Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / TEROR SETAN GANCET (Bab 17)

Share

TEROR SETAN GANCET (Bab 17)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-06-18 11:00:16

Mendengar penjelasan itu, ketegangan di wajah Mak Acih mencair. "Oh, iya, maaf ya, Jang. Emak sudah salah paham."

"Enggak apa-apa, Mak. Ayo, kita bersiap dulu?"

Mak Acih mengangguk. Rudi kemudian menyerahkan seperangkat Alat Pelindung Diri lengkap kepada Mak Acih, yaitu baju pelindung hazm

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    WARISAN HAJAH HALIMAH (Bab. 3)

    "Urang sedih, Cih. Anak-anak dan menantu saya malah berselisih masalah harta warisan," ucap Halimah dengan suara datar yang menggema pasrah. Mak Acih terdiam, mendengarkan dengan penuh empati, memahami kesedihan luar biasa yang dirasakan Halimah. "Saya dulu kerja keras banting tulang setelah suami meninggal demi bisa memberi kekayaan untuk kesejahteraan anak-anak saya. Tapi, kekayaan ini malah bikin mereka jadi enggak akur," lanjut sosok itu, tatapannya kini kembali nanar menatap tubuhnya yang terbungkus kafan. "Jenazah saya malah sempat enggak keurus, sementara mereka sibuk ngumpulin surat-surat berharga."Mak Acih menatap sosok itu dengan pandangan teduh. "Relakan saja, Halimah. Kamu tenang saja, jangan pikirkan hal-hal kayak gitu. Serahkan sama Gusti Allah. Semoga anak menantu kamu cepat paham, kalau perselisihan soal harta warisan ini tidak boleh berlarut-larut." Sosok Halimah menatap Mak Acih sejenak, seakan menyerap kalimat penyejuk tersebut. Tak lama, wujud perempuan itu mem

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    WARISAN HAJAH HALIMAH (Bab 2)

    Di ruang tengah, tikar pandan dan lima helai tali pengikat sudah digelar. Neneng sedang menaburkan bubuk kapur barus di atas tiga lapis kain kafan. Saat kerabat laki-laki membawa jenazah Halimah masuk dan meletakkannya di atas kain kafan, keanehan kembali terjadi. Ketika Mak Acih dan Neneng hendak menggeser sedikit tubuh jenazah agar pas dengan posisi tali, tubuh itu mendadak menancap bak direkatkan ke lantai. Sangat berat. Neneng sampai mengernyitkan dahi menahan napas. Mak Acih menatap wajah jenazah itu lekat-lekat. Ia menempelkan telapak tangannya di dada jenazah, lalu membungkuk sedikit. 'Ceu, jangan begini. Jangan bikin malu jasadmu sendiri,' bisik Mak Acih dalam hati, matanya terpejam merapalkan Al-Fatihah. 'Ikhlaskan saja, Ceu. Semua yang ditinggalkan sudah bukan urusan Ceu Halimah lagi. Relakan semua yang jadi ganjalan di hati...' Setelah doa itu dipanjatkan, perlahan Mak Acih menarik napas dan mencoba menggeser tubuh itu lagi. Ajaib. Tubuh Halimah kini terasa jauh lebih r

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    WARISAN HAJAH HALIMAH (Bab 1)

    Siang hari di Desa Cialas selalu terasa sejuk, meski matahari sedang bersinar terik.Mak Acih sedang duduk-duduk di balai bambu, menikmati teh hangat dan rebusan singkong bersama Aki Amin, ketika terdengar pengumuman dari sepiker masjid desa. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... Telah berpulang ke Rahmatullah, Ibu Hajah Halimah, dalam usia enam puluh tahun ..." Mak Acih dan Aki Amin serempak menghentikan kunyahan mereka dan berbarengan mengucap kalimat Istirja’. “Innalilahi wa Innailaihi Raji’un ...” “Kasihan Ceu Halimah. Berbulan-bulan sakit, kirain bakal sembuh,” kata Mak Acih seraya menghela nafas panjang. “Namanya juga umur, Mak.” Aki Amin meminum teh manisnya. “Hayu kita berangkat ke rumah Almarhumah.” Pria sepuh itu bangkit dari duduknya. Mak Acih mengangguk. Ia berjalan menuju lemari, mengambil tas anyaman tempat penyimpanan perlengkapan memandikan jenazahnya.“Emak mau mampir ke rumah Neneng dulu, Bah. Mau ngajak barengan,” ujar Mak Acih sambil merapikan kerudungn

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab 6)

    Malam harinya di rumah MakAcihyang sepi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar jendela dan detak jam dinding yang seolah berbunyi lebih nyaring dari biasanya.MakAcihduduk bersandar di bangku ruang tamu, wajahnya masih terlihat kebingungan. Aki Amin duduk di sampingnya, mengusap bahu istrinya dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab. 5)

    Tak lama berselang, motor itu berhenti tepat di depan pekarangan rumah Mak Acih. Mak Acih turun, merapikan isi di dalam tasnya, dan menatap Santang. "Nuhun nya, Jang, tos diantar jemput." Santang mengangguk, sedikit menundukkan kepalanya. "Sami-sami, Mak. Saya yang terima kasih banyak Emak sudah mau bantu. Saya pamit dulu." Tanpa menunggu balasan Mak Acih, Santang memutar gas. Anehnya, baru beberapa meter melaju melewati pagar halaman, suara mesinnya hilang seketika. Wujud motor dan tubuh Santang seakan memudar tersapu angin sore, lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak ban di jalanan tanah. Mak Acih mengerjap-ngerjapkan mata, masih mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Namun, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu. Baru saja ia hendak memutar tubuh menuju pintu, telinganya menangkap suara dengung keramaian dari arah ruang tamu rumahnya. Banyak pasang sandal dan sepatu berserakan di teras. Pintu depan terbuka lebar. Dengan kening berkerut, Mak Acih melangkah masuk

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab 4)

    Di sekeliling jenazah yang sudah terkafani itu, belasan orang masih duduk bersimpuh membentuk barisan melingkar. Mulut mereka terus berkomat-kamit melantunkan ayat-ayat suci, menghasilkan suara dengungan datar yang menggema memantul di dinding-dinding kayu.Mak Acih duduk tepat di sebelah seorang perempuan berkerudung hitam yang sedari tadi menunduk. Sebagai orang desa yang terbiasa berkumpul dengan sesama warga, pantang bagi Mak Acih untuk sekadar diam tanpa bertegur sapa dengan pelayat lain.Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah perempuan itu, lalu menyunggingkan senyum ramah."Permisi, Teteh ... Teteh ini kerabatnya almarhumah?" sapa Mak Acih setengah berbisik, berusaha tidak mengganggu lantunan doa.Perempuan di sebelahnya sama sekali tidak menoleh. Matanya tetap menatap lurus ke arah lantai, sementara bibirnya terus bergerak dengan ritme yang cepat dan kaku.Mak Acih sedikit kebingungan. Ia mengira suaranya mungkin terlalu pelan. Ia pun beralih menatap seorang pria paruh baya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status