แชร์

4. gerbang Emas

ผู้เขียน: Hz. Ceria
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-21 12:57:06

Kereta kuda cendana merah berlambang militer Utara itu akhirnya berhenti di depan Gerbang Shenwu—pintu masuk utara menuju Istana Terlarang Kekaisaran Tianlong. Dinding-dinding batu merah setinggi belasan meter berdiri angkuh, memisahkan dunia fana yang bising dengan kemegahan dingin tempat bersarangnya klan Long.

Wei Lichun menyibak sedikit tirai sutra kereta. Di luar, puluhan kereta mewah lainnya telah berbaris. Gadis-gadis cantik dari berbagai klan bangsawan dan pejabat tinggi melangkah turun, masing-masing mengenakan gaun terbaik mereka, memamerkan keanggunan, kecerdasan, dan latar belakang keluarga mereka yang agung.

Di sinilah sandiwara sesungguhnya dimulai.

Lichun tahu betul, jika dia tetap mempertahankan karakter Han Lichun yang sombong dan angkuh di dalam istana, dia hanya akan menjadi target empuk bagi faksi politik lain. Di depan Kaisar Long Yan yang penuh curiga dan para menteri tua yang licik, seorang putri jenderal yang arogan akan dinilai sebagai ancaman militer yang harus ditekan.

Maka, sebelum kakinya menyentuh lantai batu pelataran istana, Lichun merombak total topengnya. Keangkuhan mutlak yang dia tunjukkan di sepanjang perjalanan dari Utara dileburnya dalam sekejap.

Ketika pintu kereta dibuka oleh pelayan istana, sosok yang keluar bukan lagi gadis manja yang ketus. Lichun melangkah turun dengan tubuh yang sedikit gemetar, jemari tangannya meremas saputangan sutra dengan erat seolah sedang menyembunyikan ketakutan yang mendalam. Matanya yang hitam palsu menatap sekeliling dengan pandangan goyah, dipenuhi riak kecemasan seorang gadis muda yang mendadak dilempar ke tengah serigala-serigala politik.

"Nona Han Lichun dari Perbatasan Utara, silakan memasuki area pemeriksaan," seru seorang kasim istana dengan suara melengking datar.

Lichun menundukkan kepalanya dalam-dalam, melangkah dengan ritme yang sengaja dibuat agak ragu. Di dalam benaknya, dia tersenyum dingin. "Kalian menyukai mangsa yang lemah, bukan? Aku akan memberi kalian seekor anak domba yang tak berdaya."

Seleksi tahap pertama berlangsung di Aula Bunga Krisan, di mana para calon selir dinilai berdasarkan tata krama, silsilah, dan pembawaan mereka. Di ujung aula, duduk beberapa selir senior dan menteri dalam istana yang bertindak sebagai juri. Di antara mereka, ada beberapa menteri sepuh yang energinya terasa asing namun pekat—mereka adalah keturunan langsung dari para pembantai Lembah Baishi seribu tahun lalu.

Ketika nama Han Lichun dipanggil, dia maju dan berlutut di tengah aula. Berbeda dengan gadis lain yang mencoba menegakkan dada untuk memamerkan perhiasan mereka, Lichun justru membiarkan bahunya sedikit merosot.

"Hamba, Han Lichun, memberi hormat kepada para tetua istana," suaranya bergetar halus, terdengar lembut namun rapuh, kehilangan seluruh nada cempreng dan ketus yang dia gunakan di Kota Fuping.

Seorang menteri tua dengan jubah bersulam bangau menatap dokumen di tangannya. "Han Lichun... putri dari Jenderal Han di Perbatasan Utara. Kudengar ibumu telah lama tiada, dan ayahmu menghabiskan seluruh waktunya di barak militer, jarang pulang ke kediaman. Apakah itu benar?"

Pertanyaan itu adalah jebakan untuk mengukur kedekatan emosionalnya dengan kekuatan militer Utara.

Lichun perlahan mendongak, membiarkan sepasang matanya berkaca-kaca, memancarkan kesedihan yang begitu murni hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba. "Benar, Tuan Menteri. Sejak kecil... hamba tumbuh besar dalam kesunyian. Ayah adalah pahlawan kekaisaran, namun di rumah, hamba hanyalah seorang gadis tanpa perlindungan orang tua. Hamba dikirim ke ibu kota ini... hanya untuk memenuhi kewajiban klan."

Setetes air mata buatan dari sihir ilusinya jatuh tepat di atas lantai marmer. Dia tidak menunjukkan kelicikan atau ambisi untuk merebut takhta belakang; dia hanya menampilkan dirinya sebagai bidak malang yang kesepian, seorang gadis rapuh yang tidak memiliki siapa-siapa untuk bersandar.

Para juri saling berbisik, mengangguk puas. Seorang putri jenderal yang memiliki kekuatan militer di belakangnya, namun bermental lemah dan merindukan kasih sayang, adalah jenis bidak yang paling mudah dikendalikan oleh faksi istana. Dia lolos ke tahap berikutnya tanpa hambatan sama sekali.

Malam harinya, babak final seleksi diadakan langsung di Paviliun Rembulan, dihadiri oleh sang penguasa tertinggi: Kaisar Long Yan.

Suasana paviliun begitu tegang. Wangi dupa cendana membubung tinggi, berbaur dengan energi spiritual dari formasi pelindung istana yang kuat. Di atas takhta naga, duduk Kaisar Long Yan. Pria itu bertubuh tegap, berwajah tampan namun memiliki sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh selubung ketidakpercayaan kepada semua orang. Di lehernya, tersembunyi di balik jubah naga emasnya, Lichun bisa merasakan denyut spiritual yang sangat kuat.

Batu Ular!

Darah siluman di dalam tubuh Lichun bergejolak hebat, menuntut pembalasan saat merasakan esensi ayahnya diperas untuk memperkuat aura kepemimpinan pria di atas takhta itu. Namun, Lichun menekan gelombang sihirnya sedalam mungkin. Tidak boleh ada satu pun riak kebencian yang lolos.

Satu per satu gadis maju, menampilkan tarian, puisi, atau permainan kecapi yang rumit demi menarik perhatian sang Kaisar. Namun, Long Yan tampak bosan. Dia tahu wanita-wanita ini maju membawa ambisi besar dari keluarga mereka.

Hingga tiba giliran Lichun.

Dia tidak menari dengan sensual, tidak pula membacakan puisi yang megah. Lichun maju dengan langkah perlahan, mengenakan gaun sutra putih polos dengan sulaman bambu tipis—pakaian yang sengaja dipilih untuk menunjukkan statusnya yang "terabaikan" di Utara. Di tangannya, dia memegang sebilah seruling bambu sederhana.

Saat musik dimulai, Lichun meniup serulingnya. Melodi yang keluar bukan lagu pujian untuk kekaisaran, melainkan seuntai nada yang teramat sunyi, sedih, dan penuh kerinduan akan rumah. Itu adalah adaptasi dari lagu pengantar tidur yang dulu dinyanyikan ibunya sebelum tragedi berdarah itu terjadi.

Alunan seruling itu bergema di paviliun, begitu menyayat hati hingga membuat beberapa kasim menundukkan kepala, teringat pada keluarga mereka yang jauh.

Long Yan yang tadinya bersandar bosan, perlahan menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam mengunci sosok gadis di tengah pelataran. Dia melihat seorang gadis yang tampak begitu rapuh, seolah angin malam istana yang kencang bisa menghancurkannya kapan saja. Tidak ada ambisi di matanya, tidak ada kelicikan fana. Hanya ada kesunyian yang mendalam.

Ketika lagu berakhir, Lichun berlutut, meletakkan serulingnya, dan tetap menunduk tanpa berani menatap langsung ke arah takhta.

"Lagu yang aneh untuk sebuah seleksi selir," suara Long Yan terdengar berat, menggema di langit-langit paviliun. "Klan Han dari Utara terkenal dengan pedang dan darah mereka. Mengapa putrinya justru membawa kesedihan yang begitu pekat ke istanaku?"

Lichun menarik napas pelan, bahunya sedikit bergetar saat dia menjawab dengan suara yang parau. "Mohon ampun, Yang Mulia. Di Utara... angin salju sangat dingin. Ayah hamba sibuk dengan peperangan, dan hamba tidak memiliki ibu tempat mengadu. Musik ini adalah satu-satunya teman hamba saat bermimpi tentang kehangatan yang tidak pernah hamba miliki. Hamba tahu hamba tidak pantas bersanding di sisi Yang Mulia, hamba hanya... ingin menemukan tempat di mana hamba tidak perlu lagi ketakutan sendirian."

Kata-kata itu dirancang dengan sangat jenius. Di depan seorang penguasa yang terbiasa dikelilingi oleh orang-orang bermuka dua yang menginginkan kekuasaannya, pernyataan Lichun yang mendambakan "perlindungan dan kehangatan murni" bertindak bagai racun yang perlahan merembes ke dalam ego kelaki-lakian sang Kaisar.

Long Yan menatap Lichun lama, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan di wajah pucat gadis itu. Namun, ilusi seribu tahun milik siluman ular putih terlalu sempurna untuk ditembus oleh mata manusia. Di mata Kaisar, Han Lichun hanyalah selembar kertas putih tak berdaya yang bisa dia bentuk sesuka hati—seorang putri jenderal tanpa taring yang bisa digunakan untuk meredam faksi Utara tanpa perlu khawatir akan adanya pengkhianatan dari dalam.

"Tempat perlindungan?" Long Yan menyunggingkan senyum tipis, merasa bahwa dia telah memegang kendali penuh atas gadis malang ini. Dia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada kasim agung. "Mulai malam ini, kau tidak perlu lagi kedinginan di Utara, Han Lichun. Tetaplah di istanaku. Aku akan menjadi perlindunganmu."

"Nona Han Lichun dari Perbatasan Utara... dipilih menjadi Selir Tingkat Rendah, Selir Han!" teriak kasim agung, menyegel takdir baru di dalam Istana Belakang.

Lichun bersujud dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu. Di balik kegelapan lantai yang dingin, wajah rapuhnya perlahan memudar, digantikan oleh seringai tipis yang amat mengerikan.

"Ya, jadilah pelindungku, Long Yan," desis Lichun di dalam hatinya yang beku. "Bukalah seluruh pintu kamarmu untukku. Peluklah aku dengan kehangatanmu, hingga tiba waktunya bagi anak domba ini untuk merobek tenggorokanmu dan mengambil kembali Batu Ular milik ayahku dari lehermu."

Manipulasi dari dalam telah resmi dimulai. Sang ular putih kini telah meringkuk nyaman di dalam selimut sang Kaisar, bersiap menyebarkan racun kematiannya setetes demi setetes tanpa ada satu pun manusia yang menyadarinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   22. eksekusi rahasia pertama

    Malam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   21. Investigasi yang Buntu

    Kematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   20. pelatihan rahasia

    Malam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   19. pahlawan palsu

    Suasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   18. tawaran untuk Feng long

    Malam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   17. Korban yang Sempurna

    Bagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   7. Sentuhan Es

    Malam kian larut di Paviliun Anggrek Liar. Kamar tidur Wei Lichun hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Sejak pertemuan di Taman Anggrek sore tadi, ego Kaisar Long Yan yang setinggi langit terusik oleh sosok selir b

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   6. Air Mata di Taman Anggrek

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setel

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   2. Mangsa Pertama

    Matahari siang di Kota Fuping tidak membawa kehangatan bagi Wei Lichun; cahaya itu justru terasa laksana ribuan jarum perak yang menusuk-nusuk kulit pualamnya. Gema bualan dari kedai teh tadi masih berdengung di kepalanya, memicu denyut kemarahan yang membuat esensi spiritualnya yang rapuh bergejol

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   1 . Legenda of Wei Lichun

    1000 tahun yang lalu lembah Baishi di penuhi siluman ular putih yang hidup damai. sampai suatu hari yang cerah, manusia-manusia berpakaian Jirah perang membakar, membunuh dan menguliti klan ular putih demi batu ular ajaib!Wei Lichun, seekor ular putih yang baru menetas lemah, di sembunyikan di dal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status