เข้าสู่ระบบSemua mata masih tertuju pada Rosemary.
Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar.
Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.
“Lord Sterling tampaknya akan menyanggah,” ucap Profesor Vance. “Silakan. Katakan apa pendapatmu.”
Rosemary menarik napas.
“Jika sebuah keluarga hanya bisa bertahan dengan kebohongan …” Ia menelan ludah. “… maka mungkin kehormatan itu memang tidak pernah.”
Beberapa alis terangkat. Oliver, di sampingnya, tersenyum kecil mendengarnya.
“Apa yang kita lindungi ketika kita menyembunyikan kebenaran? Nama? Reputasi?” Rosemary melanjutkan. “Atau kita hanya ingin orang lain melihat kita dengan cara tertentu? Keluarga yang benar-benar terhormat adalah keluarga yang berani menghadapi kebenaran, bukan yang bersembunyi di balik kebohongan."
Ia berhenti sejenak. Ia menatap sekitarnya. Di bangku depan, seseorang mengangguk pelan ke arahnya. Dorongan kecil itu membuat Rosemary melanjutkan.
“Kebohongan, walau ditutupi serapat apa pun pada akhirnya akan terungkap juga. Dan ketika itu terjadi, kehormatan yang kita lindungi dengan kebohongan itu akan hancur.”
Lord Vane mendengus keras. “Keluarga miskin memang selalu berusaha keras untuk bermain moral. Apa kau rela menjadi orang yang menyebabkan keluargamu hancur hanya demi kejujuran?”
“Aku rela.” Suara itu bukan suara Rosemary.
Suara itu datang dari bangku depan. Suaranya yang tenang langsung membuat seluruh kelas menoleh.
Pangeran Henry menatap Rosemary dengan mata birunya yang tenang dan senyum tipis di bibirnya. Ia berdiri dari bangkunya. Lalu berjalan ke arah tengah barisan, dan berhenti tepat di samping Rosemary.
“Maaf, Lord Vane. Aku biasanya tidak memotong pembicaraan.” Ia tersenyum. “Tapi menurutku, Lord Sterling layak mendapat dukungan.”
Henry menatap ke arah Benedict, yang sejak tadi diam seperti patung.
“Kau bilang kebenaran bisa menghancurkan keluarga, Lord Harrington. Tapi aku bertanya, keluarga macam apa yang dibangun di atas kebohongan?” Henry melangkah pelan, tangannya terlipat di belakang punggung. “Keluarga yang takut pada kebenaran adalah keluarga yang tahu ada sesuatu yang salah. Ia hanya belum menyadarinya."
Keheningan yang jatuh setelahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Professor Vance, yang sedari tadi hanya mengamati, sekarang mencondongkan tubuhnya dari podium. Ada kilat ketertarikan di matanya yang tua.
Benedict Harrington akhirnya bergerak. Ia tidak berdiri. Tidak membalas. Hanya memajukan tubuhnya dari tempat duduknya, dan menatap Henry dengan sorot mata yang tajam. Lalu tatapan itu beralih pada Rosemary sesaat sebelum kembali ke Henry lagi.
“Kau yakin ingin membelanya, Yang Mulia?”
“Aku tidak membela siapa pun, Lord Harrington.” Henry tersenyum. “Aku hanya menyampaikan pendapat. Bukankah itu gunanya kelas ini?”
Lord Vane mendengus keras. Ia membuka mulut, tapi Professor Vance sudah lebih dulu mengangkat tangan.
“Cukup.” Suara profesor itu tenang, tapi tidak bisa dibantah. “Debat seperti ini tidak akan pernah selesai sampai kapan pun. Kalian boleh bubar."
Kursi-kursi berderit. Para mahasiswa mulai berdiri, beberapa masih berbisik-bisik. Rosemary mengembuskan napas yang dari tadi tertahan di paru-parunya.
“Itu bagus sekali.”
Suara itu hangat, rendah, dan datang dari sampingnya. Rosemary menoleh.
Pangeran Henry berdiri di sana. Dari dekat, ia bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata biru itu.
Rosemary mengerjap. “Terimakasih, Yang Mulia.”
“Aku suka caramu berbicara. Jarang ada yang berani bicara seperti itu di kelas tadi.” Henry menyeringai. “Tidak seperti bangsawan lain.” Matanya melirik sekilas ke arah Benedict yang sedang berjalan keluar kelas bersama Vane.
Benedict tidak menoleh lagi pada Henry. Tapi sebelum keluar kelas, mata abu-abu itu sempat berhenti sepersekian detik pada Rosemary.
Dan Henry sudah melangkah pergi. Tapi di barisan kursi paling bawah, ia berhenti dan menoleh sekilas.
“Sampai jumpa di kelas berikutnya, Lord Sterling.”
Dan ia menghilang.
Oliver, yang sejak tadi membeku di samping Rosemary, akhirnya mengembuskan napas panjang. “Kau baru saja dibela Pangeran Henry. Di depan seluruh kelas. Di depan Lord Harrington.”
“Aku tahu,” bisik Rosemary.
***
Setelah debat di kelas tadi, beberapa mahasiswa mulai melirik Rosemary. Ada yang berbisik-bisik, ada yang mulai menganggukkan kepala saat ia lewat, tapi tidak sedikit juga yang melihatnya dengan mata menyipit.
Tapi, hari itu berjalan lancar. Bahkan terlalu lancar untuk hidup Rosemary. Setelah debat tadi pagi, ia hanya ingin menyepi dan menghindari tatapan dari mahasiswa lain. Perpustakaan Kingsley adalah tempat yang tepat.
Ruangan itu besar dan sunyi. Deretan rak buku menjulang ke langit-langit. Cahaya sore masuk melalui kaca patri, membiaskan warna-warna lembut ke lantai kayu yang gelap. Aroma kertas tua, debu, dan lilin bercampur menjadi satu.
Rosemary menghirup udara dalam-dalam. Aroma perpustakaan menenangkan pikirannya.
Ia dan Oliver duduk di meja sudut, jauh dari mahasiswa lain yang mungkin bisa menguping pembicaraan mereka. Di atas meja, beberapa buku tentang sejarah Kerajaan Caledon terbuka, tapi tidak ada yang membacanya.
Oliver menopangkan dagu pada tangannya. “Kau dengar soal ekskul?”
“Ekskul?” Alis Rosemary terangkat. “Aku belum mendengar apa-apa.”
Oliver mendorong kacamatanya yang melorot. “Semua mahasiswa baru wajib mengikuti seluruh ekstrakurikuler.”
“Semuanya?”
Oliver mengangguk. “Aturannya dari kepala akademi. Katanya untuk membentuk 'karakter bangsawan yang utuh'.” Ia mengutip dengan nada sedikit mengolok. “Tapi menurutku, itu adalah cara untuk memastikan kita semua cukup lelah dan tidak punya waktu untuk membuat onar.”
Rosemary mengangguk pelan. “Ekstrakurikulernya apa?”
“Anggar, berburu dan berkuda. Kau sudah biasa melakukannya, kan?” Oliver menyeringai.
Tubuh Rosemary merosot di kursinya. Jantungnya mencelos.
Anggar. Olahraga fisik. Di antara pria-pria yang akan menusuk dan menangkis. Dengan tubuhnya yang jauh lebih kecil dan ringan. Dengan dadanya yang terikat kencang.
“Aku bisa berkuda. Dulu waktu kecil, ayahku pernah memperlihatkan cara menggunakan perlengkapan berburu. Tapi aku tidak pernah main anggar,” katanya jujur.
Oliver menatapnya dengan iba. “Astaga, kau harus belajar cepat. Atau setidaknya … berdoa supaya pelatih tidak memasangkanmu dengan lawan yang serius.”
Keesokan sorenya di arena anggar.
Arena anggar Akademi Kingsley adalah aula panjang dengan lantai kayu yang sudah aus di bagian tengah.
Rosemary berdiri di barisan depan, mengenakan pakaian anggar tebal dan topeng yang masih terasa asing. Di sampingnya, Oliver terus-menerus membetulkan posisi topengnya yang kebesaran.
“Kau yakin tidak apa-apa?” bisik Oliver. “Maksudku … kau bisa minta izin Master. Bilang saja kau sakit.”
“Aku tidak sakit,” jawab Rosemary. Meskipun, sejujurnya, perutnya terasa mulas.
Master Alden—pelatih anggar di akademi yang merupakan mantan juara turnamen yang pensiun karena cedera— berdiri di depan, menjelaskan teknik dasar dengan suara datar.
Rosemary mencoba menyerap semuanya—cara berdiri, cara memegang pedang, cara menangkis. Tapi ia tidak bisa fokus.
Karena di seberang arena, dua orang sedang bersiap untuk demonstrasi.
Pangeran Henry sudah berdiri dengan pakaian anggarnya yang berwarna biru tua, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia memutar pedang di tangannya dengan gerakan yang terlalu santai untuk seseorang yang akan bertanding.
Dan di depannya, Benedict Harrington berdiri diam dengan pakaian anggar berwarna putih.
Mata abu-abu itu terangkat. Dan entah bagaimana, Benedict langsung menemukan Rosemary di tengah puluhan mahasiswa.
Benedict masuk saat malam sudah benar-benar larut.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Rosemary berdiri dari kursi dekat jendela. Edmund dan Oliver masih di tempat mereka, di dekat meja yang dipenuhi kertas-kertas lama.Tidak ada yang bicara sampai Benedict mendekat dan mengeluarkan dua lembar surat dari bagian dalam jasnya.“Dapat,” katanya.Rosemary tidak bertanya. Ia sudah tahu apa yang dimaksud.Benedict meletakkan surat-surat itu di atas meja. Dua lembar kertas terlipat rapi, sedikit lecek karena dipindahkan dari buku ke saku, dari saku ke serbet, dari serbet ke saku. Warnanya krem tua, dengan tinta yang masih tajam di beberapa bagian.Rosemary mengambil salah sa
Pengumuman itu membuat semua orang tetap berada di tempatnya.Beberapa bangsawan yang tadinya sudah berdiri kembali duduk. Pelayan-pelayan berhenti di sisi ruangan, menunggu aba-aba. Henry berdiri di bawah cahaya lilin yang menggantung rendah. Semua mata tertuju padanya.“Aku tidak akan menahan kalian terlalu lama.” Henry mengangkat gelasnya. “Malam ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal.”Duke Ashworth menyandarkan punggungnya dan mendengarkan. Cedric di sampingnya menunduk, tapi matanya sesekali melirik ke arah Henry.“Kerajaan ini dibangun oleh keluarga-keluarga di ruangan ini,” lanjut Henry. “Aku berharap, apa pun perbedaan di antara kita, kita masih bisa duduk di meja yang sama. Dan malam ini adalah buktinya.”
Aula besar dipenuhi lilin-lilin tinggi yang berdiri di sepanjang dinding. Cahaya keemasan jatuh di atas meja panjang yang dilapisi taplak putih. Para pelayan bergerak tanpa suara, mengatur detail terakhir sebelum para tamu memasuki ruangan.Henry berdiri di dekat pintu utama. Jas biru tuanya rapi, dan tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya. Tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak, memeriksa setiap sudut, setiap pelayan, setiap tamu yang mulai berdatangan.Para bangsawan masuk satu per satu. Duke Harrington tiba lebih dulu, mengenakan jas hitam dengan kerah tinggi. Di sampingnya, Benedict berjalan dengan postur tegak, meskipun bahunya sesekali masih sedikit kaku. Henry menyambut mereka dengan anggukan formal.“Duke Harrington.” Henry tersenyum tipis. “Aku senang kalian bisa datang.&rd
Oliver tiba di perpustakaan lebih awal dari biasanya.Ruangan itu masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa di meja seberang. Cedric datang beberapa menit kemudian, membawa satu buku tipis di tangan. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia duduk di seberang Oliver tanpa mengucapkan apapun.“Kau terlambat,” kata Oliver.“Aku tidak tidur semalaman.”Oliver tidak menanggapi. Ia membuka bukunya, memberi kesan mereka sedang membicarakan tugas. “Aku kira kau tidak akan datang.”“Ku kira aku memang tidak bisa datang.” Cedric meletakkan bukunya di atas meja. “Tapi kalau aku tidak datang, kau pasti akan mulai mencari. Dan itu lebih berbahaya.”Oliver menatapnya. “Kenapa lebih berbahaya?”“Karena ayahku akan makin curiga. Bukan hanya padaku. Pada semua orang-orang yang berhubungan dengan Sterling.” Cedric menatap meja. “Dia tidak lagi menyimpan buku catatan itu di laci. Dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi.”Oliver menahan napas.
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya saat kereta berhenti di halaman Kingsley.Rosemary turun lebih dulu. Di belakangnya, Benedict, Edmund, dan Owen mengikuti. Beberapa mahasiswa berjalan menuju ruang makan, sebagian lagi menenteng buku ke arah perpustakaan.“Kalian di sini.”Oliver muncul dari arah perpustakaan. Langkahnya cepat, kacamatanya miring seperti biasa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—campuran antara lelah dan ingin segera bicara.“Sudah selesai bicara dengan Cedric?” tanya Rosemary.Oliver mengangguk. “Lebih dari yang kuduga.”Mereka berjalan ke kamar Benedict. Ruangan itu masih terasa sama: jendela besar, kurs
Oliver bertemu Cedric di meja panjang di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Sebagian mahasiswa meninggalkan bangku mereka. Cedric duduk di kursi paling ujung, menghadap setumpuk kertas, dengan sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.Oliver mendekat sambil membawa beberapa catatan. “Kau sudah mulai? Langston belum sempat menyetujui bagian ketiga, dan aku tidak mau ketinggalan.”Cedric mengangkat kepala. Matanya tampak lelah, tapi ekspresinya tetap datar. “Aku tidak mulai. Aku cuma membaca ulang untuk bagian sebelumnya.”Oliver duduk di seberangnya. Ia meletakkan catatannya di atas meja dan membuka salah satu halaman. “Aku sudah hafal itu.”Cedric tidak menanggapi.Mereka membahas tug
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti







