Accueil / Pendekar / Legenda Pendekar Dewa / Bab 6. Murid Pertama Feng Wudao

Partager

Bab 6. Murid Pertama Feng Wudao

last update Date de publication: 2026-10-30 16:41:15

Zhi Shen kini duduk berhadapan dengan Feng Wudao. Beberapa kitab ilmu bela diri yang sebelumnya dibacanya masih tersusun di atas meja.

Feng Wudao memperhatikan tubuh bocah di hadapannya sebelum mengulurkan tangan dan memegang pergelangan tangan Zhi Shen.

“Kakek, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Zhi Shen dengan sedikit terkejut.

“Aku sedang memeriksa bakatmu. Duduklah dengan tenang dan jangan menggerakkan tanganmu,” jawab Feng Wudao.

“Oh... baik, Kakek.” Zhi Shen segera duduk diam.

Feng Wudao memejamkan mata. Perlahan, aliran energi miliknya memasuki tubuh Zhi Shen dan mulai menyebar ke berbagai bagian.

Zhi Shen merasakan sensasi hangat menjalar dari pergelangan tangannya. Meski penasaran, ia memilih diam agar tidak mengganggu pemeriksaan.

Beberapa saat kemudian, alis Feng Wudao mulai berkerut.

Melihat perubahan ekspresi tersebut, Zhi Shen merasa tidak tenang. Ia khawatir tubuhnya ternyata tidak memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri.

Tak lama kemudian, Feng Wudao membuka mata dan melepaskan pergelangan tangannya.

“Kakek, bagaimana hasilnya? Apakah aku memiliki bakat untuk menjadi pendekar?” tanya Zhi Shen dengan penuh harap.

Feng Wudao mengusap janggutnya sebelum menjawab.

“Kualitas tulangmu berada pada tingkat terendah, yaitu Tulang Kayu. Selain itu, dantianmu juga belum terbuka sehingga aku belum bisa mengetahui kualitas maupun jenisnya.”

Mendengar penjelasan itu, wajah Zhi Shen langsung meredup.

“Apakah itu berarti aku tidak bisa menjadi pendekar?” tanya Zhi Shen dengan suara pelan.

“Bukan begitu. Kualitas tulang masih bisa ditingkatkan melalui latihan dan penggunaan sumber daya. Hanya saja, kau harus bekerja lebih keras daripada orang lain,” jelas Feng Wudao.

Zhi Shen sedikit lega mendengarnya. Setidaknya, ia masih memiliki kesempatan untuk mempelajari ilmu bela diri.

“Tapi, ada sesuatu yang aneh dengan kedua matamu,” lanjut Feng Wudao sambil memperhatikan wajah bocah itu.

Zhi Shen segera mengangkat kepala. Dengan penasaran, ia bertanya, “Aneh? Apa maksud Kakek?” 

“Ketika energiku melewati kedua matamu, sebagian energi itu justru tertarik dan berputar di sana. Aku belum pernah menemukan respons seperti ini sebelumnya,” jawab Feng Wudao.

Zhi Shen terkejut mendengarnya. Refleks, ia langsung menyentuh bagian bawah mata kirinya, lalu bertanya, “Jadi, ada sesuatu yang berbeda dengan mataku?”

“Sepertinya begitu. Kau pernah mengatakan bahwa gerakan musuh terlihat melambat ketika kedua matamu bereaksi, bukan?” Feng Wudao kembali memastikan.

“Benar, Kakek! Saat itu, aku bisa melihat gerakan mereka dengan sangat jelas,” jawab Zhi Shen sambil mengangguk.

Feng Wudao terdiam sejenak. Ia kembali teringat pada catatan dalam Kitab Petunjuk Langit yang dibacanya semalam. Namun, ia belum memiliki cukup bukti untuk memastikan apakah kedua mata Zhi Shen benar-benar berkaitan dengan ramalan tersebut.

“Ada kemungkinan kedua matamu memiliki kemampuan khusus yang belum sepenuhnya terbangkitkan,” ujar Feng Wudao akhirnya.

Mata Zhi Shen langsung berbinar.

“Kalau begitu, apakah kemampuan itu bisa membuatku menjadi pendekar yang kuat?” tanyanya penuh semangat.

“Mungkin saja. Namun, jangan terlalu bergantung pada kemampuan matamu. Tanpa fondasi tubuh yang kuat, kemampuan sebesar apa pun tidak akan banyak berguna,” jawab Feng Wudao.

Zhi Shen mengangguk. Ia memahami bahwa dirinya masih harus berlatih keras. Namun, hasil pemeriksaan tersebut justru membuat keinginannya untuk mempelajari ilmu bela diri semakin besar.

Zhi Shen kemudian melirik beberapa kitab di atas meja.

Sejak membaca kitab-kitab tersebut, ia menyadari bahwa mempelajari ilmu bela diri tidak semudah yang dibayangkannya. Banyak istilah yang tidak dipahaminya, sementara Feng Wudao merupakan pendekar hebat yang tentu bisa membimbingnya.

Setelah berpikir sejenak, Zhi Shen akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Kakek... bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya bocah itu dengan sedikit ragu.

“Katakan saja. Apa yang kau inginkan?” Feng Wudao mengangkat alis.

Zhi Shen menarik napas sebelum menatap pria tua itu dengan sungguh-sungguh, lalu berkata, “Aku ingin menjadi muridmu, Kakek!” 

Feng Wudao sedikit tertegun. Sesaat kemudian, ia tertawa lebar.

“Hahaha! Bocah, tahukah kau? Selama hidupku, aku belum pernah menerima satu orang murid pun,” kata Feng Wudao sambil mengusap janggut.

Mendengar jawaban tersebut, wajah Zhi Shen langsung tertunduk. “Maaf, Kakek. Aku tahu permintaanku terlalu berlebihan.”

“Siapa bilang aku menolakmu?” Feng Wudao tersenyum tipis.

Zhi Shen segera mengangkat kepala. Satu harapan tiba-tiba kembali muncul di wajahnya, “Jadi, Kakek bersedia menerimaku sebagai murid?” 

“Belum tentu. Menjadi muridku tidak semudah yang kau bayangkan, apalagi dengan kualitas tulangmu saat ini,” jawab Feng Wudao.

Zhi Shen kembali terdiam.

“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan agar Kakek bersedia menerimaku?” tanya Zhi Shen dengan sungguh-sungguh.

Feng Wudao memperhatikan bocah itu beberapa saat.

“Kau harus membuktikan bahwa dirimu benar-benar memiliki tekad untuk menjadi pendekar. Aku tidak membutuhkan murid yang hanya bersemangat di awal, tetapi langsung menyerah ketika menghadapi kesulitan.”

Zhi Shen mengepalkan kedua tangannya. Ia teringat kembali pada kejadian ketika anggota Sekte Iblis Hitam menyerang desanya. Saat itu, ia bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri.

Zhi Shen tidak ingin mengalami kejadian serupa untuk kedua kalinya.

“Aku tidak akan menyerah, Kakek! Sesulit apapun ujiannya, aku akan berusaha menyelesaikannya!” jawab Zhi Shen dengan tegas.

Feng Wudao tersenyum melihat kesungguhan bocah itu.

“Bagus. Kalau begitu, ikut aku ke halaman belakang,” kata Feng Wudao sambil bangkit dari kursi.

Zhi Shen segera berdiri dan mengikuti Feng Wudao.

Sesampainya di halaman belakang, Feng Wudao berhenti. Ia menoleh ke arah Zhi Shen.

“Ujiannya sederhana. Aku akan menyerangmu satu kali. Jika kau berhasil menghindarinya, aku akan menerimamu sebagai murid.”

Zhi Shen mengangguk. Ia memandang Feng Wudao dengan serius.

Namun, sebelum bocah itu sempat mempersiapkan diri lebih jauh, Feng Wudao tiba-tiba mengayunkan telapak tangannya.

Wusss!

“Eh?!”

Zhi Shen terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka serangan itu akan datang begitu cepat, tanpa aba-aba sedikit pun.

Telapak tangan Feng Wudao sudah meluncur ke arahnya. Pada saat itulah, kedua mata Zhi Shen berdenyut. Sensasi aneh di kepalanya ketika ia berhasil menghindari tangkapan penculik di Desa Jianlu kembali muncul.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 6. Murid Pertama Feng Wudao

    Zhi Shen kini duduk berhadapan dengan Feng Wudao. Beberapa kitab ilmu bela diri yang sebelumnya dibacanya masih tersusun di atas meja.Feng Wudao memperhatikan tubuh bocah di hadapannya sebelum mengulurkan tangan dan memegang pergelangan tangan Zhi Shen.“Kakek, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Zhi Shen dengan sedikit terkejut.“Aku sedang memeriksa bakatmu. Duduklah dengan tenang dan jangan menggerakkan tanganmu,” jawab Feng Wudao.“Oh... baik, Kakek.” Zhi Shen segera duduk diam.Feng Wudao memejamkan mata. Perlahan, aliran energi miliknya memasuki tubuh Zhi Shen dan mulai menyebar ke berbagai bagian.Zhi Shen merasakan sensasi hangat menjalar dari pergelangan tangannya. Meski penasaran, ia memilih diam agar tidak mengganggu pemeriksaan.Beberapa saat kemudian, alis Feng Wudao mulai berkerut.Melihat perubahan ekspresi tersebut, Zhi Shen merasa tidak tenang. Ia khawatir tubuhnya ternyata tidak memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri.Tak lama kemudian, Feng Wudao membuka m

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 5. Bocah dalam Ramalan

    Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi. Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa. Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen. “Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya. Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?” “Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas. Zhi Shen kembali mengangkat wajah. “Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao. “Benarkah, Kakek?!” Feng Wudao mengangguk. “Tapi

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 4. Ingin Menjadi Seorang Pendekar

    “Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.” Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 3. Pertemuan dengan Pendekar Legenda

    “Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”Feng Wudao tertawa pendek. “Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.“Kalian pikir

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 2. Awal Takdir Zhi Shen

    “Ugh …”Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki.“Di mana aku?”Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu.Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga.“Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!”Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal.“Aku harus mencari cara....”Belum sempat

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 1. Bocah Bermata Dua Warna

    “Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa. Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi. Brak! Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan. Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah. Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang. Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya. Sementara di luar, su

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status