Share

8 – Di Bawah Langit Majapahti

Penulis: Dualismdiary
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-04 10:25:11

Alesha menarik napas panjang, tubuhnya masih terasa segar setelah mandi, meskipun ia sempat merasa aneh mandi tanpa sabun dan sampo. Air yang dingin, kain tipis yang menempel di kulit, dan tangan Arya Wuruk yang tadi dengan tenang membantu membilas rambutnya, semuanya masih menempel jelas dalam ingatan.

Syukurlah, pikirnya, ia ditemukan oleh lelaki ini—seorang raja dengan wibawa—dan bukan oleh bandit-bandit yang bisa saja menjarah atau melukainya.

Saat menengadah tanpa sengaja, matanya terpaku. Langit malam di atas Majapahit terbentang luas, gelap namun penuh cahaya. Bulan menggantung bulat sempurna, memantulkan sinar keperakan yang jatuh lembut di wajah dan rambutnya. Bintang-bintang bertaburan seakan dilemparkan begitu saja di kanvas hitam pekat, berkelip seperti permata yang tak terhitung jumlahnya.

“Gila… langit malamnya udah kaya lukisan…” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Ia tidak sadar, di sampingnya, Arya Wuruk sedang menatap wajahnya. Raja itu tidak mengerti arti kata-kata asing yang keluar dari bibir Alesha, tapi ia mengerti makna tatapan mata itu—mata seorang gadis yang kagum, yang untuk sesaat lupa rasa takutnya. Senyum tipis terbit di wajah Arya tanpa ia sadari, senyum yang lahir hanya karena melihat gadis asing itu tersenyum.

Namun keindahan itu tak berlangsung lama. Pikiran logis Alesha tiba-tiba menampar dirinya sendiri. Astaga, habis mandi… aku pakai apa?

Ia menunduk panik, menyadari baju yang tadi ia kenakan sudah kotor dan penuh noda. Dengan kikuk ia mulai menggunakan bahasa tubuh—menarik-narik kain basah di tubuhnya lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri.

“Clothes… baju… ganti…?” katanya terbata, berharap raja itu paham.

Arya hanya menatap sejenak, lalu berjalan ke dalam, mengambil selembar kain panjang berwarna merah marun yang dilipat rapi. Ia memberikannya begitu saja, seakan itu hal paling wajar. Di abad ke-14 ini, pakaian memang bukan jahitan modern, melainkan lembaran kain besar yang dililit, disampirkan, atau diikat sesuai kebutuhan.

Alesha menerima kain itu, wajahnya langsung merona. Ya ampun… bra dan dalaman juga nggak ada! Masa aku cuma pakai ini doang?

Otaknya berputar cepat, naluri seorang auditor yang biasa mencari solusi praktis kini dipakai untuk hal yang sama sekali berbeda. Ia meraih ujung kain, lalu menoleh ke sekeliling. Matanya terpaku pada sebuah belati berukir yang terselip di pinggang Arya.

“Ehmm… ini, aku… pinjam ya,” katanya, sembari menunjuk pisau itu dengan gerakan tangan memotong.

Arya mengernyit sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia belum tahu apa yang ingin dilakukan gadis ini, tapi kepercayaan aneh mulai tumbuh dalam dirinya.

Dengan hati-hati Alesha mengambil belati itu, lalu mulai menggunting kain—lebih tepatnya merobek dengan bantuan pisau. Hatinya deg-degan, tangan agak gemetar, tapi wajahnya serius. Ia berhasil membuat potongan kecil yang kemudian dibentuk menjadi semacam celana dalam sederhana dengan tali di samping. G-string darurat, buatan abad 14 versi modern.

Saat ia hendak mengenakannya, Alesha buru-buru mendorong tubuh Arya agar membalikkan badan. “Hey, jangan lihat… sana, hadap belakang,” katanya sambil mendorong punggungnya.

Arya sempat kaku sejenak, lalu menuruti. Bahunya terguncang ringan, menahan tawa kecil yang tak pernah ia tunjukkan di depan siapa pun. Tingkah gadis ini benar-benar asing sekaligus menghibur.

Begitu ia selesai, Alesha menyelubungkan kain panjang sisanya, melilitkannya di tubuh hingga menyerupai gaun sederhana—model backless, menampakkan punggung mulusnya. Meski hasil kreasinya sedikit aneh untuk ukuran Majapahit, tetap saja gaun itu jatuh indah di tubuhnya.

“Aku… selesai,” katanya, sedikit malu.

Arya berbalik. Matanya sempat terhenti, menilai. Ia tahu ini bukan cara biasa orang Majapahit berpakaian, tapi hasilnya justru membuat kecantikan gadis itu semakin menonjol. Ada keanggunan asing yang tak bisa ia jelaskan, seperti bunga yang tidak pernah tumbuh di tanah Jawa.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti mereka. Alesha menunduk, merasa canggung dengan cara raja itu menatapnya. Arya, di sisi lain, menyembunyikan debar yang jarang ia rasakan.

Tanpa sepatah kata pun, ia lalu mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Alesha mengikutinya. Gadis itu ragu sejenak, lalu meraih tangan itu. Hangat, kokoh, penuh wibawa.

Mereka berjalan kembali ke ruang rahasia di bangsal raja, meninggalkan paviliun kecil itu. Suara malam mengiringi langkah mereka, angin berhembus lembut, dan bintang-bintang seakan menjadi saksi pertemuan dua jiwa dari dua dunia yang tak pernah seharusnya bersatu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   155 — Strategi di Balik Kehilangan

    Beberapa hari setelah peristiwa tragis di desa seniman, ketenangan palsu menyelimuti Istana Wilwatikta. Rahasia kematian Kebo Iwa terkunci rapat di antara segelintir orang—Arya, Alesha, Rendra, dan Samudra. Warga desa telah dibungkam dengan janji bantuan dan perintah keras dari Istana.Arya Wuruk dan Alesha (Gaja Mada) segera mengadakan pertemuan strategis tertutup dengan orang ketiga yang paling penting dalam rencana ekspedisi: Laksamana Nala.Mereka bertemu di sebuah ruang rapat kecil yang dindingnya diukir dengan peta Nusantara. Suasana tegang, bercampur dengan bau kertas lontar dan dupa yang menenangkan.Arya Wuruk membuka diskusi dengan wajah datar, menyampaikan informasi yang telah disepakati untuk dirilis secara internal."Laksamana Nala," ujar Arya, suaranya serius. "Aku harus menyampaikan kabar penting. Panglima Perang Bali, Kebo Iwa, telah meninggal dunia."Laksamana Nala, yang selama ini sibuk mengurus persiapan Jung Jawa dan armada, seketika terkejut. Ia menegakkan tubuhny

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   154 — Air Mata Mahapatih dan Strategi Bisu

    Alesha bersimpuh di tanah yang basah dan berlumur debu kapur. Ia meratapi kengerian yang baru saja terjadi. Di dunia modernnya, Kebo Iwa akan dengan mudah diselamatkan oleh tim SAR dengan peralatan hidrolik, crane, dan tabung oksigen. Tetapi di abad ke-14 ini, dengan kondisi Kebo Iwa yang besar dan lubang sumur yang telah longsor, ia terkubur secara efektif."Kebo Iwa..." bisik Alesha, air matanya mengalir deras, membasuh bekas luka palsu di pipinya hingga riasan itu mulai luntur. Ia memukul tanah di sampingnya dengan frustrasi.Arya Wuruk tetap duduk di tanah, memeluk Alesha erat. Raja yang biasanya tegar itu merasakan rasa sakit dan kepanikan yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Alesha, Mahapatih Gaja Mada yang selalu kuat, strategis, dan penuh percaya diri, menangis tak berdaya. Air mata Alesha terasa seperti air matanya sendiri."Padahal, ia hanya ingin membantu warga Majapahit..." isak Alesha di antara tangisnya, rasa bersalah membebani jiwanya. "Ia datang untuk

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   153 — Jebakan Alami

    Teriakan sorak sorai warga desa yang merayakan munculnya air di sumur Majapahit berubah menjadi kepanikan.Di dasar lubang, Kebo Iwa terhuyung. Tubuhnya yang bagaikan baja kini terasa seperti lumpur. Ia merasakan sensasi terbakar di kulitnya, tenggorokannya menyempit, dan pandangannya mulai kabur. Debu kapur yang terhirup dan menempel di keringatnya telah memicu reaksi alergi yang ekstrem, melumpuhkan seluruh kekuatannya."Le-Lestari..." Kebo Iwa merangkak, mencoba meraih tepi lubang, tetapi tangannya yang lemah hanya mencengkeram lumpur bercampur kapur. Ia ambruk, pandangannya menggelap.Di tengah kekacauan sorakan, Arya Wuruk tiba. Raja itu, yang tidak tahan menunggu dan khawatir dengan keselamatan Alesha, telah menyelinap keluar Istana, menyamar dalam pakaian rakyat jelata. Ia melihat kerumunan besar di desa seniman dan mendengar teriakan.Alesha, yang panik, sama sekali tidak menyadari kedatangan Arya. Ia hanya fokus pada Kebo Iwa. Mata Alesha melebar, melihat kondisi Kebo Iwa yan

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   152 — Kelumpuhan Tak Terduga

    Samudra membuka mulutnya, hendak memanggil nama Alesha atau setidaknya memberi salam, tetapi Alesha melihatnya lebih dulu.Alesha, yang menyadari bahaya besar jika Samudra bicara, dengan cepat dan hampir tak terlihat memberi isyarat menggelengkan kepala yang tegas pada Samudra. Mata Alesha penuh peringatan, meminta Samudra untuk diam.Samudra, yang cukup pintar itu, langsung mengerti: 'Ini adalah sandiwara. Bahaya. Jangan bicara.' Samudra segera menutup mulutnya dan berbalik, pura-pura kembali fokus pada cangkulnya.Kebo Iwa yang mendengar suara-suara itu penasaran, ia berjalan mendekati kelompok itu."Apa yang sedang kalian lakukan, Saudara?" tanya Kebo Iwa kepada salah satu pemuda.Pemuda itu, yang terintimidasi oleh postur Kebo Iwa, menjawab dengan hormat. "Kami sedang mencoba menggali sumur baru, Tuan. Tapi tanahnya terlalu keras, dan kami sudah menggali lama sekali. Kami butuh waktu lama untuk mencapai air."Kebo Iwa tersenyum kecil. Ia melihat kesulitan mereka."Sulit, ya?"Tanp

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   151 — Basa-Basi yang Menegangkan

    .Kebo Iwa berdiri mematung di ambang pintu rumah Rendra. Di hadapannya, Lestari—wanita yang membuatnya rela mempertaruhkan nyawa—berdiri dengan tenang. Wajahnya dihiasi bekas luka palsu yang ia ketahui, namun matanya memancarkan kehangatan dan kecerdasan yang memikatnya."Lestari..." Kebo Iwa mengucapkan nama itu dengan suara berat yang penuh makna, mengabaikan kehadiran Rendra.Lestari tersenyum. "Selamat datang di Trowulan, Tuan Patih Kebo Iwa. Saya tidak menyangka Anda akan benar-benar datang."Rendra segera menyela, bertindak sebagai kakak yang protektif dan prajurit yang waspada. "Hamba sudah mengatur agar Tuan Patih bisa bertemu Lestari. Sebaiknya kita tidak berlama-lama di dalam komplek prajurit ini. Kita bisa berjalan-jalan sebentar di jalan setapak luar, sebelum gelap."Kebo Iwa setuju. Mereka pun mulai berjalan: Lestari dan Kebo Iwa berjalan berdampingan, sementara Rendra mengikuti sekitar lima langkah di belakang, matanya waspada mengawasi setiap bayangan.Alesha, sebagai

  • MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti   150 — Sandiwara Baru

    Pagi itu, Rendra melaksanakan perintah Alesha. Ia segera mendatangi kompleks tamu Istana dan menemukan Kebo Iwa sedang duduk di bangku taman sambil mengamati prajurit yang berlatih."Tuan Patih," sapa Rendra, kini berusaha tampil tenang dan resmi.Kebo Iwa bangkit, matanya tajam dan penuh harap. "Kau datang. Bagaimana? Bisakah aku bertemu Lestari sekarang?""Mohon maaf, Tuan Patih. Lestari tidak ada di Istana sekarang," jawab Rendra, berusaha mempertahankan kebohongan yang masuk akal. "Lestari baru pulang dari rumah nenek kami di pinggiran Trowulan. Dia baru akan kembali ke rumah kami sore hari nanti."Rendra melanjutkan narasinya. "Hamba baru bisa membawa Tuan Patih ke rumah hamba sore nanti, setelah hamba menyelesaikan tugas dan Lestari tiba di rumah. Di sanalah Tuan Patih bisa menemuinya."Kebo Iwa tampak kecewa, tetapi menerima alasan itu. Ini lebih baik daripada tidak ada kepastian sama sekali."Baiklah. Aku akan menunggu," kata Kebo Iwa, menyeringai. "Jangan sampai kau berbohong

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status