共有

5 - Debat

作者: Luna Maji
last update 公開日: 2026-05-07 11:26:53

Semua mata masih tertuju pada Rosemary.

Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. 

Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.

“Lord Sterling tampaknya akan menyanggah,” ucap Profesor Vance. “Silakan. Katakan apa pendapatmu.”

Rosemary menarik napas.

“Jika sebuah keluarga hanya bisa bertahan dengan kebohongan …” Ia menelan ludah. “… maka mungkin kehormatan itu memang tidak pernah.”

Beberapa alis terangkat. Oliver, di sampingnya, tersenyum kecil mendengarnya.

“Apa yang kita lindungi ketika kita menyembunyikan kebenaran? Nama? Reputasi?” Rosemary melanjutkan. “Atau kita hanya ingin orang lain melihat kita dengan cara tertentu? Keluarga yang benar-benar terhormat adalah keluarga yang berani menghadapi kebenaran, bukan yang bersembunyi di balik kebohongan."

Ia berhenti sejenak. Ia menatap sekitarnya. Di bangku depan, seseorang mengangguk pelan ke arahnya. Dorongan kecil itu membuat Rosemary melanjutkan.

“Kebohongan, walau ditutupi serapat apa pun pada akhirnya akan terungkap juga. Dan ketika itu terjadi, kehormatan yang kita lindungi dengan kebohongan itu akan hancur.”

Lord Vane mendengus keras. “Keluarga miskin memang selalu berusaha keras untuk bermain moral.  Apa kau rela menjadi orang yang menyebabkan keluargamu hancur hanya demi kejujuran?”

“Aku rela.” Suara itu bukan suara Rosemary.

Suara itu datang dari bangku depan. Suaranya yang tenang langsung membuat seluruh kelas menoleh.

Pangeran Henry menatap Rosemary dengan mata birunya yang tenang dan senyum tipis di bibirnya. Ia berdiri dari bangkunya. Lalu berjalan ke arah tengah barisan, dan berhenti tepat di samping Rosemary.

“Maaf, Lord Vane. Aku biasanya tidak memotong pembicaraan.” Ia tersenyum. “Tapi menurutku, Lord Sterling layak mendapat dukungan.”

Henry menatap ke arah Benedict, yang sejak tadi diam seperti patung.

“Kau bilang kebenaran bisa menghancurkan keluarga, Lord Harrington. Tapi aku bertanya, keluarga macam apa yang dibangun di atas kebohongan?” Henry melangkah pelan, tangannya terlipat di belakang punggung. “Keluarga yang takut pada kebenaran adalah keluarga yang tahu ada sesuatu yang salah. Ia hanya belum menyadarinya."

Keheningan yang jatuh setelahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Professor Vance, yang sedari tadi hanya mengamati, sekarang mencondongkan tubuhnya dari podium. Ada kilat ketertarikan di matanya yang tua.

Benedict Harrington akhirnya bergerak. Ia tidak berdiri. Tidak membalas. Hanya memajukan tubuhnya dari tempat duduknya, dan menatap Henry dengan sorot mata yang tajam. Lalu tatapan itu beralih pada Rosemary sesaat sebelum kembali ke Henry lagi.

“Kau yakin ingin membelanya, Yang Mulia?”

“Aku tidak membela siapa pun, Lord Harrington.” Henry tersenyum. “Aku hanya menyampaikan pendapat. Bukankah itu gunanya kelas ini?”

Lord Vane mendengus keras. Ia membuka mulut, tapi Professor Vance sudah lebih dulu mengangkat tangan.

“Cukup.” Suara profesor itu tenang, tapi tidak bisa dibantah. “Debat seperti ini tidak akan pernah selesai sampai kapan pun. Kalian boleh bubar."

Kursi-kursi berderit. Para mahasiswa mulai berdiri, beberapa masih berbisik-bisik. Rosemary mengembuskan napas yang dari tadi tertahan di paru-parunya.

“Itu bagus sekali.”

Suara itu hangat, rendah, dan datang dari sampingnya. Rosemary menoleh.

Pangeran Henry berdiri di sana. Dari dekat, ia bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata biru itu. 

Rosemary mengerjap. “Terimakasih, Yang Mulia.”

“Aku suka caramu berbicara. Jarang ada yang berani bicara seperti itu di kelas tadi.” Henry menyeringai. “Tidak seperti bangsawan lain.” Matanya melirik sekilas ke arah Benedict yang sedang berjalan keluar kelas bersama Vane. 

Benedict tidak menoleh lagi pada Henry. Tapi sebelum keluar kelas, mata abu-abu itu sempat berhenti sepersekian detik pada Rosemary.

Dan Henry sudah melangkah pergi. Tapi di barisan kursi paling bawah, ia berhenti dan menoleh sekilas.

“Sampai jumpa di kelas berikutnya, Lord Sterling.”

Dan ia menghilang.

Oliver, yang sejak tadi membeku di samping Rosemary, akhirnya mengembuskan napas panjang. “Kau baru saja dibela Pangeran Henry. Di depan seluruh kelas. Di depan Lord Harrington.”

“Aku tahu,” bisik Rosemary.

***

Setelah debat di kelas tadi, beberapa mahasiswa mulai melirik Rosemary. Ada yang berbisik-bisik, ada yang mulai menganggukkan kepala saat ia lewat, tapi tidak sedikit juga yang melihatnya dengan mata menyipit.

Tapi, hari itu berjalan lancar. Bahkan terlalu lancar untuk hidup Rosemary. Setelah debat tadi pagi, ia hanya ingin menyepi dan menghindari tatapan dari mahasiswa lain. Perpustakaan Kingsley adalah tempat yang tepat.

Ruangan itu besar dan sunyi. Deretan rak buku menjulang ke langit-langit. Cahaya sore masuk melalui  kaca patri, membiaskan warna-warna lembut ke lantai kayu yang gelap. Aroma kertas tua, debu, dan lilin bercampur menjadi satu.

Rosemary menghirup udara dalam-dalam. Aroma perpustakaan menenangkan pikirannya.

Ia dan Oliver duduk di meja sudut, jauh dari mahasiswa lain yang mungkin bisa menguping pembicaraan mereka. Di atas meja, beberapa buku tentang sejarah Kerajaan Caledon terbuka, tapi tidak ada yang membacanya.

Oliver menopangkan dagu pada tangannya. “Kau dengar soal ekskul?”

“Ekskul?” Alis Rosemary terangkat. “Aku belum mendengar apa-apa.”

Oliver mendorong kacamatanya yang melorot. “Semua mahasiswa baru wajib mengikuti seluruh ekstrakurikuler.”

“Semuanya?”

Oliver mengangguk. “Aturannya dari kepala akademi. Katanya untuk membentuk 'karakter bangsawan yang utuh'.” Ia mengutip dengan nada sedikit mengolok. “Tapi menurutku, itu adalah cara untuk memastikan kita semua cukup lelah dan tidak punya waktu untuk membuat onar.”

Rosemary mengangguk pelan. “Ekstrakurikulernya apa?”

“Anggar, berburu dan berkuda. Kau sudah biasa melakukannya, kan?” Oliver menyeringai.

Tubuh Rosemary merosot di kursinya. Jantungnya mencelos. 

Anggar. Olahraga fisik. Di antara pria-pria yang akan menusuk dan menangkis. Dengan tubuhnya yang jauh lebih kecil dan ringan. Dengan dadanya yang terikat kencang.

“Aku bisa berkuda. Dulu waktu kecil, ayahku pernah memperlihatkan cara menggunakan perlengkapan berburu. Tapi aku tidak pernah main anggar,” katanya jujur.

Oliver menatapnya dengan iba. “Astaga, kau harus belajar cepat. Atau setidaknya … berdoa supaya pelatih tidak memasangkanmu dengan lawan yang serius.”

Keesokan sorenya di arena anggar.

Arena anggar Akademi Kingsley adalah aula panjang dengan lantai kayu yang sudah aus di bagian tengah. 

Rosemary berdiri di barisan depan, mengenakan pakaian anggar tebal dan topeng yang masih terasa asing. Di sampingnya, Oliver terus-menerus membetulkan posisi topengnya yang kebesaran.

“Kau yakin tidak apa-apa?” bisik Oliver. “Maksudku … kau bisa minta izin Master. Bilang saja kau sakit.”

“Aku tidak sakit,” jawab Rosemary. Meskipun, sejujurnya, perutnya terasa mulas.

Master Alden—pelatih anggar di akademi yang merupakan mantan juara turnamen yang pensiun karena cedera— berdiri di depan, menjelaskan teknik dasar dengan suara datar. 

Rosemary mencoba menyerap semuanya—cara berdiri, cara memegang pedang, cara menangkis. Tapi ia tidak bisa fokus. 

Karena di seberang arena, dua orang sedang bersiap untuk demonstrasi.

Pangeran Henry sudah berdiri dengan pakaian anggarnya yang berwarna biru tua, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia memutar pedang di tangannya dengan gerakan yang terlalu santai untuk seseorang yang akan bertanding.

Dan di depannya, Benedict Harrington berdiri diam dengan pakaian anggar berwarna putih.

Mata abu-abu itu terangkat. Dan entah bagaimana, Benedict langsung menemukan Rosemary di tengah puluhan mahasiswa.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
jangan-jangan Henry tau penyamaran Rosemary?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   250 - Tahun Ajaran Baru

    Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   249 - Kembali

    Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   248 - Pulang

    Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   247 - Presentasi Langston

    Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   246 - Selesai

    Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   245 - Ashworth

    Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   4 - Kelas

    Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   3 - Punggung

    Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   7 - 1 Sentimeter

    “Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   6 - Duel

    “Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status