ANMELDENKisah ini menjelang tamat ya sobat readers... Terima kasih sudah mengikuti sampai bab ini.
Matahari baru saja muncul di langit Kota Lin’an, tetapi cahaya keemasan pagi itu gagal mengusir ketegangan yang menggantung di udara. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai kini dipenuhi bisik-bisik cemas. Warga menyingkir ke tepi, sebagian menutup pintu, sebagian lagi mengintip dari celah jendela saat barisan besar melintasi kota. Di garis terdepan, pasukan Penyamun Gurun Gobi bergerak seperti badai pasir yang tak terlihat—rapi, disiplin, dan memancarkan aura liar yang membuat bulu kuduk berdiri. Di antara mereka, sosok Aylin Qara berjalan dengan langkah mantap, matanya tajam menyapu setiap sudut kota, seolah menantang siapa pun yang berani menghalangi. Debu tipis terangkat setiap langkah mereka menghantam tanah. Denting senjata yang beradu pelan, gesekan kulit dan logam, serta derap kaki ratusan orang berpadu menjadi irama yang menekan dada. Di belakang mereka, ratusan murid Gobi Pay mengikuti dalam formasi sempurna. Jubah mereka berkibar tertiup angin pagi, sementara Madam Yao She
Halaman luas Keluarga Besar Shu terbentang seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Rumput liar menjalar liar di antara batu-batu retak, menjepit sisa-sisa kemegahan yang dulu berdiri angkuh. Pilar-pilar kayu yang dahulu dipahat dengan indah kini miring, sebagian hangus, sebagian lagi lapuk dimakan waktu. Angin berhembus pelan, membawa aroma lembap bercampur debu dan sisa darah yang seolah masih menempel di tanah—jejak bisu dari tragedi yang pernah mengguncang tempat ini.Langkah kaki Shu Jin terhenti begitu ia menginjak halaman itu. Sepasang matanya membeku, menatap lurus ke arah bangunan utama yang kini tinggal kerangka. Dindingnya runtuh sebagian, atapnya bolong, dan pintu besarnya tergantung miring, berderit setiap kali angin menyentuhnya.Guo Xiang dan Zhang Yin tiba hampir bersamaan di sisinya, diikuti oleh Mei Shia dan Lian Hua yang bergerak tanpa suara di belakang mereka, seperti bayangan yang setia mengikuti tuannya.“Sadis juga mereka…” suara Guo Xiang memecah k
Yi Xue menghentakkan kakinya pelan, tapi cukup keras untuk membuat ujung jubahnya berayun. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit tajam ke arah pintu aula yang masih terbuka—tempat dua sosok baru saja pergi dengan penuh percaya diri.Liang Mei menyilangkan tangan di dada, kuku-kukunya menekan lengan sendiri seolah menahan kesal yang menggelegak. Sementara itu, Shin Ling hanya berdiri diam, tetapi sorot matanya dingin dan tajam seperti bilah pisau yang baru diasah.Di sisi lain aula, suara langkah ringan dan tenang milik Guo Xiang dan Zhang Yin masih terngiang, seakan sengaja meninggalkan jejak yang menyebalkan.“Seluruh anggota Gobi Pay akan tiba sebentar lagi untuk membantu kita menyerang Lembah Hantu,” ujar Guo Xiang sebelumnya. Nada suaranya mantap dan penuh keyakinan.Kata-kata itu seperti bara yang dilempar ke dalam dada Yi Xue.“Kabar bagus,” sahut Zhang Yin, melanjutkan dengan nada serius, “pasukan Jenderal Wei Qilin tidak akan sampai dengan cepat ke ibu kota. Aku khawatir Zhao S
Langkah kaki bergema pelan di lantai batu istana yang dingin. Shu Jin yang berdiri di sisi aula langsung mengenali suara itu—tegas, mantap, dan tak asing lagi di telinganya. Suara Zhang Yin. Sosok yang telah berkali-kali bertarung bersamanya di garis depan, menembus dinginnya perbatasan, menghabisi pasukan Jurchen tanpa ragu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Saat bayangan Zhang Yin muncul di ambang pintu aula, Shu Jin tidak hanya melihat seorang rekan seperjuangan… tapi juga seseorang di sampingnya. Seorang gadis. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Rambut hitamnya panjang, jatuh seperti aliran sutra di punggungnya, berkilau tertimpa cahaya obor istana. Wajahnya halus, lembut, dengan aura yang tidak biasa—bukan sekadar cantik, tapi anggun… seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk berada di dalam tembok istana. Jantung Shu Jin berdegup sedikit lebih cepat. Aku… pernah melihatnya. Perasaan itu muncul begitu saja, samar tapi mengganggu. Ia mengenali wajah itu—ata
Kembali ke Istana Kekaisaran Song Selatan—bau darah dan asap masih menggantung tipis di udara.Halaman yang tadi bergemuruh kini sunyi.Mayat berserakan, sebagian hangus, sebagian terbelah. Batu-batu marmer retak, bekas benturan energi masih terasa hangat di telapak kaki.Di aula utama, suasana jauh dari tenang.“Kenapa Zhao Shin tidak ikut menyerang?” tanya Shin Ling, suaranya rendah namun tajam, memecah keheningan.Ia berdiri tegak, matanya menatap ke arah pintu besar yang terbuka—seolah berharap sosok musuh itu muncul kapan saja.“Perempuan iblis itu juga tidak muncul,” sambung Mei Shia, alisnya berkerut. Udara di sekitarnya masih dingin. Embun tipis kembali muncul di lantai.Shu Jin berdiri di tengah mereka.Sikapnya tetap tenangNamun sorot matanya berbeda—tajam dan penuh perhitungan.“Zhao Shin…” gumamnya pelan.Ia melangkah satu langkah, ujung jubahnya menyapu lantai yang dingin.“…sedang mengujiku.”Semua mata langsung tertuju padanya.“Mengujimu?” ulang Yi Xue. Nada suaranya p
Wu Chao-Ming berdiri diam di tepi danau jernih itu. Aliran air terjun di belakangnya menggemuruh pelan seperti bisikan panjang yang tak pernah berhenti. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar cepat—menghitung, menimbang, mencium bahaya yang belum terlihat jelas.Alisnya berkerut.“Apa kita juga akan ikut menyerang ke dalam Istana Kekaisaran Song Selatan?” tanyanya akhirnya, suaranya berat, penuh kehati-hatian.Zhao Shin, yang berdiri tak jauh darinya, justru terkekeh pelan.“Tentu saja tidak.”Jawaban itu datang dengan cepat.Ia berbalik perlahan, menatap Wu Chao-Ming dengan sorot mata dingin.“Melihat bagaimana Lima Wanita Iblis itu bergerak…” lanjutnya, nada suaranya merendah, tajam seperti bilah tersembunyi, “aku yakin ada seseorang di balik mereka. Seorang penasihat perang… yang jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.”Udara di sekitar mereka terasa berubah.Beberapa murid Sekte Pedang Surgawi berhenti berlatih, diam-diam memasang telinga.“Apa maksud Pangeran?”
Langit di atas Lembah Rahasia Kultivasi tampak seperti akan runtuh.Awan tidak lagi mengalir alami... mereka berputar liar, saling melilit seperti pusaran raksasa yang kehilangan pusat. Retakan energi menjalar di udara, tipis namun jelas terlihat, seperti kaca transparan yang perlahan pecah. Setiap
Harga Buah Cahaya Senja tidak pernah ditentukan oleh emas atau janji. Ia selalu dibayar dengan darah.Mei Shia berdiri tepat di hadapan pohon roh itu.Batangnya menjulang seperti tiang senja, diselimuti cahaya jingga keemasan yang berdenyut pelan, seolah menyimpan napas terakhir matahari. Daun-daun
Uap hijau kehitaman itu tidak sekadar menyebar.Ia merayap.Menyusuri tanah seperti makhluk bernapas, menjilat dedaunan mati, menyelinap di sela akar-akar tua yang berdenyut lemah. Gerakannya lambat—namun penuh kesabaran kejam, seolah tahu bahwa buru-buru bukanlah sifat racun sejati.Ia tidak menyer
Langit di atas Lembah Rahasia Kultivasi semakin gelap, seolah malam dipaksa turun lebih cepat hanya untuk menyaksikan pertarungan dua monster pedang.Aura mereka saling menekan… tak terlihat, namun terasa seperti ribuan bilah tipis yang mengiris kulit tanpa henti. Batu-batu retak pelan, tanah berget







