Se connecter“Bajingan! Keparat! Mati saja kamu! Mati! Mati!”Rayden memukuli wajah Vince yang tampan itu dengan kepalan tinjunya. Terhitung lebih dari sepuluh kali dia menghantamkannya pada Vince.Sayangnya, Vince seperti memiliki ajian kebal diri. Pria itu bahkan masih bisa mendorong Rayden, setelah Rayden membuatnya babak belur. Rayden terjengkang ke belakang, dia jatuh terduduk di karpet dengan kasar. Dia kesal pada diri sendiri—terlalu kesal karena dia harus menjadi pria bodoh yang dikhianati, di depan Vince pula.Sebenarnya, Rayden sudah tidak peduli pada Dea dan Vince yang kerap kali ‘bermain kuda’ di belakangnya.Meskipun dia telah menerima pengkhianatan itu dan bersikap biasa saja—pada perselingkuhan Dea dan Vince— tapi Rayden tidak boleh gegabah, bukan?Bersikap biasa saja akan menimbulkan masalah. Kalau Vince bicara mengenai ini pada Dea, maka Rayden juga yang akan rugi. Dia belum memberi pelajaran pada Dea, dan dia ingin Dea mend
“Kamu mencariku?” Rayden memotong ucapan pria angkuh itu. Dia baru saja dikabari oleh anak buahnya untuk segera turun karena urgent, dan dia mengiyakannya. Namun sesampainya di sini, dia dikejutkan dengan kedatangan selingkuhan istrinya itu yang ingin sekali menemuinya.Pikirannya bercabang ke mana-mana. Ada apa pria ini menemuinya? Ingin mengajaknya berduel untuk memperebutkan Dea, atau ada hal lain yang ingin pria itu lakukan.Vince menoleh ke belakang. Dia menyeringai tipis melihat orang yang dia ingin temui sudah berdiri tak jauh darinya. “Tepat sekali kamu ada di sini, Rayden Wisesa. Aku … ingin bicara denganmu empat mata. Bisa?”Rayden takut kalau ajakan bicara empat mata itu adalah jebakan Vince— yang mungkin ingin mencelakainya. Maka, dia tak mau mengambil resiko. Biar bagaimana pun, ada ketiga anaknya yang membutuhkan kehadirannya nanti. Jangan sampai ia gegabah.Rayden menyahut pelan, “Dalam rangka apa? Katakan saja di sini!”
“Apa maksudmu memintaku melakukan ini, huh?”Aurin tidak terima diperintah-perintah seperti ini. Dia protes pada Vince dengan cara mengejarnya dan menghadang langkah pria itu. Pasalnya, dalam kotak itu, ada berbagai barang mengerikan. Mulai dari kepala boneka berlumuran darah yang hampir putus dari badannya, ada boneka berbentuk teddy bear yang ditusuk dengan jarum besar, ada pula ayam mati yang baunya sudah busuk.Lebih mengejutkan lagi, di dalam kotak kardus berukuran 25 cm itu terdapat kertas perintah yang isinya sangat tak masuk akal.Aurin diminta meneror Dea, membuat Dea terpeleset dan mengarang cerita agar Dea keguguran, pun masih diperintah mendorong Dea dari tangga atas. Tujuannya adalah jelas, membuat Dea berpisah dengan Rayden, atau membuat Dea depresi karena teror itu.Itu semua sangat tidak masuk akal karena Aurin tidak suka berbuat kriminal.Aurin tidak takut dengan ancaman itu. Dia menatap Vince dengan nyalang sam
“Benarkah Koko ada di sini?”Kabar yang membuat Aurin berseri-seri tiba dari Ken. Pria itu ternyata sudah ada di sini, mengabarkan pula kalau ia satu hotel dengan adiknya.Ken menyahut singkat, “Ya.”Aurin tak langsung percaya. Dia mengubah panggilan teleponnya menjadi video call. Meski jawaban Ken terdengar dingin, Aurin tetap bertanya dengan antusias. “Ada urusan apa di sini, Ko? Kok kaya kebetulan. Jangan-jangan, Koko menguntitku, ya?”Ken terkekeh pelan. “Tidak usah terlalu percaya diri. Saya ada seminar dengan beberapa dokter di hotel ini.”“Hooo ….” Aurin mengulas senyum tipis, tak percaya dengan pernyataan pria itu. “Benarkah?”“Hm.”“Cici ikut?”“Tidak, saya sendiri. Dia sibuk dengan urusannya” Suara Ken terdengar tenang, rendah, dan entah kenapa membuat dada Aurin menghangat, seolah ia tengah diperhatikan oleh kakak kandungnya itu.Aurin belum menjawab, tapi Ken sudah memerintah, “Tur
“Tuan, apa Anda tidak salah memberi saya ini?” Rayden, yang baru saja melangkah hendak masuk ke dalam kamarnya, seketika berhenti. Pria itu menoleh perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada pembantunya. Namun, sorot matanya yang tajam seolah sudah bertanya, “Salah bagaimana?” Aurin mendekat, dia bertanya dengan wajah yang sangat sungkan, “Maaf kalau saya terkesan banyak tanya, Tuan. Dokter Evelyn dan yang lain menempati kamar biasa. Tapi mengapa Saya justru mendapatkan kamar semewah ini, sama seperti kamar Tuan dan Nyonya?” Aurin merasa tidak enak. Baginya, ia hanyalah seorang pelayan rendahan—yang tak sepantasnya mendapatkan fasilitas seistimewa ini dibandingkan dengan yang lain. Aurin agak terbebani. Apalagi, ia takut hal ini akan menjadi bahan omongan dan gunjingan di antara anak buah Rayden yang lainnya nanti. Rayden hanya menanggapi santai, “Ada yang salah dengan kamarmu? Tidak n
eLebih dari dua jam mengudara, Rayden perhatikan Dea sudah tertidur lagi. Melihat tablet wanita itu—yang ternyata masih menampilkan drama Korea—dia berniat untuk mematikannya agar baterainya tidak habis.Di saat yang bersamaan, tepat ketika dia mengangkat tab itu, ponsel Dea yang ada di bawah tab tampak menyala. Layarnya tidak terlalu terang, namun cukup membuat Rayden penasaran.Rayden tidak mengambilnya, dia hanya mencondongkan tubuhnya dan menatap dari jarak dekat.Ada satu pesan yang terpampang di notifikasi pop up—yang seketika membuat dada Rayden berdesir hebat.“Pembantumu tahu sesuatu tentang kita. Jadi lebih baik akhiri sandiwaramu, atau aku yang akan mengakhiri sandiwara ini dengan cara melenyapkannya!”Menurutnya, isi pesan itu cukup mengerikan, mengejutkan, sekaligus memantik emosi.Rayden meletakkan tab itu lagi. Dia menarik diri dan mengumpat, “Sedikit saja kalian menyentuh milikku, maka balasanku pada kalian akan s
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk







