MasukIvander turun dari mobil dan berjalan menuju ke kamarnya, cukup terpukau dengan penampilan istrinya sore ini. Memangnya kapan Ivander tidak terpukau dengan penampilan istrinya? Aiko yang menyadari kehadiran sang suami, segera berjalan menghampirinya, memberikan kecupan singkat dan manis di pipinya. "Apa kau mau mandi dulu? Aku bisa menunggu." Aiko mengamati Ivander yang terlihat cukup berantakan sore ini. Apakah pekerjaannya terlalu banyak? Atau ada hal yang membuatnya kepikiran? "Terima kasih sayang, aku tidak akan membuatmu menunggu lama." Ivander meninggalkan Aiko menuju kamar mandi, sedangkan Aiko menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Ivander nanti. Tak berapa lama kemudian Ivander keluar dari kamar mandi dengan handuk hitam melingkari perutnya hingga betis. Terlihat menggiurkan dengan sisa sisa air yang menetes dari rambutnya. Aroma cologne dan shampoo menguar disekitar tempatnya berdiri. Aiko hampir tidak fokus saat Ivander berjalan di belakangnya dan mencium sekilas
Sudah sepekan berlalu sejak Ivander mengetahui kebenaran yang ada, Ivander berusaha bersikap seperti biasa, tidak ingin membuat Aiko curiga. Di sisi lain, Ivander masih meminta bantuan pada Peter untuk mengetahui siapa Ibu kandung dan saudara laki laki yang ada dalam foto sebelumnya. Ivander sama sekali belum menemukan gambaran siapa anak laki laki dalam foto tersebut, walaupun perasaannya yakin bahwa anak dalam foto tersebut terlihat sangat familiar. Ivander diam diam, meminta Peter untuk melakukan penelusuran lebih jauh. Ivander meminta agar Peter mencetak foto kecil kolega, teman bahkan bisnis partnernya. Mungkin jika melihat foto kecil dari dari orang orang tersebut Ivander bisa mengetahui siapa kakak dari Aiko. Walaupun Ivander merasa ini hal yang mustahil, namun untuk Aiko, Ivander bisa melakukan apa saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.40 pagi dan Ivander sedang menunggu Aiko menyelesaikan bekal yang dibuat untuknya. "Maafkan aku karena bekalmu selesai lebih lambat dari
Ivander melirik handphone yang berada tidak jauh darinya, kembali menimbang dan menyiapkan dirinya untuk menerima fakta yang ada. Dengan gerakan pasti, Ivander meraih handphone-nya, dan akhirnya membuka surel tersebut, membaca penjelasan yang tuliskan di sana beserta dengan bukti foto dan dokumen. Aiko benar berdarah Jepang, wajar jika rambutnya hitam legam dengan mata yang indah berwarna hazel. Tapi berwarna hazel? Bukankah mata berwarna hazel bukan hal yang umum? Baris demi baris kalimat yang Ivander baca membuatnya sedih, sekaligus senang, salah satu keinginan Aiko adalah mencari keberadaan keluarga kandungnya. Ivander membaca dari awal semua hal yang membuatnya tahu di mana ayah kandung Aiko. Ivander membuka foto lain, foto Aiko saat masih bayi, dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Ivander lalu membuka dokumen saat Aiko pertama kali diserahkan ke panti asuhan di desa. Lalu Ivander membuka dokumen berisi surat dengan tulisan tangan, rapi namun kertasnya telah lusuh. “Aiko,
Aiko tidak menyangka bahwa Ivander mengambil jas miliknya, lalu kembali dengan sedikit berlari membuat Aiko terkesima. Sang suami luar biasa tampan dengan tubuh yang sempurna. "Tidak masalah jika kau berpikir aku suami posesif, aku hanya tidak ingin istriku yang cantik dan menawan menjadi pusat perhatian orang orang." Ivander mengatakannya sambil membantu Aiko mengenakan jas miliknya, sedikit mengurangi rasa gerah yang Aiko rasakan. “Tidak, aku senang karena kau sangat memikirkanku. Aku terkadang hanya merasa, ini seperti mimpi. Aku terbiasa mengurus diriku sendiri, dan kau memperlakukanku dengan luar biasa baik, terima kasih karena selalu bersikap baik padaku.” Ivander mengecup kilat bibir Aiko. “Kau terlalu menggoda, dan aku sudah menahan diri sejak tadi.” Aiko terkekeh pelan menanggapi kata kata Ivander. Aiko menepuk tempat kosong di sampingnya, memberi isyarat pada Ivander untuk duduk di dekatnya. Waktu menunjukkan pukul 8 malam dan suasana taman justru semakin ramai. Iv
Ivander menoleh melihat Aiko yang masih menatapnya, menunggu respon darinya saat semua yang terjadi malam itu Ivander ketahui malam ini. "Maafkan aku, aku salah paham. Tentu saja semua yang terjadi tidak akan bisa kau lupakan begitu saja. Aku juga sama, tapi entah mengapa setiap kejadian kejadian tersebut tidak sengaja terpikirkan, membuat hatiku sakit begitu saja. Aku akan menjadi suami yang jauh lebih baik, dan aku tidak akan berhenti menunjukkannya padamu Ai. Fokusku saat ini kau, dan juga calon anak kita. Malam itu adalah titik balik untukku, setelah kejadian malam itu, aku selalu memikirkanmu, jika kau ingin tahu. Aku selalu berusaha mencuri perhatianmu, membuatmu marah dan jengkel padaku. Aku tahu hal tersebut kekanakan, tapi aku menikmati ekspresi yang kau berikan. Dan hal yang paling membuatku sesak adalah saat di hotel, di mana kau pingsan di bathup, sedikit saja aku terlambat, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu." Ternyata apa yang Aiko rasakan sama halnya dengan Ivande
Aiko telah selesai membuat mushroom sauce untuk pasangan steak-nya nanti. Ivander telah mengabarinya bahwa akan kembali dalam stengah jam lagi. Aiko melihat jam di handphonenya, masih ada sedikit waktu untuk mandi dan berdandan sebelum Ivander tiba. Aiko juga meminta bantuan pada Rita untuk menata meja makan ala candle light dinner. Aiko masuk ke dalam kamarnya, melepaskan pakaiannya dan hanya tersisa pakaian dalam saja. Aiko mematut dirinya di depan cermin besar, memperlihatkan perut yang semakin membesar dan dada yang semakin berisi. Belaian lembut di atas perutnya membuatnya menyunggingkan senyum, Aiko akan membuat makan malamnya bersama Ivander terasa spesial. Aiko lalu berjalan menuju walk in closet, memilah dress apa yang akan dikenakannya nanti. Jari lentiknya menyusuri puluhan dress berbagai model dan bahan yang sudah dipersiapkan Ivander untuknya. Pilihannya jatuh pada Long Cocktail Dress berwarna burgundy dengan belahan dada rendah. Aiko tidak menyiakan waktunya, bergegas







