Share

3. Topeng Sempurna

Author: Hz. Ceria
last update publish date: 2026-05-21 12:52:39

Wei Lichun berdiri di luar kereta kuda yang kini sunyi, membiarkan jubah sutra ungu muda milik mendiang Nona Han yang baru saja dikenakannya berkibar ditiup angin sore. Di bawah kakinya, jasad asli Han Lichun telah melarut sepenuhnya menjadi tumpukan abu putih halus yang langsung tersapu oleh desau angin di sela-sela batang bambu. Tidak ada jejak. Tidak ada bukti. Siluman ular tidak meninggalkan bekas saat mereka menuntut mangsa.

Lichun memejamkan mata emasnya yang kini telah tersembunyi di balik ilusi pupil hitam manusia. Di dalam kepalanya, jutaan pecahan memori milik putri Jenderal Utara itu berputar, menyatu dengan kesadarannya seperti air yang merembes ke dalam tanah kering.

Dia bisa merasakan bagaimana rasanya tumbuh di tengah badai salju perbatasan Utara yang keras. Dia bisa mengingat wajah Jenderal Han—pria paruh baya berwajah bengis yang menatap putrinya bukan sebagai anak, melainkan sebagai bidak politik murni untuk memperkuat pengaruh militer mereka di ibu kota. Lichun juga menyerap seluruh detail tata krama klan Han, cara mereka berbicara yang ketus, hingga rahasia terkecil mengenai tanda lahir berupa tahi lalat tipis di balik telinga kiri Nona Han yang kini telah tereplikasi sempurna di tubuh silumannya.

"Nona? Nona Besar?"

Sebuah suara rintihan memecah keheningan hutan bambu. Kusir kereta, Lao Wang, perlahan menggerakkan kepalanya. Efek dari Gas Tidur Siluman mulai memudar seiring dengan sengaja dikuranginya intensitas sihir oleh Lichun. Dua pelayan wanita yang berada di luar juga mulai terbatuk kecil, memegangi kepala mereka yang terasa pening luar biasa.

Lichun tidak bergerak. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan kehangatan esensi kehidupan yang baru saja dia serap mengalir ke seluruh meridian tubuhnya yang semula beku selama seribu tahun. Saat dia membuka mata kembali, sorot matanya telah berubah total. Ketenangan dingin seorang siluman ular purba lenyap, digantikan oleh kilatan kemarahan yang manja dan keangkuhan mutlak seorang putri bangsawan yang manja.

"Lao Wang! Apakah kau berniat membunuhku dengan membiarkan kereta ini berhenti di tengah hutan yang menjijikkan ini?!"

Suara Lichun melengking tinggi, begitu cempreng, tajam, dan sarat akan nada memerintah. Intonasi itu adalah jiplakan persis dari suara Nona Han yang asli, bahkan pelayan yang paling setia sekalipun tidak akan mampu membedakannya.

Kusir tua itu tersentak kaget, langsung merangkak turun dari kursi kemudi dan berlutut dengan tubuh gemetar di atas tanah berbatu. "Mo-mohon ampun, Nona Besar! Hamba... hamba tidak tahu apa yang terjadi. Kepala hamba mendadak sangat berat dan pandangan hamba gelap—"

"Alasan!" Lichun melangkah maju, mengangkat kaki kanannya yang kini terbalut sepatu suteranya yang mahal, lalu menginjak jemari tangan Lao Wang tanpa belas kasihan. "Kalian semua adalah budak tidak berguna! Jika debu-debu hutan ini merusak kulitku sebelum aku tiba di istana ibu kota untuk seleksi selir, aku akan memastikan ayahku memotong lidah kalian semua!"

"Mohon ampun, Nona! Mohon ampun!" Dua pelayan wanita yang baru sadar ikut merangkak turun, bersujud dengan dahi yang membentur tanah berkali-kali. Ketakutan mereka begitu murni, begitu nyata, membuktikan bahwa akting Lichun telah menembus batas kesempurnaan.

Lichun menarik kakinya dengan hentakan jijik, mengeluarkan saputangan sutra dari lengan bajunya untuk mengusap ujung sepatunya seolah-olah kulit kusir tua itu adalah kotoran yang menempel. "Cepat naik kembali ke kemudi! Kita kembali ke penginapan di Kota Fuping sekarang juga. Besok pagi-pagi sekali, kita harus melanjutkan perjalanan ke ibu kota. Aku tidak ingin terlambat satu hari pun untuk seleksi agung itu."

"Baik, Nona! Baik!"

Dengan tergesa-gesa dan penuh kepanikan, para pelayan membantu Lichun naik kembali ke dalam kereta. Begitu pintu kereta kayu cendana merah itu tertutup rapat, ekspresi angkuh di wajah Lichun seketika melarut, kembali menjadi dingin dan datar laksana permukaan danau es di malam hari.

Di dalam kereta yang kembali berjalan berguncang menyusuri jalan setapak, Lichun duduk bersila. Dia membuka kotak giok kecil yang dia ambil sebelumnya. Di dalamnya terdapat gulungan kain sutra kuning dengan stempel lilin merah berlambang burung phoenix dan naga—dokumen resmi keikutsertaan seleksi selir agung Kekaisaran Tianlong.

Jemari pualamnya meraba permukaan sutra tersebut. Seleksi selir ini diadakan setiap tiga tahun sekali oleh klan Long untuk mengisi Istana Belakang. Bagi manusia, ini adalah panggung perebutan kekuasaan di mana keluarga bangsawan saling menjatuhkan demi menempatkan putri mereka di tempat tidur Kaisar. Namun bagi Wei Lichun, ini adalah undangan resmi untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh.

"Klan Long," batin Lichun, desisan halus kembali lolos dari celah bibirnya yang merah. "Kalian membangun dinding istana yang begitu tinggi, memasang formasi sihir pelindung untuk menangkal siluman, dan menyuruh para kultivator suci menjaga setiap gerbang. Namun, kalian sendiri yang membuka pintu gerbang itu lebar-lebar untukku melalui seleksi wanita-wanita ini."

Lichun tahu, sebagai putri dari Jenderal Utara yang memiliki pengaruh militer besar di perbatasan, Han Lichun yang asli dipastikan akan lolos setidaknya hingga babak tiga besar dalam seleksi di istana dalam. Posisi strategis ini akan memberinya akses untuk mendekati tidak hanya Kaisar Long Yan yang sekarang, tetapi juga para menteri tua yang memegang kendali pemerintahan—manusia-manusia sepuh yang seribu tahun lalu mungkin ikut tertawa saat melihat ibunya terbakar menjadi abu di Lembah Baishi.

Dia memejamkan matanya, merasakan aliran energi Qi manusia yang kini berputar serasi di dalam dantiannya. Penyerapan esensi jiwa tadi memberikan dasar kekuatan yang cukup bagi Lichun untuk mempertahankan wujud manusianya selama berbulan-bulan tanpa perlu khawatir ilusi rambut perak atau mata emasnya pecah, bahkan di depan cermin pemantul siluman tingkat rendah sekalipun.

Malam itu, kereta klan Han tiba kembali di penginapan terbaik di Kota Fuping. Lichun turun dengan keangkuhan yang kian menjadi-jadi, membuat seluruh pegawai penginapan ketakutan setengah mati karena permintaannya yang serba mewah dan ketat. Dia menolak makanan yang disajikan, mengklaim bahwa air di kota perbatasan ini terlalu kotor untuk menyeduh tehnya, dan mengurung diri di dalam kamar paling atas setelah memerintahkan para pelayannya menjaga pintu luar tanpa boleh berkedip.

Di dalam kesunyian kamar yang gelap, Lichun berdiri di depan jendela yang terbuka, menatap ke arah timur—ke arah Ibu Kota Tianlong yang megah. Angin malam berembus, membawa aroma samar belerang dan besi dari kejauhan, seolah-olah mengingatkannya pada bau malam pembantaian seribu tahun lalu.

Lichun mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya sendiri yang kini tampak halus dan rapuh seperti wanita manusia. Perlahan, setitik energi spiritual keperakan muncul di ujung jarinya, membentuk siluet seekor ular kecil yang melingkar sebelum akhirnya menguap menjadi asap hitam.

"Ibuku menyuruhku menundukkan kepala dalam kegelapan," bisik Lichun, suaranya kembali menjadi suara aslinya—rendah, penuh dendam, dan bergetar dengan kekuatan kuno yang pekat. "Aku telah menundukkannya selama seribu tahun, Ibu. Dan sekarang, aku akan menegakkannya kembali... tepat di dalam istana emas yang mereka banggakan dengan angkuh, mengorbankan nyawa klan ular kita."

Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing, kereta kuda mewah klan Han dari Utara telah bergerak meninggalkan Kota Fuping. Roda-roda keretanya berderit di atas tanah kering, membawa Wei Lichun—dengan topeng Han Lichun yang sempurna—menuju panggung sandiwara berdarah di Ibu Kota Tianlong. Perjalanan menuju takhta pembalasan dendam telah resmi dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   22. eksekusi rahasia pertama

    Malam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   21. Investigasi yang Buntu

    Kematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   20. pelatihan rahasia

    Malam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   19. pahlawan palsu

    Suasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   18. tawaran untuk Feng long

    Malam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   17. Korban yang Sempurna

    Bagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   4. gerbang Emas

    Kereta kuda cendana merah berlambang militer Utara itu akhirnya berhenti di depan Gerbang Shenwu—pintu masuk utara menuju Istana Terlarang Kekaisaran Tianlong. Dinding-dinding batu merah setinggi belasan meter berdiri angkuh, memisahkan dunia fana yang bising dengan kemegahan dingin tempat bersaran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   2. Mangsa Pertama

    Matahari siang di Kota Fuping tidak membawa kehangatan bagi Wei Lichun; cahaya itu justru terasa laksana ribuan jarum perak yang menusuk-nusuk kulit pualamnya. Gema bualan dari kedai teh tadi masih berdengung di kepalanya, memicu denyut kemarahan yang membuat esensi spiritualnya yang rapuh bergejol

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   6. Air Mata di Taman Anggrek

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setel

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   5. Racun dalam Selimut

    Malam pertama di Istana Belakang bergulir dengan kesunyian yang mencekam. Sebagai selir tingkat rendah yang baru terpilih, Wei Lichun ditempatkan di Paviliun Anggrek Liar—sebuah kediaman kecil yang terletak di sudut paling terpencil dari kompleks Istana Agung. Tempat itu dikelilingi oleh rumpun bam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status