แชร์

NASIB BUNGA (Bag. 9)

ผู้เขียน: Diah Pitasari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-25 11:00:18

“Ayo jawab!” hardik Dadang. 

Herman yang terkejut, buru-buru menyikut lengan Bowo, menyuruh pria itu segera menjawab pertanyaan Dadang.

“Saya ... bersalah. Sudah menghamili Entin.” Air mata Bowo menggenang, lalu perlahan menetes turun.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 5)

    Fanny baru saja memejamkan mata, ketika tiba-tiba ia merasakan gelombang kesedihan dan ketakutan yang luar biasa menyelimuti pikirannya. Entah bagaimana mulanya, ia tiba-tiba mendapati dirinya tengah meringkuk di sudut ruangan, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Rambut panjang sepinggangnya terurai berantakan, menutupi sebagian tubuhnya yang gemetar. Ada rasa sakit yang berkedut hebat di pelipis serta belakang kepalanya, membuat pandangannya kabur dan ia hanya bisa merintih menahan nyeri yang menyiksa."Sia ulah loba tingkah!Nurutwaekaaing!" Sebuah suara laki-laki yang berat, tertahan, tetapi sarat akan ancaman yang sepertinya tak main-main, mendadak menggema di dalam kepalanya.Seketika itu pula, Fanny merasakan rasa takut yang luar biasa kembali

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 4)

    Tak berselang lama, kasurnya terasa melesak karena sebuah tekanan, entah apa, yang memberati salah satu sisi ranjangnya. Seperti ada seseorang yang sedang menduduki ranjang itu. Euis makin gemetar ketakutan di balik selimut.Tiba-tiba.“Teh ....” Terdengar suara lirih seorang perempuan yang memanggilnya. Suaranya terdengar begitu lirih dan menyedihkan. Sama persis dengan suara yang memanggilnya di rumah Minah tadi siang. Menyadari itu, tiba-tiba Euis merasa ketakutan. Ia memejamkan matanya lebih erat dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak mau mendengar atau melihat apa pun di dalam ruangan kamarnya.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 3)

    Beberapa hari kemudian, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan pekarangan rumah Minah. Abas bersama seorang pria asing keluar dari kursi sopir. Mereka langsung memasuki rumah dan mulai sibuk menaikkan barang-barang serta perabotan rumah tangga dari dalam rumah ke atas bak mobil tersebut.Melihat kesibukan yang mendadak itu, beberapa warga yang kebetulan melintas, lantas mendekat penuh rasa ingin tahu."Kang Abas mau pindahan?" tanya Euis, berjalan mendekat."Iya, Teh," jawab Abas pendek. Sikapnya tetap dingin, menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak ingin diganggu atau dibantu."Pindahan sendirianaja?EmangTehMinah&

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 2)

    “Jadi sehari-hari dia cuma di rumah? Katanya disuruhjagainFajri?” tanya tetangga yang lain.“Jagaindari mana? Orang kalau dia bosan, Fajri ditinggal begituajabuat keliling-keliling kampung enggak jelas. Mana kurang bergaul juga sama warga sini. PasMinahkerja, ya kita enggak tahu Fajridiapain, sampai tahu-tahu memar begitu,” bisik Juju lagi.Obrolan mereka terhenti sejenak. Ibu-ibu itu kompak menoleh ke belakang, menatap pintu rumah kayu milik Haji Sobri yang kini tertutup rapat. Ada rasa geram dan cemas yang tertahan membayangi nasib Fajri di dalam sana, tapi reputasi Abas yang temperamen, membuat warga enggan untuk menegur langsung.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 1)

    Sore yang cerah di Desa Cialas. Suasana tenang desa mendadak dikejutkan oleh suara teriakan panik dan tangisan seorang perempuan dari salah satu sudut desa. Para tetangga yang mendengar langsung berhamburan keluar mencari sumber suara dan mereka mendapati Minah, salah satu warga, sedang memeluk Fajri, anak laki-lakinya, yang tergolek lemah di atas kasur. Tubuh bocah berusia tujuh tahun itu tampak memar di beberapa bagian, dan ada setetes darah mengalir dari lubang hidungnya. “Minah, Fajri kunaon?” tanya Euis, salah seorang tetangga, sambil berjalan cepat mendekati ibu dan anak itu. “Teu ngarti, Teh. Fajri tahu-tahu kayak gini waktu saya pulang tadi.” Minah menepuk-nepuk pipi sang putra, berusaha keras membangunkannya. Di tengah kepanikan, Abas, suami Minah, muncul dari balik pintu dapur. Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah pelan menuju kamar yang kini sudah sesak oleh para tetangga. Ia menengok ke dalam. “Itu tadi si Fajri katanya jatuh waktu main di belakang. Terus dia

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 12)

    "Kena banyak ujian katanya, Ceu," bisik Cunah lagi. "Suaminya Teh Tinah, Kang Saka itu... kata Teh Tinah, dia kecelakaan kerja sampai kakinya pincang dan sakit-sakitan. Dia sudah enggak bisa kerja lagi. Uang tabungan habis semua buat berobat, utang di mana-mana menumpuk. Yang paling kasihan mah anak-anaknya, Ceu... pada putus sekolah karena enggak ada biaya, dan sekarang jadi anak nakal dan liar di lingkungan sana. Si Tinah rungsing tiap hari karena dikejar-kejar tukang tagih utang.""Ya Allah..." Lela menutup mulutnya dengan telapak tangan, syok. "Habis tak berbekas? Padahal dulu waktu jual rumah dan tanah di sini, duitnya kan ratusan juta, ya?"Nunung tidak menyahut. Tatapannya beralih memandangi sebidang tanah milik almarhumah Mak Popon yang terlihat jelas dari teras rumahnya. Sekar

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status