Se connecter“Ayo jawab!” hardik Dadang.
Herman yang terkejut, buru-buru menyikut lengan Bowo, menyuruh pria itu segera menjawab pertanyaan Dadang.
“Saya ... bersalah. Sudah menghamili Entin.” Air mata Bowo menggenang, lalu perlahan menetes turun.
Terlebih lagi, suara senandung itu terasa begitu dekat. Seperti bukan berasal dari luar rumah.Melainkan ... dari dalam.Jantung Fanny berdebar kencang. Ia mencoba mencari alasan paling rasional yang bisa diterima logikanya. Namun, semua pikiran positifnya patah begitu saja. Jika itu adalah orang asing yang menyusup, rasanya mustahil, karena posisi sofa ruang TV berada tepat di tengah rumah. Dari tempat duduknya, Fanny bisa mengawasi setiap sudut ruangan rumah itu dengan jelas.Suara itu terdengar lagi. Kali ini, nadanya terdengar jauh lebih sedih dan menyayat hati. Fanny memberanikan diri menoleh, mempertajam pendengarannya untuk mencari sumber suara.Seketika dada Fanny berdesir hebat saat menyadari senandung pilu itu berasal dari dalam kamar Rizky.Jantung Fanny terasa berdegup makin kencang. Ingin rasanya ia berlari ke kamar utama dan membangunkan Rian, tetapi ia merasa tidak tega mengganggu suaminya yang pasti sudah kelelaha
Fanny baru saja memejamkan mata, ketika tiba-tiba ia merasakan gelombang kesedihan dan ketakutan yang luar biasa menyelimuti pikirannya. Entah bagaimana mulanya, ia tiba-tiba mendapati dirinya tengah meringkuk di sudut ruangan, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Rambut panjang sepinggangnya terurai berantakan, menutupi sebagian tubuhnya yang gemetar. Ada rasa sakit yang berkedut hebat di pelipis serta belakang kepalanya, membuat pandangannya kabur dan ia hanya bisa merintih menahan nyeri yang menyiksa."Sia ulah loba tingkah!Nurutwaekaaing!" Sebuah suara laki-laki yang berat, tertahan, tetapi sarat akan ancaman yang sepertinya tak main-main, mendadak menggema di dalam kepalanya.Seketika itu pula, Fanny merasakan rasa takut yang luar biasa kembali
Tak berselang lama, kasurnya terasa melesak karena sebuah tekanan, entah apa, yang memberati salah satu sisi ranjangnya. Seperti ada seseorang yang sedang menduduki ranjang itu. Euis makin gemetar ketakutan di balik selimut.Tiba-tiba.“Teh ....” Terdengar suara lirih seorang perempuan yang memanggilnya. Suaranya terdengar begitu lirih dan menyedihkan. Sama persis dengan suara yang memanggilnya di rumah Minah tadi siang. Menyadari itu, tiba-tiba Euis merasa ketakutan. Ia memejamkan matanya lebih erat dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak mau mendengar atau melihat apa pun di dalam ruangan kamarnya.
Beberapa hari kemudian, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan pekarangan rumah Minah. Abas bersama seorang pria asing keluar dari kursi sopir. Mereka langsung memasuki rumah dan mulai sibuk menaikkan barang-barang serta perabotan rumah tangga dari dalam rumah ke atas bak mobil tersebut.Melihat kesibukan yang mendadak itu, beberapa warga yang kebetulan melintas, lantas mendekat penuh rasa ingin tahu."Kang Abas mau pindahan?" tanya Euis, berjalan mendekat."Iya, Teh," jawab Abas pendek. Sikapnya tetap dingin, menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak ingin diganggu atau dibantu."Pindahan sendirianaja?EmangTehMinah&
“Jadi sehari-hari dia cuma di rumah? Katanya disuruhjagainFajri?” tanya tetangga yang lain.“Jagaindari mana? Orang kalau dia bosan, Fajri ditinggal begituajabuat keliling-keliling kampung enggak jelas. Mana kurang bergaul juga sama warga sini. PasMinahkerja, ya kita enggak tahu Fajridiapain, sampai tahu-tahu memar begitu,” bisik Juju lagi.Obrolan mereka terhenti sejenak. Ibu-ibu itu kompak menoleh ke belakang, menatap pintu rumah kayu milik Haji Sobri yang kini tertutup rapat. Ada rasa geram dan cemas yang tertahan membayangi nasib Fajri di dalam sana, tapi reputasi Abas yang temperamen, membuat warga enggan untuk menegur langsung.
Sore yang cerah di Desa Cialas. Suasana tenang desa mendadak dikejutkan oleh suara teriakan panik dan tangisan seorang perempuan dari salah satu sudut desa. Para tetangga yang mendengar langsung berhamburan keluar mencari sumber suara dan mereka mendapati Minah, salah satu warga, sedang memeluk Fajri, anak laki-lakinya, yang tergolek lemah di atas kasur. Tubuh bocah berusia tujuh tahun itu tampak memar di beberapa bagian, dan ada setetes darah mengalir dari lubang hidungnya. “Minah, Fajri kunaon?” tanya Euis, salah seorang tetangga, sambil berjalan cepat mendekati ibu dan anak itu. “Teu ngarti, Teh. Fajri tahu-tahu kayak gini waktu saya pulang tadi.” Minah menepuk-nepuk pipi sang putra, berusaha keras membangunkannya. Di tengah kepanikan, Abas, suami Minah, muncul dari balik pintu dapur. Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah pelan menuju kamar yang kini sudah sesak oleh para tetangga. Ia menengok ke dalam. “Itu tadi si Fajri katanya jatuh waktu main di belakang. Terus dia
Desa Cialas. Sepeninggal Bowo dan Herman menuju ke makam Entin, Dadang langsung berembuk dengan Sanah dan Euis mengenai Entin yang dikabarkan bergentayangan menghantui penduduk. “Bagaimana kalau kita tanyakan pada Aki Uwin? Minta dicarikan jalan keluar buat masalah ini?” Dadang memberi ide. Aki
“Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y
Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya







