Share

Perdebatan Kecil

Author: Kurnia_cy
last update publish date: 2025-11-22 17:00:42

"Ngapain kamu di dalam? Sudah beberapa kali aku panggil-panggil kamu, tapi kamu diam saja," ucap Viana dengan kesal.

"Tidur, Mbak. Aku ngantuk," balasnya tak kalahkan jutek.

Ya, Runi sengaja berbohong untuk menutupi hal yang menjadi aibnya itu. Tak bisa dia bayangkan bila sampai Viana dan Yanto mengetahui hal ini. Yanto pasti akan marah besar padanya.

Sedangkan Viana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya itu.

Tidak berapa lama kemudian, Runi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Resmi Bercerai

    Viana terus menatap kedua orang itu dengan tajam. Rasa kesal mencuat dalam hatinya. Sungguh, dia malas sekali kalau harus berurusan lagi dengan mereka.“Mau apa lagi kalian kemari?!” tanya Viana dengan ketus ketika dua orang itu telah berdiri di hadapannya. Mereka adalah Yanto dan Feyla. Seperti yang diketahui sebelumnya, Yanto dan Feyla berniat menemui Viana dan membujuknya untuk mencabut laporannya lantaran saat ini Feyla tengah berbadan dua.Reva yang saat itu masih berdiri di samping Viana tercengang melihat perubahan sikap Viana yang tadi terlihat ceria sekarang berubah menjadi dingin ketika bertemu dengan kedua orang itu.“Kita harus bicara, Dek. Ada—““Viana. Panggil aku Viana. Aku tidak suka dipanggil seperti tadi!” tekan Viana ketus.“Baiklah. Viana, ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu,” ucap Yanto dengan nada serius.Viana menatap Yanto dan Feyla bergantian. Dia bisa menangkap aura ketegangan pada wajah keduanya meskipun Feyla berusaha menutupinya dengan sikap s

  • Madu Pemberian Ipar    Feyla Hamil

    Yanto serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri sehingga dia mengulangi kembali ucapan dokter Rico.“Benar, Pak. Tapi saat memeriksa kondisi pasien tadi, kami menemukan bahwa tekanan darahnya naik. Pasien sempat bercerita kalau tadi dia sedang emosi. Kondisi ini dapat membahayakan kandungannya. Jadi Pak, saya harap dengan mengetahui kehamilan ini, Bapak bisa membantu istri Bapak untuk menjaga emosinya agar lebih stabil dan tidak gampang marah-marah,” papar dokter Rico.Wajah Yanto yang tadinya sumringah kini berubah sedikit muram. Rasa penyesalan timbul di dalam hatinya. Bagaimana tidak, karena ulahnya yang nekat mencari Viana secara diam-diam membuat dirinya bertengkar dengan Feyla yang berujung pada terancamnya calon anak mereka yang saat ini ada dalam rahim istrinya itu meskipun pada awalnya dia sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilan Feyla tersebut.“Baik, Dok. Terima kasih telah menolong istri saya.”“Sama-sama, Pak. Itu sudah merupakan tugas kami. Saat ini istri Bap

  • Madu Pemberian Ipar    Perdebatan Suami Dan Istri

    Langit pada siang hari itu tampak mendung. Awan-awan hitam menggantung di angkasa, menyembunyikan sang surya dalam dekapannya. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan pasir dan debu yang ada di jalanan membuat pedih mata orang yang dimasukinya. Orang-orang yang sedang berlalu lalang tampak bergegas dan mempercepat langkah karena mereka sudah bisa memprediksi bahwa sebentar lagi sekumpulan air dalam jumlah besar akan mengguyur bumi.Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian hujan turun dengan deras disertai angin yang makin kencang. Udara terasa dingin seketika membuat tubuh menggigil.Akan tetapi, suasana tersebut berbanding terbalik dengan suasana di dalam sebuah ruangan di suatu gedung perkantoran yang saat ini sedang diliputi aura ketegangan karena adanya suatu masalah.“Jelaskan padaku, Mas! Kenapa bisa ada surat panggilan dari kepolisian untukmu? Apa yang sudah kau lakukan sampai kau harus berurusan dengan pihak kepolisian?!” cecar Feyla dengan nada keras sambil mengacung-acun

  • Madu Pemberian Ipar    Ke Kantor Polisi

    Tendangan itu cukup membuat Yanto kesakitan sehingga gunting yang tadi dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai sedangkan cekalannya pada Viana mulai melonggar. Menyadari ada kesempatan untuk membebaskan diri, Viana segera mendorong tubuh Yanto ke samping dan dengan cepat dia berlari menjauhi Yanto, bersembunyi di belakang bu Nining dengan tubuh yang masih gemetaran karena syok dengan perilaku Yanto tadi.“KURANG AJAR! SIAPA YANG MENENDANGKU?!” teriak Yanto dengan suara keras. Matanya berputar cepat menyapu wajah orang-orang di sekitarnya. Kilatan amarah terpancar jelas dari bola matanya yang memerah.“AKU!”Sesosok tubuh ramping berbalut baju kaos dan celana jeans dengan potongan rambut pendek maju dan berdiri tegap di hadapan Yanto.‘Vera?’ gumam Viana terkejut dalam hatinya. Vera adalah anak pemilik toko bangunan yang ada di sebelah minimarket bu Nining. Gadis itu berusia dua puluh lima tahun dan Viana sudah berkenalan dengan Vera beberapa hari setelah dia bekerja di minimarket ter

  • Madu Pemberian Ipar    Pertemuan Yang Tidak Diinginkan 

    Beberapa hari kemudian...Viana sedang menata kemasan makanan ringan dan bumbu dapur di rak pajangan ketika sebuah suara menyapa indra pendengarannya dari arah belakang."Viana."Seketika tubuh Viana menegang mendengar suara yang familiar itu, suara yang sosok pemiliknya sudah mulai Viana lupakan. Kemasan bumbu dapur yang semula berada dalam genggamannya, tanpa sadar terlepas dan menimbulkan bunyi 'pluk' ketika benda itu bertemu dengan lantai.Dengan dada berdebar kencang, Viana memutar tubuhnya perlahan dan ketika tubuhnya sudah berdiri sempurna berhadapan dengan orang yang menyerukan namanya itu, sepasang bola matanya sontak terbelalak lebar."M-mas Yanto," desisnya lirih.Ya, ternyata orang yang memanggil Viana itu adalah Yanto. Berbanding terbalik dengan Viana yang tampak terkejut melihat kehadiran Yanto, Yanto malah terlihat sangat gembira dan tersenyum lebar melihat sosok yang selama ini begitu dirindukannya sedang berdiri di hadapannya."Benar, Dek. Ini aku, suamimu," sahut Yan

  • Madu Pemberian Ipar    Usaha Yang Gagal

    Galuh menatap Yanto dengan tatapan datar. Wanita yang kini memegang mandat dari Viana untuk mengurus perceraiannya itu tetap bersikap tenang, tak tergoyahkan meski lawan bicaranya terkesan mengintimidasi lewat perkataannya barusan. Sudut bibirnya sedikit melengkung, dia bisa merasakan nada keputusasaan dalam gertakan Yanto itu."Saya memang mengetahui alamat Viana, tetapi Viana sudah berpesan kepada saya untuk tidak memberitahukannya kepada Anda dan saya akan memegang amanat dari Viana itu. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa membantu Anda, Pak Yanto," ucap Galuh jujur."Tolonglah saya, Bu. Beritahukan alamatnya. Saya tidak akan menganggunya, saya hanya ingin mengetahui keadaannya, apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Yanto dengan memelas, berharap Galuh akan luluh.Tidak pernah terlintas dalam pikiran Yanto bahwa Viana akan kembali ke rumah orang tua angkatnya karena Yanto beranggapan bahwa Viana pasti tidak akan berani pulang ke sana. Viana pasti akan malu kalau ketahuan kabur

  • Madu Pemberian Ipar    Emosi Yanto

    Malam hari itu di kamar Viana."Mau apa lagi kamu ke sini, Mas? Nanti istri muda mu marah kalau tahu kamu ke sini," ucap Viana dengan nada datar."Jangan begitu, Dek. Bagaimana pun juga kamu masih istri mas dan menjadi tanggung jawab mas untuk memperhatikanmu," ucap Yanto."Sudahlah, jangan bertele

  • Madu Pemberian Ipar    Permintaan Bik Imah

    "Aduh mamaku sayang, aku kan sudah bilang kalau aku gak tertarik sama cewek seperti itu. Aku memang nggak terlalu kenal sama dia walaupun aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia adalah tetangga Mika dan aku ketemu dengan dia waktu aku menginap di rumah Mika. Memang dia itu agak sedikit kege

  • Madu Pemberian Ipar    Bayar Dulu Dong, Kak!

    Runi menepuk pelan keningnya. Saking terburu-burunya ingin pergi dari situ, dia sampai melupakan bahwa dia telah memesan makanan di sana.Namun, sekarang dia tiba-tiba saja tidak berselera lagi dengan makanan itu."Batalin aja, aku lagi buru-buru sekarang. Gak sempat makan," ucapnya sambil bersiap

  • Madu Pemberian Ipar    Pacar Jimmy?

    'Oh, namanya Jimmy toh,' gumam Runi dalam hati.Setelah merasa agak baikan, Jimmy segera menegakkan tubuhnya dan menatap Runi yang ternyata sudah mengambil tempat duduk di dekatnya dengan tatapan nyalang."Mau apa kamu ke sini? Kami tidak pernah mengundangmu. Lebih baik kamu kembali ke tempatmu. Ga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status