LOGINAki Uwin mulai berkomat-kamit. Mulutnya merapalkan jampi-jampi kuno Ilmu Buhun dengan suara yang sangat lirih, hampir berupa bisikan yang menyatu dengan desau angin gunung. Tangannya bergerak pelan, mengayunkan asap kemenyan ke arah empat penjuru mata angin, sebelum akhirnya dipusatkan ke arah Cecep.
"Meredek ... meredek ... bilih aya anu kagungan wilayah, bilih aya a
Langkah Neneng, Danu, dan Kang Hadi bergegas membelah jalanan desa yang masih diguyur gerimis sisa badai. Sesampainya di rumah duka, suasana sudah dipadati oleh para pelayat. Tenda terpal biru telah dipasang seadanya di halaman depan untuk memayungi tamu yang berdatangan.Neneng dan Danu melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Suara isak tangis langsung menyambut pendengaran mereka. Di dekat jenazah yang sudah ditutupi kain batik panjang, ibu kandung Salmah yang sudah sepuh tampak duduk bersimpuh, meratap pilu meratapi nasib putrinya. Di sebelahnya, adik perempuan Salmah berusaha menenangkan, sementara dua anak remaja perempuan Salmah menangis tersedu-sedu sambil memeluk bantal sang ibu.
Azan Asar baru saja berkumandang di Masjid Desa Cialas, seiring kabut tebal yang perlahan turun. Hujan deras yang mengguyur desa sejak tadi siang, telah mengubah jalanan tanah menjadi kubangan lumpur di mana-mana. Salmah, perempuan paruh baya berusia empat puluh tahun, berjalan sendirian menyusuri jalanan desa dengan langkah terburu-buru. Ia baru saja pulang dari berjualan makanan ringan buatan sendiri di pasar kota. Biasanya, ia akan menaiki ojek motor atau becak dari jalan raya untuk sampai ke rumahnya. Namun sore itu, entah kenapa, tidak ada satu pun tukang ojek maupun tukang becak yang mangkal di ujung jalan desa. Maka, ia pun terpaksa berjalan kaki menembus hujan deras. Langkahnya telah sampai di dekat saluran irigasi desa, ketika tiba-tiba angin kencang menerpa, membuat payung yang sedang dipakainya terlepas dari genggaman dan kabur tertiup angin. Salmah refleks mencondongkan tubuh untuk menangkap payung itu. Namun nahas, tanpa ia duga, kakinya terpeleset bebatuan tepi irigasi
Mak Acih tertegun tak percaya. Hajah Halimah dulunya adalah juragan tambak ikan nomor tiga terbesar setelah Haji Sobri dan Haji Sani—bapak dan anak yang merupakan orang terkaya di Desa Cialas. Tambak ini tak pernah gagal panen."Kok bisa, Rusma? Perasaan barukemarinEmak beli sekilo ikan patin yang segar-segar di sini." Mak Acih menatap kolam-kolam tambak yang kini tampak keruh, kotor, dan sunyi tanpa riak kehidupan.
Mak Acih mengusap punggung Midah dengan lembut. "Ikhlaskan saja, Midah. Emak ngerti ini berat dan enggak adil buat kamu. Tapi kalau kamu mendendam, kasihan almarhumah ibu kamu di alam sana. Biar ibu kamu tenang, enggak berat meninggalkan dunia, serahkan semuanya sama Gusti Alloh."Midah mengangguk pelan, berusaha mencerna nasihat perempuan sepuh pemandi jenazah itu."Harta hasil merampas hak saudara itu enggak akan pernah bawa berkah, Midah. Percaya sama Emak, kalau memang masih rezeki kamu, pasti akan bali
"Urang sedih, Cih. Anak-anak dan menantu saya malah berselisih masalah harta warisan," ucap Halimah dengan suara datar yang menggema pasrah. Mak Acih terdiam, mendengarkan dengan penuh empati, memahami kesedihan luar biasa yang dirasakan Halimah. "Saya dulu kerja keras banting tulang setelah suami meninggal demi bisa memberi kekayaan untuk kesejahteraan anak-anak saya. Tapi, kekayaan ini malah bikin mereka jadi enggak akur," lanjut sosok itu, tatapannya kini kembali nanar menatap tubuhnya yang terbungkus kafan. "Jenazah saya malah sempat enggak keurus, sementara mereka sibuk ngumpulin surat-surat berharga."Mak Acih menatap sosok itu dengan pandangan teduh. "Relakan saja, Halimah. Kamu tenang saja, jangan pikirkan hal-hal kayak gitu. Serahkan sama Gusti Allah. Semoga anak menantu kamu cepat paham, kalau perselisihan soal harta warisan ini tidak boleh berlarut-larut." Sosok Halimah menatap Mak Acih sejenak, seakan menyerap kalimat penyejuk tersebut. Tak lama, wujud perempuan itu mem
Di ruang tengah, tikar pandan dan lima helai tali pengikat sudah digelar. Neneng sedang menaburkan bubuk kapur barus di atas tiga lapis kain kafan. Saat kerabat laki-laki membawa jenazah Halimah masuk dan meletakkannya di atas kain kafan, keanehan kembali terjadi. Ketika Mak Acih dan Neneng hendak menggeser sedikit tubuh jenazah agar pas dengan posisi tali, tubuh itu mendadak menancap bak direkatkan ke lantai. Sangat berat. Neneng sampai mengernyitkan dahi menahan napas. Mak Acih menatap wajah jenazah itu lekat-lekat. Ia menempelkan telapak tangannya di dada jenazah, lalu membungkuk sedikit. 'Ceu, jangan begini. Jangan bikin malu jasadmu sendiri,' bisik Mak Acih dalam hati, matanya terpejam merapalkan Al-Fatihah. 'Ikhlaskan saja, Ceu. Semua yang ditinggalkan sudah bukan urusan Ceu Halimah lagi. Relakan semua yang jadi ganjalan di hati...' Setelah doa itu dipanjatkan, perlahan Mak Acih menarik napas dan mencoba menggeser tubuh itu lagi. Ajaib. Tubuh Halimah kini terasa jauh lebih r
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah







