Share

TERIRIS PISAU

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-04-07 20:55:41

​"Em, ini..."

​" Apa itu bosmu?" sela Nadia tiba-tiba, membuat Rama sempat kebingungan. Beruntung, Tansri di seberang telepon mampu menangkap situasi dan segera membantu anaknya bersandiwara.

​"Saya adalah atasan baru suami Anda. Kantor kami sedang mengadakan pertemuan besar dengan kolega ternama. Datanglah bersama ibumu," jawab Tansri dengan suara bariton yang begitu berwibawa.

​Wajah Nadia seketika berbinar. Ia langsung melupakan statusnya yang sedang menjadi buah bibir di luar sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SANGAT GANAS

    "Ram... ahh!" Alya mendesah pasrah, tak lagi mampu membendung serangan gairah dari permainan tangan menantunya yang begitu lihai. ​"Ini milikku, Bu. Tak akan kubiarkan satu orang pun menyentuhnya!" tegas Rama dengan suara rendah yang bergetar. Sorot matanya yang tajam mengunci wajah Alya, memancarkan kepemilikan yang hakiki. ​Alya mendesis, setiap sentuhan Rama terasa seperti aliran listrik yang membakar kulitnya. Amarah Rama yang tadi meledak kini berubah menjadi energi panas yang ia tumpahkan sepenuhnya pada Alya. Ia masih tak rela membayangkan hampir saja wanita kesayangannya ini dijadikan jaminan oleh istrinya sendiri. ​"Aku akan membalas perlakuan putrimu itu, Bu..." racau Rama sembari naik ke atas tubuh Alya, sementara jemarinya masih menari liar di area sensitif mertuanya. ​Alya mengangguk cepat, napasnya memburu. "Ya, Sayang... balas dia. Dia sudah kurang ajar padaku... enghh!" ​Rama langsung membungkam bibir ranum Alya dengan lumatan yang menuntut. Lidahnya menyapu rong

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ADA YANG MASUK

    "RAMA, CUKUP!" suara Alya melengking, memotong kalimat Rama tepat sebelum rahasia besar itu meluncur bebas. ​Alya segera mendekat, mendorong bahu Rama agar menjauh dari Nadia. Dadanya naik turun karena panik, matanya menatap Rama dengan permohonan yang amat sangat. ​"Bu..." Rama mendesis, napasnya masih memburu karena emosi yang tertahan. ​Alya menggeleng pelan, memberikan isyarat tegas agar Rama tidak melanjutkan ucapannya. Ia tahu, kebenaran itu adalah bom waktu yang belum saatnya diledakkan. Rama hanya bisa mendengus kasar, merasa kecewa sekaligus geram dengan kesabaran mertuanya yang menurutnya sudah tidak masuk akal. ​"Nadia, bangun sayang. Ayo masuk kamar, istirahat. Wajahmu pucat, riasanmu juga sudah longsor," ucap Alya lembut sembari mengulurkan tangan untuk membantu putrinya bangkit. ​Namun, Nadia justru menepis tangan itu dengan kasar. Ia berdiri sendiri, menatap Alya dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa jijik. Perih rasanya bagi Alya; ia yang mati-matian membe

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MEMBONGKAR?

    Nadia mendelik tak suka, dadanya naik turun menahan amarah karena merasa terus-menerus diintimidasi oleh orang-orang di rumahnya sendiri. ​"Sebenarnya ada apa ini, Nadia?!" tanya Rama lagi, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia menoleh pada mertuanya dengan tatapan yang sangat berbeda—penuh simpati dan perlindungan—sebelum kembali menatap tajam ke arah istrinya. ​"Ibu kujadikan jaminan, puas Mas?! Lagipula kamu sewot banget sih? Itu Ibuku, wajar dong dia membantu anaknya yang kesusahan. Lagipula punya suami kayak kamu nggak guna banget!" sela Nadia ketus. Ia merasa tidak bersalah sedikit pun, seolah menjual harga diri ibunya adalah hal lumrah. ​Tubuh Rama membeku. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Jaminan? Jaminan apa?!" teriaknya lantang, membuat Alya dan Nadia terhenyak kaget. Suara Rama menggelegar memenuhi seisi ruangan. ​"Sudah, Ram... nggak enak sama Papa di atas," bisik Alya berusaha menenangkan, tangannya gemetar menyentuh lengan Rama. ​"

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KALAH TELAK

    Semua terperangah saat Ambar mengenali sosok pria paruh baya yang berdiri tegak dengan aura otoritas yang tak terbantahkan. Ambar tahu siapa pria ini; pria yang kekuasaannya sanggup meruntuhkan bisnis orangtuanya dalam satu jentikan jari. ​"Apa yang Anda lakukan dengan mertua dari an—" ​"Iya, apa yang Anda lakukan!" sela Rama cepat, sembari menggelengkan kepala ke arah sang ayah agar tidak membongkar hubungan mereka lebih jauh di depan semua orang. ​Tansri menghela napas panjang, mengangkat dagunya sedikit tinggi. Ada rasa kesal yang tertahan pada putranya; kenapa Rama begitu enggan mengakui dirinya sebagai ayah di depan publik, padahal Tansri bukanlah orang sembarangan? Namun, ia memilih mengikuti permainan Rama. ​Ambar bergetar hebat. Rasa takut terpahat jelas di wajahnya yang mendadak pucat. "Tu... Tuan Tansri, kenapa Anda ada di sini dan mengenali... mereka?" tanyanya terbata-bata. Ia menatap Rama dan Tansri bergantian, semakin terpana karena menyadari betapa miripnya waja

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   AMBAR MENGENALINYA?

    Pintu itu akhirnya jebol, terbuka lebar menampakkan pemandangan yang membuat seluruh tubuh Alya bergetar hebat. Napasnya tersendat di kerongkongan, seolah oksigen di ruangan itu telah lenyap. ​"Ya Tuhan...!" lirihnya. Matanya menatap liar kedua pria di hadapannya, di mana salah satunya masih menggenggam linggis dengan dingin. ​"Enggak! Jangan!" teriak Alya saat kedua pria itu mulai melangkah masuk, mendekatinya dengan seringai yang mematikan. ​"Tunggu apa lagi, bodoh? Bawa dia!" teriak Ambar yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka, menonton dengan rasa puas. ​Alya menggeleng hebat. Tubuhnya terus mundur hingga terbentur meja rias. Rama... Rama... aku mohon, datanglah! Ke mana kamu, Ram! batinnya menjerit, memohon keajaiban di tengah keputusasaan yang mencekik. ​"Seret!" bentak Ambar lagi, kesal melihat kedua pengawalnya bergerak terlalu lambat. ​"AKHH!" Alya menjerit histeris saat tangannya dicengkeram kasar dan ditarik paksa. "Tolong! Lepaskan!" Ia memberontak,

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   DI GAGAHI DUA PRIA NEGRO?

    Ponselnya terjatuh, tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Saat Alya hendak meraihnya, kedua pria itu semakin mendekat, bayangan besar mereka seolah mengunci pergerakan Alya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama yang mematikan. ​"Hah... hah... hah..." ​Napasnya tersengal. Alya bimbang, antara harus mengambil ponsel itu atau segera masuk ke dalam kamar. Namun, jika ponsel itu tertinggal, ia tahu Nadia—ular yang ia besarkan sendiri—akan menemukan semua rahasia hubungannya dengan Rama. ​Beruntung, di dekatnya ada sebuah guci kecil. Dengan sisa tenaga, ia melemparnya ke arah kedua pria itu. ​PRANG! ​Suara pecahan beling terdengar nyaring. Kedua pria itu tersentak mundur agar tak terkena serpihan. Dengan gerakan secepat kilat, Alya menyambar ponselnya dan melesat masuk ke kamar. ​BRAK! ​Pintu terbanting keras. Alya langsung mengunci pintu itu dari dalam. ​"HAH... HAH... HAH... HAMPIR SAJA!" ​Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, l

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PULANG

    Matahari sudah mulai naik ketika Rama akhirnya terjaga. Ia melenguh panjang, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku luar biasa. Di sampingnya, Yudi ternyata sudah bangun lebih awal dan sedang merapikan tasnya. ​"Pak... sebenarnya ada apa kemarin?" tanya Yudi penasaran. Ia menatap Rama dengan t

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   TERGESA GESA

    Rama bergerak cepat seperti orang kesetanan. Begitu sampai di kamar hotel, ia langsung melempar koper ke atas tempat tidur dan memasukkan semua pakaiannya dengan asal. Pikirannya kalut. Bayangan keluarga Tan Sri yang melakukan hal tabu di ruangan tadi, ditambah pengakuan mengejutkan, membuat Rama m

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MATI KUTU

    Rama berdehem cukup keras, memecah kebisingan ruang makan yang mewah itu. Semua mata, termasuk mata tajam Tan Sri, langsung tertuju padanya. Dengan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki, Rama meminta izin untuk ke toilet, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha sekuat tenaga menutupinya dengan se

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   HAMPIR

    Detak jantung Rama seolah berpacu dengan suara langkah kaki Tan Sri yang semakin mendekat. Tepat saat jemari Anggita yang dingin sudah menyentuh kepala sabuk celananya, suara bariton sang konglomerat kembali menggema, kali ini jauh lebih dekat. ​"Sofia? Kalian di sana?" ​Anggita dan Sofia seren

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status