로그인“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.
Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, lebih keras dari seharusnya.
Otak Rosemary kosong melompong. Semua teori postur tubuh dan teknik tangkisan yang tadi dijelaskan Master Alden menguap tak bersisa.
Insting mengambil alih kesadarannya. Mundur. Ia harus mundur dan menjaga jarak.
Kaki kanannya melangkah ke belakang, disusul kaki kirinya. Lantai kayu berderit di bawah sepatunya. Benedict tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana dengan pedangnya yang masih terangkat.
“Kau tidak akan belajar apa-apa dengan mundur,” suaranya terdengar datar dari balik topengnya.
“Aku tidak punya pedang yang sama,” kata Rosemary. Suaranya bergetar di ujung, meskipun ia sudah berusaha menekannya. “Pedangmu asli.”
Benedict menurunkan pedangnya dengan perlahan. “Kau pikir aku akan menusukmu dengan pedang ini?”
Ya, pikir Rosemary. Itu persis yang kupikirkan.
“Ini bukan soal pedang, Sterling.” Benedict melangkah lagi, kali ini lebih pelan. “Ini soal siapa yang memegangnya.” Ia berhenti, memiringkan kepala. “Mulai.”
Rosemary mengangkat pedang kayunya. Ia memegangnya dengan dua tangan seperti yang ia lihat dilakukan beberapa mahasiswa lain. Gagangnya terasa licin oleh keringat.
“Posisimu salah.” Benedict sudah berdiri di depannya, entah kapan ia mendekat tanpa Rosemary sadari. “Kakimu terlalu rapat. Kalau aku mendorongmu sekarang, kau akan jatuh.” Ia mengetuk pelan lutut Rosemary dengan ujung pedangnya. Sentuhan logam dingin itu membuat Rosemary tersentak. “Buka kakimu. Selebar bahu.”
Rosemary menuruti. Kakinya gemetar saat ia menggeser posisi.
“Lebih baik. Sekarang, angkat pedangmu lebih tinggi. Lindungi dadamu.”
Dada.
Rosemary mengangkat pedangnya—memposisikannya tepat di depan ikatan kain yang melilit erat tulang rusuknya. Apakah Benedict sengaja memilih kata itu? Atau hanya instruksi standar yang tidak punya makna apa-apa baginya?
“Bagus. Sekarang, aku akan menyerang pelan. Kau hanya perlu menangkis.”
“Aku tidak—”
Tapi Benedict sudah bergerak. Ia tidak memberinya waktu. Pedang logamnya berayun pelan, tapi cukup untuk memaksa Rosemary mengangkat pedang kayunya secara refleks.
Pedang Benedict mengenai sisi tumpul pedang kayunya. Hanya ketukan kecil. Tapi getarannya menjalar ke pergelangan tangan Rosemary, naik ke sikunya. Pedang latihan itu nyaris tergelincir dari genggamannya yang berkeringat.
“Lambat,” komentar Benedict datar. “Lagi.”
Serangan kali ini dari kiri. Rosemary mencoba menangkis, tapi pedangnya bergerak terlalu jauh, membuka celah, dan ujung pedang Benedict menyentuh bahunya sebelum ia sempat menutup pertahanannya.
“Kau membuka diri.”
Jantung Rosemary berhenti.
Bayangan melintas di kepalanya. Jika pedang itu menusuk lebih dalam, merobek baju anggarnya, kemejanya terbuka, dan ikatan kain di dadanya terlihat di bawah cahaya sore yang menerobos jendela aula. Dan semua mata mahasiswa yang berdiri di tepi lapangan, berbalik ke arahnya.
“Lagi.”
Suara Benedict membuyarkan lamunannya. Ia menarik pedangnya, mundur selangkah, dan mengangkat pedangnya lagi.
“Tunggu.” Suara Rosemary keluar lebih tinggi dari yang ia inginkan. “Aku butuh istirahat.”
“Istirahat?” Alis di balik topeng itu mungkin terangkat. “Kita baru mulai satu menit.”
“Aku butuh—”
“Kau tidak akan dapat istirahat di duel sungguhan.” Benedict maju lagi. “Angkat pedangmu, Sterling.”
Rosemary mengangkat pedangnya. Tangannya terasa lemas. Keringat menetes dari pelipisnya, masuk ke matanya, tapi ia tidak bisa menyekanya karena terhalang topeng.
Benedict menyerang lagi. Kali ini lebih cepat. Tiga tebasan berturut-turut. Dua mengenai pedang kayunya dengan benturan yang menggetarkan lengannya hingga ke bahu, dan yang ketiga memukul paksa pedang Rosemary ke bawah hingga ujungnya nyaris mencium lantai.
Rosemary kehilangan keseimbangan sesaat, dan Benedict langsung melihatnya. Ia maju dengan cepat.
Rosemary tidak tahu bagaimana itu terjadi. Ia hanya tahu bahwa ujung pedang besi itu tiba-tiba ada di depan wajahnya, dan ia mundur. Tumitnya tersangkut sesuatu.
Sial.
Tubuhnya oleng ke belakang. Pedang itu makin dekat, tapi tusukan itu tidak pernah ia dapatkan.
Dunia berputar.
Punggung Rosemary menghantam lantai. Debu beterbangan, menari di bawah cahaya sore keemasan yang masuk miring dari jendela-jendela tinggi aula. Topengnya terlepas, menggelinding entah ke mana. Untuk sesaat, yang ada di pandangannya hanyalah langit-langit yang jauh dan cahaya itu—hangat, tenang, sama sekali tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi.
Rasa ngilu menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Namun bukan rasa sakit itu yang menghentikan jantungnya. Yang membuat jantung Rosemary berhenti adalah wajah Benedict Harrington yang berada tepat di atasnya.
Ia berdiri menjulang menghalangi cahaya, dengan ujung pedangnya berhenti tepat satu sentimeter di atas dada Rosemary. Napasnya masih teratur—napas orang yang belum sungguh-sungguh berusaha. Di bawah topengnya yang kini diangkat, mata abu-abu itu menatap ke bawah.
Rosemary tidak bergerak.
Hawa dingin logam menekan udara di atas dadanya—di atas ikatan kain, di atas kebohongan yang sudah ia jaga dengan susah payah sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Akademi Kingsley. Satu gerakan kecil. Satu keputusan kecil dari pria yang berdiri di atasnya.
Dan semuanya berakhir.
Owen tiba di kediaman Lancaster saat pagi belum terlalu terang. Ia menyerahkan kudanya pada pelayan yang menghampirinya. “Di mana Ayah?”“Di ruang kerja, Tuan. Sedang membaca.”Owen melangkah masuk. Ia berjalan menyusuri koridor. Ruang kerja Lord Lancaster terletak di ujung, menghadap taman kecil yang mulai ramai oleh suara burung.Ia mengetuk pelan, lalu masuk.Lord Lancaster duduk di kursi dekat jendela. Di atas mejanya ada beberapa lembar kertas yang tampak belum lama disentuh. Ia mendongak, dan begitu melihat Owen, ia meletakkan kertas di tangannya.“Kau pulang,” katanya.“Ada yang ingin kusampaikan.”Lord Lancaster menyandarkan punggungnya. “Bicaralah.”Owen menarik kursi dan duduk di seberang ayahnya. Ia berbicara pelan, tidak terburu-buru. “Semuanya sedang dipersiapkan. Bukti sudah didapat. Tinggal satu hal.”Lord Lancaster menatap putranya. “Kesaksian.”“Ya.”Lord Lancaster menatap kertas-kertas di mejanya sebentar. “Aku sudah berjanji.”“Aku tahu.” Owen menatap ayahnya. “Tap
Setelah menutup buku itu, Duke Ashworth duduk diam selama beberapa menit. Lalu ia membukanya lagi.Kali ini ia tidak terburu-buru. Jemarinya menelusuri setiap lembar, setiap lipatan. Di bawah cahaya yang masuk dari jendela, kertas-kertas itu tampak sama seperti biasanya.Tapi tidak semuanya.Ia berhenti. Ada dua lembar yang terasa berbeda. Lipatannya berbeda dengan lipatan surat yang lain.Ia menarik keduanya dan membukanya.Kosong.Ashworth tidak langsung bereaksi. Ia menatap dua lembar kosong tersebut seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di hadapannya.Ia tahu isi buku itu. Bukan setiap kalimat, tetapi ia tahu
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver meninggalkan Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Kereta yang sama dari Harrington membawa mereka keluar gerbang, melewati jalan setapak yang masih diselimuti kabut tipis. Tidak ada yang banyak bicara. Surat-surat itu kini tersimpan di saku dalam jas Benedict.Henry sudah menunggu di pintu sayap timur istana. Pakaiannya sederhana, bukan pakaian jamuan. Tidak ada pengawal di dekat pintu itu. Ia membawa mereka masuk lewat koridor belakang yang jarang dipakai, melewati ruang-ruang kecil berdebu, sampai tiba di ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup, lalu Henry menguncinya.“Kita mendapatkannya,” katanya.Benedict mengeluarkan dua sura
Benedict masuk saat malam sudah benar-benar larut.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Rosemary berdiri dari kursi dekat jendela. Edmund dan Oliver masih di tempat mereka, di dekat meja yang dipenuhi kertas-kertas lama.Tidak ada yang bicara sampai Benedict mendekat dan mengeluarkan dua lembar surat dari bagian dalam jasnya.“Dapat,” katanya.Rosemary tidak bertanya. Ia sudah tahu apa yang dimaksud.Benedict meletakkan surat-surat itu di atas meja. Dua lembar kertas terlipat rapi, sedikit lecek karena dipindahkan dari buku ke saku, dari saku ke serbet, dari serbet ke saku. Warnanya krem tua, dengan tinta yang masih tajam di beberapa bagian.Rosemary mengambil salah sa
Pengumuman itu membuat semua orang tetap berada di tempatnya.Beberapa bangsawan yang tadinya sudah berdiri kembali duduk. Pelayan-pelayan berhenti di sisi ruangan, menunggu aba-aba. Henry berdiri di bawah cahaya lilin yang menggantung rendah. Semua mata tertuju padanya.“Aku tidak akan menahan kalian terlalu lama.” Henry mengangkat gelasnya. “Malam ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal.”Duke Ashworth menyandarkan punggungnya dan mendengarkan. Cedric di sampingnya menunduk, tapi matanya sesekali melirik ke arah Henry.“Kerajaan ini dibangun oleh keluarga-keluarga di ruangan ini,” lanjut Henry. “Aku berharap, apa pun perbedaan di antara kita, kita masih bisa duduk di meja yang sama. Dan malam ini adalah buktinya.”
Aula besar dipenuhi lilin-lilin tinggi yang berdiri di sepanjang dinding. Cahaya keemasan jatuh di atas meja panjang yang dilapisi taplak putih. Para pelayan bergerak tanpa suara, mengatur detail terakhir sebelum para tamu memasuki ruangan.Henry berdiri di dekat pintu utama. Jas biru tuanya rapi, dan tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya. Tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak, memeriksa setiap sudut, setiap pelayan, setiap tamu yang mulai berdatangan.Para bangsawan masuk satu per satu. Duke Harrington tiba lebih dulu, mengenakan jas hitam dengan kerah tinggi. Di sampingnya, Benedict berjalan dengan postur tegak, meskipun bahunya sesekali masih sedikit kaku. Henry menyambut mereka dengan anggukan formal.“Duke Harrington.” Henry tersenyum tipis. “Aku senang kalian bisa datang.&rd
Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro







