Share

2. Mangsa Pertama

Author: Hz. Ceria
last update publish date: 2026-05-21 12:40:02

Matahari siang di Kota Fuping tidak membawa kehangatan bagi Wei Lichun; cahaya itu justru terasa laksana ribuan jarum perak yang menusuk-nusuk kulit pualamnya. Gema bualan dari kedai teh tadi masih berdengung di kepalanya, memicu denyut kemarahan yang membuat esensi spiritualnya yang rapuh bergejolak tidak stabil.

Lichun berjalan menyusuri gang-gang sekunder, menjauh dari jalan utama yang bising. Dia membutuhkan mangsa. Bukan sekadar hewan ternak untuk memuaskan rasa lapar biologisnya, melainkan energi murni dari manusia—tiket emas yang bisa memberikan fondasi kuat bagi sihir ilusinya, sekaligus identitas baru untuk menembus proteksi istana klan Long.

Lichun tahu betul hukum dunia manusia. Jika dia ingin menyentuh Kaisar Long Yan dan menghancurkan para menteri keturunan pembantai klan ular seribu tahun lalu, dia tidak bisa bergerak dari luar sebagai monster. Dia harus menyatu, merayap di antara mereka, dan menjadi bagian dari sistem busuk itu sendiri. Dia harus menjadi salah satu dari mereka untuk bisa memotong leher mereka tanpa terdeteksi.

Secara kebetulan, angin takdir sedang berembus ke arahnya. Kekaisaran Tianlong sedang menggelar seleksi selir agung yang hanya dilangsungkan setiap tiga tahun sekali. Dan di distrik komersial kelas atas kota perbatasan ini, target yang dia cari baru saja tiba dari tempat yang sangat jauh.

Lichun berdiri di balik bayangan sebuah pilar kedai kain, mengawasi pergerakan manusia dengan mata hitam palsunya yang sesekali berkilat keemasan. Indra penciumannya yang tajam menangkap aroma wewangian musk yang pekat dan aroma kemiri yang mahal.

Klentang! Klentang!

Suara bel perunggu yang digantung pada kereta kuda mewah berornamen kayu cendana merah memecah keheningan jalanan. Kereta itu dipenuhi simbol-simbol militer perbatasan Utara yang dingin dan liar. Dua orang pelayan wanita berpakaian rapi segera berlutut di samping pintu kereta, bertindak sebagai tumpukan tangga manusia.

Sesosok gadis muda dengan pakaian berlapis-lapis dari sutra ungu muda melangkah turun. Wajahnya dipoles bedak putih tebal dengan perona pipi sewarna bunga mawar, namun matanya yang sipit memancarkan tatapan merendahkan. Dialah Han Lichun, putri tunggal dari Jenderal Han—penguasa militer perbatasan Utara yang jauh, dingin, dan terkenal kejam.

Nona Han dari Utara ini terkenal memiliki sikap yang luar biasa sombong dan sangat angkuh. Karena tumbuh di daerah kekuasaan ayahnya yang absolut, dia memandang semua orang di luar lingkaran darahnya sebagai kecoak.

"Bangsat tidak berguna!" sebuah lengkingan suara cempreng keluar dari mulut Nona Han. Dia baru saja menginjakkan kakinya di tanah, namun langsung menendang bahu salah satu pelayan wanita yang menjadi tumpuannya hingga gadis malang itu tersungkur ke atas batu keras. "Bagaimana bisa kau bergerak saat aku turun? Jika gaun sutra kiriman dari ibu kota untuk seleksi selir ini kotor karena debu jalanan, kepala bodohmu itu tidak akan cukup untuk membayarnya!"

"Mohon ampun, Nona Besar! Mohon ampun!" Pelayan wanita itu bersujud berkali-kali hingga dahinya berdarah.

Nona Han hanya mendengus, mengibaskan saputangan sutranya dengan ekspresi jijik. "Singkirkan makhluk kotor ini dari pandanganku. Membuat selera belanjaku hilang saja."

Dari balik bayangan pilar, Wei Lichun memperhatikan seluruh adegan tersebut. Sudut bibirnya yang dingin perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang mengerikan.

"Manusia yang luar biasa," batin Lichun, desisan halus tertahan di tenggorokannya. "Begitu congkak, begitu penuh dengan rasa superioritas yang kosong. Sempurna. Kau adalah salah satu calon selir kekaisaran, dan kau berasal dari Utara yang jauh. Identitas yang sangat bersih dari intrik ibu kota."

Identitas seperti inilah yang dicari Lichun—sebuah topeng sempurna yang memiliki hak legal untuk masuk ke dalam rahim City Tianlong melalui jalur seleksi selir, tanpa memicu kecurigaan faksi politik mana pun di istana kelak.

Nona Han melangkah masuk ke dalam toko kosmetik, diikuti oleh sisa pelayannya. Lichun bergerak senyap bagai bayangan ular di malam hari, memutari bangunan toko dan menunggu di area halaman belakang yang sepi, tempat kereta kuda Nona Han diparkirkan.

Dua jam berlalu. Matahari mulai condong ke barat ketika Nona Han keluar dari toko dengan wajah yang tampak lebih puas setelah menghabiskan puluhan koin emas. Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama.

"Pelayan bodoh," panggil Nona Han saat dia kembali ke keretanya. "Katakan pada kusir, aku tidak ingin langsung ke penginapan. Udara di dalam kota terlalu pengap. Bawa aku ke Paviliun Air di pinggir hutan bambu barat. Aku ingin minum teh di sana sebelum kita melanjutkan perjalanan panjang ke ibu kota besok."

"Tapi Nona..." salah satu pelayan mencoba memperingatkan, "hari sudah mulai sore. Jalanan menuju hutan bambu agak sepi—"

"Siapa kau berani mengaturku?!" bentak Nona Han, matanya melotot tajam. "Apakah ada bandit yang berani menyentuh kereta dengan panji militer Jenderal Utara? Cepat jalan!"

Mendengar percakapan itu, Lichun yang bersembunyi di atas atap bangunan seberang langsung melesat pergi terlebih dahulu. Keinginan Nona Han untuk pergi ke area sepi adalah berkah bagi rencana pembunuhan senyapnya.

Kereta kuda klan Han bergerak meninggalkan gerbang barat kota, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh jajaran pohon bambu hijau yang lebat. Angin sore berembus, membuat daun-daun bambu saling bergesekan, menciptakan suara gemerisik yang konstan. Suara itu menjadi alibi alami untuk menyembunyikan hawa membunuh.

Ketika kereta tiba di titik terdalam hutan bambu, di mana jalanan berbelok tajam di dekat sebuah tebing kecil, Lichun bertindak. Dia tidak menggunakan serangan fisik yang kasar yang bisa merusak kereta atau meninggalkan jejak darah. Dari atas dahan bambu yang melengkung di atas jalan, Lichun membuka mulut manusianya sedikit. Sebuah hembusan napas berwarna hijau neon tipis—Gas Tidur Siluman—dilepaskannya ke udara bawah.

Gas itu bergerak secepat angin, langsung menyelimuti kusir kereta dan dua pelayan yang duduk di bagian luar. Dalam hitungan detik, mata ketiga manusia itu berputar, dan mereka langsung terkulai lemas, jatuh tak sadarkan diri di atas kursi kemudi tanpa sempat mengeluarkan teriakan. Kuda-buda yang menarik kereta pun mendadak melambat, terpengaruh oleh efek magis yang menenangkan saraf hewan tersebut hingga akhirnya berhenti total di tengah jalan yang sunyi.

Di dalam kereta, Nona Han yang sedang bercermin merasakan keretanya berhenti secara mendadak.

"Lao Wang! Mengapa keretanya berhenti?!" teriak Nona Han kesal. Tidak ada jawaban. "Pelayan kotor! Apakah kalian tuli?!"

Keheningan yang tidak wajar menyelimuti kereta. Nona Han mulai merasakan firasat buruk. Rasa angkuhnya perlahan terkikis oleh rasa takut yang mulai merayap di dadanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menyibak tirai sutra kereta dan melongokkan kepalanya keluar. Dia membeku. Kusir dan pelayannya tergeletak lemas seperti mayat. Dan di depan pintu kereta, berdiri seorang gadis berpakaian putih lusuh dengan rambut hitam yang panjang.

"Si-siapa kau?!" Nona Han berteriak, mencoba mengumpulkan kembali wibawa kebangsawanannya yang rapuh. "Berani sekali kau mengadang kereta klan Han dari Utara! Pengawal! Pengawal, tangkap dia!"

Gadis di depannya tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju, menaiki tangga kereta dengan gerakan yang sangat luwes, nyaris tanpa bobot. Saat kaki gadis itu menyentuh lantai kereta, aura dingin yang ekstrem seketika menyeruak masuk, membuat suhu di dalam kereta drop hingga Nona Han bisa melihat embusan napasnya sendiri memutih di udara sore yang panas.

"Kau memanggil pengawal?" suara Wei Lichun terdengar rendah, bergaung di dalam kereta kecil itu dengan nada yang sangat memikat namun mematikan. "Mereka sedang tidur, Nona Han. Sama seperti dirimu yang akan tidur... untuk waktu yang sangat lama."

"Jangan mendekat! Ayahku adalah Jenderal Besar Perbatasan Utara! Jika kau menyentuh seujung rambutku, pasukan Utara akan meratakan tempat ini!" Nona Han mundur hingga punggungnya membentur dinding kereta.

Lichun berhenti tepat di depan Nona Han. Dia perlahan membuka kerudung kepalanya. Di depan mata Nona Han yang melebar karena syok, rambut hitam gadis di depannya perlahan berubah, helai demi helai, melarut menjadi warna perak berkilau laksana rembulan. Dan yang paling mengerikan, sepasang mata manusia hitam yang tadinya layu kini menyala terang dengan warna emas mistis—sepasang manik mata vertikal milik reptil pemangsa raksasa.

"Pasukan Utara?" Lichun melepaskan tawa rendah yang terdengar seperti desisan ular di bawah timbunan daun kering. "Mereka terlalu jauh untuk mendengarmu, Nona Han. Dan mulai hari ini, akulah yang akan memimpin kesombonganmu itu menuju gerbang istana Kaisar."

"M-monster... K-kau siluman?!" Nona Han ingin berteriak histeris, namun hawa dingin yang dikeluarkan Lichun mengunci pita suaranya.

Lichun mengulurkan tangan manusianya yang seputih salju, menangkup wajah Nona Han yang kini dipenuhi oleh air mata ketakutan dan keringat dingin. Jemari Lichun yang sedingin es menyentuh pelipis gadis bangsawan itu.

"Jangan takut," bisik Lichun tepat di depan wajah Nona Han, mata emas vertikalnya mengunci pandangan gadis itu, mengisap seluruh kesadaran psikologisnya. "Sikap sombongmu, keangkuhanmu yang luar biasa, kulitmu yang indah, dan namamu sebagai calon selir... aku akan menggunakannya dengan sangat baik. Mulai hari ini, aku adalah Han Lichun dari Utara."

Lichun mulai mengaktifkan sihir kuno klannya: Penyerapan Esensi Jiwa.

Cahaya keperakan halus mulai mengalir keluar dari mata, hidung, dan mulut Nona Han, bergerak masuk ke dalam tubuh Lichun. Nona Han tidak merasakan sakit fisik yang merobek, melainkan sebuah sensasi kehampaan yang luar biasa seolah-olah seluruh memori, identitas, dan energi kehidupannya sedang diperas habis dari raganya.

Bersamaan dengan masuknya energi *Qi* milik Nona Han, Lichun merasakan kekosongan di dalam dantiannya mulai terisi. Energi spiritualnya yang tadinya liar dan rapuh kini mulai berputar dengan stabil, berakar pada esensi kehidupan manusia yang baru saja dia serap. Kekuatan sihir ilusinya meningkat pesat.

Proses itu berlangsung selama beberapa menit yang sunyi di dalam hutan bambu. Ketika cahaya keperakan itu habis, tubuh Nona Han melorot jatuh ke atas kursi kereta. Kulitnya tidak lagi segar; wajahnya tampak layu dan matanya kosong tanpa jiwa, menjadi sebuah cangkang mati yang telah kehilangan esensinya.

Lichun berdiri di tengah kereta, memejamkan matanya sejenak untuk menyelaraskan ingatan-ingatan Nona Han yang kini telah tersimpan di dalam otaknya. Dia kini tahu segalanya tentang klan Han: cara mereka berjalan yang angkuh, dokumen resmi seleksi selir tiga tahunan, hingga detail stempel militer Utara yang sah.

Lichun membuka matanya. Dia menatap ke arah cermin kecil milik Nona Han yang tergeletak di lantai. Wajah manusianya sendiri perlahan bergeser, struktur tulangnya menyusut halus, dan fitur wajahnya berubah menyerupai Nona Han—namun dengan versi yang jauh lebih sempurna, lebih mistis, dan memiliki daya pikat yang mematikan. Rambut peraknya kembali menyusut menjadi hitam pekat sewarna malam.

Dia membungkuk, mengambil dokumen resmi keikutsertaan seleksi selir kekaisaran yang tersimpan di dalam kotak giok di sudut kereta, lalu memasukkannya ke dalam balik jubahnya.

"Han Lichun dari Utara yang sombong..." Lichun tersenyum di depan cermin, meniru ekspresi keangkuhan mutlak milik korbannya dengan sangat sempurna. "Mari kita lihat bagaimana reaksi klan Long saat 'gadis angkuh' ini menginjakkan kaki di istana mereka."

Lichun melangkah keluar dari kereta, siap memulai sandiwara besarnya sebagai calon selir dalam seleksi tiga tahunan Kekaisaran Tianlong.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   22. eksekusi rahasia pertama

    Malam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   21. Investigasi yang Buntu

    Kematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   20. pelatihan rahasia

    Malam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   19. pahlawan palsu

    Suasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   18. tawaran untuk Feng long

    Malam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   17. Korban yang Sempurna

    Bagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   7. Sentuhan Es

    Malam kian larut di Paviliun Anggrek Liar. Kamar tidur Wei Lichun hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Sejak pertemuan di Taman Anggrek sore tadi, ego Kaisar Long Yan yang setinggi langit terusik oleh sosok selir b

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   6. Air Mata di Taman Anggrek

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setel

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   5. Racun dalam Selimut

    Malam pertama di Istana Belakang bergulir dengan kesunyian yang mencekam. Sebagai selir tingkat rendah yang baru terpilih, Wei Lichun ditempatkan di Paviliun Anggrek Liar—sebuah kediaman kecil yang terletak di sudut paling terpencil dari kompleks Istana Agung. Tempat itu dikelilingi oleh rumpun bam

  • Legenda Siluman Ular Wei Lichun   4. gerbang Emas

    Kereta kuda cendana merah berlambang militer Utara itu akhirnya berhenti di depan Gerbang Shenwu—pintu masuk utara menuju Istana Terlarang Kekaisaran Tianlong. Dinding-dinding batu merah setinggi belasan meter berdiri angkuh, memisahkan dunia fana yang bising dengan kemegahan dingin tempat bersaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status