Home / Romansa / Luapan Gairah Panas Ayahmu / Bab 1 — Malam yang Tak Pernah Direncanakan

Share

Luapan Gairah Panas Ayahmu
Luapan Gairah Panas Ayahmu
Author: Ucing Ucay

Bab 1 — Malam yang Tak Pernah Direncanakan

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-07-16 18:12:24

Pintu besar rumah itu terbuka pelan, mengeluarkan suara decitan samar yang biasanya tak pernah mengganggu ketenangan malam. Rayhan yang tengah bersandar di sofa ruang tengah menoleh perlahan saat mendengar langkah ringan masuk ke dalam rumah.

Di ambang pintu berdiri Alesha. Wajahnya masih muda, polos, tapi Rayhan tak bisa mengabaikan perubahan yang jelas terlihat: gadis kecil yang dulu cerewet dan riang itu kini telah menjadi wanita muda dengan pesona yang tak terelakkan.

Dia membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan. “Om Rayhan?” sapanya lembut, suara itu mengisi ruang hening dengan kehangatan yang aneh.

Rayhan menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, demam yang menghantui dua hari terakhir ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari sosok Alesha yang berdiri di hadapannya.

Kaos putih tipis yang dikenakannya menempel pada lekuk tubuhnya, memperlihatkan garis halus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Celana jeans robeknya membuat Rayhan sadar betapa gadis itu sudah tumbuh jauh dari masa kecilnya.

Dia berusaha mengalihkan pandangan, tapi pikirannya berontak, membawa dia ke tempat-tempat yang tak pantas.

“Lesha ... kamu?” suara Rayhan serak, setengah tak percaya.

Alesha tersenyum, senyum yang dulu sering dia lihat saat kecil, tapi kini terasa berbeda. “Om Rayhan, aku bawain bubur. Kata Zira Om sakit?”

Rayhan mengangguk pelan, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Wajahnya memang pucat, tubuhnya lemah, dan bukan hanya karena sakit—ada sesuatu yang jauh lebih berat bersemayam di dalam dada.

Saat Alesha duduk di sebelahnya dan mulai membuka bungkus bubur, Rayhan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah polos itu, rambut yang dikuncir rapi, lengan yang tertutup kaos tipis. Namun, keindahan tubuhnya sudah tak bisa disangkal.

Rayhan menghela napas, lalu lirih berkata, “Lidah aku … terasa pahit, Lesha.”

Alesha menatapnya penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyuapi bubur ayam hangat itu ke mulut Rayhan.

Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya sejengkal. Rayhan menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh yang menggelegar di dadanya.

Rayhan menutup mata sejenak, merasakan hangatnya bubur yang perlahan mengusir pahit di lidahnya. Sentuhan lembut Alesha saat menyuapi membuat dadanya berdebar. Ia berusaha menenangkan diri, berulang kali mengingatkan diri bahwa ini hanya perhatian seorang gadis muda pada pria yang sedang sakit.

Namun, tiap kali pandangannya bertemu dengan mata jernih Alesha, ada sesuatu yang tak bisa ia bendung—campuran antara rasa rindu lama dan gejolak yang tak seharusnya ada.

“Alesha ....” Suaranya pelan, hampir tak terdengar.

“Ada apa, Om?” tanyanya dengan penuh kepedulian.

Rayhan menggeleng, menarik napas panjang. “Tidak apa-apa. Hanya … aku sudah lama tidak merasa sebegini lemah.”

Alesha menggenggam tangan Rayhan sejenak, memberi kekuatan tanpa kata-kata.

Suasana seketika terasa hening, namun hangat.

Di tengah keheningan itu, Rayhan merasa ada jarak yang harus dijaga, namun sulit untuk tidak merasakan kehadiran Alesha yang semakin dekat.

Rayhan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.

Dia pria kepala empat, ayah dari sahabat Alesha. Seharusnya perasaannya tak boleh sampai sedalam ini.

Tapi entah mengapa, kehadiran gadis itu mengacaukan segalanya.

Saat dia menatap ke bawah, terpeleset pandangannya pada bagian dada Alesha yang samar terlihat lewat leher kaosnya yang sedikit melorot. Mata Rayhan langsung menutup, jantungnya berdegup kencang.

“Apa ini ...?” gumamnya dalam hati.

Ia tahu ini salah. Sangat salah.

Namun tubuh dan pikirannya seperti sedang bertarung, antara apa yang benar dan apa yang diinginkan.

“Om, kamu sudah minum obat?” tanya Alesha polos, mengembalikan Rayhan ke kenyataan.

Rayhan menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjawab lebih banyak.

Alesha menuntunnya duduk kembali di sofa, merapikan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Perhatian gadis itu membuat dada Rayhan terasa sesak.

“Besok aku datang lagi, ya, Om. Aku janji,” ucap Alesha, suara lembut penuh ketulusan.

Rayhan mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa.

Ketika pintu rumah itu tertutup dan suara langkah Alesha menjauh, keheningan melingkupi rumah mewah itu.

Tapi dalam keheningan itu, pikirannya malah bertambah gaduh.

Bayangan Alesha—kaus putih tipis, jeans ketat yang memperlihatkan lekuk pinggulnya, aroma vanila lembut yang masih tercium samar di udara—menghantui setiap sudut pikirannya.

Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, meremas tangan sendiri, berusaha mengusir gelombang rasa yang membingungkan itu.

“Lo harus waras, Rayhan,” ia bergumam pelan.

Tapi, bagaimana bisa waras jika gadis itu datang lagi besok, dan lusa, dan entah sampai kapan?

***

Keesokan Harinya, 

Rayhan duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya masih lemah, wajahnya yang biasanya tegas tampak pucat dan penuh ketidakberdayaan.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk. Pagi itu, suasana rumah terasa hening, hanya suara jam dinding dan hembusan angin kecil di jendela.

Ketukan pintu pelan terdengar. Rayhan menoleh, melihat Alesha berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.

“Selamat pagi, Om. Pasti belum sarapan, ya?” sapanya ceria.

Dia membawa sebungkus bubur hangat dan nampan kecil berisi teh manis. Gerakannya lincah dan ringan, hampir seperti menari saat ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.

Rayhan mengamati Alesha dari balik sofa, hatinya sedikit tergerak oleh kehangatan yang berbeda di udara pagi itu.

Saat Alesha selesai menata meja, Rayhan memberanikan diri bertanya, “Lesha, kamu ... kok pagi-pagi sudah datang? Bukannya pagi ini kamu ada kuliah?”

Alesha tersenyum kecil, sedikit ragu, lalu menatap Rayhan dengan mata teduhnya. “Aku kan cuma ada kuliah dua hari dalam seminggu, Om. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi, aku pengen jagain Om, biar gak sendirian.”

Rayhan mengangguk pelan, tapi dalam hatinya bertanya-tanya.

Beberapa saat kemudian, saat mereka selesai makan, Rayhan mencoba membuka pembicaraan yang sudah lama mengganjal.

“Kamu ... nginep di sini?”

Alesha tertawa kecil, menatapnya serius. “Iya, Om. Aku janji sama Zira buat jagain Om sampai Om sembuh. Aku juga kasihan Om sendirian di rumah besar ini.”

Rayhan menelan ludah, dadanya tiba-tiba sesak.

Dua hari.

Dua hari bersama Alesha.

Berdua.

Perasaan yang mulai bergejolak di dadanya semakin sulit ia kendalikan.

Rayhan menelan ludah, dada sesak. Ia sadar, ia harus menjaga jarak. Tapi hatinya seperti memberontak.

Apa yang harus dia lakukan?

Bagaimana jika perasaan ini terus tumbuh?

Malam itu, Rayhan kembali duduk sendiri di ruang tengah. Tangannya gemetar, ia memegang gelas air dingin erat-erat.

“Alesha sudah bukan anak kecil lagi,” bisiknya lirih.

Dan dia ... pria yang harus bertanggung jawab, bukan terjebak dalam gejolak perasaan yang berbahaya ini.

Tapi apakah hatinya akan sanggup bertahan?

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Marlien Cute
Wah cerita Novel ini seru banget & menarik... Otw marathon bacanya nih...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 488. Rasa Syukur yang Tak Terhingga. (TAMAT). 

    ​Sore itu, taman belakang kediaman Mahardika kembali disulap menjadi area pertemuan yang santai. Laura, yang memutuskan untuk menetap lebih lama di Indonesia demi membantu persiapan pernikahan Zira, tampak sibuk mengatur letak hidangan di atas meja panjang. Di sampingnya, Arif Sasongko tampak sedang berbincang serius namun santai dengan Rayhan mengenai ekspansi lahan untuk klinik. Pemandangan dua pria yang dulu sempat bersitegang ini kini menjadi pemandangan yang paling menyejukkan bagi Alesha. Luka lama telah benar-benar sembuh, digantikan oleh persaudaraan yang lahir dari rasa saling menghargai.​"Ayo semuanya, makanannya sudah siap!" seru Laura dengan suara yang riang.​Mereka semua berkumpul di meja makan luar ruangan. Suasana makan malam itu sangat hangat. Zira dengan semangat menunjukkan desain undangan pernikahannya kepada Alesha, sementara Revan sibuk menjelaskan konsep dekorasi yang lebih modern kepada Rayhan. Di tengah pembicaraan itu, Karin yang duduk di kursi tingginya sese

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 487. Cahaya di Ujung Jalan. 

    ​Waktu berlalu seperti aliran sungai yang tenang namun pasti, membawa pergi sisa-sisa lumpur masa lalu dan menyisakan kejernihan yang menyejukkan. Beberapa bulan setelah hari wisuda yang bersejarah dan malam-malam penuh keintiman yang mengukuhkan cinta mereka, suasana di kediaman Mahardika kini telah benar-benar berubah. Tidak ada lagi bayang-bayang kesedihan atau ketegangan yang dulu sempat menghinggapi setiap sudut ruangan. Kini, setiap inci rumah mewah itu dipenuhi dengan tawa bayi, percakapan hangat, dan rencana-rencana masa depan yang cerah. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di ruang tengah seolah-olah membawa pesan bahwa badai telah benar-benar usai, digantikan oleh pelangi yang tak akan pernah pudar.​Klinik Rayhana, yang kini telah berganti nama menjadi Rayhana Specialty & Wellness Center, telah menjadi buah bibir di kalangan medis dan masyarakat luas. Berkat tangan dingin Rayhan yang kembali berpraktik dengan integritas yang jauh lebih kuat, serta sentuhan

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 486. (++) Ahhh, Mas! 

    ​Rayhan kemudian mengangkat tubuh Alesha dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur besar yang sudah menunggu. Ia membaringkan Alesha dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang meletakkan porselen yang paling mahal. Rayhan segera menyusul, berada di atas Alesha dengan kedua lengan sebagai penyangga. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya menggelap oleh gairah yang meluap.​"Panggil aku lagi, Alesha. Aku ingin mendengarnya berkali-kali," bisik Rayhan, suaranya kini terdengar seperti geraman rendah yang seksi.​"Mas ... Mas ... Ahhh!" Alesha memekik kecil saat tangan Rayhan mulai menjelajah area sensitif di pahanya. Sentuhan itu begitu berani namun penuh dengan teknik yang membuat Alesha menggeliat di bawahnya.​"Ohhh ... Mas Rayhan ... Eughhh ... rasanya ... ssshhh ...." Alesha mencengkeram bahu Rayhan yang berotot, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu. Rintihan dan desahan mulai memenuhi ruangan, bersahut-sahutan dengan suara napas mereka yang semakin memburu.​Rayhan mulai

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 485. Dari "Om" Menjadi "Mas".

    ​Malam itu, kediaman Mahardika terasa begitu sunyi, namun kesunyian itu tidak lagi mencekam seperti masa lalu, melainkan penuh dengan kehangatan yang menjanjikan. Di dalam kamar utama yang luas, aroma lilin aromaterapi dengan wangi kayu cendana dan mawar merah menguar lembut, menciptakan suasana yang begitu intim dan privat. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan semburat keemasan pada seprai sutra berwarna putih tulang yang membungkus tempat tidur besar di tengah ruangan. Di sudut kamar, boks bayi Karin tampak kosong karena malam ini si kecil sengaja dititipkan di kamar Laura, memberikan kesempatan bagi orang tuanya untuk menikmati waktu berdua setelah rentetan acara wisuda dan resepsi yang melelahkan.​Alesha berdiri di depan meja rias, jemarinya yang lentik perlahan melepaskan kancing-kancing kecil pada gaun malamnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, seorang wanita yang kini sudah sah menjadi istri sepenuhnya dari pria yang selama ini ia puja dari kejauhan. Namun, ada sat

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 484. Wisuda dan Langkah Baru. 

    ​Pagi itu, udara di sekitar gedung auditorium utama universitas terasa begitu berbeda, penuh dengan vibrasi semangat dan aroma keberhasilan yang menyeruak dari setiap sudut. Ribuan orang berkumpul, menciptakan lautan jubah hitam dengan toga yang melambai-lambai ditiup angin pagi yang sejuk. Di tengah kerumunan itu, keluarga Mahardika tampil dengan aura yang begitu memikat dan penuh wibawa. Rayhan berdiri dengan gagah mengenakan setelan jas formal berwarna gelap, tangannya dengan sigap mendorong kereta dorong bayi Karin yang tampak tenang dalam balutan gaun mungil berwarna putih. Di sampingnya, Laura dan Arif Sasongko berdiri berdampingan, menunjukkan kekompakan yang luar biasa sebagai orang tua meskipun masa lalu mereka penuh dengan lika-liku. Namun, bintang utama hari ini adalah dua wanita hebat yang berdiri dengan anggun mengenakan jubah wisuda lengkap dengan samir yang melingkar di leher mereka: Alesha dan Zira.​Bagi Alesha, momen ini terasa seperti sebuah keajaiban yang nyata. Ia

  • Luapan Gairah Panas Ayahmu   Bab 483. Penuh Kebahagiaan.

    Bagi Alesha, kelulusan ini adalah pembuktian diri bahwa menjadi seorang ibu muda tidak menghalanginya untuk tetap berprestasi. Bagi Zira, ini adalah langkah awal menuju kemandirian yang selama ini ia cita-citakan.Namun, kebahagiaan itu ternyata belum mencapai puncaknya. Saat suasana mulai tenang kembali, Revan melangkah maju dari kerumunan tamu. Pria itu tampak sangat rapi dan tegang. Ia meminta izin kepada Rayhan untuk naik ke atas panggung. Rayhan mengangguk sambil tersenyum penuh arti, seolah ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.​Revan menerima mikrofon dari tangan Rayhan. Ia menarik napas panjang, lalu matanya mencari sosok Zira di antara kerumunan. Tidak butuh waktu lama sosok yang dia cari langsung terlihat. "Zira ... aku tahu hari ini adalah hari yang luar biasa untuk keluargamu. Tapi aku tidak ingin melewatkan momen di mana seluruh keluarga besarmu berkumpul di sini untuk menyatakan sesuatu yang sangat penting bagiku."​Revan turun dari panggung dan berjalan perlahan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status