เข้าสู่ระบบ“Kenapa minta maaf sama aku? Kamu pernah main gila sama Mas Devan?” Kejar Yuyun dengan penuh selidik. Mau bagaimanapun dia tetap tidak rela kalau Devan dan Sarinten memadu cinta di belakang punggungnya, meski dirinya sendiri bukan wanita yang lurus dan bisa menjaga diri.
Sarinten bingung, dia tidak berani mengungkapkan semuanya. Bisa-bisa Yuyun minta cerai dari Devan dan dia akan dijadikan kambing hitam lantaran hancurnya rumah tangga Devan dan Yuyun.“Kenapa nggak jawab? Tinggal ngom“Pak, ouh aku sudah nggak kuat, ouhh, sshhh, sudah Pak, cepetan,” pinta Lindar pada Darto agar lekas memberikan kepuasan padanya. Darto menuruti keinginan Lindar, dia merebahkan tubuh Lindar di sofa lalu mulai memuaskan hasrat keryawannya tersebut. Darto menekan ujung tongkatnya ke dalam, desahan Lindar tidak bisa berhenti. Napas wanita itu semakin tersengal menahan gejolak gairah dalam dirinya. Darto terus menggenjot hingga Lindar memuntahkan cairan kentalnya. Lindar mengaitkan kedua kakinya di belakang pinggang Darto sambil melumat bibir Darto. “Oh, Lin, pepekmu nikmat sekali sayang, oukh, bikin kepalaku berputar-putar. Oukh!” Lindar mengernyitkan keningnya, dia menatap Darto yang kini tengah menggenjot liang intimnya dengan penuh semangat. “Kenapa? Kok melihatku seperti itu? Ah, ah, ah, ah, Lin, mantap sekali!” Seru Darto penuh gairah. “Katanya kliyengan tapi enggak pingsan? Akh, akh, ouwh, ah, Paaaaaaak!” Lindar menjerit lantaran
***Di kafe, Wati lebih dulu tiba di sana. Gadis itu memarkir motornya di dalam, di sana Wati melihat sebuah mobil nampak akrab dengan penglihatannya.“Sepertinya itu mobil gebetannya Yuyun? Iya nggak sih? Terus ngapain dia pagi-pagi ke kafe beginian? Bukannya dia begitu setia sama Yuyun?”Wati bergumam seorang diri, dia cemas lantaran mungkin saja pria yang dia pikirkan sedang bersama Yuyun di dalam. Tak lama kemudian Devan tiba di sana, dia melihat Wati sedang sibuk mengawasi sekitar. Sepertinya Wati masih belum tahu kalau Devan sudah tiba di sana.Devan tanpa ragu menyentuh bahu Wati. “Wati!”“Heh! Astaga, kaget aku!” Wati mengelus dadanya sendiri sambil menoleh ke arah Devan di belakang punggungnya. Niat Wati mengawasi hanya ingin mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Tapi setelah dpikir-pikir lagi, mungkin saja Wati salah duga, bisa saja atasan Yuyun di sana untuk acara meeting. Beberapa bos memang suka memilih kafe untuk acara pertemuan.“Apa sih? Ma
Sampai di dapur Anto segera mengambil sarapannya juga kopinya lalu membawanya menuju beranda, di halaman depan Sarinten sedang memasukkan sampah ke dalam pengki dan mengumpulkannya di bak sampah besar yang ada di perkarangan samping. Dia melihat Anto sedang menikmati sarapan dengan lahap. Anto masih kesal pada Sarinten, dia melirik ke arah Sarinten sekilas.“Kenapa? Nggak puas bikin mukaku yang super perfect ini jadi belang-belang mirip area penyeberangan?”Sarinten hanya mengunyah dengan mulut kosong lantaran Anto terus menghardiknya, Sarinten memeluk sapu lidi panjangnya. “To, To, kamu itu jangan ngomel-ngomel terus kenapa? Aku kan nggak sengaja tadi.” Ujarnya seraya geleng-geleng kepala.“Iya, iya sudah, jangan diperpanjang, nanti kesrimpet!” timpal Anto.Sarinten membawa pengki dan sapu ke belakang.Tak lama setelah itu Amina keluar dari pintu ruangan utama, Amina sudah siap dengan dandanannya yang menor. Anto baru selesai makan dia berniat membawa piring dan
“Yuyun? Dia kerja Mi, kenapa memangnya?”Amina masih menatap Devan dengan tatapan penuh tanya, entah kenapa mendapatkan tanggapan sedikit acuh dari Devan perasaan Amina menjadi sedikit jengkel. Biasanya Devan selalu respek, tidak cuek seperti sekarang.“Apa mukaku sudah keriput? Jangan-jangan iya? Padahal baru tiga hari yang lalu aku melakukan perawatan di salon, dari suntik anti rontok, anti keriput, anti hitam, dan anti meriang, kurang apa coba? Bukitku juga masih kencang dan lumayan besar, apa Devan sudah nggak nafsu sama aku? Aku harus bagaimana untuk menarik perhatiannya?” Tanya Amina dalam hati.Wati sudah selesai makan, dia segera menyela lantaran Amina malah terbengong menatap ke arah kakaknya.“Bang Dev, ayok!” ujarnya sambil menarik lengan Devan agar ikut pergi bersama dengannya.“Mau ke mana sih? Masih pagi juga!” gerutunya dengan nada malas. Devan menolak berdiri dari kursinya karena belum selesai sarapan.“Kerja Bang,” lanjut Wati.“Ogah aku
“Iya, Pak, udahan. Aku takut Mas Devan tahu aku di sini sama Bapak.” Ucapnya pada Darto.Darto tidak bisa menahan Yuyun agar terus tinggal di sisinya, Darto tidak lupa Yuyun sudah memiliki seorang suami. Darto hanya melihat Yuyun memakai baju mandinya, dan membiarkan Yuyun pergi meninggalkan kamar mandi, lalu dirinya sendiri juga segera keluar dari dalam kamar mandi tersebut.Yuyun kembali ke dalam kamarnya dengan penuh aroma mawar, di sana Devan sudah rebah telentang. Yuyun langsung rebah di atas ranjang di sebelah Devan karena merasa sangat lelah sekali.“Dari mana saja kamu?” Tanya Devan. Devan sendiri juga sudah sangat kelelahan karena baru selesai dari dalam kamar Sarinten.“Mandi, aku baru sampai tadi. Lelah sekali rasanya.” Ujar Yuyun. Yuyun merubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi memunggungi Devan.***Darto masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Amina masih terlelap, sama seperti saat dia tinggalkan tadi. Pikirnya Amina tidak tahu kalau dia tad
“Pak aku pengen lagi, tapi aku lelah, ngantuk ...” Amina menatap liang intimnya yang sangat basah, berkecipak dan sangat riuh dalam permainan jemari Darto.“Aku senang, Bu, sangat manis dan seksi, aku jilatin saja, Ibu tidur yang nyenyak ya?” Darto merayap turun dan mulai memeluk kedua paha mulus Amina untuk menyesap, menjilat dan menikmati cairan Amina yang begitu banyak.“Akh, Pak, oukh, aku nggak bisa bobo, aaahhh, sshhh,” Amina menggeliat sambil tertawa. Amina mengusap kepala Darto sambil mengangkat bokongnya ke atas agar Darto lebih leluasa menikmati area basah miliknya. Darto terus melahap tanpa mau berhenti hingga beberapa puluh menit lamanya. Amina menggeliat, meremas seprei di atas kepalanya, bokong Amina bergerak pelan mengikuti jilatan Darto pada liang intimnya.Gerakan Amina terlihat sangat seksi dan membuat pria merasa gila. Termasuk Devan yang kini mengintip di celah pintu kamar, sejak tiga puluh menit yang lalu Devan berdiri di sana. Devan mendengar jerita







