yang kini dipenuhi oleh formasi bintang yang tidak biasa. Ia tahu bahwa ini adalah pertaruhan terakhir mereka. Jika mereka gagal, Aethelgard akan menjadi kebun mati berikutnya yang dipanen oleh The Sentinels.Arthurian berdiri di depan gerbang The Vault yang sudah dimodifikasi. Di sampingnya ada Elian dan Elena. Callista berdiri di kejauhan, memberikan perlindungan energi terakhirnya, sementara Lyra menatap dari balik bayang-bayang dengan mata yang penuh dengan keraguan dan kesedihan.Suara mesin
Duka menyelimuti Oakhaven seperti kabut tebal yang enggan beranjak. Di balkon tertinggi istana, Celina berdiri mematung, menatap cakrawala Aethelgard yang biasanya menenangkan, namun kini terasa asing. Chip data yang diberikan Silas, ayahnya, terasa dingin di genggamannya—sebuah benda kecil yang menampung beban pengorbanan tiga puluh tahun.Lucien mendekat tanpa suara, menyampirkan jubah berbahan beludru navy ke bahu istrinya. Ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang klise, karena ia tahu Celina tidak membutuhkannya. Yang dibutuhkan istrinya adalah kehadiran yang kokoh."Dia melakukan apa yang akan aku lakukan jika aku berada di posisinya, Celina," bisik Lucien pelan. "Seorang ayah tidak akan membiarkan dunianya hancur jika ia punya kekuatan untuk menahannya."Celina menoleh, matanya merah namun pancarannya telah kembali mengeras. "Dia tidak hanya memberiku kunci untuk menang, Lucien. Dia memberiku kebenaran yang mengerikan tentang duniaku yang dulu. Bumi tidak hancur karena ke
Silas membawa mereka masuk ke dalam fasilitas tersebut. Di sana, ada sekitar lima puluh orang yang bertahan hidup. Mereka adalah para ilmuwan dan keluarga yang tertinggal saat proyek Seed diluncurkan. Selama tiga puluh tahun, mereka hidup dalam kegelapan, memakan nutrisi sintetis, dan bersembunyi dari sensor The Sentinels."Mengapa Ayah tidak pergi saat itu?" tanya Arthurian.Silas menghela napas, membawa mereka ke sebuah ruangan besar yang berisi komputer kuno yang masih menyala. "Karena aku harus memastikan gerbang itu tertutup dari sisi ini. Jika aku ikut, The Sentinels akan melacak koordinat Aethelgard dalam hitungan jam. Aku harus mengorbankan diriku agar Celina bisa hidup."Silas kemudian menunjuk ke layar monitor yang menampilkan grafik merah yang berkedip-kedip. "Tapi sekarang, mereka telah menemukan cara lain. Mereka tidak lagi mencari koordinat; mereka mencari 'Jantung'. Dan mereka tahu Jantung itu ada di dalam tubuh kalian berdua."Silas menjelaskan sebuah rahasia yang bahk







