Share

6 - Duel

Author: Luna Maji
last update publish date: 2026-05-07 11:27:19

“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”

“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.

“Kalau begitu,” Master Alden menjawab datar, “kita semua akan belajar sesuatu.”

Henry tertawa kecil. Lalu ia memasang topengnya, mengangkat pedangnya, bersiap dengan posisi sempurna, dan menatap Benedict.

“Aku sudah menunggu ini.”

Benedict tidak menjawab. Ia hanya memasang topengnya, lalu mengangkat pedang. Ujung pedangnya berkilat terkena cahaya sore yang masuk dari jendela tinggi. 

Rosemary menelan ludah. Bahkan dari kejauhan, ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Udara di arena terasa lebih pengap. 

Master Alden mengangkat tangan. “Mulai.”

Benedict melesat. Langkahnya menimbulkan bunyi derit di lantai kayu yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Tebasannya cepat mengarah ke bahu kiri Pangeran Henry. 

Cling! 

Benturan logam bergema di seluruh ruangan. Rosemary refleks mundur setengah langkah, meskipun ia berdiri cukup jauh dari arena demonstrasi. 

Pangeran Henry menangkisnya, lalu membalas dengan tusukan langsung ke dada. 

Benedict menghindar dengan putaran cepat, disusul dengan serangan beruntun. Satu tebasan ke kanan, disusul menusuk ke kiri, mundur lalu menerjang lagi. Gerakannya terarah, menguji pertahanan lawan.

Sementara Pangeran Henry, ia berdiri diam seperti batu karang di tengah badai. Ia tidak banyak bergerak, namun bisa menangkis semua serangan lawan, dan membalas secara mematikan.

“Kau terburu-buru, Harrington,” bisik Pangeran Henry di sela-sela dentingan logam.

“Anda terlalu banyak bicara, Yang Mulia,” jawab Benedict tanpa emosi.

Sisa demonstrasi berlangsung sengit. Rosemary menyadari dirinya mencengkeram gagang pedang kayunya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Walau pelatih menyatakan bahwa ini hanya demonstrasi, tapi Rosemary yakin ini bukan sekedar demonstrasi. Kedua pria itu sedang melakukan duel serius. Ini bukan lagi soal teknik. Ini soal harga diri. 

Benedict melancarkan serangannya kembali, kali ini pedangnya mengarah lurus ke jantung Pangeran Henry. 

Tapi Pangeran Henry seperti sudah membaca gerakan itu. Dengan cepat ia memutar pergelangan tangannya, mengubah arah pedangnya dan menusuk lurus hingga ujung pedangnya berhenti satu sentimeter dari leher Benedict.

“Cukup,” teriak Master Alden. “Terimakasih untuk demonstrasinya. Yang Mulia. Lord Harrington.”

Pangeran Henry menurunkan pedangnya dan membuka topengnya dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Ada keringat di pelipisnya, tapi posturnya tetap sempurna. Benedict mendengus, tapi matanya menunjukkan rasa hormat yang tak ingin ia akui. 

Setelah demonstrasi selesai, Master Alden menjelaskan beberapa istilah teknik yang digunakan oleh Pangeran Henry dan Benedict. Tapi tidak ada satu pun istilah yang Rosemary pahami. Yang ia yakini adalah, permainan anggar terlalu berbahaya baginya.

Satu tebasan. Satu tusukan. Satu gerakan yang salah, dan seseorang bisa menyentuh tubuhnya, merasakan bahwa dadanya tidak rata, bukan dada seorang pria. 

“Baiklah.” Master Alden menepuk tangannya. “Sekarang kalian akan berlatih berpasangan. Saya akan menunjuk pasangan masing-masing.”

Rosemary menahan napas. Siapa saja. Asal jangan—

“Lord Sterling.” Master Alden menatapnya. “Kau akan berpasangan dengan Lord Harrington.”

Rosemary memejamkan mata. Perutnya terasa diremas dari dalam.

“Tunggu.” Suara itu datang dari Pangeran Henry, yang masih berdiri di arena dengan pedang di tangan. “Bagaimana kalau aku saja? Lord Sterling sepertinya butuh pasangan yang lebih … sabar.”

Harapan kecil menyala di dada Rosemary. Ia menoleh ke arah Henry. Sang pangeran menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Apakah ia ingin menyelamatkannya, atau karena rasa penasarannya. 

Master Alden menggeleng. “Itu justru masalahnya, Yang Mulia. Lord Sterling tidak akan belajar kalau lawannya terlalu sabar.” Ia menatap Benedict. “Lord Harrington, kau tidak keberatan?”

Benedict melepas topengnya. Rambut hitamnya sedikit basah oleh keringat. Matanya yang abu-abu bertemu dengan mata Rosemary, dan untuk sesaat, Rosemary merasa seperti hewan buruan yang ditatap pemangsa. 

“Tentu tidak,” katanya. Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di sudut bibirnya. Sebuah lengkungan kecil nyaris tak terlihat muncul disana. 

Tentu saja dia tidak keberatan, batin Rosemary getir. Dia sudah ingin menghabisiku sejak hari pertama.

Oliver, yang berdiri di sampingnya, membisikkan sesuatu yang terdengar seperti “semoga beruntung,” tapi suaranya tenggelam oleh desiran darah di telinga Rosemary sendiri.

Ia melangkah ke arena. Lantai kayu yang sudah aus terasa dingin bahkan melalui sol sepatunya. Para mahasiswa lain sedang mengambil posisi, berpasangan dengan lawan masing-masing. Tapi Rosemary hanya melihat Benedict. Pria itu sudah berdiri di depannya, pedang di tangan kanannya, sedangkan topeng di tangan kiri.

“Kau tidak akan belajar apa-apa kalau terus memegang pedang seperti itu,” katanya tanpa basa-basi.

Rosemary menatap pedang kayu di tangannya sendiri. Sementara di tangan Benedict, pedangnya merupakan bilah besi asli. Jemarinya mencengkeram gagang dengan kaku. “Aku belum pernah—”

“Aku tahu.” Benedict memotong. “Itu sebabnya kau di sini.” Ia memasang topengnya. Suaranya kini teredam namun jauh lebih mengerikan. “Pasang topengmu. Aku tidak akan menyerang. Belum.”

Itu seharusnya menenangkan, pikir Rosemary. Tapi tidak sama sekali. Karena cara Benedict mengucapkan kata “belum” terasa seperti ancaman. 

Dengan jemari gemetar, Rosemary memasang topengnya. Dunia di balik jaring kawat itu terasa sempit, panas, dan berbeda. Suara napasnya sendiri menggema di telinganya. Di hadapannya, Benedict berdiri dalam posisi siap, pedangnya terangkat, ujungnya menunjuk tepat ke arah dada Rosemary.

Satu tusukan. Satu sentuhan. Dan semuanya akan berakhir.

“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
mulai membela dan kayaknya melindungi juga..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   250 - Tahun Ajaran Baru

    Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tanga

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   249 - Kembali

    Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   248 - Pulang

    Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   247 - Presentasi Langston

    Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   246 - Selesai

    Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   245 - Ashworth

    Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   105 - Seperti Biasa

    Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   3 - Punggung

    Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   2 - Kamar

    Benedict maju selangkah, tangan kirinya mencengkeram kerah jubah pria dihadapannya. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. Napasnya memburu. “Tarik ucapanmu, Ashworth!”Lord Cedric Ashworth—salah satu senior di Akademi Kinsley—menyeringai. “Apa ucapanku salah?” tantangnya. “Ku ulangi, a

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   1 - Siapa?

    “Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status