LOGIN“Jangan sakiti anakku!”Meisya, yang sedari tadi berada di bawah altar bersama Ken dan Kaylin, menjerit lantang dengan suara yang melengking panik. Pertahanannya runtuh seketika saat melihat ujung logam tajam itu mengancam nyawa putri kandungnya. Namun, gerakannya yang hendak menerjang maju untuk mendekati Rita dan Aurin langsung ditahan kuat oleh Ken.“Hentikan, Ma! Jangan mendekat! Semakin Mama dekat, Mei-Mei bisa semakin celaka!” tegur Ken dengan napas memburu. Kedua tangannya mencengkeram bahu sang mama, menahan bobot tubuh Meisya yang terus merangsek maju. Teguran Ken sebetulnya sangat masuk akal. Dalam kondisi psikologis Rita yang sedang tidak stabil, gerakan mengejutkan justru bisa memicu instingnya untuk langsung menusuk Aurin.Meisya masih terus memberontak di dalam dekapan putra sulungnya, menangis histeris dengan tenaga yang kian terkuras. Bagaimana tidak? Melihat putrinya yang mengenakan gaun pengantin kini sedang diancam dengan senjata tajam seperti itu, ia takut seten
“Kamu ....”Dada Rita terhentak hebat seperti dihantam gada tak kasat mata. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Kakinya seketika terasa lemas dan lunglai, tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri begitu melihat wajah sang menantu rupanya sangat berbeda dengan apa yang ia sangkakan selama ini. Harapan tinggi yang ia bangun untuk bersanding dengan keluarga Hartono mendadak hancur berkeping-keping.Rasa syok itu dengan cepat berubah menjadi amarah dan kepanikan yang membakar akal sehatnya. Tak sadar, ia bangkit berdiri dari kursi VIP dan mulai berjalan ke arah altar.Di tengah riuh rendah tepuk tangan para kerabat dan tamu undangan yang masih merayakan kebahagiaan kedua mempelai, Rita maju tergesa-gesa. Tangan kanan dan kirinya mencengkeram kuat ekor gaun mewahnya yang menjuntai, yang sempat beberapa kali menyulitkannya melangkah dan membuatnya hampir tersandung. Namun, ia tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada dua orang di atas sana.Begitu mengin
“Amazing.”Dada Rayden berdebar sangat kencang, dentumannya terasa begitu nyata hingga memicu gemuruh aneh di dalam rongga dadanya. Ini bukan pertama kali mereka bertemu, bukan pula pertama kali ia melihat wanita itu mengenakan pakaian formal. Namun, getaran yang menyengat itu tetap ada, bahkan terasa jauh lebih dahsyat menguasai seluruh akal sehatnya. Rasa tidak percaya, haru, dan ledakan cinta yang sempat ia pasung, kini membuncah hebat hingga membuat sekat di tenggorokannya terasa menyempit.Kaylin Anastasya Hartono alias Aurin, istrinya.Wanita yang selama ini ia sebut dalam doa, wanita yang telah ia nikahi secara sah dan sempat ia takutkan akan hilang dari genggamannya, kini tengah berjalan santai penuh keanggunan menuju ke arahnya.Perlahan tapi pasti, setiap ketukan langkah Aurin di atas karpet merah seolah membawa kembali seluruh sisa kehidupan Rayden yang sempat mati rasa. Wanita itu tampil memukau dalam balutan gaun putih panjang. Di antara jemari lenturnya, tersemat rang
“Ini satu-satunya cara agar kamu tidak kehilangan si miskin itu. Jadi, jangan banyak bertingkah,” bisik Rita sekali lagi, menekankan setiap kata dengan penuh peringatan.Namun, ancaman terselubung dari sang mama kini diabaikan sepenuhnya oleh Rayden. Langkah kakinya tetap berderap lurus di atas red carpet yang membentang panjang, sama sekali tidak mempedulikan kilatan lampu blitz para fotografer yang saling bersahutan mengambil potret dirinya dari berbagai sudut.Hari ini, Rayden tampil teramat maskulin. Setelan tuksedo hitam pekat membalut sempurna tubuh kekar dan tegapnya, memberikan kesan berwibawa sekaligus mengintimidasi. Rambut hitam kecoklatannya disisir rapi ke belakang menggunakan pomade, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan tegas. Tuksedo rancangan desainer ternama itu melekat pas di tubuhnya, menonjolkan proporsi tubuh atletis seorang pria matang yang mampu memikat siapa saja—meski tatapan matanya terasa sedingin es.Begitu sampai di depan altar setelah diantar oleh
Setelah si kembar berusia lebih dari tiga bulan, akhirnya Rayden pulang bersama Aurin ke kediaman mereka. Bayi-bayi yang sempat lahir prematur dan harus berjuang di inkubator itu, kini tumbuh dengan sangat baik. Tubuh mereka terlihat montok sekali, lengkap dengan lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan paha. Bahkan, belakangan ini mereka sudah mulai aktif belajar tengkurap, membuat hari-hari Rayden dan Aurin semakin ramai. Begitu mobil mereka memasuki pelataran rumah Rayden, Rita yang sudah sangat antusias segera keluar untuk menyambut. Wanita paruh baya itu bahkan heboh sendiri, melambaikan tangan dengan senyum sumringah yang tak bisa disembunyikan sejak roda mobil berhenti sempurna. “Astaga! Cucu-cucuku ... akhirnya kalian pulang!” seru Rita penuh suka cita. Rita berjalan cepat memutari kap mobil menuju ke bagian bagasi, di mana stroller triplets baru saja diturunkan oleh sopir dan Rayden. Dan begitu posisi Reynora siap dan nyaman, Rita tidak bisa lagi menahan diri. Ia
“Rayden! Lepas! Nora bangun! Kamu tega membiarkannya menangis?” tegur Aurin di sela napasnya yang memburu hebat.Sentuhan dan setiap tumbukan di bawah sana pada area intimnya sebenarnya terasa nikmat sekali, hingga membuat akal sehatnya sempat mengabur. Namun, prioritasnya sekarang adalah anak-anak, bukan nafsu semata. Kesadaran sebagai seorang ibu seketika menamparnya begitu mendengar rengekan sang putri. Maka, dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha keras mendorong dada bidang suaminya yang masih terus membombardir miliknya dengan sejuta sensasi panas.“Rayden!” panggil Aurin lagi, kali ini lebih mendesak. “Nora akan begadang lagi kalau tidak segera kuberikan susu!”“Apa?” sahut Rayden dengan suara serak yang begitu dalam. Saat bicara begitu, setetes keringat dari dahi Rayden jatuh dan menetes tepat di wajah Aurin, mengalir bersama keintiman yang kian memuncak.Meski suara Nora di seberang sana terdengar kian meren
“Mungkinkah ada gen resesif yang tertidur sangat lama, tersembunyi dalam garis keturunan baik dari pihakku maupun dari keluarga Aurin—yang akhirnya terbangun kembali dan muncul pada generasi ini?” Rayden cukup lama tertegun dalam diam, sementara matanya tak lepas mengamati kedua buah hatinya yang
“Hoeeeek! Hoeeeek!”Pemandangan itu terasa begitu mengerikan. Seketika, rasa mual melonjak naik dari ulu hatinya, pun mendesak naik ke kerongkongan.“Hoekkkk!”Suara tersedak kedua kalinya terdengar. Namun, tak ada apapun yang dimuntahkan oleh Rayden. Pria itu hanya merasa kan perih dan asam yang m
“Dok, ini tidak akan gagal, ‘kan?” tanya Rayden dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menahan kegelisahan yang membuncah di dadanya.“Tidak akan, Tuan. Kami sudah memiliki pengalaman yang cukup, dan Nyonya Wisesa ditangani oleh tim medis terbaik di rumah sakit ini,” jawab dokter itu tenang d
“Menyingkirlah! Saya harus bertemu bayi-bayi itu sekarang juga!”Rita datang tanpa pemberitahuan sedikit pun, lalu mencoba menerobos masuk secara paksa. Para pengawal yang berjaga segera menghadang, mencegahnya melangkah lebih jauh. Jack, yang memimpin penjagaan di sana, melangkah maju dengan sik







