Beranda / Fantasi / Legenda Dewa Pedang / Bunga Jiwa Api Merah

Share

Bunga Jiwa Api Merah

Penulis: Zhu Phi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-11 20:39:39
Ledakan pusaran api perlahan mereda.

Lembah Api Surgawi tidak lagi bergemuruh—ia mendidih.

Lahar mengalir liar ke segala arah seperti sungai yang kehilangan tujuan. Batu-batu besar masih berjatuhan dari tebing yang retak. Udara dipenuhi serpihan bara yang melayang perlahan, berputar lembut seperti salju merah yang jatuh di dunia tanpa musim dingin.

Di tengah kawah raksasa…

Qilin Api Neraka berlutut.

Tubuh magma raksasanya retak dari tanduk hingga dada. Cahaya merah yang sebelumnya membara kini r
Zhu Phi

Bab Utama : 10/27 (termasuk 3 bab utama hari ini)

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Dewa Pedang    Memasuki Lembah Hantu

    Kabut di Lembah Hantu masih menjadi masalah bagi Shu Jin... tebal dan dingin, menelan pandangan hingga hanya beberapa langkah ke depan.Tidak ada siapa pun yang terlihat begitu mereka melangkah.Tidak ada jejak pasukan yang dipimpin Wu Chao-Xing.Padahal beberapa saat lalu, ribuan panah api menghujani mereka dari langit.Kini tampak kosong dan sepi.Hanya suara langkah kaki yang teredam tanah lembap… dan napas yang terdengar terlalu jelas di telinga sendiri.Udara dingin merayap masuk ke dalam pakaian, menusuk kulit seperti jarum halus. Kabut bergerak perlahan, berputar-putar di antara batu-batu hitam, menciptakan bayangan yang tampak hidup… seolah ada sesuatu yang mengintai dari baliknya.Shu Jin berjalan paling depan.Langkahnya mantap, bahunya tegak, seakan tempat ini hanyalah jalan biasa.Di sampingnya, hanya Guo Xiang yang berani menyamai langkahnya. Tatapannya tajam menyapu sekitar, meski sesekali matanya bergetar halus.Di belakang mereka...Zhang Yin, Shin Ling, Yi Xue, Liang

  • Legenda Dewa Pedang    Formasi Sembilan Naga

    Suara Shu Jin membelah udara lembap yang pengap. Tangannya bergerak cepat. Hanya satu kibasan ringan, hampir tak terlihat… namun energi di sekeliling mereka langsung bergetar hebat.Dalam sekejap, sembilan titik cahaya menyala di tanah, membentuk lingkaran rumit. Dari sana, perisai transparan menjulang, melengkung seperti kubah raksasa yang menyelimuti seluruh kelompok.Langit berkabut di atas mereka mendadak menyala merah.Lalu, hujan panah api turun dengan kencang.Api melesat turun seperti meteor kecil, membelah kabut dengan desisan panas yang membuat udara terasa kering dan menyengat kulit.TRANG! TRANG! TRANG!Benturan demi benturan menggema keras. Panah-panah api itu menghantam perisai cahaya dan terpental, berhamburan ke segala arah seperti percikan bunga api dari baja yang ditempa. Getarannya merambat ke kaki, membuat tanah berdenyut halus.Cahaya merah dan kilau keemasan saling bertabrakan, menciptakan kilatan yang menyilaukan mata.Di seberang kabut, suara Wu Chao-Xing terde

  • Legenda Dewa Pedang    Jebakan Tak Terlihat

    Matahari baru saja muncul di langit Kota Lin’an, tetapi cahaya keemasan pagi itu gagal mengusir ketegangan yang menggantung di udara. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai kini dipenuhi bisik-bisik cemas. Warga menyingkir ke tepi, sebagian menutup pintu, sebagian lagi mengintip dari celah jendela saat barisan besar melintasi kota. Di garis terdepan, pasukan Penyamun Gurun Gobi bergerak seperti badai pasir yang tak terlihat—rapi, disiplin, dan memancarkan aura liar yang membuat bulu kuduk berdiri. Di antara mereka, sosok Aylin Qara berjalan dengan langkah mantap, matanya tajam menyapu setiap sudut kota, seolah menantang siapa pun yang berani menghalangi. Debu tipis terangkat setiap langkah mereka menghantam tanah. Denting senjata yang beradu pelan, gesekan kulit dan logam, serta derap kaki ratusan orang berpadu menjadi irama yang menekan dada. Di belakang mereka, ratusan murid Gobi Pay mengikuti dalam formasi sempurna. Jubah mereka berkibar tertiup angin pagi, sementara Madam Yao She

  • Legenda Dewa Pedang    Kembali Ke Rumah

    Halaman luas Keluarga Besar Shu terbentang seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Rumput liar menjalar liar di antara batu-batu retak, menjepit sisa-sisa kemegahan yang dulu berdiri angkuh. Pilar-pilar kayu yang dahulu dipahat dengan indah kini miring, sebagian hangus, sebagian lagi lapuk dimakan waktu. Angin berhembus pelan, membawa aroma lembap bercampur debu dan sisa darah yang seolah masih menempel di tanah—jejak bisu dari tragedi yang pernah mengguncang tempat ini.Langkah kaki Shu Jin terhenti begitu ia menginjak halaman itu. Sepasang matanya membeku, menatap lurus ke arah bangunan utama yang kini tinggal kerangka. Dindingnya runtuh sebagian, atapnya bolong, dan pintu besarnya tergantung miring, berderit setiap kali angin menyentuhnya.Guo Xiang dan Zhang Yin tiba hampir bersamaan di sisinya, diikuti oleh Mei Shia dan Lian Hua yang bergerak tanpa suara di belakang mereka, seperti bayangan yang setia mengikuti tuannya.“Sadis juga mereka…” suara Guo Xiang memecah k

  • Legenda Dewa Pedang    Persaingan Panas

    Yi Xue menghentakkan kakinya pelan, tapi cukup keras untuk membuat ujung jubahnya berayun. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit tajam ke arah pintu aula yang masih terbuka—tempat dua sosok baru saja pergi dengan penuh percaya diri.Liang Mei menyilangkan tangan di dada, kuku-kukunya menekan lengan sendiri seolah menahan kesal yang menggelegak. Sementara itu, Shin Ling hanya berdiri diam, tetapi sorot matanya dingin dan tajam seperti bilah pisau yang baru diasah.Di sisi lain aula, suara langkah ringan dan tenang milik Guo Xiang dan Zhang Yin masih terngiang, seakan sengaja meninggalkan jejak yang menyebalkan.“Seluruh anggota Gobi Pay akan tiba sebentar lagi untuk membantu kita menyerang Lembah Hantu,” ujar Guo Xiang sebelumnya. Nada suaranya mantap dan penuh keyakinan.Kata-kata itu seperti bara yang dilempar ke dalam dada Yi Xue.“Kabar bagus,” sahut Zhang Yin, melanjutkan dengan nada serius, “pasukan Jenderal Wei Qilin tidak akan sampai dengan cepat ke ibu kota. Aku khawatir Zhao S

  • Legenda Dewa Pedang    Kejutan Tak Terduga

    Langkah kaki bergema pelan di lantai batu istana yang dingin. Shu Jin yang berdiri di sisi aula langsung mengenali suara itu—tegas, mantap, dan tak asing lagi di telinganya. Suara Zhang Yin. Sosok yang telah berkali-kali bertarung bersamanya di garis depan, menembus dinginnya perbatasan, menghabisi pasukan Jurchen tanpa ragu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Saat bayangan Zhang Yin muncul di ambang pintu aula, Shu Jin tidak hanya melihat seorang rekan seperjuangan… tapi juga seseorang di sampingnya. Seorang gadis. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Rambut hitamnya panjang, jatuh seperti aliran sutra di punggungnya, berkilau tertimpa cahaya obor istana. Wajahnya halus, lembut, dengan aura yang tidak biasa—bukan sekadar cantik, tapi anggun… seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk berada di dalam tembok istana. Jantung Shu Jin berdegup sedikit lebih cepat. Aku… pernah melihatnya. Perasaan itu muncul begitu saja, samar tapi mengganggu. Ia mengenali wajah itu—ata

  • Legenda Dewa Pedang    Pembunuh Bayaran Cultivator

    Harga Buah Cahaya Senja tidak pernah ditentukan oleh emas atau janji. Ia selalu dibayar dengan darah.Mei Shia berdiri tepat di hadapan pohon roh itu.Batangnya menjulang seperti tiang senja, diselimuti cahaya jingga keemasan yang berdenyut pelan, seolah menyimpan napas terakhir matahari. Daun-daun

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Legenda Dewa Pedang    Racun Jiwa Ular Hitam

    Uap hijau kehitaman itu tidak sekadar menyebar.Ia merayap.Menyusuri tanah seperti makhluk bernapas, menjilat dedaunan mati, menyelinap di sela akar-akar tua yang berdenyut lemah. Gerakannya lambat—namun penuh kesabaran kejam, seolah tahu bahwa buru-buru bukanlah sifat racun sejati.Ia tidak menyer

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Legenda Dewa Pedang    Melawan Patriark Sekte Pedang Dewa

    Langit di atas Lembah Rahasia Kultivasi semakin gelap, seolah malam dipaksa turun lebih cepat hanya untuk menyaksikan pertarungan dua monster pedang.Aura mereka saling menekan… tak terlihat, namun terasa seperti ribuan bilah tipis yang mengiris kulit tanpa henti. Batu-batu retak pelan, tanah berget

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Legenda Dewa Pedang    Lebah Roh Bulan

    Malam selalu turun lebih cepat di sisi utara Lembah Rahasia Kultivasi—seolah kegelapan sengaja dipanggil lebih awal oleh sesuatu yang berdiam di sana.Langit berubah menjadi biru kelam. Bulan setengah lingkaran menggantung rendah, memercikkan cahaya emas pucat seperti kain sutra yang ditarik perlaha

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status