LOGINAzael terlihat terkejut dan merasa jika dirinya mungkin salah dengar, "Ya? Bisa kau ulangi?"
Clara tidak tahu lagi, mungkin sekretaris di depan mereka juga berpikir bahwa ia sudah gila karena memaksa seseorang untuk menikahinya secara spontan. Namun, harus bagaimana lagi? Ada banyak hal yang harus dirinya perbaiki, termasuk takdir hidupnya yang tidak adil. "Lunasi hutangmu dan nikahi aku! Aku tahu bahwa ini gila, tapi aku serius, El. Aku tidak punya cara untuk menghindari Erick, aku..." Melihat Clara yang terlihat belum stabil, Azael langsung paham karena sejak dulu ia sudah mengenal seperti apa Clara, meski mereka sudah lama tak bertemu. "Aku mengerti, Clara. Maksudmu seperti pernikahan bisnis, bukan?" tanyanya memastikan, nada suaranya masih lembut sama seperti sebelumnya. Clara mengangguk, matanya berair namun tak sampai menangis. Semua itu terjadi karena dadanya terasa begitu sesak, banyak emosi yang ingin ia tumpahkan, bahkan ia tidak bisa menatap Erick lebih lama sehingga memilih Azael untuk mengantarnya pulang. Baru ingin menjelaskannya, buliran air mata itu jatuh dan Clara akhirnya tidak bisa menahannya, bukan karena ia sedang memelas kepada Azael, namun ini murni air mata yang menjadi luapan emosinya. "Clara?" Azael berikan sapu tangan dari saku jas miliknya dan diterima dengan baik oleh wanita itu. Mungkin ada banyak hal yang ingin Clara ceritakan, namun momennya belum tepat sehingga wanita di sampingnya ini hanya bisa terisak pelan. Namun, Azael tidak berpikir banyak hal, ia menyadari bahwa Clara adalah tipikal wanita yang jarang menangis sejak dulu. Kemudian, pria itu menghela napas dan menjawab, "Aku tidak keberatan, Clara. Ayahku sudah tiada, aku mengurus perusahaan sebagai pewaris utama dan semuanya bisa terkontrol dengan baik sejauh ini. Kelak aku juga akan menikah, tidak masalah bagiku menikah jika orang itu adalah dirimu." Clara terkejut mendengarnya, "Apa?" Azael tersenyum lagi dan menarik napas dalam-dalam, "Aku bersedia melunasi utangku, Clara." Wanita itu malah terpaku sejenak, semuanya benar-benar kilat dan bahkan membuat dirinya menyadari bahwa terlalu banyak gebrakan yang hadir hari ini, padahal belum ada sejam semenjak dirinya bangun. Sebenarnya Azael bukan pria yang dengan mudahnya mengiyakan sebuah pernikahan karena sebelumnya sang ibu juga sempat menawarkan agar dirinya cepat menikah, sayangnya belum ada yang benar-benar cocok. Kini Clara mengajaknya menikah, meskipun orang yang tahu mungkin akan berkomentar jika wanita ini gila, namun Azael bisa paham karena ia harus menepati janjinya. "Kau langsung setuju?" Pria tersebut mengangguk, "Kenapa tidak? Kita saling mengenal." Benar juga. Keduanya tak perlu mencocokkan sifat, semua sudah diketahui, mungkin ke depannya hanya perlu menyesuaikan kebiasaan. "Bagaimana dengan ibumu?" "Aku adalah kepala keluarga semenjak ayahku pergi, semua keputusan ada di tanganku. Masalah ibuku, aku bisa membicarakannya setelah kita mendaftarkan pernikahan," jelas Azael tenang. Semuanya seperti mimpi, Azael datang sebagai malaikat penyelamat, entah apa jadinya jika tak ada pria ini. "Aku juga harus membicarakan semuanya pada kakekku," balas Clara akhirnya. Azael kembali mengangguk, walau terkesan terburu-buru dan membuat bingung, namun entah kenapa dirinya langsung bersedia. Semua ia lakukan karena sejak dulu ada perasaan kagum dan ketertarikan terhadap Clara, hanya saja waktu itu ia harus meninggalkan negara ini demi menata masa depannya. *** "Bagaimana bisa dia membatalkan pernikahan kalian? Semuanya tidak bisa dilakukan begitu saja!" Pulang ke rumah dengan tangan kosong, Erick mendengar ocehan kedua ayahnya yang menolak pembatalan pernikahan. Awalnya ia lega karena Clara tidak lagi memaksa, namun ada satu hal yang lebih penting, yakni bisnis antarkeluarga. Ia memang sudah ditugaskan sejak awal, tak mengira Clara memutuskannya. "Apa kalian memiliki masalah sebelumnya?" tanya sang ayah dengan wajah marah. Erick menghela napas dan membalas, "Hentikan, Yah. Aku juga tidak mencintainya, dia bukan wanita yang kuinginkan." Mendapatkan balasan seperti itu, sang ayah memandangnya dengan tatapan murka, "Siapa yang menyuruhmu mencintainya? Cukup menikah dan kuasai harta keluarganya! Dia juga tinggal sebatang kara dan kakeknya sebentar lagi pasti meninggal!" Tuntutan anak satu-satunya mungkin lebih tepat, Erick bahkan tahu bahwa keluarga menyukai dan mendukung Clara karena bisnis, bukan benar-benar menyukai kepribadian wanita tersebut. Kemudian, wajah ayahnya berubah menjadi lebih garang dengan menampilkan ekspresi yang jarang diperlihatkan, "Susul dia ke rumah! Paksa dia agar kalian bisa menikah!" Terus ditekan, Erick ingin berontak dengan ini semua, namun keadaannya terjepit sehingga tak memiliki kuasa untuk sekedar menolak. Membuang napas, tidak jadi memasuki kamarnya, Erick keluar rumah lagi dan memasuki mobilnya dengan perasaan kesal. "Kenapa dia tiba-tiba membatalkan hal ini?" Sejak dulu ia sangat paham dengan sikap Clara yang manja dan juga pemaksa, keinginan wanita itu harus selalu dipenuhi. Terlahir sebagai anak tunggal dan cucu satu-satunya membuat ia harus berusaha keras menunjukkan perasaannya penuh cinta agar Clara tetap percaya, kini alih-alih lega, dirinya kembali ditekan oleh orang tuanya. Tiba saat mendaftarkan pernikahan, wanita itu berubah drastis setelah bangun tidur. Tidak mungkin efek dari tamu bulanan karena biasanya Clara akan lebih manja jika sedang mendapatkan tanggal merah. Tancap gas menuju kediaman mantan kekasihnya, Erick sebenarnya telah menyetujui keputusan Clara, namun ia harus tetap datang sebagai formalitas daripada ayahnya terus marah. *** Sampai di rumah, Clara melangkah melihat rumah besar ini dan ia pun tersenyum ketika menyadari di masa ini kakeknya masih hidup. "Clara, sudah pulang?" Baru juga sampai, sebuah suara membuat dirinya tersenyum lebar dan matanya kembali berkaca-kaca melihat sosok kakeknya muncul di depan pintu. "Kakek!" Ia berlari dan memeluk kakeknya erat, merasakan kerinduan yang mendalam karena saat itu kakeknya pergi setelah pernikahannya berjalan setahunan. Kaget karena cucunya tiba-tiba memeluknya erat, Harris, pria tua itu mengerutkan keningnya, "Di mana Erick?" Clara memandang kakeknya yang belum tahu apa yang terjadi, namun ia segera mengatakannya karena tidak mau ada kesalahpahaman. "Kakek?" "Iya, Clara," pelukan itu terlepas dan Clara kemudian tersenyum, tak jadi menangis. "Kakek ingin melihatku menikah, bukan?" "Tentu saja. Itu janjiku pada orang tuamu sebelum pergi," balas Harris. Kemudian, Clara menarik napas dan kembali berucap, "Aku memutuskan hubungan dengan Erick karena dia berselingkuh..." Harris melebarkan matanya, "Apa?! Berani-beraninya dia menyakiti cucuku!" Melihat kakeknya marah, Clara terkekeh meski ada rasa pedih di dadanya, tekadnya juga semakin mantap untuk mengubah alur takdirnya, apalagi hal yang harus dirinya perhatikan nanti adalah kesehatan sang kakek juga. "Tapi, Kakek tenang saja. Aku sudah menemukan pengganti Erick, dia pria yang baik dan Kakek juga mengenalnya. Intinya, dia tidak akan berselingkuh!" jelas Clara lagi. "Siapa? Apa aku mengenalnya?" Clara mengangguk, "Iya. Kakek mengenalnya, dia akan datang kemari besok untuk mendaftarkan pernikahan kami." Bingung dengan cucunya, namun Harris tak mau banyak berkomentar karena dirinya juga membenci perselingkuhan. Mana mungkin ia memberikan cucunya ini pada pria yang gila terhadap para wanita. "Besok?" "Iya. Kuharap Kakek tidak kecewa dengan keputusanku," ucap Clara lagi. Harris hanya menghela napas dan berkata, "Asalkan kau bahagia dan pria itu tidak berselingkuh, pasti aku setuju!" ***Keesokan harinya setelah menunggu dari pagi, kini sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya yang luas dan membuat Clara yang telah berpakaian rapi lantas menuruni tangga dengan cepat.Melihat cucunya yang seperti itu, Harris lantas mengikutinya dan melihat siapa yang menjadi cucu menantunya nanti, berjaga-jaga juga kalau saja Erick yang datang karena kemarin pria tua itu sudah mengusirnya lebih dulu sebelum menjelaskan."Kakek, ini Azael. Apa Kakek masih ingat?" tanya Clara sesaat setelah membiarkan Azael masuk."Azael?""Temanku saat masih di bangku sekolah menengah atas!" ujar Clara menjelaskan.Berpikir sebentar, Harris lantas teringat dan melebarkan matanya, "Oh, Azael! Iya-iya aku ingat!""Apa kabar, Kek?" sapa pria itu sembari memberikan sebuah bingkisan.Diterimanya bingkisan tersebut dan Harris bertanya, "Lama tak melihatmu, Azael."Pria tinggi itu memberikan senyumannya dan bertanya, "Bagaimana kabar Kakek?""Aku sangat baik!" balas Harris.Clara mengangguk dan menjawab, "Kam
Azael terlihat terkejut dan merasa jika dirinya mungkin salah dengar, "Ya? Bisa kau ulangi?"Clara tidak tahu lagi, mungkin sekretaris di depan mereka juga berpikir bahwa ia sudah gila karena memaksa seseorang untuk menikahinya secara spontan.Namun, harus bagaimana lagi? Ada banyak hal yang harus dirinya perbaiki, termasuk takdir hidupnya yang tidak adil."Lunasi hutangmu dan nikahi aku! Aku tahu bahwa ini gila, tapi aku serius, El. Aku tidak punya cara untuk menghindari Erick, aku..."Melihat Clara yang terlihat belum stabil, Azael langsung paham karena sejak dulu ia sudah mengenal seperti apa Clara, meski mereka sudah lama tak bertemu."Aku mengerti, Clara. Maksudmu seperti pernikahan bisnis, bukan?" tanyanya memastikan, nada suaranya masih lembut sama seperti sebelumnya.Clara mengangguk, matanya berair namun tak sampai menangis. Semua itu terjadi karena dadanya terasa begitu sesak, banyak emosi yang ingin ia tumpahkan, bahkan ia tidak bisa menatap Erick lebih lama sehingga memili
Lama tidak bertemu, keduanya bertatapan beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara memecah momen itu. "Clara, apa kau gila? Hampir saja kau tertabrak!"Mendengar omelan dari Erick, Clara diam karena pikirannya sendiri masih kacau, namun di saat seperti ini dirinya malah menemukan ide.Azael melihat ke arah Erick dan dirinya menyadari bahwa mereka adalah sahabat saat masih berada di sekolah menengah atas, tak menyangka akan bertemu di kala genting seperti ini, entah apa masalahnya.Tak ada jawaban dari Clara, Erick memperbaiki ekskresinya karena inilah momen pertama kalinya ia bertemu dengan Azael lagi setelah sekian lama."Apa kabar, Azael?"Orang yang dimaksud langsung memberikan senyuman simpul dan keduanya berjabat tangan meskipun merasa asing karena sudah lama tak bersua."Aku baik. Bagaimana denganmu?""Seperti inilah," balas Erick seraya mengarahkan lagi pandangannya pada Clara yang masih bersembunyi di balik punggung Azael."Clara, sampai kapan kau bersembunyi di sana dan tida
Clara tidak percaya dengan ini, namun pakaiannya dengan yang terjadi di masa lalu sangatlah mirip. Namun, ia segera bersikap lebih tegas meskipun bingung, "Tanggal berapa sekarang?" "Ini tanggal 20 Februari tahun 20XX dan kau mengajakku mendaftarkan pernikahan," jelas Erick yang juga heran karena Clara terlihat kebingungan. Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan melihat area sekitarnya, tak lupa mencubit lengannya sendiri dan sedetik kemudian dirinya menyadari satu hal. Ini bukan mimpi, ia kembali ke masa lalu, masa di mana belum ada janji suci pernikahannya bersama Erick. Artinya, ia bisa mengubah keadaan dan tidak menikah dengan pria ini. Kemudian, Clara menutup mulutnya dan matanya mulai berair. Ia tidak akan mati sia-sia karena kebodohannya sendiri yang memaksakan diri membuat Erick menikahinya, apalagi pria ini juga terlihat tidak mencintainya. "Ayo!" Erick menggandeng wanitanya daripada membuang waktu, meskipun terpaksa dan dirinya akan terjerat seumur hidup. D
Entah sejak kapan wanita itu dibohongi, namun kali ini satu persatu hal yang tidak dirinya ketahui lantas membuatnya tersadar; bahwa hidupnya terajut dalam kebohongan. Navierra Clarabelle, wanita itu tidak pernah menyangka jika pada akhirnya cinta yang dirinya pupuk dengan mengorbankan seluruh hidupnya menjadi kehancuran besar. "Aku bisa jelaskan!" Itulah kalimat yang diucapkan suaminya tatkala dirinya membuka pintu kamar hotel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa sang suami berada di sini. Bibir wanita itu tersenyum miring menyadari ada banyak sekali hal yang tidak dirinya sadari, salah satunya adalah perselingkuhan yang entah sudah sejak kapan berlangsung. Matanya memerah marah dan memandang ke arah wanita yang menghabiskan waktu bersama suaminya itu, kecewa juga dengan kepercayaannya yang malah disalahgunakan. "Aku berusaha mempercayaimu sepenuhnya, tapi kenapa harus dia?" Erick Anderson tahu bahwa malam ini dirinya sudah terpergok, mau tak mau harus







