Share

5. Racun dalam Selimut

Author: Hz. Ceria
last update publish date: 2026-05-21 13:05:11

Malam pertama di Istana Belakang bergulir dengan kesunyian yang mencekam. Sebagai selir tingkat rendah yang baru terpilih, Wei Lichun ditempatkan di Paviliun Anggrek Liar—sebuah kediaman kecil yang terletak di sudut paling terpencil dari kompleks Istana Agung. Tempat itu dikelilingi oleh rumpun bambu tipis dan kolam teratai yang terbengkalai, jauh dari kemegahan paviliun milik para selir senior yang dipenuhi dekorasi emas.

Namun, bagi Lichun, keterasingan ini adalah berkah mutlak.

Dia duduk bersila di atas ranjang kayu sederhana, menatap nyala lilin yang bergoyang ditiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Pakaian sutra putih polosnya kontras dengan kegelapan kamar. Perlahan, Lichun melepaskan topeng manusianya untuk sejenak. Manik matanya kembali menyusut menjadi vertikal emas yang tajam, dan hawa dingin siluman mulai merayap keluar dari pori-pori kulitnya, membekukan embun yang menempel di meja kayu dekat ranjang.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan pelan di pintu luar seketika membuat Lichun menarik kembali hawa silumannya. Dalam sekejap mata, pupilnya kembali hitam legam, layu, dan memancarkan kepasrahan yang rapuh.

"Selir Han, hamba membawa sup sarang burung hangat titipan dari pelayan dapur agung," sebuah suara kasim muda terdengar dari balik pintu.

Lichun tidak langsung menjawab. Dia sengaja menunggu beberapa detik, menarik napas dalam-dalam agar suaranya terdengar agak parau, seolah-olah dia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak karena mimpi buruk.

"Masuklah," ucap Lichun lembut.

Pintu terbuka, dan seorang kasim muda bernama Xiao Yuan masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan perak. Dia adalah kasim yang ditugaskan khusus untuk melayani Paviliun Anggrek Liar. Di istana yang kejam ini, ditugaskan melayani selir baru dari perbatasan yang tidak memiliki pengaruh politik kuat di ibu kota dianggap sebagai hukuman buangan. Xiao Yuan tampak lesu dan ketakutan.

Lichun memperhatikan kasim muda itu. Dia tidak membentaknya seperti yang akan dilakukan oleh Han Lichun yang asli. Sebaliknya, dia menatap nampan itu dengan pandangan ragu, lalu perlahan menatap wajah Xiao Yuan dengan seulas senyuman tipis yang sarat akan rasa bersalah.

"Terima kasih, Xiao Yuan," ujar Lichun, suaranya begitu halus hingga membuat kasim itu mendongak kaget. Di Istana Agung, jarang sekali ada seorang majikan bangsawan yang menyebut nama pelayan rendah dengan nada selembut itu. "Letakkan saja di sana. Maaf... aku merepotkanmu di malam selarut ini."

"Ah! Tidak, Selir Han! Ini adalah tugas hamba!" Xiao Yuan dengan tergesa-gesa berlutut, meletakkan nampan dengan tangan yang sedikit gemetar. "Hamba mendengar bahwa Anda tidak menyentuh makanan saat jamuan malam tadi. Istana Agung di malam hari sangat dingin, Anda harus menjaga kesehatan Anda."

Lichun membiarkan setitik riak kesedihan melintas di matanya. Dia memeluk lututnya di atas ranjang, tampak begitu kecil dan tak berdaya di bawah bayangan kelambu sutra yang tipis. "Aku hanya... belum terbiasa dengan kemegahan tempat ini. Di Utara, rumahku sangat sepi. Di sini terlalu banyak orang, terlalu banyak aturan... Aku takut melakukan kesalahan yang bisa membuat Kaisar murka."

Melihat seorang putri jenderal militer yang biasanya ditakuti di perbatasan justru tampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya di dalam istana, hati Xiao Yuan yang terbiasa mengeras karena kekejaman istana mendadak melunak. Rasa iba dan keinginan untuk melindungi seorang majikan yang lemah mulai tumbuh di dalam dada manusia itu.

"Selir Han tidak perlu takut," ucap Xiao Yuan, suaranya kini dipenuhi ketulusan yang murni. "Kaisar Long Yan adalah penguasa yang bijaksana. Selama Anda tetap menjaga kesetiaan dan ketenangan Anda seperti saat di Paviliun Rembulan, tidak akan ada yang berani melukai Anda. Hamba... hamba juga akan memastikan tidak ada pelayan lain yang berani meremehkan Paviliun Anggrek Liar."

Lichun menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilatan keemasan yang sempat muncul sesaat di matanya. "Bagus,"batinnya dingin. "Satu pelayan telah menyerahkan kesetiaannya karena mengira aku adalah mangsa yang patut dikasihani. Manusia memang makhluk yang sangat mudah dimanipulasi oleh air mata."

"Terima kasih, Xiao Yuan. Aku sangat bersyukur memilikimu di sini," ucap Lichun, mendongak dengan senyuman yang tampak tulus, membuat kasim muda itu membungkuk dalam-dalam sebelum mengundurkan diri dari kamar dengan perasaan bangga.

Setelah pintu kembali tertutup dan kesunyian menguasai Paviliun Anggrek Liar, Lichun turun dari ranjang. Dia berjalan mendekati jendela, menatap ke arah Paviliun Utama tempat Kaisar Long Yan beristirahat.

Manipulasi dari dalam membutuhkan kesabaran seribu tahun yang telah dia latih di dalam pohon purba. Dia tidak akan terburu-buru merangkak ke tempat tidur Kaisar dengan taktik murahan seperti selir lainnya. Dia tahu Long Yan adalah pria yang penuh kecurigaan; jika dia terlalu agresif, Kaisar akan mencium aroma konspirasi politik dari Utara.

Lichun harus menjadi satu-satunya tempat di mana Long Yan merasa bisa menurunkan kewaspadaannya—sebuah oasis ketenangan yang rapuh di tengah badai intrik Istana Agung yang kotor. Ketika Kaisar merasa benar-benar memegang kendali penuh atas dirinya, saat itulah perlindungan spiritual dari Batu Ular di leher pria itu akan melemah.

"Long Yan..." desis Lichun, jarinya meraba permukaan kaca jendela yang dingin, meninggalkan bekas uap tipis yang membeku menjadi pola sisik ular. "Nikmatilah takhtamu beberapa saat lagi. Biarkan anak domba ini melingkar di sekeliling lehermu, menghirup napasmu, hingga kau tidak sadar... bahwa racun kemandulan dan kematian telah merembes ke dalam setiap cangkir arak yang kau minum dari tangan manusiaku."

Malam itu, di sudut terjauh Istana Agung, sang ular putih kembali meringkuk dalam penyamarannya, menenun jaring laba-laba tak kasat mata yang perlahan namun pasti akan menjerat seluruh garis keturunan klan Long ke dalam kehancuran yang abadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   22. eksekusi rahasia pertama

    Malam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   21. Investigasi yang Buntu

    Kematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   20. pelatihan rahasia

    Malam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   19. pahlawan palsu

    Suasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   18. tawaran untuk Feng long

    Malam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   17. Korban yang Sempurna

    Bagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   2. Mangsa Pertama

    Matahari siang di Kota Fuping tidak membawa kehangatan bagi Wei Lichun; cahaya itu justru terasa laksana ribuan jarum perak yang menusuk-nusuk kulit pualamnya. Gema bualan dari kedai teh tadi masih berdengung di kepalanya, memicu denyut kemarahan yang membuat esensi spiritualnya yang rapuh bergejol

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   1 . Legenda of Wei Lichun

    1000 tahun yang lalu lembah Baishi di penuhi siluman ular putih yang hidup damai. sampai suatu hari yang cerah, manusia-manusia berpakaian Jirah perang membakar, membunuh dan menguliti klan ular putih demi batu ular ajaib!Wei Lichun, seekor ular putih yang baru menetas lemah, di sembunyikan di dal

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   7. Sentuhan Es

    Malam kian larut di Paviliun Anggrek Liar. Kamar tidur Wei Lichun hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Sejak pertemuan di Taman Anggrek sore tadi, ego Kaisar Long Yan yang setinggi langit terusik oleh sosok selir b

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   6. Air Mata di Taman Anggrek

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status