Masuk“Sudah Sam, oukh nanti ketahuan pegawa lain. Oukhh Sam, akh, akh, uhh.” Narti mendesah nikmat, pinggul wanita itu terus bergerak mengimbangi sodokan Samsudin dari belakang punggungnya.
“Masih pagi, akh, ah. Nar, pepek kamu nikmat sekali, oukh, Nar.” Pujinya lagi sambil terus menggenjot Narti dari belakang. Sekitar tiga puluh menit, mereka berdua baru selesai menikmati hubungan intim.Puas menikmati tubuh Narti, Samsudin mengambil alih pekerjaan Narti.“Kamu duduk saja di sana, tun“Kamu pengen nambah?” tanya Anto seraya menyentuhnya lalu memilin kacang Wati kembali. “Sssshhhh, oukhhh, Tooo, ssshhh, ssshh, aahhhh, aaahhh. Ukhh, unghh, Tooo, emhh, akhh,” Wati mengangkat bokongnya sambil tetap membuka bibir area intimnya dengan kedua tangannya. “Enak?” bisik Anto di depan wajah Wati. “Eeeemhh, To, akh, awwhh,” erangan Wati terdengar manja sekali. Anto tersenyum melemparkan rokoknya ke lantai lalu menginjaknya dengan alas sandalnya. Perlahan dia merangkak naik lalu mengeluarkan miliknya kembali. “Nanti kamu kesal sama aku?” tanyanya sebelum menekannya ke dalam dan hanya memainkannya di luar area intim Wati. “To, kamu sengaja,” Wati cemberut sambil menaikkan bokongnya karena Anto hanya menekan ujungnya ke dalam. Anto mengukir senyum lalu dalam satu hentakan langsung menekan dalam dan mengejutkan hingga derak ranjang spring bed tersebut terdengar cukup keras. “Ooukhh, Toooooo!” jerit Wa
“Sudah nggak usah ngelak, aku itu tahu kamu lagi pengen,” ucap Anto pada Wati.Wati masih meronta dalam dekapan Anto namun tidak sepenuhnya berniat menolak perlakuan Anto terhadapnya saat ini.“Siapa yang pengen? Jangan asal kalau ngomong! Sudah kamu pulang saja! Mendingan kamu urus Narti di rumah, lepaskan aku To!” ucap Wati dengan bibir cemberut.Bukannya melepaskan pelukannya dari tubuh Wati, Anto malah mengocok area intim Wati sesuka hatinya karena area tersebut sudah tidak mengenakan penutup lagi. Anto tidak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya melakukan apa yang dia ingin lakukan. Dan ketika decakan-decakan basah dari liang intim Wati mulai memenuhi kamar tersebut, Anto semakin bersemangat dan mengaduk-aduknya sampai Wati kewalahan dibuatnya.“Ssssh, akhhh, Tooo, aaahh, sudah, ampun, oukhhh, jangan, ampun, akhh,” desah Wati seraya meremas-remas lengan Anto yang masih memainkan area intimnya.Anto menekan punggung Wati agar menungging dan memegangi tepian ra
Darto melihat Yuyun dan Devan tengah berbicara serius, sepertinya Devan ingin membahas tentang pekerjaan Yuyun di kantor. Darto segera pergi dan tidak mau ikut campur lagi dengan pembicaraan mereka.Darto berjalan menuju ke ruang makan lalu menarik kursi dan duduk di sana. Tak lama setelah itu Amina tiba di rumah. Amina melihat Yuyun dan Devan berdiri di dekat pintu belakang. Amina tidak menegur karena ada Darto di kursi meja makan. Amina hanya melihat sekilas ke arah Devan, dari penampilan Devan Amina bisa menebak sepertinya Devan baru saja pulang dari tempat kerjanya.“Devan sepertinya baru pulang, dia marahan sama Yuyun? Kelihatannya mereka sedang bicara serius,” bisik Amina dalam hati.Amina berjalan dari ambang pintu ruang tengah melewati ruang makan menuju ke kamar. Darto hanya melirik ke arah Amina, Darto melihat baju Amina di bagian bawah yang membalut kedua pahanya, ada lipatan seperti baru saja habis digulung ke atas dalam waktu lama. Di dalam benaknya Darto, D
Agar Yuyun tidak merengek-rengek lagi, Darto segera memutar posisi, kini Yuyun tinggal di atas tubuhnya. Darto menggenjot dari sisi bawah. Bokong Yuyun berayun-ayun naik akibat gesekan Darto dari sisi bawahnya. “Akkkhhh, aaakkh, ampuun, oukhhh, ssshh, ah, ah, ah, Paaaak, oukhhhssshhhh!” jerit Yuyun penuh kepuasan. Cairan Yuyun kembali meleleh, tebakan Darto selalu benar. Yuyun kembali klimaks. Mungkin karena Darto terlalu sering melakukan hubungan intim dengan banyak wanita jadi sudah hafal dengan detik-detik lawan mainnya menuju ke klimaks. “Bapaaaak, oukhh, sudah, ampun, aaaakkkh!” Yuyun merengek, tapi Darto sengaja tetap menahan tubuh seksi Yuyun untuk terus melayaninya. Darto malah tersenyum nakal tanpa mau berhenti. Sampai satu jam dua jam lamanya, Darto baru menarik tongkatnya. Itu pun Darto hanya klimaks sekali dan dia tumpahkan pada kedua buah dada Yuyun. “Puas aku Yun, aku mau mandi lagi terus makan malam dulu, kamu buruan mandi,” uja
Darto tiba di rumah tidak lama setelah Yuyun masuk ke dalam kamarnya. Darto langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, dan makan malam yang disajikan Sarinten juga sudah di atas meja makan. Hari sudah gelap, belum ada tanda-tanda Amina, Devan, atau Wati tiba di rumah. Darto memakai kaos santai serta celana pendek, dia berjalan ke dapur dan bertanya pada Sarinten. “Ten? Orang-orang pada ke mana kok sepi?” tanyanya seraya masuk ke dalam dapur. “Ada Neng Yuyun pulang jam empat tadi, Pak,” jawab Sarinten pada Darto. “Bapak ingin dibuatkan kopi?” tawar Sarinten padanya karena biasanya Darto meminta untuk dibuatkan kopi. Darto tampak sedang memikirkan sesuatu. Pria itu tidak segera menjawab pertanyaan dari Sarinten. “Pak?” tegur Sarinten lagi sambil menatap wajah majikannya agak dekat. Dari tatapan mata Darto, Sarinten tidak mendapati keinginan untuk melakukan hubungan intim seperti biasanya. “Aneh sekali, Pak Darto mel
“Ini lanjut atau enggak San?” tanya Samsudin.Santi masih cemberut, dia tidak menjawab pertanyaan Samsudin tapi langsung melengos pergi meninggalkan Samsudin yang kini cengar-cengir seorang diri.Narti keluar setelah menerima gajinya, dan dia berpapasan dengan Susanti di ambang pintu. Narti melihat ekspresi kesal pada wajah Susanti, jelas sekali Susanti menaruh cemburu padanya. Awalnya Narti ingin menegurnya tapi batal karena malas beradu mulut dengan Susanti.Darto di kursi meja kerjanya melihat Santi masuk dan berdiri di depan meja kerjanya. Darto segera menghitung gaji Susanti lalu menyerahkan uang yang sudah dia hitung padanya. Darto melihat Susanti berdiri sambil mengapitkan kedua kakinya rapat-rapat.“Kenapa kamu San?” tanya Darto.“Kepedesan Pak, eh, kebelet pipis Pak, permisi,” jawab Susanti seraya mengambil amplopnya dan pergi dengan terburu-buru.Darto tidak berkomentar, hari sudah sore sudah waktunya dia pulang ke rumah. Sisa gaji pegawai biasanya
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







