Share

Bab 20

Penulis: Mumu Mooi
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 21:47:46

“Kalian ada sesuatu yang nggak aku tahu?”

Tatapan Ririn penuh selidik, yang justru membuat Aluna tidak bisa berkutik. Namun tentu saja Aluna sulit untuk menceritakan pada Ririn, walaupun ia percaya jika Ririn tidak akan membocorkan rahasianya.

“Ma—maksud kamu apa, Rin?” Aluna berusaha untuk bersikap tenang, namun tetap saja suara yang keluar dari mulutnya terbata-bata dan itu membuat Ririn semakin curiga.

“Lun…” desak Ririn.

Aluna semakin menundukkan kepalanya yang membuat Ririn semakin resah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 50

    Hembusan napas berat dari Ragil terdengar begitu kentara di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.“Nggak perlu repot-repot, Lun. Tadi di ruang rapat sudah disediakan snack berat, aku sudah agak kenyang,” ujar Ragil dengan nada suara yang terkesan enggan.Ucapan Ragil itu sempat membuat senyum di wajah Aluna menyusut, namun ia buru-buru menguasai diri. Aluna tahu jika dirinya tidak boleh egois saat suaminya sedang ditekan beban pekerjaan."Tapi makanannya sudah terlanjur aku pesan, Mas. Ini sup iga sama iga bakar madu kesukaan kamu, lagi aku hangatkan di microwave," sahut Aluna lembut dan berusaha membujuk tanpa terkesan memaksa.Ia berjalan mendekati microwave yang sudah berbunyi, menandakan proses pemanasan telah selesai.“Sayang kalau dibuang. Sedikit saja, ya? Biar perut kamu tetap keisi makanan hangat,” sambung Aluna.Ragil menatap punggung Aluna yang tengah sibuk mengeluarkan mangkuk sup yang mengepulkan asap tipis. Keheningan sempat mengg

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 49

    Aluna tersentak di tempatnya berdiri. Suara pintu yang tertutup dengan keras itu seolah meremukkan sisa-sisa gairah yang sempat membakar tubuhnya beberapa saat lalu. Ruang kerja yang megah ini mendadak terasa begitu dingin dan asing. Rasa bersalah, malu, dan cemburu bercampur aduk menjadi gumpalan sesak di dadanya.Ia melirik ke arah meja kerja Ragil. Kursi besar yang tadi menjadi saksi bisu bagaimana jemari Ragil menyentuhnya kini tampak kosong. Aluna mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap pintu yang tertutup rapat.“Bisa-bisanya kamu membela sekretaris itu dan menyalahkan aku, Mas?” bisik Aluna pada keheningan ruangan.Rasa penasaran dan amarahnya justru kian membara. Aluna melangkah mendekati cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Kini rambutnya sudah rapi kembali, namun bibirnya masih sedikit bengkak dan memerah akibat pagutan kasar Ragil tadi. Ada kilat kemarahan yang jelas di sepasang matanya.Aluna tidak bisa pulang begitu saja dengan perasaan kala

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 48

    Suara wanita dari arah pintu seketika menyentak Ragil dan Aluna. Pagutan kasar yang baru saja membakar mereka terputus paksa. Keduanya menoleh cepat dengan napas memburu, dan jantung Aluna rasanya hampir mencelat keluar saat menyadari sosok wanita yang berdiri membeku di ambang pintu adalah Anggun.Aluna bergerak panik. Ia segera turun dari pangkuan Ragil dan buru-buru menarik roknya ke bawah dan merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat jemari nakal Ragil tadi. Merasa begitu telanjang oleh rasa malu, Aluna pun sengaja memunggungi Anggun dan menyembunyikan wajahnya yang memerah padam karena tertangkap basah bermesraan dengan suaminya sendiri. Sementara itu Ragil bangkit berdiri, berusaha menguasai keadaan sambil membenarkan letak kemejanya yang kusut.“Ada apa?” tanya Ragil. Nada suaranya diatur sedatar mungkin, menyembunyikan getaran gairah yang belum sepenuhnya surut.“E.. maaf, Pak. Saya cuma mau mengingatkan kalau rapat akan segera dimulai,” ujar Anggun terbata-bata, sambil men

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 47

    Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Aluna menarik napas pelan lalu tersenyum tipis. Ia pun menganggukkan kepala dengan sopan.“Terima kasih, Anggun.”“Sama-sama, Bu Aluna,” jawab Anggun sambil membalas anggukan tersebut.Tak lama kemudian wanita itu melirik ke arah Ragil dan Pak Beni sebelum kembali bersuara.“Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya masih harus menyiapkan beberapa bahan untuk rapat siang nanti.”“Ya, silakan,” sahut Pak Beni lebih dulu sebelum Ragil sempat menjawab.“Permisi.” Anggun mengangguk hormat dan kemudian ia melangkah meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya.Aluna tanpa sadar mengikuti kepergian wanita itu selama beberapa detik. Baru setelah sosok Anggun menghilang di balik koridor, ia mengalihkan kembali perhatiannya.Entah kenapa perasaan tidak nyaman yang sempat muncul tadi masih tertinggal di dalam hatinya. Meski berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, Aluna tetap tidak bisa mengabaikan firasat aneh yang sejak tadi mengganggunya.“Ya s

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 46

    Aluna turun dari mobil setelah pintunya dibukakan oleh seorang petugas keamanan yang berjaga di depan gedung. Ia tersenyum ramah dan mengucapkan terima kasih sebelum berjalan berdampingan dengan Pak Beni menuju pintu utama.Gedung kantor pusat itu menjulang tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari yang mulai meninggi. Meski Aluna sudah beberapa kali datang ke sana, tetap saja ada rasa kagum setiap kali melihat gedung yang dibangun oleh kakek dan ayahnya itu.Begitu memasuki lobi, perhatian banyak orang langsung tertuju pada dirinya."Selamat ya, Bu Aluna.""Selamat atas kehamilannya, Bu.""Semoga sehat selalu, Bu."Ucapan demi ucapan terus diterimanya dari para karyawan yang berpapasan. Ada yang tersenyum, ada yang bahkan sampai berhenti sejenak menyampaikan doa untuknya.Aluna hanya bisa membalas dengan senyum kikuk."Terima kasih.""Terima kasih ya."Semakin banyak ucapan yang diterimanya, Aluna dibuat semakin bingung."Kenapa mereka bisa tahu kehamilanku?" gumamnya

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 45

    “Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama Ragil sibuk. Dari pagi sampai sore isinya rapat semua.”“Nggak apa-apa, Yah,” balas Aluna cepat. “Nanti aku bisa nunggu di ruangan Mas Ragil atau di ruangan Ayah. Kalau udah capek, aku pulang sama sopir.”“Kamu yakin nggak bosan?” tanya Pak Beni.“Daripada di rumah terus,” jawab Aluna sambil memajukan bibirnya sedikit. “Aku bosan, Yah.”Pak Beni terdiam sejenak. Ia tahu putrinya pasti sangat bosan berada di rumah walaupun banyak ART yang menemani. Apalagi selama Ragil berada di luar negeri, Aluna hampir tidak memiliki kegiatan selain kontrol kehamilan, menemani dirinya, dan sesekali pergi bersama Ririn.“Di kantor nggak ada yang bisa nemenin kamu,” ujar Pak Beni lagi.“Nggak apa-apa. Luna b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status