LOGIN"Kalau kakak nanti malam tidak ikut, bolehkah..." Aku langsung duduk di pangkuan nya. Mengalungkan tanganku pada lehernya yang kokoh, menciumnya dengan ganas. Dan syukurnya adalah kak Roby menyambut semua perbuatan ku itu dengan antusias.
Kami berciuman dengan sangat buas, lidah saking melilit. Kaos yang tadinya bisa menutupi setengah pahaku kini tersingkap. Membuat bibir vaginaku terbelai oleh angin padang berbunga. "Eghhmmm..." Desahan tertahan kami mengge
Entah kenapa ibu kota provinsi yang yang biasanya panas, kini terasa begitu dingin. Sangat dingin lebih tepatnya. Salah alam atau salah manusia yang tidak merawat bumi yang telah baik kepada manusia? Aku mencoba mencari minyak gosok di kamarku. Namun, aku tak menemukannya. “Dimana aku menaruhnya?” Gerutuku pada diriku sendiri. Dengan gaun tidurku yang longgar dan berwarna putih, aku turun menuju dapur. Mungkin ada di sana. Aku mencari-cari di dapur, dan akhirnya menemukan botol minyak gosok di buffet diatas kitchen set. Mencoba mengambilnya namun tak sampai. Sepertinya butuh pijakan. “Siapa sih yang menaruh di sana?” “Nyari apa non?” “Astaga!” Aku terkejut dengan Pak Parjo yang tiba-tiba muncul dibelakangku. “Bikin Dilla terkejut aja pak.” Protesku yang masih dengan jantung berdetak dengan cepat karena terkejut. “Maaf non.” Ucapnya. “Tadi saya sudah mau tidur, tapi saya mendengar ada suara di dapur jadi saya cek.” Yah, memang
Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah. “Kok bahagia banget ma? Emang mama mau berangkat ke mana?” Tanyaku pada mama. “Nyusul papa dong. Ternyata papa juga kangen sama mama.” “Dilla ikut dong ma.” Rengekku dengan muka memelas. “Tidak bisa. Kalau kamu ikut, n
Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuinginkan beserta referensi yang menjadi peganganku, aku meninggalkan ruangan itu dengan l
Hubungan ku dan om Brham semakin hangat, meski kami merahasiakannya dari penghuni kos yang lain. Bukan karena Om Brahm tidak menyukai dengan hubungan yang sedang kami jalanni saat ini, Om Brham hanya tidak tega kalau image ku berubah di depan para penghuni kos yang lain.Aku bahagia, mendapat kehangatan dari om Bhram. Semenjak hubungan kami terjalin walau secara sembunyi-sembunyi, yang lain pun terkena dampak positifnya. Om Brham menjadi semakin rajin memberikan mereka klien, sehingga banyak kesempatan bagi kami untuk berduaan.Contohnya hari ini, om Brham membuat penghuni kos mendapat klien dan menginap ke luar kota untuk beberapa hari. Lalu, om Brham menyiapkan candle light dinner untuk kami berdua di rooftop. Kenapa di rooftop? Apakah om Bhram tidak mampu membawaku ke restoran mewah? Tidak mungkin, om Bhram sangat kaya raya dengan penghasilannya itu, ditambah lagi om Bhram yang semakin rajin mencarikan klien untuk mbak Luna cs, memberi dampak positif pada bisnisnya. Yang berarti pun
Beberapa detik berikut nya, mataku menyalang. Milik om Brham kembali mengeras dan besar. Segera aku menatap om Brham. Dia terlihat sedikit malu karena kejadian itu. Membuatku sedikit geli, bagaimana mungkin seorang berpengalaman seperti dia menunjukkan wajah malu di depan anak ingusan seperti diriku. Terlebih hanya karena batangnya mengeras kembali dengan cepat. Bukankah ini laur biasa? Bagaimana di usia nya yang saat ini, dia baru saja mengeluarkan hal indah itu dan sekarang benda itu mengeras dengan indahnya. Aku tidak percaya ini."Mau Dilla bantu om?" Tanyaku hati-hati. Nampak muka terkejut di wajahnya, mungkin dia tak menyangka gadis yang ia sangka gadis baik-baik malah menwarkan sebuah bantuan yang nikmat namun ia segera mengangguk, mungkin karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Aku langsung turun, bersujud di selangkangannya. Menemukan batang yang paling besar yang pernah aku lihat. Panjangnya sekitar dua puluh hingga dua puluh dua sentimeter diameter nya membuatku me
Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu normalnya sorang mahasiswa
"Nduk..." Eyang putri membelai rambutku yang panjang. Eyang putri selalu menyukai rambutku yang panjang dan hitam, ketika itu aku berlibur di rumah eyang, rambutku selalu di berikan perawatan ala jawa tradisional, entah menggunakan minyak khusus atau sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Namun, yang
Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah
Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusan. Kelas tiga SMP waktu itu terasa istimewa bagiku, karena waktu itu aku pertama kalinya memiliki seorang kekasih, ah kurasa kata kekasih terlalu romantis untuk romansa ketika aku masih ingusan waktu itu. Katakanlah pacar, ya mari kita sebut pa







