LOGINZira balas merespons, mendorong Revan berbaring, mengambil kendali. Ia menciumi dadanya, lidahnya yang hangat dan nakal menjelajahi garis tulang selangka. Di tengah pergumulan emosi, sentuhan ini adalah katarsis. Zira ingin merasakan segalanya, menyentuh segalanya, hanya untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki kendali, setidaknya atas satu hal: ikatan mereka.Pakaian mereka berjatuhan satu per satu, menjadi gumpalan tak berbentuk di lantai. Blouse Zira, kemeja Revan, lalu pakaian bagian bawah yang terasa terlalu menghalangi. Sensasi dingin sesaat dari udara kamar menyentuh kulit, dengan cepat digantikan oleh kehangatan kulit yang saling bersentuhan. Zira kini telanjang di atas Revan, membiarkan cahaya remang-remang menari di atas kulitnya.Tangan Revan bergerak cepat, penuh ketegasan namun lembut, menjelajahi punggung Zira, membelai garis pinggang hingga turun ke bokong. Ia meremasnya lembut, menarik Zira mendekat, membuat kulit mereka bergesekan, mengirimkan kejutan listrik ke selu
Udara di kamar itu terasa seperti kepompong, tebal dan sunyi, hanya diterangi oleh pantulan samar cahaya kota dari balik gorden yang tersibak sedikit. Di luar, malam telah menelan semua kegaduhan, semua beban pahit dari pertemuan yang mencekik di gerbang rumah sakit. Namun, di dalam, di tempat tidur Zira, satu jenis kegaduhan lain baru saja dimulai, sebuah badai yang lebih lembut namun sama menuntutnya. Deru napas Revan yang berat, kini menggantikan irama monoton monitor jantung Alesha dan Rayhan yang masih terngiang di benak Zira, menjadi satu-satunya realitas yang ingin ia percayai.Zira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Revan. Rasanya seperti tiba di sebuah garis pantai setelah berenang melintasi samudra badai. Rasa sakit dan frustrasi yang memuncak, yang terasa dingin dan tajam di gerbang rumah sakit, kini perlahan mencair, diserap oleh kehangatan kulit Revan.“Aku merasa seperti tidak bisa bernapas, Van,” bisik Zira, suaranya teredam, sebuah pengakuan jujur tentang bagaimana
Di dalam suite VVIP, Laura mendekat, berdiri di antara suaminya yang membara dan Rayhan yang baru saja mengorbankan karier. Ia harus memenangkan pertarungan taktis ini untuk melindungi cucunya."Arif, dengarkan aku," kata Laura, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang ia tahu akan dipahami suaminya. "Kita tidak bisa memindahkan Alesha sekarang. Dan kamu tidak bisa melarang Rayhan. Dia adalah ayah dari bayi itu. Kita harus menggunakan fakta bahwa Alesha ada di sini sebagai perlindungan. Jika kamu memindahkan Alesha secara paksa, Rayhan akan menuntut hak asuh atas anak itu dengan alasan kamu membahayakan bayi tersebut."Laura menggunakan logika hukum dan bisnis yang selalu menjadi bahasa Arif. "Kita harus berpura-pura tenang. Rayhan harus kita biarkan mengawasi Alesha, tetapi di ranah profesional. Kita harus pastikan media melihat kita 'bersatu' demi cucu, bukan berperang. Ini adalah pertahanan citra terbaik kita," desak Laura.Arif membenci Rayhan hingga ke tulang, tetapi ia t
Arif tiba di Rumah Sakit Medika Utama sepuluh menit setelah telepon ultimatum dari Rayhan, membawa serta aura CEO yang marah dan dua petugas keamanan pribadi. Ia langsung menuju Ruang Pemeriksaan C di Unit Gawat Darurat, tempat Alesha dirawat. Di depan pintu, ia menemukan Rayhan berdiri bersama Dr. Dian.Wajah Arif memerah karena amarah yang dingin, tetapi suaranya dikendalikan, tajam seperti pisau bedah. “Kamu melanggar perintahku, Rayhan. Kamu akan menyesal karena membawa putriku ke sini dan merusak semua yang sudah kuatur.”“Putrimu sedang pendarahan, Arif. Dan Livia sudah memotretnya. Permainan sembunyi-sembunyi sudah berakhir,” balas Rayhan, suaranya setara dinginnya dengan ancaman Arif. “Sekarang fokus, atau kamu akan kehilangan anakmu dan citra bisnismu secara total.”Arif mengabaikan Rayhan dan dokter Dian, langsung masuk ke ruangan. Pada saat yang sama, pintu UGD kembali dibuka, dan seorang wanita paruh baya yang elegan namun terlihat rapuh, Laura, ibu kandung Alesha, mas
Rayhan tiba di UGD Medika Utama, langsung menuju pintu masuk khusus dokter. Ia membawa Alesha keluar mobil, mengabaikan pandangan kaget dari perawat dan petugas keamanan yang melihatnya—seorang dokter terpandang—membawa seorang wanita muda ke UGD."Ini kondisi darurat! Ruang pemeriksaan C. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin saya!" perintah Rayhan dengan otoritas yang tersisa.Dokter Dian sudah menunggu. Mereka segera membawa Alesha ke ruang pemeriksaan terpisah."Pendarahan ringan, kram perut. Cek HCG dan USG segera, dokter!" perintah Rayhan.Rayhan, yang seharusnya menjadi dokter yang memimpin, kini hanya bisa berdiri di samping Alesha, memegang tangannya. Alesha meremas tangan Rayhan, ketakutan. "Aku takut, Om ... Ohhh ... tolong jangan biarkan aku kehilangan dia," bisik Alesha, air matanya membasahi pipi."Aku janji, Sayang. Aku janji," Rayhan mencium kening Alesha, keintiman mereka kini adalah ikatan bertahan hidup yang paling nyata.Tiba-tiba, pintu pemeriksaan terbuka.
Pagi itu, Zira berhasil menjalankan peran gandanya dengan sempurna. Ia bertemu Livia dan meyakinkannya bahwa ia setuju bersaksi melawan Rayhan, sebuah sandiwara yang ia mainkan untuk membeli waktu. Kemudian, ia menghubungi dokter Dian, memastikan dokter itu akan memberikan revisi skripsi Bab 3 yang berisi kode rahasia pertemuan kepada Alesha pada kunjungan medis harian. Roda strategi Rayhan dan Zira baru saja mulai berputar.Namun, nasib berkata lain.Pukul 11.00 siang. Rayhan sedang berada di unit ortopedi, menyelesaikan operasi ringan yang tersisa sebelum penangguhannya berlaku penuh, ketika ponselnya berdering dengan nomor dokter Dian. Rayhan, yang menjauh dari perawat, segera menjawab dengan nada hati-hati."Ada apa, dokter Dian?" bisik Rayhan.Suara dokter Dian terdengar panik dan terengah-engah. "Dokter Rayhan, saya baru saja mendapat telepon dari security apartemen Alesha. Alesha mengeluh sakit perut yang parah dan ada pendarahan ringan! Saya sedang dalam perjalanan ke san







