แชร์

Bab 2. Dingin

ผู้เขียน: ADZWADA_KINAKA
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-06 21:26:01

Bentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca.

Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan pun kembali melanjutkan langkahnya, "orang kampung ... pantas saja kampungan!" sindir Awan saat tepat melewati Mega.

Namun Mega hanya diam tak berani menjawab.

Beberapa menit kemudian

merasa yakin jika Awan sudah menghilang, Mega pun memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah.

Mega pijaki beberapa anak tangga, hingga kini ia tiba di pintu utama.

"Dari mana saja, Mbak? Bu Amelia sudah menunggu!" ucap satpam yang hendak mencari keberadaan Mega.

"Maaf, Pak!" ucap Mega terdengar lesu.

"Cepat ajak masuk dia, Pak!" suara seorang perempuan terdengar menyahuti dari dalam.

"Mari," Satpam penjaga rumah Awan mempersilahkan Mega masuk lebih dulu.

******

Di Ruang Tamu

Tampaklah di kursi ruang tamu, dua orang lelaki dan satu wanita telah menunggunya, ketiganya tidak lain adalah Amelia, Awan dan Tomi.

Ketiganya sama-sama mengarahkan tatapan mereka pada Mega.

Mega tampak canggung menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian.

"Ini yang namanya Mega ya, Kak?" tanya Tomi.

"Cantik, pilihan Kakak memang tidak pernah salah!" puji Tomi.

Amelia tersenyum tipis, "ternyata foto dan aslinya sangat berbeda ya ...!" ucap Amelia.

"Yang aslinya lebih cantik dari pada yang di foto!" lanjutnya.

"Selera kalian memang buruk, seperti itu kalian bilang cantik!" sinis Awan membuang muka ke arah yang lain.

Amelia dan Tomi bersamaan menoleh pada Awan.

Sementara Mega hanya diam menundukkan kepalanya.

Awan kemudian bangkit dari duduknya, dengan kedua tangan ia selipkan di kedua saku celananya, lelaki tampan namun sedikit sinis itu melangkah maju mendekati Mega, "apa kamu tidak berfikir panjang, Mel?, orang kampungan seperti dia mau kau suruh mengandung anak keturunanku!" ucap Awan begitu melukai hati Mega.

Tubuh Mega gemetar menahan sebak di dalam dadanya, ia megepal erat menahan emosi yang semakin membuncah di dalam dadanya.

"Lalu bagaimana, dia sudah kita bawa kesini, Wan?" sahut Amelia.

"Kenapa bingung, kita bisa jadikan pembantu di rumah ini!" jawab Awan dengan begitu entengnya.

"Tapi aku sudah membayar dia lebih dulu!" lanjut Amelia.

Awan tersenyum sinis, "salahmu sendiri, berurusan dengan orang kampung, apa lagi dengan uang pasti akan rumit. Ya ... walau tidak semua tapi rata-rata orang kampung itu semua mata duitan!" pedas Awan berucap, seolah sengaja menyudutkan Mega.

Dada Mega tiba-tiba terasa sesak, dengan tubuh gemetar Mega memberanikan diri menegakkan pandangannya.

"Apa sehina itu orang kampung di mata Bapak??" tanya Mega.

Mendnegar jawaba Mega, Awan memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Mega.

Sorot mata keduanya saling beradu pandang, dari sorot mata keduanya itu menyiratkan sebuah ketidak sukaan di antara keduanya, "kalau memang tidak mata duitan, lalu alasan apa yang membawamu sampai kesini?" sinis Awan semakin melangkah mendekati Mega.

Mega masih belum menjawab, ia masih diam dan tetep melayangkan pandangannya pada lelaki yang kini berdiri tepat di hadapannya itu.

Tak segera mendapat jawaban dari Mega, Awan semakin mendekatkan wajahnya pada, namun tinggi yang tak sepadan membuat lelaki itu sedikit menundukkan tubuhnya, "tujuanmu menyewakan rahimmu lalu mendapatkan uang dari kami kan? Apa itu namanya kalau bukan mata duitan. Menyewakan rahim demi sejumlah uang sama saja menjual diri, lalu apa bedanya kamu dengan wanita yang menjajakan diri di luar sana!" Awan semkin pedas berucap.

"Wanita yang memiliki martabat tidak akan semudah itu menjual tubuhnya untuk mendapatkan banyak uang secara instan!" lanjut Awan.

Tubuh Mega bergetar menahan kekesalan, tangannya mengepal geram, matanya berkaca-kaca namun air mata itu ia tahan agar tidak menetes di hadapan lelaki angkuh di hadapannya itu, "terserah, Bapak mau memandang saya seperti apa, tapi tolong lanjutkan kesepakatan kita, jangan persulit semuanya seperti ini, saya sangat membutuhkan uang itu, Pak!" mohon Mega menekan harga dirinya demi sang Nenek.

Awan tersenyum miring, kembali ia menegakkan tubuhnya lalu membuang muka kearah yang lain, "aku fikir kamu tidak tuli. Aku sudah bilang, aku tidak mau anak keturunanku lahir dari wanita kampungan seperti kamu!" ulang Awan dengan nada tegas.

Mega menarik nafas, wajahnya merah padam, air mata semakin tak bisa dibendung di pelupuk matanya, perlahan Mega menoleh pada Amelia, "bagaimana ini, Bu? kalau memang Bapak tidak berkenan, saya minta pulangkan saya kembali ke kampung halaman saya!" pinta Mega tak kalah tegas.

"Dasar, orang kampung, sudah menerima uang mau meminta pulang seenaknya, apa ini tidak termasuk ke dalam penipuan?" sinis Awan menyahuti.

Mega dibuat semakin geram dengan sikap Awan, baru kali ini ia merasa dipermainkan, "lalu apa mau, Bapak, saya harus bagaimana?" tanya Mega sedikit meninggikan suaranya.

Awan kembali menoleh pada Mega, "kalau kamu tidak tuli, harusnya kamu paham denga apa yang aku ucapkan tadi!" jawab Awan melenggang pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja.

Begitu kesalnya, dengan mata nyalang memerah Mega mengarahkan tatapan sinisnya pada Awan.

"Tidak apa-apa, dia memang kadang sedikit keras pada orang yang baru di kenal, pintar-pintarlah mengambil hatinya kalau kamu memang membutuhkan uang itu!" ucap Amelia membuat Mega segera menoleh padanya.

"Berarti prosesnya akan sedikit lama, Bu?" tanya Mega, ada kesedihan dari nada bicara yang baru saja ia ucapkan.

Amelia mengangguk, "saya belum berani memberikan uang kalau belum melihat hasilnya. Uang yang saya berikan itu juga sebenarnya hanya karena saya merasa kasihan mendengar cerita hidupmu," ungkap Amelia.

"Untuk sementara, sesuai ucapan Pak Awan, kamu jadilah pembantu lebih dulu sampai Pak Awan luluh dan membiarkan kamu mengandung anak kami!" jelas Amelia.

Mega mengangguk lesu, 'tunggu ya, Nek! Megapasti akan membawa uang banyak untuk biaya pengobatan Nenek!" batin Mega.

"Tom, antar Mega ke kamar belakang!" perintah Amelia.

"siap, Kak, sekalian aku mau ke toilet," jawab Tomi.

"Hemm! Ikuti dia!" perintah Amelia lagi.

"Ayo, Mbak!" ajak Tomi tampak begitu bersemangat.

Mega mengangguk, ia melangkahkan kakinya mengikuti Tomi.

Tanpa orang-orang itu sadari, Awan masih mengamati mereka dari balik dinding ruangan lain.

BERSAMBUNG ....

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 48. Tantangan

    Mega terkesiap saat akhirnya pintu kamarnya terbuka, wajahnya tampak menegang, hingga perasaan tegang itu menghilang saat sosok Awanlah yang muncul dari balik pintu. "Pak Awan!" ucap Mega penuh kelegaan. Awan segera mengarahkan tatapannya pada Mega. "Ada apa? kenapa wajahmu begitu sumringah setelah melihat aku?" tanya Awan. Seketika itu juga, wajah sumringah Mega kembali berubah masam. "Ada apa lagi, Bapak kemari? Bukannya saya sudah bilang jangan datang kemari kecuali Bapak ....!" Mega tak melanjutkan ucapannya. Awan tak segera menjawab, ia lebih dulu melangkahkan kakinya lalu duduk tepat di sebalah Mega. Mega pun menggeser duduknya menjauhi Awan. "Kenapa harus membuat aturan seperti itu?" tanya Awan tanpa menoleh pada Mega. Sementara Mega justru mengarahkan tatapannya pada Awan, "saya sudah pernah bilang, saya tidak mau menghancurkan rumah tangga anda dan Bu Amelia," jelas Mega. "Cukup Mega!" Awan menoleh membalas menatap Mega, kini sorot mata keduanya saling ber

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 47. Siapa?

    Di balik pintu, Mega masih terdiam. "Ayolah, Mega, nampan ini berat," keluh Awan dari balik pintu. Akhirny Mega mengalah, ia lalu membuka pintu selebar-lebarnya. Awan menyunggingkan senyum lebar, namun senuman itu tak mendapat balasan dari Mega. Mega lebih dulu memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu di depan Awan. Hingga langkah kaki keduanya tiba di dapur. Awan segera menurunkan nampan di atas meja, dan ia pun menata meja makan Mega yang awalnya kosong menjadi berisi makanan yang lengkap. "Sudah siap ... ayo kita makan!" ajak Awan. Lebih dulu Mega tatapi satu persatu makanan yang sudah tersaji di atas meja makannya, "kenapa, Bapak repot-repot begini, saya sedang tidak berselera," Mega tampak lesu. Awan tak menjawab, ia justru menarik satu kursi di dekat Mega, "duduklah ... walau tidak berselera, kau harus tatap makan, jangan sampai kamu sakit bahkan sampai kurus, nanti apa kata orang?" ucap Awan sengaja membercandai Mega. "Kata orang ... memang siapa yang tau kala

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 46. Pintu Paviliun

    Melihat kehadiran Amelia, Minah seketika menundukkan kepalanya, sementara Awan justru mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang masih menyandang setatus istri pertamanya itu. "Memangnya semalam kau pergi kemana?" tanya Awan. Amelia membalas tatapan tajam dari Awan, "setelah perdebatan semalam, aku memilih menenangkan diri dirumah, Mama," sahut Amelia beralasan. "Lain kali jangan keluar rumah tanpa seijinku," sahut Awan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Amelia terdiam, hanya sorot matanya yang mengikuti langkah Awan, sampai Awan masuk ke dalam kamarnya. Lalu perlahan Amelia melangkahkan kakinya menghampiri Minah. Minah yang merasa takut hanya menundukkan tanpa berani menegakkan kepalanya. "Atas dasar apa Mbak Minah mengadu seperti itu?" tanya Amelia. "Maaf, Nyonya, bukan maksud saya mengadu, tapi ...." "Alah ... tidak usah banyak tapi, sudah jelas aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri," potong Amelia sebelum Minah selesai melanjutkan ucap

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 45. Hasrat

    Mega tak menerima begitu saja. Ia berusaha membrontak, namun sayang tenaganya yang tidak sepadan dengan Awan disertai tubuh yang belum benar-benar pulih membuat Mega kalah dan hanya bisa menerima apa yang dilakukan Awan padanya. ****** Di Kamar Amelia "Sepertinya Awan tadi tidak menyadari," ucap Amelia sembari menatapi pantulan lehernya yang tampak memerah di beberapa bagian. Cermin besar itu terus ia tatapi, "dasar Adit sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan bekas sebanyak ini!" grutu Amelia. Ia lalu meraih sebuah botol berisi cairan bening, lalu ia teteskan pada sebuah kapas tipis. Amelia lalu menggosokkan kapas yang sudah basah itu pada beberapa titik lehernya yang tampak memerah. "Aduuhhh ... kenapa tidak mau hilang?" wajah Amelia tampak kebingungan. "Kalau begini caranya, bagaimana aku bertemu dengan Awan nanti," gumamnya. Merasa kesal karena tak mendapatkan cara menghilangkan bekas merah disekitar lehernya, Amelia memilih bangkit dari duduknya. Ia lalu merebahkan

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 44. Menyalurkan Hasrat

    Sorot mata Amelia segera tertuju pada kedua tangan Mega dan Awan yang tengah saling bergandengan, sontak saja Mega menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Awan. Amelia yang awalnya hendak masuk ke dalam lift pun akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu disusul Mega dan Awan di belakanya. "Aku dengar dari Mbak Minah kalau Mega sakit, makanya aku sengaja datang untuk membesuk. Tapi ternyata seudah sembuh," ucap Amelia ketika telah sampai di depan pintu lobby. "Semalam dia memang sakit, makanya aku langsung membawanya kesini," sahut Awan. Sahutan itu hanya dijawab senyum sinis oleh Amelia, hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Pak Arman pun telah datang. Amelia dan Awan duduk di kursi belakang sementara Mega duduk di kursi depan di samping Pak Arman. "Sudah baikan, Neng?" tanya Arman. Mega tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja baik, semalam aku ke paviliun juga dia baik-baik saja," sahut Amelia sedikit sinis. "Atau sakitmu hanya pura-pura, un

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 43. Pulang

    "Sudahlah, Pak!, Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu ada yang ditutupi lagi," sahut Mega sinis. Awan mengehela nafas, berusaha meredam gejolak emosinya yang sempat memanas, "jangan mengajak aku berdebat, keadaanmu belum pulih, beristirahatlah," pungkas Awan. Mega kini hanya diam, hal itu membuat suasana ruang perawatannya sejenak terasa sunyi senyap. "Mau makan apa? Biar aku carikan?!" tawar Awan. Namun Mega hanya diam. "Aku bertanya padamu, Mega," Awan sedikit meninggikan suaranya. Hal itu membuat Mega mengarahkan tatapannya pada Awan. "Saya tidak lapar," singkat Mega yang kembali membuang muka ke arah yang lain. "Setidaknya makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu," Awan sedikit melembutkan nada bicaranya. "Saya sudah bilang saya tidak lapar, lagi pula nanti pasti mendapat jatah makan dari rumah sakit, saya makan itu saja," sahut Mega lagi. Awan kembali menghela nafas, "dasar keras kepala," gumam Awan mengepal geram. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di bela

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status