로그인“Bisakah saya minta buku kehamilan dan hasil USG-nya, Dok?” tanya Aurin.
Menurut artikel yang ia baca, ia harus memiliki buku tersebut agar nanti dokter bisa dengan mudah mengecek hasil pemeriksaan sebelumnya sebelum datang periksa lagi. Ken menatap Aurin selama beberapa saat. Hening, sunyi. Sadar bahwa wanita di sampingnya ini polos—bahkan terlalu polos, ia lantas mengangguk pelan. “Bisa,” katanya. “Mintalah pada Dokter Evelyn di depan setelah me“Ini surat fit to fly yang kamu inginkan!”Dengan cepat, Ken menyodorkan kertas itu pada Dea, sebagai formalitas saja. Tapi bagi Dea, kertas itu adalah kunci kecil untuk membuka jalan yang dia mau.“Good, itu baru namanya sahabat,” kata Dea. Tanpa ragu, dia menepuk pipi kiri Ken sebanyak dua kali. Senyum lebarnya bahkan tak dapat disembunyikan, seah ada kepuasan dan sedikit kemenangan yang dia nikmati dari situasi ini.“Oh ya,” lanjut Dea santai, seolah percakapan sebelumnya tak pernah setengah itu. “Aku tadi melihat sesuatu di laman pencarian internet.”Ken menaikkan sebelah alisnya dan bersandar pada kursi putarnya. Tatapannya mengarah lurus pada Dea, seolah dia tengan bertanya, “Apa lagi?”Dea tersenyum ketika mengatakan, “Kamu harus ikut aku ke Paris! Kamu harus jadi dokter pribadi untuk Aurin! Setuju? Semua akomodasi, aku yang tanggung.”“Aku tidak bisa!” sahut Ken cepat, Dea mengernyit, Tidka suka pada Ken yang tak mau diajak bekerja sama. “Why?”Ken menatap Dea datar, dia mend
“Kamu tidak bisa sembarangan membawanya ke sana, Dea! Jangan egois! Pikirkan kandungan Aurin! Usia kandungannya baru memasuki Minggu ke tujuh saat kamu pergi nanti! Yakin mau tetap pergi, hah? Picik sekali pikiranmu!”Bentakan itu melengking keras di dalam. Ruangan kedap suara ini. Terlalu keras dan mendadak sehingga membuat udara di ruangan itu terasa retak.Dea dan Aurin pun sama-sama tersentak. Aurin tersentak karena takut, takut jika Ken kelepasan bicara bahwasanya sikap Ken yang posesif ini adalah bentuk kepedulian kakak pada adiknya. Tapi di sisi lain, Dea sedang tersentak bingung.Dea refleks berdiri. Kursi stainless dengan dudukan empuk berwarna biru itu berbunyi pelan ketika dia menggesernya ke belakang. “Kenapa?” tanyanya lurus, menatap tepat pada iris hitam Ken.Pertanyaan ‘kenapa’ itu bukan pertanyaan mengapa Ken tidak membiarkan Aurin pergi—tentu secara medis—melainkan sebuah tuntutan jawaban atas sikap Ken yang tiba-tiba berubah seperti itu.Dea bertanya kenapa Ken me
“Minggu depan ada perjalanan bisnis ke Perancis. Kamu mau ikut atau di rumah! Kalau ikut, tanya Dokter Ken dulu.”Keheningan di antara mereka karena pembahasan limit kartu kredit yang habis belum sepenuhnya mencair, namun Rayden memecahnya lebih dulu.Satu minggu lagi memang jadwal sidang pertama mediasi, jadi dia harus mengungsikan Dea sementara agar tidak mencium niatnya. Apalagi, dia sudah memasrahkan semuanya pada pengacara, dan akan hadir di panggilan kedua saja.“Mau!” Mulanya, Dea terdiam, takut dimarahi oleh suaminya mengingat limit kartu kredit dengan total 600 juta habis dalam beberapa hari. Tapi mendengar tawaran itu, dia menganggap Rayden tidak marah padanya.Apalagi, Perancis adalah salah satu negara yang sangat suka dia kunjungi. Kini, keceriaannya tak bisa disembunyikan. “Kapan kita akan berangkat?” tanya Dea. Dia mendekatkan bibirnya untuk mencium Rayden, setelahnya dia mengalungkan lengannya ke leher Rayden. “Jum’at malam.” Rayden membalasnya singkat. Dea segera tu
“Satu minggu lagi kita ke Paris.”Kalimat yang diucapkan Rayden memang datar, tenang, dan tanpa penekanan. Namun, hal itu nyatanya mampu membuat Aurin membeku di tempatnya.Dia mengulang pertanyaan itu, nyaris tak percaya dengan ajakan tuannya yang mendadak ini.“Ke … Paris?” Aurin mengorek telinganya, dia tidak salah dengar! Dia akan diajak ke Paris! Astaga! Ini mengejutkan! Pikirannya pun ikut berloncatan, mengaitkan satu hal dengan hal lain yang seharusnya tak saling bersentuhan.“Tuan akan bercerai dari Nyonya, tapi dia justru merencanakan perjalanan ke Paris bersamaku?” batin Aurin, mulai resah. Takut sandiwaranya mulai terbongkar.Aurin tak langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Dia berdiri kaku, mencoba memastikan dulu apakah dia salah dengar atau tidak.Setelah beberapa saat, dia beranikan diri bertanya, “Tuan tidak salah ‘kan mengajak saya?”“Tidak.” Rayden menoleh perlahan dan tatapannya sulit diteb
“Itu Tuan Rayden pulang!” Aurin menatap lagi pada gerbang rumah yang terbuka secara otomatis itu. Di sana dia melihat mobil tuannya perlahan masuk. Dia membungkuk bersama Jack, memberikan salam hormat pada pria itu. Tak lama kemudian, Jack berujar pelan padanya, “Sebaiknya kamu serahkan sendiri surat panggilan ini padanya.” Tanpa basa-basi, Jack mengembalikan amplop coklat persegi panjang itu ke tangan Aurin. Gerakan Jack terlalu cepat, sehingga Aurin tidak bisa menolaknya. “Ck! Kok aku?” Aurin berdecak kesal, tapi Jack tidak membalasnya. Sambil mendekapnya, Aurin memberengut. Isi surat itu bisa mengguncang seluruh isi rumah dan kalau dia tak segera mengamankannya, maka dia yang akan celaka. Sambil berjalan menuju ke paviliun samping rumah, Aurin mencebik pelan. Bukan pada sikap Jack yang seenaknya sendiri, melainkan pada keadaan yang terus memaksanya berada di tengah sesuatu yang bukan urusannya. Namun, tetap saja dia tidak memiliki pilihan lain selain menurut.
“Bagaimana, Ta? Kalau anak Rayden tidak ada yang laki-laki, kamu rela ‘kan tahta ini dipegang sama Antariksa?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bi Marlin, seolah pernyataan itu hanya selipan obrolan ringan di meja makan. Namun, bagi Rita, kalimat itu seperti belati yang menyayat tipis hatinya, membuat ketenangan yang dia jaga, sedikit terusik. Rita tahu betul apa yang sedang dia pertaruhkan. Jenis kelamin dua bayi kembar identik yang tengah dikandung menantunya masih menjadi misteri dan belum ada yang bisa memastikannya meskipun ada teknologi canggih seperti USG.Dan dalam keluarga seperti ini, misteri adalah suatu ancaman yang menunggu kepastian. Jika keduanya terlahir perempuan, maka semua hal yang telah Rita bangun sejak awal, dia jaga dan dia pertahankan selama ini bisa runtuh sekejap bagaikan membalikkan telapak tangan. Namun, Rita tidak mau tunduk dan tidak sedikitpun goyah dengan pernyataan tersebut. Dia yakin, kedua cucunya yang lain berjenis kelamin laki-laki. Dia menga
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka







