INICIAR SESIÓNOliver berjalan keluar dari toko penjahit dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Buku-buku etiket yang semalam ia baca dengan panik kini terasa seperti benda asing di tangannya. Ia mengembalikannya ke perpustakaan tanpa banyak bicara, lalu duduk di meja sudut yang sama yang sudah menjadi tempatnya sejak semester pertama.
Ia membuka buku acak dari rak terdekat—sebuah buku tentang sejarah perdagangan di
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya saat kereta berhenti di halaman Kingsley.Rosemary turun lebih dulu. Di belakangnya, Benedict, Edmund, dan Owen mengikuti. Beberapa mahasiswa berjalan menuju ruang makan, sebagian lagi menenteng buku ke arah perpustakaan.“Kalian di sini.”Oliver muncul dari arah perpustakaan. Langkahnya cepat, kacamatanya miring seperti biasa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—campuran antara lelah dan ingin segera bicara.“Sudah selesai bicara dengan Cedric?” tanya Rosemary.Oliver mengangguk. “Lebih dari yang kuduga.”Mereka berjalan ke kamar Benedict. Ruangan itu masih terasa sama: jendela besar, kurs
Oliver bertemu Cedric di meja panjang di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Sebagian mahasiswa meninggalkan bangku mereka. Cedric duduk di kursi paling ujung, menghadap setumpuk kertas, dengan sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.Oliver mendekat sambil membawa beberapa catatan. “Kau sudah mulai? Langston belum sempat menyetujui bagian ketiga, dan aku tidak mau ketinggalan.”Cedric mengangkat kepala. Matanya tampak lelah, tapi ekspresinya tetap datar. “Aku tidak mulai. Aku cuma membaca ulang untuk bagian sebelumnya.”Oliver duduk di seberangnya. Ia meletakkan catatannya di atas meja dan membuka salah satu halaman. “Aku sudah hafal itu.”Cedric tidak menanggapi.Mereka membahas tug
Kereta berhenti di depan gerbang kediaman Lancaster.Dinding batu tua, jendela tinggi dengan kusen kayu gelap, dan halaman depan yang tertata rapi. Seorang pelayan membukakan pintu begitu melihat kereta berhenti.Rosemary turun lebih dulu, diikuti Benedict, lalu Edmund.Pelayan itu membungkuk. “Selamat datang di kediaman Lancaster. Tuan-tuan dan Nona dari?”“Saya Rosemary Sterling.” Rosemary memperkenalkan diri sambil mengangguk sopan. “Ini Kakak saya, Edmund Sterling. Dan ini Benedict Harrington.” Tunjuk Rosemary ke Edmund dan Benedict. “Kami perlu bicara dengan Tuan Owen Lancaster. Dan Lord Lancaster, jika memungkinkan.”“Silakan tunggu sebentar. Saya sampaikan.&rd
Vane tidak segera menjawab.Ia menatap Rosemary, lalu Benedict, lalu Oliver yang berdiri dengan kacamata masih miring karena perjalanan. Ruang kerja Sterling Manor terasa semakin sempit dengan lima orang di dalamnya. Edmund masih di dekat pintu.Vane mengangkat dagunya, menatap Edmund sebentar, lalu kembali pada Rosemary. “Surat.”“Surat?” Benedict mengulang kata itu dengan nada datar.“Surat pribadi ayahnya. Bukan dokumen resmi. Bukan arsip keluarga.” Vane berjalan mendekati meja. Tangannya menyentuh sudut kayu yang tergores. “Sepucuk surat kecil yang ditulis langsung oleh Duke Ashworth.”Oliver mendorong kacamatanya. “Dan isinya?”“Aku tidak tahu.” Vane berhenti tepat di seberang Rosemary. ”Dia tidak bilang. Dia bilang surat itu masih disimpan oleh ayahnya.”Edmund menegang di dekat pintu. “Kau yakin dia tidak berbohong?”“Ka
Rosemary baru saja hendak naik ketika suara derap kuda terdengar dari jalan di luar Manor.Ia menoleh.Seekor kuda muncul dari balik gerbang, melaju memasuki halaman. Penunggangnya menarik tali kekang begitu mendekati kereta. Kuda itu berhenti dengan napas berat, mengepulkan uap tipis.Oliver turun dari pelana.Debu menempel di ujung jasnya. Rambutnya berantakan oleh angin, dan wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah berkuda cukup lama. Kacamatanya miring tapi masih di tempatnya.“Oliver?” Alice berseru dari ambang pintu.Oliver tidak menjawab. Ia menyerahkan tali kekang kepada pelayan yang segera datang, lalu langsung berjalan menuju Rosemary.
Dua hari berlalu tanpa kejadian besar.Benedict sudah tidak lagi dibalut perban. Bahunya masih kaku di pagi hari, dan gerakan mengangkat lengan kirinya masih pelan, tapi ia sudah bisa berjalan keluar kamar dan turun ke ruang makan tanpa bantuan. Alice menyebutnya kemajuan. Benedict menyebutnya hal yang biasa. Rosemary tidak menyebutnya apapun karena sudah memperhatikan ia berjalan sendiri dari jendela kamarnya sejak pagi pertama.Rosemary masih memakai gaun biru keabuan yang dibeli dari desa.Ketika mereka masuk ke ruang makan, Duke sudah duduk di ujung meja. Duchess di sisi seberang. Pelayan menuangkan teh, lalu mundur dengan langkah tenang.Benedict menarik kursi di sampingnya. “Duduk di sini,” katanya.Rosemary menol
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t







