LOGINBenedict sudah berada di arena latihan anggar sebelum matahari terbit.
Ini kebiasaannya—selalu begitu, bahkan sebelum Rosemary muncul dalam hidupnya dan mengacaukan segalanya. Arena yang kosong dan gelap, hanya diterangi beberapa lilin yang ia nyalakan sendiri. Lantai kayu yang dingin di bawah sepatunya. Pedang di tangannya. Dan keheningan yang selalu ia sukai. Ia menusuk. Satu gerakan. Bayangan di dinding menusuk bersamanya. Posturnya benar. Napasnya teratur. TaKereta-kereta berdatangan seperti biasa, memenuhi halaman Kingsley dengan koper dan suara tawa.Para mahasiswa turun satu per satu, sebagian dengan wajah segar setelah liburan, sebagian lagi menyeret langkah dengan enggan untuk kembali ke rutinitas akademi. Rosemary berdiri di dekat gerbang, menatap menara batu yang menjulang di hadapannya dengan cara yang berbeda dari saat ia pertama kali melihatnya.Semester pertama berhasil ia lalui. Ia masih hidup. Identitasnya belum terbongkar. Tapi entah kenapa, semester kedua terasa lebih berat. Bukan karena pelajaran atau turnamen, tapi karena ancaman yang kini mengelilinginya dari berbagai arah. Henry tahu, dan tahu sejak lama. Benedict curiga, dengan kepingan-kepingan yang sudah cukup banyak untuk membuatnya tidak bisa berhenti mencari. Dan Ashworth... nama itu kini bukan sekadar nama. Saat ia melintas di korido
Moros dan kuda Oliver menghilang di ujung jalan, dan Rosemary akhirnya bisa bernapas.Ia berdiri di dekat jendela, menatap debu yang masih mengapung di tempat kuda-kuda itu tadi berdiri. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang baru saja berlalu.Dua jam. Dua jam ia duduk di ruang tamu dengan Benedict Harrington, menjawab pertanyaan-pertanyaan Oliver yang semakin tajam, menghindari tatapan yang semakin dalam.Hampir saja. Aku hampir ketahuan.Edmund muncul dari balik pintu, tongkatnya mengetuk lantai. “Mereka sudah pergi?”“Sudah.”“Harrington—” Edmund berhenti sebentar. “Apa dia selalu se
Benedict tidak menjawab, ia masih menatapnya.Rosemary bisa merasakannya—tatapan abu-abu itu belum sepenuhnya percaya. Ada sesuatu di balik mata itu yang masih menghitung, masih mencari, seperti seseorang yang tahu bahwa ada sesuatu yang salah tapi belum bisa menyebut apa.Tapi Benedict tidak punya bukti apa pun. Hanya firasat. Hanya keanehan-keanehan kecil yang belum bisa ia rangkai menjadi satu kesimpulan tepat.Ia duduk lagi.Rosemary menghembuskan napas pelan. Satu masalah selesai. Tapi ia tahu ini belum berakhir.“Maaf soal kemarin, Finch.” Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, suaranya dibuat seringan mungkin. “Aku tidak jadi datang menemui Lord Wexford.”Oliver langsung
Sudah dua jam lebih sepuluh menit.Benedict belum bergerak dari kursinya. Oliver sudah menghabiskan tiga cangkir teh dan mulai mengoceh tentang arsitektur Sterling Manor—sesuatu tentang langit-langit yang lebih rendah dari yang ia kira, sesuatu tentang jendela yang mungkin dibangun pada era yang salah untuk gaya rumah. Martha mondar-mandir dengan nampan kosong, wajahnya semakin pucat setiap kali ia melirik ke arah mereka.Rosemary duduk di seberang mereka, tangannya terlipat di pangkuan, senyumnya sudah lama terkuras habis.Dia tidak akan pergi. Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. Dia benar-benar akan duduk di sini sampai Edmund muncul.Lalu terdengar suara kereta di luar.Rodanya berderit di atas kerikil. Su
Pagi di Sterling Manor datang dengan cahaya yang lebih hangat dari biasanya. Musim dingin belum berakhir, tapi hari ini matahari cukup berani untuk muncul di balik awan.Di ruang tengah, Rosemary berdiri di samping Edmund, satu tangan siap menangkap kalau kakaknya kehilangan keseimbangan.Edmund melangkah. Satu. Dua. Tiga. Wajahnya berkeringat, tapi senyumnya tidak hilang. “Aku benci latihan ini.”“Dokter bilang kau harus melakukannya.”“Ya, dan kau bahkan lebih galak daripada dokter itu.”“Aku memang terlahir galak.”Edmund tertawa kecil, lalu terbatuk. Tapi batuknya tidak separah dulu—tidak lagi mengguncang seluruh tubu
Rosemary dan Henry kembali ke aula, dan tidak ada yang berubah.Musik masih mengalun, lilin-lilin masih menyala, para tamu masih tertawa dan berdansa dan berbisik tentang hal-hal yang tidak penting. Dunia di dalam ruangan ini tidak tahu bahwa sesuatu baru saja terjadi di taman yang gelap di luar jendela.Rosemary berdiri di samping Henry, membiarkan dirinya menjadi bayangan.Henry berbicara dengan seorang Earl tentang sesuatu—kebijakan perdagangan, atau aliansi politik. Rosemary tidak mendengarkan. Ia mengangguk pada waktu yang tepat, tersenyum pada waktu yang tepat. Tapi pikirannya ada di pohon ek, di topeng burung hantu yang miring, di tatapan abu-abu yang terlalu lama.Kau Rosemary Sterling.Suara Oliver masih terngi
Oliver Finch membanting buku catatannya ke meja.Bunyinya lebih keras dari biasanya karena ia memang sengaja membantingnya—bukan karena marah tanpa kendali, tapi karena ia sudah mempertimbangkan bahwa situasi ini
Papan pengumuman di aula utama Kingsley selalu menjadi pusat keramaian setiap kali hasil ujian ditempel. Pagi ini tidak berbeda. Mahasiswa berkerumun di depannya, berjinjit, mendorong bahu, mencari nama sendiri di antara deretan angka yang ditulis rapi dengan tinta
Hujan sudah berhenti.Rosemary duduk di tepi ranjangnya, menatap jendela yang masih basah oleh sisa-sisa badai. Kamar 504 terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin bukan kamarnya. Mungkin dirinya sendiri.
Hujan turun dengan derasnya malam itu.Perpustakaan Kingsley hampir kosong. Hanya ada mereka bertiga di meja sudut yang sama, meja yang sudah menjadi saksi dari terlalu banyak kejadian, dan percakapan yang tidak pernah







