FAZER LOGINBeberapa hari kemudian...Viana sedang menata kemasan makanan ringan dan bumbu dapur di rak pajangan ketika sebuah suara menyapa indra pendengarannya dari arah belakang."Viana."Seketika tubuh Viana menegang mendengar suara yang familiar itu, suara yang sosok pemiliknya sudah mulai Viana lupakan. Kemasan bumbu dapur yang semula berada dalam genggamannya, tanpa sadar terlepas dan menimbulkan bunyi 'pluk' ketika benda itu bertemu dengan lantai.Dengan dada berdebar kencang, Viana memutar tubuhnya perlahan dan ketika tubuhnya sudah berdiri sempurna berhadapan dengan orang yang menyerukan namanya itu, sepasang bola matanya sontak terbelalak lebar."M-mas Yanto," desisnya lirih.Ya, ternyata orang yang memanggil Viana itu adalah Yanto. Berbanding terbalik dengan Viana yang tampak terkejut melihat kehadiran Yanto, Yanto malah terlihat sangat gembira dan tersenyum lebar melihat sosok yang selama ini begitu dirindukannya sedang berdiri di hadapannya."Benar, Dek. Ini aku, suamimu," sahut Yan
Galuh menatap Yanto dengan tatapan datar. Wanita yang kini memegang mandat dari Viana untuk mengurus perceraiannya itu tetap bersikap tenang, tak tergoyahkan meski lawan bicaranya terkesan mengintimidasi lewat perkataannya barusan. Sudut bibirnya sedikit melengkung, dia bisa merasakan nada keputusasaan dalam gertakan Yanto itu."Saya memang mengetahui alamat Viana, tetapi Viana sudah berpesan kepada saya untuk tidak memberitahukannya kepada Anda dan saya akan memegang amanat dari Viana itu. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa membantu Anda, Pak Yanto," ucap Galuh jujur."Tolonglah saya, Bu. Beritahukan alamatnya. Saya tidak akan menganggunya, saya hanya ingin mengetahui keadaannya, apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Yanto dengan memelas, berharap Galuh akan luluh.Tidak pernah terlintas dalam pikiran Yanto bahwa Viana akan kembali ke rumah orang tua angkatnya karena Yanto beranggapan bahwa Viana pasti tidak akan berani pulang ke sana. Viana pasti akan malu kalau ketahuan kabur
Di siang hari yang terik itu, sebuah mobil mewah berwarna merah metalik memasuki halaman luas sebuah gedung. Mobil tersebut terus meluncur menuju area parkiran. Setelah menemukan tempat parkir yang pas, mobil pun berhenti dan dari dalam turunlah dua orang pria dan wanita. Keduanya berjalan menuju gedung dengan langkah lebar.Ketika hendak memasuki area dalam gedung, tiba-tiba langkah si pria terhenti dan itu membuat wanita yang berjalan di sampingnya menjadi heran dan bertanya-tanya."Bang, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya si wanita.Si pria tidak menjawab. Dia malah menatap nanar bangunan bercat putih yang berdiri kokoh di hadapannya, mulai dari bagian atas gedung hingga ke bawahnya."Bang!" tegur si wanita sekali lagi.Si pria memandang si wanita lalu menghembuskan napas berat."Abang kenapa sih? Kok jadi galau kayak gini?" protes si wanita."Apakah ini akhirnya, Run? Apa memang harus begini nasib pernikahanku dengan Viana?""Ish, Abang ini gimana sih, tadi sebelum datang ke sini, A
Tok tok tok.Suara ketukan di pintu kamarnya mengalihkan atensi Bayu yang semula fokus pada layar televisi di depannya."Siapa?" tanyanya seraya beringsut turun dari ranjang."Ini Riani, Pa," sahut orang di balik pintu.Refleks Bayu menolehkan kepalanya menatap jam pada dinding kamarnya."Sudah jam sepuluh malam. Tidak biasanya Riani belum tidur jam segini. Ada apa, ya?"Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Bayu berjalan ke pintu kamar lalu membukanya."Riani? Ada apa, Nak?""Papa...aku boleh masuk ke dalam? Ada yang ingin Yani tanyakan sama Papa.""Tentu saja boleh, ayo masuk Sayang."Keduanya lalu berjalan beriringan masuk ke dalam kamar Bayu dan duduk di pinggir ranjang. Bayu mengambil remote TV lalu dengan sekali pencet, layar TV langsung berubah gelap."Nah Riani, sekarang apa yang mau kamu tanyakan?"Riani terlihat ragu sejenak, tetapi sejurus kemudian gadis cilik itu memberanikan dirinya."Pa...apa benar tante Viana tidak mau jadi mamanya Yani?" tanyanya dengan suara lirih.
Bu Ajeng memasuki rumah dengan langkah gontai. Setibanya di dalam rumah, dia melemparkan tas nya begitu saja di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Peristiwa tadi masih membayang di pelupuk matanya membuat rasa geram di hatinya kembali membuncah."Kurang ajar perempuan itu! Aku ditipunya mentah-mentah. Di depanku berlagak seperti perempuan baik dan anggun, tetapi di belakangku dia tak ubahnya seperti perempuan murahan yang tidak ada harga dirinya bahkan kini dia sedang mengandung anak haram dalam perutnya. Benar-benar menjijikkan. Untung Bayu bersikeras menolak, kalau sempat Bayu juga tertarik padanya, mau dikemanakan mukaku ini, punya menantu yang kelakuannya kayak pelacur!" umpat Bu Ajeng dengan suara lirih."Apa Nek? Nenek ngomong apa?" tanya Riani yang mendengar suara gumaman neneknya."Hah? Oh...eh...nenek tidak ngomong apa-apa, kok," bohong Bu Ajeng."Masak sih, Nek? Tadi Riani dengar Nenek kayak bicara-bicara sendiri, kayak ngomel-ngomel gitu," cecar Riani dengan dah
Meskipun bibirnya menggumamkan beberapa kali kalimat sangkalan, tetapi kenyataan di depan matanya tetap tidak berubah. Sosok wanita berbalut selimut itu masihlah tetap Veby meskipun wajahnya terlihat lebam dan di sudut bibirnya terdapat cairan merah, entah karena apa.Saking syoknya, Bu Ajeng sampai terhuyung mundur dua langkah dan secara tidak sengaja dia menginjak kaki orang yang berdiri di belakangnya."Hei, Bu. Hati-hati, dong! Liat nih, kaki saya keinjek sama Ibu," protes orang tersebut."Ma-maaf, saya tidak sengaja," ucap Bu Ajeng menatap orang itu, tetapi sejurus kemudian dia terperanjat ketika melihat wajah orang yang kakinya dia injak."Lastri?"Wanita yang dipanggil Lastri itu pun menatap Bu Ajeng dengan dahi berkerut, berusaha mengingat siapa orang di depannya ini dan kenapa orang ini bisa tahu namanya."Ajeng? Benar ini kamu, Jeng?" Lastri malah balik bertanya."Iya, benar. Kok kamu bisa ada di sini, Las?" tanya Bu Ajeng."Lah, aku kan tinggal di sini," sahut Bu Lastri."O
Viana mengekor langkah Yanto sambil menjinjing tas yang berisikan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit."Dek!" panggil Yanto kepada Viana setelah mereka duduk berdampingan di kursi sofa."Ya, kenapa Mas?" tanya Viana.Yanto terlihat ragu sejenak, tetapi kemudian dia
Runi sengaja tidak menceritakan kejadian pada waktu dia disuruh oleh Viana untuk mencuci piring bekas sarapannya karena Runi tahu kalau dia juga menceritakan hal tersebut, yang ada Yanto malah berpihak kepada Viana karena Yanto juga pernah menyuruhnya untuk ikut membereskan peralatan dan barang-b
Tidak berapa lama kemudian taksi online yang dipesan Viana pun tiba. Dengan dibantu oleh supir taksi, mereka berhasil membawa Runi masuk ke dalam mobil."Kamu di rumah saja, Dek. Biar mas yang membawa Runi ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa, nanti mas telepon kamu," ujar Yanto."Baik
Siang bergulir berganti sore dan akhirnya tiba lah jam Yanto pulang kerja."Sudah pulang, Mas?" tanya Viana."Hm...," jawab Yanto datar karena masih kesal kepada Viana atas kejadian tadi pagi."Tolong ambilkan mas minum," titah Yanto sambil mendudukkan tubuhnya pada kursi di







