مشاركة

197. Unboxing

مؤلف: OTHOR CENTIL
last update تاريخ النشر: 2026-05-09 11:59:45

“Saya baik-baik saja, tidak usah cemas.”

Rayden menatap Aurin datar, namun wajahnya tak sedingin biasanya. Ada sedikit kehangatan yang dapat dirasakan oleh Dea.

Aurin pun terdengar agak lega. “Syukurlah, Tuan. Saya hubungi Dokter Evelyn dulu, beliau pasti membawa obat merah. Bibir Anda di sebelah kiri berdarah.”

Sedari tadi, Dea memperhatikan mereka tanpa menyela sedikit pun. Bahkan setelah ia dan rombongan kembali ke hotel, ia tak mampu memejamkan mata hingga tenga
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   199. Bersiap Membongkar Semuanya

    “Apa belum ada kabar dari Aurin?”Rayden menyesap minuman yang ada. Meskipun ekspresi yang terpancar di wajahnya datar dan dingin seperti biasa, namun tetap tersirat sebuah rasa gelisah saat pertanyaan itu terlontar pada asisten pribadinya. Pandangannya mengarah lurus ke depan, menatap permukaan kolam yang tenang. Sementara Rega yang ada di sampingnya, ikut duduk lalu melapor, “Belum, Tuan. Dia belum keluar kamar sejak pagi tadi,” jelas Rega sambil melirik pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjuk ke angka 10 pagi.“Shit!” Rayden mengumpat pelan, rasa kesal dan khawatir bercampur aduk menjadi satu dalam dadanya. Dia pun menoleh ke arah Rega dan mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi membelit dirinya. “Apa menurutmu, setelah ditampar Dea, pipinya bengkak?”“Saya tidak tahu pasti, Tuan.” Rega menjawab jujur. “Saat saya hubungi tadi, dia tidak menjawabnya.”Rayden beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mondar-mandir

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   198. Teror

    “Aaaaaa! Siapa yang melakukan ini?” Sebuah pekikan nyaring memecah kesunyian malam. Rayden, yang memang pura-pura tidur, kali ini juga pura-pura tersentak. “Ada apa?” tanyanya basa-basi pada Dea. Padahal sejak tadi, Rayden sama sekali belum memejamkan mata. Dalam diam, ia selalu memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Kegelisahan yang tak mampu disembunyikan oleh Dea, tatapan gelisahnya, hingga langkah pelannya saat keluar dari kamar, Rayden tahu semuanya. Bahkan saat Dea mengendap-endap pergi meninggalkan kamar seperti seorang pen, Rayden memanfaatkan celah itu untuk melakukan ‘seauatu’. Dan kali ini, Rayden memasang wajah seolah-olah dia sangat panik dengan kondisi Dea. Dengan nafas yang sedikit memburu, Rayden bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri istrinya yang terduduk lemas di lantai. “Ada apa? Kenapa kamu ….” Rayden tidak melanjutkan ucapannya. Dia membelalakkan ma

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   197. Unboxing

    “Saya baik-baik saja, tidak usah cemas.”Rayden menatap Aurin datar, namun wajahnya tak sedingin biasanya. Ada sedikit kehangatan yang dapat dirasakan oleh Dea.Aurin pun terdengar agak lega. “Syukurlah, Tuan. Saya hubungi Dokter Evelyn dulu, beliau pasti membawa obat merah. Bibir Anda di sebelah kiri berdarah.”Sedari tadi, Dea memperhatikan mereka tanpa menyela sedikit pun. Bahkan setelah ia dan rombongan kembali ke hotel, ia tak mampu memejamkan mata hingga tengah malam—kepalanya terus memikirkan interaksi antara Aurin dan suaminya tadi. Menurut Dea, Aurin sangat berani memperhatikan suaminya. Entah kenapa, hati Dea justru diliputi keresahan. Jawaban Rayden yang cukup ramah dan nada lega yang terkandung dalam suara Aurin, benar-benar membuatnya tidak fokus.Dea tahu ia tidak boleh menunjukkan taring di depan mereka, sebab ancaman Aurin nyata, dan bisa menjadi kenyataan kapan saja. Sementara suaminya sendiri—Rayden—bisa membuangnya kap

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   196. Mencemaskan Keadaan

    Ketika berjalan mendekat ke area loket, Rayden tidak benar-benar menikmati suasana indah di sekitar sana seperti wisatawan yang lain. Tatapannya terus bergerak, mengamati, sekaligus memindai setiap wajah yang lewat dengan cermat. Kebiasaannya sebagai pria yang terbiasa menjaga kendali membuat insting kewaspadaannya sulit dimatikan, terlebih lagi setelah ancaman Vince beberapa waktu terakhir pada Dea. Karena itu, tanpa sadar, fokus Rayden mengarah pada Dea dan Aurin. Meski dia tahu sebagian anak buahnya masih berada di sekitarnya dan membayangi setiap langkahnya agar tak terlalu mencolok, namun ia harus tetap waspada. Keramaian di sekitar menara Eiffel cukup padat malam itu. Wisatawan tampak berlalu lalang dan suara berbagai bahasa tercampur menjadi hiruk pikuk yang sangat melelahkan. Dan di tengah antrian yang bergerak perlahan itu, mata Rayden menatap

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   195. Puas Dalam Diam

    “Tuan, saya dan Nyonya—”Saat Dea terpaku dalam kegelisahannya sendiri, Aurin memanfaatkan celah itu untuk meraih atensi Rayden. Dan benar saja, setelah pria itu menatapnya, ia mengucap demikian.Namun sebelum kalimat itu usai, Dea memotongnya cepat.“Tidak!”Wanita itu buru-buru membalikkan badan menghadap ke arah suaminya. Ia membelakangi Aurin, seolah-olah ingin memutus ancaman yang menggantung di udara itu.Satu detik berikutnya, ekspresinya. Senyum manis terpampang di wajahnya saat menatap Rayden yang boleh mendekat ke arah mereka. Sayangnya, semua itu sangat terlambat karena Rayden sudah menangkap sesuatu yang ganjil dari Dea.Pria itu memperpendek jarak diantara mereka, dia melangkah dengan tenang, lalu tatapannya bergantian meneliti wajah Dea dan Aurin—yang kini berdiri berdampingan dalam ketegangan yang terlalu jelas untuk diabaikan. “Ada apa?” Pertanyaan Rayden terdengar datar dan rendah, n

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   194. Menggertak

    “Kalian naik saja sendiri! Aku ingin membujuk suamiku dulu!” Dokter Evelyn sempat tidak setuju. Pasalnya, Aurin bahkan tak dipersilakan naik oleh Dea. “Tapi—”“Cepat!” seru Dea tegas sembari mengibaskan telapak tangannya pada rombongan. Mihat petugas sudah mulai mendesak karena kereta akan segera berangkat, akhirnya Rega—asisten pribadi Rayden— dan yang lain memutuskan untuk tetap pergi, meninggalkan Aurin. Toh, Aurin juga sudah bersama majikan mereka, ‘kan?Mungkin mereka juga memikirkan tiket yang sudah dibayar lunas, sayang kalau dibiarkan hangus begitu saja.  Setelah kereta berangkat, tak seperti ucapannya, alih-alih mengejar Rayden, Dea justru berbalik arah dan berjalan cepat menghampiri Aurin yang berdiri mematung. Tanpa ba bi Bu, Dea langsung menampar Aurin dengan keras.Plak!Aurin, ya g sedang asyik mengagumi pemandangan Kota Paris yang begitu indah dan menakjubkan, sek

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   24. Malam Panas Hingga Lemas

    Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   23. Memelukmu Sampai Pagi

    “Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   16. Aroma Familiar

    “Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   13. Tuntutan

    Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status