MasukBentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca.
Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan pun kembali melanjutkan langkahnya, "orang kampung ... pantas saja kampungan!" sindir Awan saat tepat melewati Mega. Namun Mega hanya diam tak berani menjawab. Beberapa menit kemudian merasa yakin jika Awan sudah menghilang, Mega pun memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Mega pijaki beberapa anak tangga, hingga kini ia tiba di pintu utama. "Dari mana saja, Mbak? Bu Amelia sudah menunggu!" ucap satpam yang hendak mencari keberadaan Mega. "Maaf, Pak!" ucap Mega terdengar lesu. "Cepat ajak masuk dia, Pak!" suara seorang perempuan terdengar menyahuti dari dalam. "Mari," Satpam penjaga rumah Awan mempersilahkan Mega masuk lebih dulu. ****** Di Ruang Tamu Tampaklah di kursi ruang tamu, dua orang lelaki dan satu wanita telah menunggunya, ketiganya tidak lain adalah Amelia, Awan dan Tomi. Ketiganya sama-sama mengarahkan tatapan mereka pada Mega. Mega tampak canggung menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian. "Ini yang namanya Mega ya, Kak?" tanya Tomi. "Cantik, pilihan Kakak memang tidak pernah salah!" puji Tomi. Amelia tersenyum tipis, "ternyata foto dan aslinya sangat berbeda ya ...!" ucap Amelia. "Yang aslinya lebih cantik dari pada yang di foto!" lanjutnya. "Selera kalian memang buruk, seperti itu kalian bilang cantik!" sinis Awan membuang muka ke arah yang lain. Amelia dan Tomi bersamaan menoleh pada Awan. Sementara Mega hanya diam menundukkan kepalanya. Awan kemudian bangkit dari duduknya, dengan kedua tangan ia selipkan di kedua saku celananya, lelaki tampan namun sedikit sinis itu melangkah maju mendekati Mega, "apa kamu tidak berfikir panjang, Mel?, orang kampungan seperti dia mau kau suruh mengandung anak keturunanku!" ucap Awan begitu melukai hati Mega. Tubuh Mega gemetar menahan sebak di dalam dadanya, ia megepal erat menahan emosi yang semakin membuncah di dalam dadanya. "Lalu bagaimana, dia sudah kita bawa kesini, Wan?" sahut Amelia. "Kenapa bingung, kita bisa jadikan pembantu di rumah ini!" jawab Awan dengan begitu entengnya. "Tapi aku sudah membayar dia lebih dulu!" lanjut Amelia. Awan tersenyum sinis, "salahmu sendiri, berurusan dengan orang kampung, apa lagi dengan uang pasti akan rumit. Ya ... walau tidak semua tapi rata-rata orang kampung itu semua mata duitan!" pedas Awan berucap, seolah sengaja menyudutkan Mega. Dada Mega tiba-tiba terasa sesak, dengan tubuh gemetar Mega memberanikan diri menegakkan pandangannya. "Apa sehina itu orang kampung di mata Bapak??" tanya Mega. Mendnegar jawaba Mega, Awan memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Mega. Sorot mata keduanya saling beradu pandang, dari sorot mata keduanya itu menyiratkan sebuah ketidak sukaan di antara keduanya, "kalau memang tidak mata duitan, lalu alasan apa yang membawamu sampai kesini?" sinis Awan semakin melangkah mendekati Mega. Mega masih belum menjawab, ia masih diam dan tetep melayangkan pandangannya pada lelaki yang kini berdiri tepat di hadapannya itu. Tak segera mendapat jawaban dari Mega, Awan semakin mendekatkan wajahnya pada, namun tinggi yang tak sepadan membuat lelaki itu sedikit menundukkan tubuhnya, "tujuanmu menyewakan rahimmu lalu mendapatkan uang dari kami kan? Apa itu namanya kalau bukan mata duitan. Menyewakan rahim demi sejumlah uang sama saja menjual diri, lalu apa bedanya kamu dengan wanita yang menjajakan diri di luar sana!" Awan semkin pedas berucap. "Wanita yang memiliki martabat tidak akan semudah itu menjual tubuhnya untuk mendapatkan banyak uang secara instan!" lanjut Awan. Tubuh Mega bergetar menahan kekesalan, tangannya mengepal geram, matanya berkaca-kaca namun air mata itu ia tahan agar tidak menetes di hadapan lelaki angkuh di hadapannya itu, "terserah, Bapak mau memandang saya seperti apa, tapi tolong lanjutkan kesepakatan kita, jangan persulit semuanya seperti ini, saya sangat membutuhkan uang itu, Pak!" mohon Mega menekan harga dirinya demi sang Nenek. Awan tersenyum miring, kembali ia menegakkan tubuhnya lalu membuang muka kearah yang lain, "aku fikir kamu tidak tuli. Aku sudah bilang, aku tidak mau anak keturunanku lahir dari wanita kampungan seperti kamu!" ulang Awan dengan nada tegas. Mega menarik nafas, wajahnya merah padam, air mata semakin tak bisa dibendung di pelupuk matanya, perlahan Mega menoleh pada Amelia, "bagaimana ini, Bu? kalau memang Bapak tidak berkenan, saya minta pulangkan saya kembali ke kampung halaman saya!" pinta Mega tak kalah tegas. "Dasar, orang kampung, sudah menerima uang mau meminta pulang seenaknya, apa ini tidak termasuk ke dalam penipuan?" sinis Awan menyahuti. Mega dibuat semakin geram dengan sikap Awan, baru kali ini ia merasa dipermainkan, "lalu apa mau, Bapak, saya harus bagaimana?" tanya Mega sedikit meninggikan suaranya. Awan kembali menoleh pada Mega, "kalau kamu tidak tuli, harusnya kamu paham denga apa yang aku ucapkan tadi!" jawab Awan melenggang pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja. Begitu kesalnya, dengan mata nyalang memerah Mega mengarahkan tatapan sinisnya pada Awan. "Tidak apa-apa, dia memang kadang sedikit keras pada orang yang baru di kenal, pintar-pintarlah mengambil hatinya kalau kamu memang membutuhkan uang itu!" ucap Amelia membuat Mega segera menoleh padanya. "Berarti prosesnya akan sedikit lama, Bu?" tanya Mega, ada kesedihan dari nada bicara yang baru saja ia ucapkan. Amelia mengangguk, "saya belum berani memberikan uang kalau belum melihat hasilnya. Uang yang saya berikan itu juga sebenarnya hanya karena saya merasa kasihan mendengar cerita hidupmu," ungkap Amelia. "Untuk sementara, sesuai ucapan Pak Awan, kamu jadilah pembantu lebih dulu sampai Pak Awan luluh dan membiarkan kamu mengandung anak kami!" jelas Amelia. Mega mengangguk lesu, 'tunggu ya, Nek! Megapasti akan membawa uang banyak untuk biaya pengobatan Nenek!" batin Mega. "Tom, antar Mega ke kamar belakang!" perintah Amelia. "siap, Kak, sekalian aku mau ke toilet," jawab Tomi. "Hemm! Ikuti dia!" perintah Amelia lagi. "Ayo, Mbak!" ajak Tomi tampak begitu bersemangat. Mega mengangguk, ia melangkahkan kakinya mengikuti Tomi. Tanpa orang-orang itu sadari, Awan masih mengamati mereka dari balik dinding ruangan lain. BERSAMBUNG ....Rasa nyeri terasa menusuk hati Mega dengan begitu dalam, "tadi Mbak Minah yang menyambut saya kesini atas perintah Pak Awan...kalau kehadiran saya membuat Bu Amel terganggu biar saya kembali ke paviliun saja," pamit Mega. Amelia sini tersenyums, "baguslah kalau kamu sadar diri," Mega mengangguk, lalu memutar tubuhnya. “Tunggu, Mel… tadi memang aku yang meminta Mbak Minah memanggil Mega, mau bagimanapun Mega juga butuh asupan,” jelas Awan. Amelia menatap Mega dengan sedikit tajam. Ucapan Awan tak membuat Mega menghentikan langkah kakinya, dan Awan pun buru-buru mengejar Mega. Saat tepat di belakang Mega Awan segera meraih pergelangan tangan Mega dan sontak saja Mega pun menghentikan langkah kakinya namun tanpa menoleh ke Awan. "Kamu juga harus makan!" cegah Awan. "Saya belum lapar, lebih baik Bapak dan Ibu saja yang makan!" tolak Mega sedikit ketus. Awan menarik tangan Mega membuat Mega tersentak dan sontak saja tubuhnya berputar menghadap Awan. Sorot mata Awan tampak tajam me
Awan mengerutkan kening, sementara Mega menarik tangan hingga terlepas dari genggaman tangan Awan. “Maksudmu?” tanya Awan. Mega menghela nafas, “kemarin Bapak bilang Bu Amelia tidak bisa melayani selayaknya istri pada suaminya, itu alasan Bapak menjadikan saya sebagai penggantinya, bahkan sampai menyiapkan segala keperluan Anda pun juga saya yang lakukan, dan sepertinya sekarang Bu Amelia sudah bisa melayani Anda, jadi hari ini minta tolong pada Bu Amelia saja,” terang Mela yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Awan. Awan terhenyak sesaat, bukannya marah justru Awan mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. "Sikapnya ... apa itu artinya dia cemburu?!" gumam Awan, dada Awan seketika menghangat dan semburat merah tempak mengembang mewarnai wajah Awan kala itu.Awan lalu meneruska langkahnya, pelan ia susuri langkah demi langkah untuk menyusul Mega dan berutungnya dugaan Awan benar, ia bisa menemukan Mega yang tengah berdiri di tepian sungai buatan.Sebuah senyuma kembali te
"Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber
Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe
Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja
Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Mega lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya. Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas men
Di Area Kamar ART "Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi. "Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat. Sang Art senior segera melongok ke arah belakang
"Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya. "tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir den







