Partager

7. Sentuhan Es

Auteur: Hz. Ceria
last update Date de publication: 2026-05-21 13:29:00

Malam kian larut di Paviliun Anggrek Liar. Kamar tidur Wei Lichun hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Sejak pertemuan di Taman Anggrek sore tadi, ego Kaisar Long Yan yang setinggi langit terusik oleh sosok selir barunya yang rapuh. Maka, di sinilah sang penguasa tertinggi Istana Agung berada sekarang—berdiri berkacak pinggang di samping ranjang, menatap gadis yang kini tampak tertidur dengan pandangan menilai yang sarat akan keangkuhan.

Sebagai Putra Langit yang sah, Long Yan selalu menganggap dunia dan isinya adalah miliknya. Baginya, manusia di bawah kakinya tidak lebih dari pion yang bergerak sesuai kehendaknya. Namun, fakta bahwa ada selembar kertas putih tak berdaya dari Utara yang berani menunjukkan kesedihan mendalam di hadapannya membuat rasa superioritasnya tertantang.

Long Yan mengulurkan tangannya yang dibalut cincin giok mahal, mencengkeram dagu Lichun dengan agak kasar agar gadis itu terbangun. Namun, begitu ujung jarinya menyentuh kulit pualam tersebut, sang Kaisar menyipitkan matanya.

"Kenapa kulitmu begitu dingin?" tanya Long Yan, nadanya ketus dan menuntut, seolah-olah rasa dingin itu adalah bentuk kelancangan terhadap dirinya. "Dunia ini berada di bawah kehangatan mandat langitku, bagaimana bisa seorang selir di istanaku memiliki tubuh sebeku mayat?"

Sentuhan kasar itu seketika membuat Lichun membuka matanya. Dia mengerjap pelan, menampilkan raut wajah yang linglung dan ketakutan melihat kilatan arogan di mata sang Kaisar. Dengan tergesa-gesa, dia mencoba turun dari ranjang untuk bersujud di lantai dingin.

"Yang Mulia... mohon ampun, hamba tidak menyadari kedatangan Anda," bisik Lichun, suaranya bergetar lemah.

"Cukup, tidak perlu bersujud di lantai yang kotor itu. Tetaplah di atas ranjang," perintah Long Yan mutlak. Dia memegang bahu Lichun untuk menahannya, namun rasa dingin yang menusuk kembali merembes melalui kain sutra gaunnya, menembus telapak tangan sang Kaisar. Long Yan mendengus tak suka. "Kondisi macam apa ini? Apakah kau sedang menolak kehadiranku dengan tubuh esmu ini, Han Lichun?"

Lichun menarik tubuhnya sedikit ke belakang, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut hitamnya, seolah dia sedang menghadapi murka seorang dewa.

"Hamba tidak akan pernah berani kelancangan seperti itu kepada Putra Langit," suara Lichun terdengar parau dan penuh ketakutan yang mendalam. "Sejak kecil, hamba memiliki kelainan tubuh yang dingin. Di Utara yang membeku, ayah hamba selalu sibuk dengan pasukan dan peperangan. Beliau... beliau menganggap hawa dingin di tubuh hamba sebagai kelemahan yang memalukan, sehingga hamba sering kali dibiarkan mengunci diri di kamar tanpa perlindungan siapa pun."

Lichun mendongak sedikit, membiarkan sepasang matanya yang basah menatap Long Yan dengan pandangan memuja yang teramat tulus—jenis tatapan yang sangat disukai oleh ego sang Kaisar. "Hamba tahu tubuh hina hamba ini tidak pantas berada di dekat Yang Mulia yang agung laksana matahari. Hamba... hamba siap jika harus dibuang ke paviliun yang lebih terpencil agar tidak mengotori aura suci Anda."

Mendengar kata-kata "matahari" dan melihat kepasrahan mutlak dari putri seorang jenderal yang perkasa, keangkuhan Long Yan langsung terpuaskan. Sifat sombongnya mendikte bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak bisa dia taklukkan atau sembuhkan. Jika langit memilihnya sebagai penguasa tunggal, maka menghangatkan selembar kain tipis dari Utara adalah hal yang teramat mudah baginya.

"Dibuang?" Long Yan tertawa meremehkan, sebuah tawa angkuh yang menggema di kamar sunyi itu. Dia duduk di tepi ranjang, lalu dengan paksa menarik tubuh Lichun ke dalam dekapannya, mengunci gadis itu di dada bidangnya yang dilapisi jubah naga emas. "Langit dan bumi ini berada di bawah genggamanku, Han Lichun. Jika aku mengatakan kau harus tetap di sini, maka tidak akan ada satu faksi pun yang bisa membuangmu. Biarkan hawa dinginmu yang menyedihkan itu berhadapan dengan keagungan mandat langitku."

Saat tubuh mereka menempel dengan paksa, sebuah reaksi mistis yang tak kasat mata terjadi. Di dalam jubah naga Long Yan, Batu Ular milik ayah Lichun bergejolak, merespons kodrat alami siluman ular yang dikeluarkan dari tubuh dingin Lichun. Pusaka yang dicuri itu mendadak melepaskan gelombang esensi spiritual hangat yang sangat murni, mengalir langsung ke tubuh Lichun melalui dekapan erat sang Kaisar.

Bagi Long Yan yang dikuasai kesombongan, dia merasa bahwa gelombang energi itu adalah bukti dari kekuatan sucinya sendiri sebagai Putra Langit yang sedang mendominasi dan "menyembuhkan" kelemahan sang selir. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa tubuh dingin Wei Lichun bertindak bagai lintah rahasia yang mulai menyedot kembali energi inti dari pusaka ayahnya.

"Bagaimana?" Long Yan berbisik di telinga Lichun, nadanya penuh dengan nada kemenangan yang arogan. "Apakah kau merasakannya? Hanya di dalam pelukanku, hawa dinginmu yang tak berguna itu bisa tunduk."

Lichun memejamkan mata emas vertikalnya yang tersembunyi di balik kelopak mata manusianya. Rasa hangat dari Batu Ular mengalir lancar ke dalam meridian tubuh silumannya, memperkuat fondasi sihir ilusinya yang sempat rapuh. Di balik punggung Long Yan, jemari tangan manusianya mencengkeram sutra jubah naga sang Kaisar dengan kelembutan yang mematikan.

"Benar, Yang Mulia..." Lichun berbisik dengan nada yang teramat kagum dan penuh ketundukan. "Anda memang pilihan langit yang sesungguhnya... Hanya di dekat Anda, hamba tidak lagi merasakan siksaan dingin yang menakutkan ini. Hamba memohon... jangan pernah lepaskan hamba dari kehangatan Anda."

Long Yan tersenyum puas, membelai rambut Lichun dengan keangkuhan seorang pemilik yang berhasil menjinakkan seekor hewan peliharaan baru. "Tentu saja. Kau adalah milikku sekarang, Han Lichun. Dan tidak ada seorang pun yang bisa merebut apa yang telah menjadi milik Putra Langit."

Di dalam kegelapan kamar yang sunyi, di bawah dekapan erat sang penguasa yang sombong, Wei Lichun menyunggingkan seringai tipis yang teramat mengerikan. Sifat angkuh dan rasa superioritas Long Yan yang buta adalah senjata terbaik yang akan dia gunakan untuk menghancurkan pria itu dari dalam.

"Sombong lah sesukamu, manusia bodoh," desis Lichun di dalam hatinya yang beku. " Pujilah dirimu sebagai putra langit, sementara aku menguras habis fondasi takhtamu. Semakin kau merasa berkuasa atas diriku, semakin dalam kau menjerumuskan seluruh garis keturunan klan Long ke dalam liang kubur yang telah kusiapkan."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   22. eksekusi rahasia pertama

    Malam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   21. Investigasi yang Buntu

    Kematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   20. pelatihan rahasia

    Malam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   19. pahlawan palsu

    Suasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   18. tawaran untuk Feng long

    Malam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   17. Korban yang Sempurna

    Bagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   6. Air Mata di Taman Anggrek

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setel

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   5. Racun dalam Selimut

    Malam pertama di Istana Belakang bergulir dengan kesunyian yang mencekam. Sebagai selir tingkat rendah yang baru terpilih, Wei Lichun ditempatkan di Paviliun Anggrek Liar—sebuah kediaman kecil yang terletak di sudut paling terpencil dari kompleks Istana Agung. Tempat itu dikelilingi oleh rumpun bam

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   4. gerbang Emas

    Kereta kuda cendana merah berlambang militer Utara itu akhirnya berhenti di depan Gerbang Shenwu—pintu masuk utara menuju Istana Terlarang Kekaisaran Tianlong. Dinding-dinding batu merah setinggi belasan meter berdiri angkuh, memisahkan dunia fana yang bising dengan kemegahan dingin tempat bersaran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   3. Topeng Sempurna

    Wei Lichun berdiri di luar kereta kuda yang kini sunyi, membiarkan jubah sutra ungu muda milik mendiang Nona Han yang baru saja dikenakannya berkibar ditiup angin sore. Di bawah kakinya, jasad asli Han Lichun telah melarut sepenuhnya menjadi tumpukan abu putih halus yang langsung tersapu oleh desau

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status