Mag-log inKeesokan paginya, Lapangan Persatuan Xian Jin dipenuhi orang.Pedagang menutup kios lebih awal. Murid-murid dari berbagai keluarga memanjat pagar batu demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Para pejabat kota duduk di tribun kehormatan, sementara para tetua Keluarga Shin dan Keluarga Shou menempati sisi yang berlawanan.Di tengah lapangan terbentang arena berlantai batu. Bekas goresan senjata menghiasi permukaannya, menjadi saksi berbagai duel yang pernah berlangsung di sana.Shin Tian tiba tanpa membawa senjata.Sebaliknya, Shou Ren datang dengan tombak hitam di bahunya dan pelindung lengan dari logam tebal.Melihat tangan kosong lawannya, Shou Ren tertawa meremehkan.“Kau tidak membawa senjata?”“Aku punya tangan.”“Itu bukan jawaban seorang pendekar.”“Kalau begitu, anggap saja aku ingin memberimu kesempatan untuk merasa lebih percaya diri.”Wajah Shou Ren kembali menegang.Seorang pejabat kota berdiri di tengah arena.“Pertandingan ini merupakan duel persahabatan untuk menguj
Genderang perang mengguncang gerbang utama kediaman Keluarga Shin.Dua belas prajurit berseragam biru tua berbaris memasuki halaman. Baju zirah mereka memantulkan cahaya matahari, sementara tombak panjang di tangan mereka bergerak serempak mengikuti langkah komandan. Di bagian depan rombongan, seorang pemuda bertubuh kekar membawa tombak hitam sepanjang dua meter. Tatapannya tajam, dagunya terangkat, dan senyum meremehkan menghiasi wajahnya.Dialah Shou Ren, ahli bela diri muda Keluarga Shou yang telah memenangkan sejumlah pertandingan antarkeluarga.Jenius militer yang menjadi andalan Keluarga Shou sebagai Dewa Perang yang akan memimpin pasukan Kerajaan Song Selatan untuk menghalau invasi dari bangsa asing seperti bangsa Mongol di Selatan dan Kerajaan Jin di Utara.Di belakangnya berjalan seorang pria paruh baya berjubah biru dengan lambang harimau perak di dada. Ia adalah Tetua Shou, perwakilan resmi keluarga militer yang memiliki pengaruh besar di Xian Jin.“Di mana Shin Tian?” ser
Shin Tian tetap tenang dengan sikap angkuh Shin Hao yang tidak menerima kritik yang diberikannya.“Benar. Karena itu, bangkitkan lagi semangatmu.”Shin Hao kembali menyerang, kali ini dengan gerakan lebih cepat. Namun, hasilnya tidak berubah. Setiap kali ia berusaha memaksakan kekuatan, Shin Tian memindahkan titik keseimbangannya sedikit saja.Akhirnya, ketika Shin Hao melancarkan pukulan menyilang, Shin Tian memutar tubuh dan menyentuh pergelangan tangannya.Satu tarikan pendek. Satu langkah menyamping.Shin Hao jatuh terduduk di atas pasir arena.Duk!Halaman mendadak sunyi.Shin Hao memandangi kedua tangannya, seolah tidak percaya bahwa ia telah dikalahkan tanpa menerima satu pukulan pun.Shin Tian mengulurkan tangan. “Berdirilah. Lantai ini tidak bersalah.”Beberapa murid tertawa, tetapi Shin Hao kali ini tidak membalas dengan kemarahan. Setelah ragu sejenak, ia menerima uluran tangan tersebut.“Bagaimana kau melakukannya?” tanyanya pelan. Ada rasa penasaran di hati Shin Hao sekar
Suara lonceng dari Balai Kultivasi menggema ke seluruh kediaman Keluarga Shin.Pagi itu, puluhan murid berkumpul di halaman luas yang dikelilingi pilar batu. Udara masih dingin, tetapi suasana terasa panas oleh bisikan dan tatapan penuh rasa ingin tahu. Kabar tentang kemenangan Shin Tian melawan Utusan Lembah Iblis telah menyebar ke seluruh Kota Xian Jin. Kini, semua orang ingin mengetahui seberapa kuat pemuda yang dahulu sering dianggap sebagai aib keluarga itu.Di atas panggung batu, Shin Long berdiri bersama para tetua.“Hari ini, Keluarga Shin mengadakan ujian terbuka untuk mengukur kemampuan generasi muda,” serunya. “Kemenangan kita melawan Lembah Iblis membuktikan bahwa kekuatan tidak boleh hanya bergantung pada para tetua. Masa depan keluarga ini berada di tangan kalian!”Tepuk tangan terdengar, meski beberapa murid masih sibuk melirik Shin Tian yang berdiri santai di bawah panggung.Pemuda itu menguap.Shin Wang yang berdiri di sampingnya langsung menyikut lengannya. “Jangan m
Ruang kerja Shin Long mendadak terasa lebih dingin.“Orang dari dalam kekaisaran?” Shin Wang yang baru tiba di ambang pintu mengerutkan kening. “Apakah Qian Mu menyebutkan namanya?”Penjaga itu menggeleng gugup. “Belum, Tetua. Ketika kami menanyakan identitas orang tersebut, Qian Mu justru meminta bertemu Tuan Muda Shin. Katanya, hanya beliau yang bisa memahami maksud pesan yang ditinggalkan orang itu.”Shin Tian menyandarkan punggung pada kursi. Ujung jarinya mengetuk meja perlahan.Qian Mu bukan orang bodoh. Jika dia sampai meminta bertemu dengannya, berarti ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menyelamatkan nyawanya.“Bawa dia ke ruang interogasi,” perintah Shin Tian. “Jangan beri kesempatan untuk menghubungi siapa pun.”“Baik!”Setelah penjaga itu pergi, Shin Long menatap putranya dengan cemas.“Kau akan menemuinya sekarang?”“Tidak. Ada urusan yang lebih mendesak.”Shin Wang mengangkat alis. “Lebih mendesak daripada mengetahui siapa yang mengincar keluarga kita?”S
Suara langkah para penjaga menggema di lorong kediaman Keluarga Shin.“Lapor! Qian Mu tertangkap ketika berusaha melarikan diri melalui gerbang belakang!”Shin Tian yang baru saja hendak meninggalkan aula leluhur menghentikan langkahnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Bagus. Pastikan dia tetap hidup. Aku masih punya beberapa pertanyaan untuknya.”“Siap!” Penjaga itu segera berbalik dan berlari pergi.Di belakang Shin Tian, Shin Long masih berdiri terpaku. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat. Bekas pertarungan melawan Utusan Lembah Iblis masih terasa di udara. Bau hangus bercampur aroma dupa memenuhi aula, dan beberapa retakan menghiasi lantai marmer.Namun, bukan kerusakan itu yang mengganggu pikirannya. Anak yang selama ini dianggapnya lemah ternyata mampu mengalahkan utusan dari kekuatan misterius yang bahkan ditakuti para tetua keluarga.Lebih mengejutkan lagi, Shin Tian melakukannya dengan ketenangan seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah
Shin Tian melangkah mendekat, langkahnya tenang, nyaris tak terdengar. Bajunya berkibar sedikit, dan tiap langkah seolah menekan udara di sekitar, menciptakan beban tak kasatmata yang menggantung di antara mereka. Ia berlutut perlahan di hadapan Qian’er, membiarkan matanya sejajar dengan wanita ya
Suara desir angin bergaung samar di telinganya. Perlahan, kesadaran Shin Tian mulai merangkak kembali dari kegelapan. Ia menggeliat pelan, tubuhnya terasa seperti dihantam batu besar—berat, nyeri, dan tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya.“Ugh… aku… ada di mana?” gumamnya pelan. Suaranya terde
Deras hujan menari-nari di atas atap Menara Lonceng, memercik di atas bebatuan yang dingin dan licin. Udara malam yang basah dan dingin terasa menyesakkan, seperti ikut menindih dada Shin Tian yang sudah penuh luka.Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk kulit, tapi juga kar
Langit di atas kediaman Keluarga Shin menghitam, menggantung berat seperti pertanda kutukan yang hendak turun. Awan bergulung-gulung seperti naga kelabu, dan rintik hujan mulai menari di udara, menciptakan irama lembut yang menghantam genting tua menara tua keluarga. Udara terasa lembap dan bergeta







