Share

Bab 81

Penulis: Leachaa1
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 21:36:51
Prang!

Pecahan kaca jendela berhamburan ke atas lantai marmer kamar tidur utama. Puluhan bayangan bersenjata lengkap berzirrah hitam melompat masuk secara serentak, mengepung Lucien dan Celina dari segala penjuru. Di ambang pintu utama, sesosok bayangan bertopeng besi melangkah masuk dengan santai sambil menyeret dan melemparkan kepala seorang pengawal Valois yang bersimbah darah.

"Penjagaan kediamanmu ternyata tidak sekuat cerita para prajurit perbatasan, Grand Duke," desis sosok bertopeng be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 110

    Kring... kring...Suara lonceng angin perak yang tergantung di dekat jendela kamar utama berderit merdu, berpadu dengan pendar cahaya matahari pagi yang menembus tirai sutra putih. Udara pagi ibu kota terasa hangat dan segar, membawa aroma harum bunga mawar putih dari taman istana ke dalam ruangan.Celina mengerjap perlahan, membuka kelopak matanya di atas ranjang beludru yang empuk. Ia menoleh ke sisi kanannya dan mendapati Lucien masih terlelap dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur, dengan kepala bersandar di tepi kasur dan tangan kanannya masih menggenggam erat jari jemari Celina bahkan dalam tidur."Lucien..." panggil Celina lembut dengan suara parau khas bangun tidur. Ia mengelus helai rambut hitam suaminya pelan.Lucien langsung terbangun seketika. Insting militernya membuatnya langsung siaga, namun begitu manik mata biru gelapnya menangkap senyuman Celina, ketegangan di wajahnya langsung mencair menjadi kelembutan yang teramat sangat."Kau sudah bangun, sayang? Ada y

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 109

    Krek...Suara gesekan kayu jendela kamar utama berderit pelan disusul hembusan angin malam musim panas yang menyejukkan. Di dalam kamar yang diterangi pendar hangat lampu minyak, suasana begitu tegang namun sarat akan keharuan. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis Celina. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara kedua tangannya meremas erat seprai ranjang beludru merah tua hingga berkerut."Tarik napas yang dalam, Grand Duchess... lepaskan perlahan. Bagus sekali, pertahankan!" instruksi tabib senior istana dengan nada tenang namun tegas, mengatur jalannya proses persalinan.Di sisi kanan ranjang, Lucien berlutut dengan satu kaki. Wajah pria gagah itu tampak jauh lebih pucat daripada istrinya. Tangannya menggenggam jemari Celina dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki."Kau hebat, Celina... kau pasti bisa, sayang," bisik Lucien berulang kali, mencium punggung tangan istrinya penuh cinta dan kecemasan. "Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana."

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 108

    Prang!Suara benturan ranting kayu kering yang diinjak oleh kuda kurir terdengar nyaring di pelataran istana. Seorang pengawal istana berlari tergesa-gesa menghampiri taman mawar tempat Lucien dan Celina sedang bersantai."Lapor, Grand Duke!" seru pengawal itu dengan napas tersengal-sengal, membungkuk hormat dalam-dalam.Lucien segera berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah pengawal tersebut dengan raut wajah yang langsung menegang. "Ada apa? Jangan bilang ada kekacauan baru di perbatasan!""B-bukan, Grand Duke!" jawab pengawal itu cepat, melambaikan kedua tangannya membantah. "Bukan masalah musuh atau pemberontakan! Ini... ini surat balasan dari tabib senior istana yang sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota!"Celina ikut berdiri perlahan dengan bantuan pegangan di meja teh. Ia menghela napas lega, meskipun detak jantungnya sedikit berpacu karena terkejut. "Tabib senior? Surat apa yang dibawanya sampai kau berlari sepaniak ini?"Pengawal itu merogoh saku mantelnya, mengelua

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 107

    Kring... churr...Suara gemercik air mancur batu marmer putih di halaman tengah istana terdengar begitu merdu, berpadu dengan hembusan angin sore musim panas yang menerbangkan kelopak-kelopak bunga mawar putih ke atas rumput hijau.Celina duduk bersandar nyaman di kursi santai rotan berlapis bantal tebal beludru krem. Mengenakan gaun terusan panjang berwarna hijau mint longgar, ia menikmati secangkir teh kamomil hangat yang baru saja dituangkan oleh Marry dari teko porselen berukir emas."Aromanya benar-benar menenangkan, Marry. Terima kasih," puji Celina tulus sambil tersenyum manis.Marry menaruh teko itu kembali di atas nampan kecil, lalu tersenyum ramah. "Sama-sama, Nona Celina. Tabib istana berpesan agar Anda memperbanyak minum teh herbal sore hari agar tidur Anda lebih nyenyak malam nanti.""Ah, bicara soal tabib..." sebuah suara bariton yang dalam memotong percicikan air mancur dari arah koridor batu.Lucien melangkah mendekat dengan santai. Ia sudah melepas jubah kebesaran mil

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 106

    Kring!Lonceng besar di menara utama istana pusat berdenting nyaring sebanyak dua belas kali, menandakan tibanya tengah hari yang cerah. Sinar matahari musim panas menyiram halaman marmer alun-alun ibu kota dengan keemasan yang hangat, mengusir seluruh sisa bayangan gelap dan ketegangan politik yang selama ini mencekam warga.Di balkon utama istana yang menghadap langsung ke arah ribuan rakyat, Lucien berdiri tegak mengenakan jubah kebesarannya sebagai Grand Duke yang baru. Di sampingnya, Celina berdiri anggun dengan balutan gaun panjang berwarna gading beraksen perak. Tangannya yang lembut memegang erat tangan Lucien, sementara tangan kanannya mengusap pelan perut buncitnya yang kini sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan.Di bawah balkon, ribuan rakyat bersorak-sorai riuh sambil melambaikan tangan, merayakan tumbangnya rezim penasihat agung dan kembalinya kedamaian di bawah kepemimpinan keluarga Valois."Mereka benar-benar setia padamu, Lucien," bisik Celina pelan sambil tersenyum

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 105

    Bum!Hantaman keras kaki Lucien merobek lantai batu ruang arsip, menciptakan gelombang kejut kecil yang membuat debu berhamburan ke udara. Penasihat agung berdarah dingin itu terperanjat mundur, langkah kakinya tersandung tumpukan naskah kuno hingga ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin."Tahan! Jangan bunuh aku, Lucien!" teriak penasihat tua itu histeris, mengangkat kedua tangan gememetarnya untuk menangkis bayangan pedang tajam yang kini berada tepat di depan batang tenggorokannya.Lucien berdiri tegak menatap musuhnya dengan sorot mata setajam elang. Napasnya memburu, sementara ujung pedang panjangnya berdesing pelan, meneteskan setitik darah dari ujung bilahnya."Alasan apa yang masih bisa kau ucapkan setelah semua kekejaman yang kau lakukan pada keluargaku, Paman?" geram Lucien dingin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan arsip yang sempit.Penasihat agung mendongak, menyeringai ngeri dengan sisa-sisa kesombongannya. "Keluargamu... keluarga bodoh yang hanya mengand

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 6

    Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 5

    Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 4

    Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 3

    Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status