Share

Bab 7

Author: yourayas
last update publish date: 2026-03-18 10:57:52

London tidak pernah terasa sedingin ini bagi Gerald Aiden Mahatma. Di apartemen sewaannya yang terletak di South Kensington—hanya beberapa blok dari galeri tempat Elena bekerja—Gerald duduk sendirian di depan jendela besar. Tidak ada Lucas yang biasanya berdiri sigap dengan tablet di tangan. Tidak ada sopir yang membukakan pintu. Tidak ada pengawal yang memastikan jalannya lancar.

Ponselnya di atas meja kayu oak terus bergetar. Nama 'Lucas' muncul berulang kali, membawa beban dari Jakarta yang kini terasa sangat jauh.

Gerald menghela napas, akhirnya meraih ponsel itu dan menjawab dengan suara parau. "Ya, Lucas?"

"Pak Gerald," suara Lucas terdengar cemas di seberang sana. "Dewan direksi mulai bertanya-tanya. Beberapa keputusan akuisisi besar untuk kuartal ini harus Anda setujui hari ini. Mereka tidak mengerti mengapa Anda memperpanjang masa tinggal di London tanpa agenda bisnis yang jelas."

Gerald menatap butiran hujan yang mulai menempel di kaca jendela. "Urus dulu semua yang bisa kamu urus, Lucas. Berikan mereka alasan apa pun. Katakan aku sedang menjajaki pasar Eropa secara personal."

"Tapi Pak... berapa lama lagi? Mereka butuh kepastian tanggal kepulangan Anda."

Gerald terdiam sejenak. Matanya tertuju pada sebuah foto kecil Rafael yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi kemarin. "Aku akan cukup lama di sini, Cas. Mungkin sangat lama."

"Pak Gerald—"

"Jangan tanya kapan aku pulang," potong Gerald tegas namun tanpa amarah. "Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bahkan tidak tahu ke mana harus pulang jika bukan kepada mereka."

Sambungan terputus. Gerald meletakkan ponselnya kembali. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Sang 'Tangan Besi' dari Jakarta kini hanyalah seorang pria asing yang tersesat di kota kabut, mencoba menyusun kembali kepingan hidup yang ia hancurkan sendiri lima tahun lalu.

***

Siang harinya, Gerald bertemu dengan Joshua di sebuah pub kecil yang tersembunyi di gang sempit dekat Chelsea. Pub itu hangat, berbau kayu tua dan bir, sangat jauh dari kesan mewah yang biasa mereka datangi.

Joshua menatap Gerald yang masuk dengan mantel gelap dan wajah yang tampak lebih kurus. "Kamu kelihatan berbeda, Ger," ujar Joshua saat Gerald duduk di hadapannya.

"Berbeda?"

"Ya. Biasanya kamu memancarkan aura 'aku punya segalanya'. Sekarang... kamu kelihatan seperti pria yang baru saja sadar kalau uang tidak bisa membeli waktu," Joshua mendorong segelas minuman ke arah sahabatnya.

"Jadi," Joshua menyesap minumannya, "apa rencanamu? Kamu sudah melihat mereka kemarin. Kamu sudah tahu mereka nyata. Apa sekarang kamu akan kembali ke Jakarta dan pura-pura tidak tahu?"

“Aku tidak bisa, Josh,” Gerald menunduk, menatap minumannya. “Dia terlihat lebih hebat dari yang terakhir kali bersamaku. Tetapi aku juga melihatnya lebih dingin dari sebelumnya. Dia benar-benar berubah menjadi wanita yang jauh luar biasa.”

Joshua terdiam, membiarkan Gerald bercerita dengan binar kekaguman di matanya. “Dan Rafael… anak itu… dia adalah keajaiban yang membuatku berpikir keras, apakah aku layak mendapatkannya?”

Joshua tersenyum. “Kamu layak, Gerald. Kamu Papanya,” pertegas Joshua membuat Gerald kembali terdiam. “Jadi apa rencanamu? Bersembunyi selamanya di London bukan pilihan yang tepat, Ge. Elena itu wanita cerdas, dia pasti akan menyadari keberadaanmu.”

"Aku tidak ingin mengejutkannya. Aku ingin dia melihat bahwa aku di sini bukan untuk merenggut hidupnya yang sekarang, tapi untuk... entahlah. Aku sendiri tidak tahu," Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.

Joshua mengangguk pelan. “Elena bukan wanita yang mudah luluh, Ge. Tapi aku rasa, kamu tetap harus menemuinya.”

“Aku takut merusak hidup mereka.” Ia mengangkat wajahnya. “Elena membangun semuanya sendiri. Anak kita tumbuh tanpa aku. Siapa aku datang sekarang?”

Joshua mencondongkan tubuh ke depan. “Kamu Papanya.”

“Papa yang absen selama 5 tahun,” balas Gerald lirih.

Joshua menggeleng. “Tidak ada seorang ayah yang sempurna, Gerald. Tapi ada ayah yang hadir… dan ada yang memilih menghilang.”

Kalimat itu menghantam tepat di dada Gerald.

“Kamu tahu apa yang akan paling kamu sesali nanti?” lanjut Joshua.

“Bukan kalau Elena menolakmu. Tapi kalau anak itu tumbuh besar tanpa pernah tahu bahwa Papanya sebenarnya ada—dan memilih bersembunyi dan diam lama di London. Padahal Papanya bisa menemuinya.”

Gerald terdiam lama.

“Aku tidak menyuruhmu memaksa mereka untuk menerima,” kata Joshua lebih lembut.

“Aku hanya menyuruhmu muncul. Tunjukkan kalau kamu memang disini dan serius membawa mereka kembali.”

Gerald menatap Joshua. Setelah kerapuhan yang dipendam sendirian, sore itu sebuah nyala semangat muncul di kedua mata Gerald.

Ia mengangguk pelan. “Ya. Aku akan bawa mereka kembali.”

***

Hari itu.

Pukul tiga sore, Gerald sudah berdiri di seberang sekolah internasional tempat Rafael belajar. Jantungnya berdentum keras, lebih keras daripada saat ia menghadapi krisis perusahaan miliaran rupiah. Tangannya dingin di dalam saku mantel.

Lalu, mobil itu datang. Mobil yang sama yang ia lihat kemarin.

Elena turun dari kursi pengemudi. Ia mengenakan mantel cokelat muda yang elegan. Namun, Gerald menyadari sesuatu yang berbeda hari ini. Elena tampak gelisah. Bahunya tegang, dan matanya terus menyapu sekitar trotoar dengan cepat, seolah instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Gerald tidak bisa menahannya lagi. Jarak di antara mereka hanya sepuluh meter, namun rasanya seperti jurang yang tak berdasar.

"Elena," suara Gerald keluar, lebih rendah dari yang ia rencanakan, namun cukup kuat untuk membelah kebisingan kota.

Elena membeku. Gerakannya yang hendak menutup pintu mobil terhenti seketika. Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia tidak bergerak. Kemudian, dengan sangat lambat, ia menoleh.

Mata mereka bertemu.

Gerald melihat keterkejutan yang murni di wajah Elena. Napas wanita itu tertahan, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar. Ada kilatan luka, ketakutan, dan pertahanan diri yang luar biasa dalam matanya.

"Elena... ini aku," bisik Gerald, melangkah maju satu langkah.

Namun, reaksi Elena bukanlah apa yang Gerald bayangkan. Elena tidak berteriak. Ia tidak marah. Ia tidak memaki.

Elena justru memilih untuk membisu. Ia menatap Gerald dengan tatapan kosong yang paling menyakitkan yang pernah Gerald terima. Ia seolah-olah sedang menatap orang asing yang tidak berarti dalam hidupnya. Elena segera memalingkan wajah, menarik napas dalam-dalam seolah berusaha mengusir gangguan yang tidak diinginkan, dan berbalik menghadap gerbang sekolah yang mulai terbuka.

Ia mengabaikan Gerald sepenuhnya. Seolah-olah suara Gerald hanyalah desau angin yang tak perlu didengar.

Gerald terpaku di tempatnya. Penolakan tanpa kata itu jauh lebih menghancurkan daripada tamparan. "Len, tolong... dengarkan aku sekali saja," pinta Gerald, suaranya bergetar.

Elena tetap tidak bergeming. Ia berdiri membelakangi Gerald, punggungnya tegak dan kaku, menunjukkan benteng yang telah ia bangun selama lima tahun terakhir.

Saat itulah, pintu sekolah terbuka lebar. Serombongan anak kecil berlarian keluar dengan tawa yang riuh.

"Mama!"

Suara itu datang dari arah gerbang. Rafael muncul, berlari dengan tas punggung kecilnya yang bergambar astronot. Elena langsung berjongkok, merentangkan tangannya untuk menyambut sang putra. Namun, langkah Rafael mendadak melambat saat matanya yang tajam menangkap sosok pria yang berdiri tak jauh dari ibunya.

Elena menyadari perubahan arah pandang anaknya. Ia mencoba menarik Rafael ke dalam pelukannya, mencoba memalingkan wajah anak itu. "Ayo sayang, kita pulang sekarang," kata Elena pelan, suaranya terdengar mendesak.

Namun, Rafael tidak bergerak. Anak itu menatap Gerald dengan mata besar yang penuh binar. Ada sesuatu di dalam mata anak itu—sebuah pengenalan yang mistis, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.

Gerald menahan napas. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih kecil dan lebih murni sedang menatapnya.

Elena mencengkeram bahu Rafael, mencoba membawa anak itu pergi tanpa sekali pun menoleh lagi pada Gerald. Tapi Rafael justru melepaskan tangan ibunya.

Langkah kecil Rafael maju satu langkah. Lalu dua langkah. Ia tidak takut. Ia tidak bingung. Wajah anak itu justru cerah dengan binar kegembiraan yang tulus.

Gerald merasa dunianya runtuh saat ia melihat bibir kecil itu terbuka.

"Papa!"

Teriakan itu melengking jernih di antara hiruk-pikuk sore di London.

Gerald jatuh berlutut di atas trotoar yang dingin. Seluruh pertahanannya, topeng dinginnya sebagai direktur, harga dirinya—semuanya hancur berkeping-keping saat itu juga. Air mata yang ia tahan selama lima tahun akhirnya tumpah tanpa kendali.

Elena mematung. Wajahnya pucat pasi mendengar kata yang keluar dari bibir putranya. Kata yang selama lima tahun ia coba kubur dalam-dalam, kini meledak di depan matanya.

Rafael terus berlari menuju Gerald, sementara Gerald hanya bisa merentangkan tangannya, menyambut satu-satunya jawaban dari semua doa sunyinya selama ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 40

    Setelah memastikan Rafael masuk ke dalam barisan anak-anak yang memakai ransel warna-warni, Gerald dan Elena masih berdiri di depan gerbang sekolah. Gerald melipat tangannya di dada, matanya tidak lepas dari sosok kecil yang sekarang sedang memamerkan senter tiga warnanya kepada seorang teman sekelasnya."Dia benar-benar tidak menoleh ke belakang lagi, ya?" gumam Gerald, ada nada sedikit 'patah hati' dalam suaranya.Elena terkekeh pelan. "Itu artinya dia merasa aman, Gerald. Kamu sudah membekalinya dengan 'Kapten Bear' dan tenda bintang yang sanggup menahan serangan alien. Dia merasa seperti pahlawan sekarang."Gerald tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Elena. "Jadi... janji makan malam itu masih berlaku? Mengingat malam ini rumahmu akan sangat sepi tanpa suara mesin roket."Elena merapikan mantelnya, menatap Gerald sejenak. "Masih. Tapi aku harus ke galeri dulu. Ada beberapa pengiriman lukisan yang harus aku awasi.""Aku jemput jam tujuh?""Jam tujuh," jawab Elena sebelum berjalan

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 39

    London mulai memasuki musim yang sejuk ketika Gerald memarkirkan Range Rover-nya di depan sekolah Rafael. Hari itu, Elena benar-benar sibuk dengan pertemuan kurator internasional, sehingga Gerald mendapatkan "tiket emas" untuk menjemput putra kecilnya lebih awal.Pintu sekolah terbuka, dan sosok kecil dengan tas roketnya berlari keluar. Wajah Rafael tampak sangat serius, alisnya bertaut, mirip sekali dengan ekspresi Gerald saat sedang menghadapi rapat direksi yang alot."Papa!" seru Rafael sambil menghambur ke pelukan Gerald."Halo, Jagoan. Kok mukanya ditekuk gitu? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Gerald sambil menggendong Rafael masuk ke mobil.Rafael menggeleng cepat, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari tasnya. "Enggak, Pa. Tapi ini... Miss Honey bilang besok ada Spring Camping. Rafael harus tidur di tenda sama teman-teman di taman sekolah. Tapi Rafael nggak punya tenda! Rafael nggak punya lampu senter! Nanti kalau ada monster gelap gimana?"Gerald tertawa

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 38

    Hujan London malam itu tidak sedahsyat badai tempo hari, namun dinginnya jauh lebih menusuk hingga ke tulang. Gerald masih berdiri di depan pintu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Mantel wol mahalnya sudah berubah menjadi berat karena air. Namun, ia tidak bergeming. Ia menatap ke arah jendela lantai atas, berharap siluet wanita yang dicintainya itu muncul kembali.Di balik gorden, Elena meremas kain beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih. Bayangan tentang dokumen "Oktober lima tahun lalu" itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kepercayaannya. Bagaimana mungkin pria yang sekarang terlihat begitu rapuh di bawah hujan, dulunya adalah pria yang sanggup menandatangani hak asuh tunggal bahkan sebelum anaknya lahir?"Papa... kenapa Papa di luar? Papa kedinginan?"Suara serak Rafael di belakangnya membuat Elena tersentak. Bocah itu berdiri di ambang pintu kamar dengan mata mengantuk, memeluk bantal astronotnya. Rupanya suara teri

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 37

    Kemilau lampu kristal di galeri mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan lampu sorot temaram yang mengarah tepat ke lukisan-lukisan utama. Kesuksesan pameran malam itu menyisakan rasa lelah yang manis di bahu Elena. Tamu-tamu VIP telah pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan sisa-sisa sampanye di udara.Elena berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap lukisan abstrak di depannya. Tiba-tiba, sebuah jas hangat tersampir di bahunya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas itu sudah terlalu akrab."Rafael sudah tidur di mobil, dijaga oleh Lucas," bisik Gerald, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, namun kehadirannya terasa begitu protektif."Terima kasih untuk tadi, Gerald. Tapi kamu tidak seharusnya bicara begitu di depan pers," ujar Elena pelan, tangannya merapatkan jas Gerald di tubuhnya."Aku hanya mengatakan kebenaran yang tertunda selama lima tahun, El. Aku tidak mau kamu dianggap sebagai pion dalam permainan bisnis

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 36

    BAB 35: PERTANYAAN DI BALIK LANGIT-LANGIT BINTANGMalam di Richmond selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil, namun malam ini, di dalam rumah kayu yang hangat itu, Gerald merasa seolah ia baru saja memenangkan kontrak terbesar dalam hidupnya. Teh di cangkirnya sudah mendingin, tapi percakapan di meja makan masih mengalir, meski Elena lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."Papa, nanti kalau kita ke tempat salju, kita bawa astronotnya juga?" tanya Rafael, matanya mulai sayu karena kantuk, tapi bibirnya tak berhenti mengoceh."Tentu saja. Astronot harus siap di segala medan, kan? Salju itu seperti permukaan planet es," jawab Gerald sambil mengacak rambut Rafael.Elena berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong. "Sudah jam sembilan, Rafael. Waktunya tidur. Besok Mama harus ke galeri pagi-pagi untuk final check pameran.""Yah... tapi Rafael masih mau sama Papa," rengek si kecil.Gerald menatap Elena, meminta izin melalui tatapan matanya. Elena hanya menghela

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 35

    Pagi itu, Richmond diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Gerald sudah berdiri di depan pintu rumah Elena tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya; kali ini ia memilih turtleneck hitam dibalut mantel wol berwarna abu-abu arang. Tangannya membawa satu kotak kecil berisi croissant hangat dari toko roti favorit Rafael yang baru saja buka.Pintu terbuka, menampilkan Elena dengan rambut yang masih agak acak-acakan—pemandangan langka yang membuat jantung Gerald berdesir. Ia tampak seperti Elena yang dulu, Elena yang sering ia bangunkan dengan kecupan di kening sebelum dunia bisnis merenggut kewarasan mereka."Kamu tepat waktu," gumam Elena, suaranya serak khas bangun tidur."Aku tidak ingin membuat Jenderal kecilku menunggu," jawab Gerald lembut, menyodorkan kotak roti itu. "Ini untuk sarapan kalian. Aku tahu kamu tidak sempat masak kalau ada pertemuan subuh."Elena menerima kotak itu, jari mereka bersentuhan sekejap, dan Elena seg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status