LOGIN
Pintu besar rumah itu terbuka pelan, mengeluarkan suara decitan samar yang biasanya tak pernah mengganggu ketenangan malam. Rayhan yang tengah bersandar di sofa ruang tengah menoleh perlahan saat mendengar langkah ringan masuk ke dalam rumah.
Di ambang pintu berdiri Alesha. Wajahnya masih muda, polos, tapi Rayhan tak bisa mengabaikan perubahan yang jelas terlihat: gadis kecil yang dulu cerewet dan riang itu kini telah menjadi wanita muda dengan pesona yang tak terelakkan.
Dia membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan. “Om Rayhan?” sapanya lembut, suara itu mengisi ruang hening dengan kehangatan yang aneh.
Rayhan menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, demam yang menghantui dua hari terakhir ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari sosok Alesha yang berdiri di hadapannya.
Kaos putih tipis yang dikenakannya menempel pada lekuk tubuhnya, memperlihatkan garis halus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Celana jeans robeknya membuat Rayhan sadar betapa gadis itu sudah tumbuh jauh dari masa kecilnya.
Dia berusaha mengalihkan pandangan, tapi pikirannya berontak, membawa dia ke tempat-tempat yang tak pantas.
“Lesha ... kamu?” suara Rayhan serak, setengah tak percaya.
Alesha tersenyum, senyum yang dulu sering dia lihat saat kecil, tapi kini terasa berbeda. “Om Rayhan, aku bawain bubur. Kata Zira Om sakit?”
Rayhan mengangguk pelan, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Wajahnya memang pucat, tubuhnya lemah, dan bukan hanya karena sakit—ada sesuatu yang jauh lebih berat bersemayam di dalam dada.
Saat Alesha duduk di sebelahnya dan mulai membuka bungkus bubur, Rayhan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah polos itu, rambut yang dikuncir rapi, lengan yang tertutup kaos tipis. Namun, keindahan tubuhnya sudah tak bisa disangkal.
Rayhan menghela napas, lalu lirih berkata, “Lidah aku … terasa pahit, Lesha.”
Alesha menatapnya penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyuapi bubur ayam hangat itu ke mulut Rayhan.
Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya sejengkal. Rayhan menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh yang menggelegar di dadanya.
Rayhan menutup mata sejenak, merasakan hangatnya bubur yang perlahan mengusir pahit di lidahnya. Sentuhan lembut Alesha saat menyuapi membuat dadanya berdebar. Ia berusaha menenangkan diri, berulang kali mengingatkan diri bahwa ini hanya perhatian seorang gadis muda pada pria yang sedang sakit.
Namun, tiap kali pandangannya bertemu dengan mata jernih Alesha, ada sesuatu yang tak bisa ia bendung—campuran antara rasa rindu lama dan gejolak yang tak seharusnya ada.
“Alesha ....” Suaranya pelan, hampir tak terdengar.
“Ada apa, Om?” tanyanya dengan penuh kepedulian.
Rayhan menggeleng, menarik napas panjang. “Tidak apa-apa. Hanya … aku sudah lama tidak merasa sebegini lemah.”
Alesha menggenggam tangan Rayhan sejenak, memberi kekuatan tanpa kata-kata.
Suasana seketika terasa hening, namun hangat.
Di tengah keheningan itu, Rayhan merasa ada jarak yang harus dijaga, namun sulit untuk tidak merasakan kehadiran Alesha yang semakin dekat.
Rayhan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.
Dia pria kepala empat, ayah dari sahabat Alesha. Seharusnya perasaannya tak boleh sampai sedalam ini.
Tapi entah mengapa, kehadiran gadis itu mengacaukan segalanya.
Saat dia menatap ke bawah, terpeleset pandangannya pada bagian dada Alesha yang samar terlihat lewat leher kaosnya yang sedikit melorot. Mata Rayhan langsung menutup, jantungnya berdegup kencang.
“Apa ini ...?” gumamnya dalam hati.
Ia tahu ini salah. Sangat salah.
Namun tubuh dan pikirannya seperti sedang bertarung, antara apa yang benar dan apa yang diinginkan.
“Om, kamu sudah minum obat?” tanya Alesha polos, mengembalikan Rayhan ke kenyataan.
Rayhan menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjawab lebih banyak.
Alesha menuntunnya duduk kembali di sofa, merapikan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Perhatian gadis itu membuat dada Rayhan terasa sesak.
“Besok aku datang lagi, ya, Om. Aku janji,” ucap Alesha, suara lembut penuh ketulusan.
Rayhan mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa.
Ketika pintu rumah itu tertutup dan suara langkah Alesha menjauh, keheningan melingkupi rumah mewah itu.
Tapi dalam keheningan itu, pikirannya malah bertambah gaduh.
Bayangan Alesha—kaus putih tipis, jeans ketat yang memperlihatkan lekuk pinggulnya, aroma vanila lembut yang masih tercium samar di udara—menghantui setiap sudut pikirannya.
Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, meremas tangan sendiri, berusaha mengusir gelombang rasa yang membingungkan itu.
“Lo harus waras, Rayhan,” ia bergumam pelan.
Tapi, bagaimana bisa waras jika gadis itu datang lagi besok, dan lusa, dan entah sampai kapan?
***
Keesokan Harinya,
Rayhan duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya masih lemah, wajahnya yang biasanya tegas tampak pucat dan penuh ketidakberdayaan.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk. Pagi itu, suasana rumah terasa hening, hanya suara jam dinding dan hembusan angin kecil di jendela.
Ketukan pintu pelan terdengar. Rayhan menoleh, melihat Alesha berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.
“Selamat pagi, Om. Pasti belum sarapan, ya?” sapanya ceria.
Dia membawa sebungkus bubur hangat dan nampan kecil berisi teh manis. Gerakannya lincah dan ringan, hampir seperti menari saat ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.
Rayhan mengamati Alesha dari balik sofa, hatinya sedikit tergerak oleh kehangatan yang berbeda di udara pagi itu.
Saat Alesha selesai menata meja, Rayhan memberanikan diri bertanya, “Lesha, kamu ... kok pagi-pagi sudah datang? Bukannya pagi ini kamu ada kuliah?”
Alesha tersenyum kecil, sedikit ragu, lalu menatap Rayhan dengan mata teduhnya. “Aku kan cuma ada kuliah dua hari dalam seminggu, Om. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi, aku pengen jagain Om, biar gak sendirian.”
Rayhan mengangguk pelan, tapi dalam hatinya bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian, saat mereka selesai makan, Rayhan mencoba membuka pembicaraan yang sudah lama mengganjal.
“Kamu ... nginep di sini?”
Alesha tertawa kecil, menatapnya serius. “Iya, Om. Aku janji sama Zira buat jagain Om sampai Om sembuh. Aku juga kasihan Om sendirian di rumah besar ini.”
Rayhan menelan ludah, dadanya tiba-tiba sesak.
Dua hari.
Dua hari bersama Alesha.
Berdua.
Perasaan yang mulai bergejolak di dadanya semakin sulit ia kendalikan.
Rayhan menelan ludah, dada sesak. Ia sadar, ia harus menjaga jarak. Tapi hatinya seperti memberontak.
Apa yang harus dia lakukan?
Bagaimana jika perasaan ini terus tumbuh?
Malam itu, Rayhan kembali duduk sendiri di ruang tengah. Tangannya gemetar, ia memegang gelas air dingin erat-erat.
“Alesha sudah bukan anak kecil lagi,” bisiknya lirih.
Dan dia ... pria yang harus bertanggung jawab, bukan terjebak dalam gejolak perasaan yang berbahaya ini.
Tapi apakah hatinya akan sanggup bertahan?
---
Setelah momen keintiman yang terlarang di kamar VVIP, Rayhan tahu betul ia harus kembali ke peran dokter profesional. Tidak ada ruang untuk keraguan atau kelemahan. Ia harus menggunakan keahlian medisnya, bukan emosinya, untuk memenangkan hati Laura, yang kini menjadi kunci strategis mereka.Kabar baiknya, Arif yang keras kepala kini sedang sibat di kantornya, sibuk mengendalikan kerusakan citra yang disebabkan oleh foto-foto Livia di UGD—sebuah blunder yang merugikan. Ia meninggalkan pengawasan penuh kepada Laura dan bodyguardnya. Rayhan memanfaatkan jeda perang ini.Di hadapan Laura, Rayhan mengambil alih komando profesional. Ia memerintahkan dokter Dian untuk memberikan laporan medis yang sangat rinci kepada Laura. "Laura," kata Rayhan tegas, menjauh dari pendengaran Alesha, suaranya dipenuhi otoritas seorang dokter. "Alesha mengalami threatened abortion, ancaman keguguran. Kondisi ini dipicu oleh stres berat yang berkepanjangan. Jika ia dipindahkan atau dipaksa melakukan hal ya
Rayhan menarik jas dokternya yang terasa kaku dan menyesakkan, melemparkannya ke sofa. Ia melonggarkan dasi dan dua kancing kemejanya, sebuah pelepasan tekanan fisik dan emosional yang terlihat jelas. Ciuman Rayhan kembali menyentuh bibir Alesha. Ciuman itu dimulai dengan lambat, dipenuhi rasa asin dari air mata. Perlahan, ciuman itu menjadi lebih dalam, menuntut. Rayhan menggunakan satu tangan untuk menangkup pipi Alesha, ibu jarinya menyeka air mata, sementara tangan yang lain meraih belakang leher Alesha, menariknya agar ciuman itu terasa lebih dekat.Alesha merespons dengan intensitas yang sama, sebuah kehausan emosional. Ia meremas kemeja Rayhan. "Eughhh ...," desahan tertahan keluar dari bibir Alesha. Itu adalah suara pelepasan emosi yang menyakitkan, bukan gairah, sebuah kebutuhan mendalam untuk merasakan kulit Rayhan.Ciuman itu semakin liar, sebuah komunikasi rahasia. Rayhan menarik Alesha, membiarkan tubuhnya bersandar di tubuh Alesha, sangat hati-hati agar beratnya tidak
Pagi itu, Rumah Sakit Medika Utama terasa seperti benteng yang tegang, sebuah pusat kekuasaan yang kini menjadi medan pertempuran pribadi. Setelah krisis pendarahan teratasi dan Alesha dinyatakan stabil, ia dipindahkan ke kamar suite VVIP di lantai eksekutif. Kamar itu memiliki dua fungsi yang ironis: tempat pemulihan yang steril dan sunyi, sekaligus penjara berlapis emas yang dijaga ketat oleh dua petugas keamanan pribadi milik Arif.Di balik pintu kayu mahoni yang kokoh itu, pertarungan kehendak masih berlanjut. Arif, meski hatinya membara karena amarah dan penghinaan yang dirasakannya—Rayhan telah melanggar larangan teritorialnya—ia terpaksa berkompromi. Laura, ibu Alesha, telah bertindak sebagai negosiator ulung. Menggunakan kartu citra publik yang bisa ia hancurkan kapan saja, serta ancaman tuntutan hukum atas pengabaian, Laura berhasil memaksa Arif mengizinkan Rayhan mengawasi perawatan Alesha secara profesional. Namun, pengawasan yang diterapkan Arif sangat brutal: dua bodygu
“Van ... Cepat ... lebih cepat ....” Zira memohon, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, matanya terpejam, sepenuhnya tenggelam dalam sensasi. Rasa sakit emosional yang ia bawa dari rumah sakit kini benar-benar hilang, tergantikan oleh sensasi manis yang menyakitkan ini.Revan menjawab permintaannya, ritmenya kini cepat dan tanpa ampun. Setiap dorongan adalah pelepasan, pelepasan kegagalan, pelepasan frustrasi, pelepasan rasa takut. Mereka bergerak dalam satu kesatuan, dua jiwa yang saling mencari kepastian di tengah badai.Dialog mereka kini hanya terdiri dari erangan, rintihan, dan desahan.“Ahhh! Zira ... Kamu ... Ah ....”“Ohhh ... Revan ... Aku ... Aku mau ....”“Ya, Sayang ... Bersama ... Lihat aku ....”Revan menahan wajah Zira dengan satu tangan, memaksa mata Zira yang berkaca-kaca untuk menatap matanya. Di sana, di mata Revan, Zira melihat pantulan hasratnya, pantulan cintanya, dan yang paling penting, pantulan rasa aman.Gelombang pertama menghantam Zira, tiba-tiba dan luar
Zira balas merespons, mendorong Revan berbaring, mengambil kendali. Ia menciumi dadanya, lidahnya yang hangat dan nakal menjelajahi garis tulang selangka. Di tengah pergumulan emosi, sentuhan ini adalah katarsis. Zira ingin merasakan segalanya, menyentuh segalanya, hanya untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki kendali, setidaknya atas satu hal: ikatan mereka.Pakaian mereka berjatuhan satu per satu, menjadi gumpalan tak berbentuk di lantai. Blouse Zira, kemeja Revan, lalu pakaian bagian bawah yang terasa terlalu menghalangi. Sensasi dingin sesaat dari udara kamar menyentuh kulit, dengan cepat digantikan oleh kehangatan kulit yang saling bersentuhan. Zira kini telanjang di atas Revan, membiarkan cahaya remang-remang menari di atas kulitnya.Tangan Revan bergerak cepat, penuh ketegasan namun lembut, menjelajahi punggung Zira, membelai garis pinggang hingga turun ke bokong. Ia meremasnya lembut, menarik Zira mendekat, membuat kulit mereka bergesekan, mengirimkan kejutan listrik ke selu
Udara di kamar itu terasa seperti kepompong, tebal dan sunyi, hanya diterangi oleh pantulan samar cahaya kota dari balik gorden yang tersibak sedikit. Di luar, malam telah menelan semua kegaduhan, semua beban pahit dari pertemuan yang mencekik di gerbang rumah sakit. Namun, di dalam, di tempat tidur Zira, satu jenis kegaduhan lain baru saja dimulai, sebuah badai yang lebih lembut namun sama menuntutnya. Deru napas Revan yang berat, kini menggantikan irama monoton monitor jantung Alesha dan Rayhan yang masih terngiang di benak Zira, menjadi satu-satunya realitas yang ingin ia percayai.Zira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Revan. Rasanya seperti tiba di sebuah garis pantai setelah berenang melintasi samudra badai. Rasa sakit dan frustrasi yang memuncak, yang terasa dingin dan tajam di gerbang rumah sakit, kini perlahan mencair, diserap oleh kehangatan kulit Revan.“Aku merasa seperti tidak bisa bernapas, Van,” bisik Zira, suaranya teredam, sebuah pengakuan jujur tentang bagaimana







