LOGIN"Bimo brengsek! Sialan kau!" maki Runi dengan emosi yang menggebu. Sungguh menyakitkan rasanya dicampakkan oleh pria yang dulu sangat mengagung-agungkan dirinya sekaligus juga pernah menikmati tubuhnya.
Di tengah rasa marah, sakit hati, kecewa dan bingung yang dirasakannya, Runi akhirnya berjumpa dengan seorang teman lamanya.
Berbekal cerita bohong yang dikarangnya, Runi berhasil mendapatkan tumpangan di rumah temannya yang bernama Wini.
Namun, ketenangan yang Runi rasaka
Sementara itu, Feyla yang kini sudah berada di dalam kamar tampak menggeram kesal akibat Yanto yang berani menamparnya."Mas Yanto sungguh keterlaluan. Teganya dia menamparku seperti ini hanya demi membela perempuan munafik itu," gumamnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Rasa sakit bekas tamparan itu masih terasa dan hal itu kian menambah kebenciannya kepada Viana."Semua ini gara-garamu, Viana! Aku harus membalasmu, aku tidak rela diperlakukan seperti ini dan aku pastikan kau tidak akan bisa kembali lagi ke sisi mas Yanto. Kau harus enyah dari kehidupan kami," geramnya."Mudah-mudahan perempuan itu tidak akan pernah lagi kembali ke rumah ini dan kalau pun dia balik, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusirnya dari sini," tekad Feyla sambil sesekali mengusap pipinya yang terasa perih.Kemudian Feyla meraih ponsel yang ada di sampingnya, mengirim pesan kepada Susi agar mengurus Randy dengan baik karena untuk sementara ini dia tidak mau keluar kamar. Dia juga mengirim p
Akhirnya setelah sekian detik mematung, Feyla memberanikan diri untuk bertanya, meski dia tahu saat ini Yanto tengah dikuasai emosi. Sedikit rasa khawatir menyelusup ke dalam hatinya, tetapi rasa penasaran mengalahkan kekhwatirannya itu."Mas...apa yang terjadi?" tanyanya dengan hati-hati sambil melangkah pelan memasuki kamar yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca yang berserakan sedangkan Runi lebih memilih tetap berdiri di ambang pintu kamar.Yanto mengangkat wajahnya dan Feyla bisa melihat kilatan emosi dan kecemasan terpatri di wajah itu secara bersamaan."Viana sudah pergi, Fey. Dia benar-benar pergi dari sini, semua barangnya sudah dibawa dan dia meninggalkan sepucuk surat yang memberitahukan kepergiannya," adu Yanto dengan suara serak.Feyla terdiam, dalam hatinya bersorak gembira, tapi tak diperlihatkannya secara terang-terangan. Begitu juga hal nya dengan Runi. Seulas senyuman merekah di bibirnya kala mendengar berita tersebut.'Akhirnya dia pergi juga. Kini aku tidak perlu
Apa sih kelebihan perempuan itu di mata mas Yanto sampai segitunya dia bersikap. Kaya nggak. Cantik? Lebih cantikan aku, bahkan dia itu mandul. Apa lagi yang mau dipertahanin dari perempuan model itu,' gerutunya dalam hati.Namun, tentu saja dia tidak bisa meluapkan semua itu untuk saat ini karena dia menyadari bahwa suaminya sedang dalam keadaan kesal."Viana! Viana!" teriak Yanto seraya membuka pintu kamar Viana.Kosong dan sunyi. Pemandangan itulah yang disaksikan oleh Yanto ketika pintu kamar telah terbuka.Ranjang nampak bersih dan rapi seperti tidak pernah ditiduri. Perlahan lelaki itu melangkah masuk ke dalam. Kedua matanya menyapu sekeliling ruangan. Dia melihat meja rias yang biasanya diisi oleh beberapa peralatan make up dan skincare milik Viana kini tampak bersih tanpa ada satu benda pun di atasnya.Perasaan tidak nyaman langsung menghinggapi dirinya.Dengan jantung berdebar kencang, Yanto menuju ke lemari pakaian, membukanya dengan gerakan cepat dan seketika itu juga, kedu
"Iya, Mbak. Soalnya aku udah blank banget. Bayang-bayang perlakuan Yanto pada diriku terus terbayang-bayang di depan mataku dan ada sebuah dorongan kuat dari dalam diriku untuk segera keluar dari rumah itu.""Lantas kau tidur dimana semalam? Kenapa tidak ke rumahku saja?""Mana berani aku ganggu orang di tengah malam kayak gitu, Mbak. Apalagi ada suami Mbak di rumah. Makin seganlah aku. Jadi malam itu, aku numpang tidur di penginapan yang terletak di ujung gang ini, penginapan yang punya bu Helen itu lho.""Pagi harinya aku langsung ke rumah sakit untuk melakukan visum dan dari sana aku langsung ke sini. Tapi sebelumnya aku menelepon Mbak dulu karena ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan selain masalah perbuatan si Yanto itu."Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena pelayan kafe datang mengantarkan pesanan Viana.Mika menatap pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja. Dua porsi makanan dan dua gelas minuman disajikan oleh pelayan itu dengan hati-hati. Setelah selesai, pe
"Papa kok lama kali sih datang ke sini. Randy sudah lapar tau," omelnya dengan mulut manyun."Maafkan Papa, Sayang. Tadi papa ada sedikit urusan. Sekarang kita makan aja, yuk," ajak Randy."Oke, ayok Papa.""Papa aja yang diajak makan. Mama gimana? Mama jadi sedih deh kalau Randy gak ngajakin mama." Feyla berpura-pura merajuk dan memasang raut wajah sedih."Iya, mama juga. Ayok," sahut Randy sambil menggandeng tangan Feyla dan Yanto masing-masing di sisi kiri dan kanan tubuhnya.Susi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum tipis. Di satu sisi dia sedikit terbawa arus dalam suasana bahagia yang diperlihatkan oleh keluarga kecil itu, tetapi di satu sisi, hatinya miris mengingat bahwa kebahagiaan itu dibangun di atas penderitaan wanita lain."Mbak Susi, aku mau suap sendiri saja," pinta Randy sambil mengambil alih piringnya dari tangan Susi.Setelah menyerahkan piring kepada Randy, Susi segera undur diri untuk mengambil tas sekolah Randy sekaligus mengecek buku dan peralatan sekolahnya
"Kenapa harus begitu, Kak? Kan Kakak tau sendiri kalau hubunganku dengan si Viana itu tidak baik. Jadi mana mau dia kalau aku suruh – suruh," ucap Runi kala itu."Ya, itu sih tergantung pandai-pandainya kamu saja. Jika dia tidak mau, ya kamu coba saja kerjakan sendiri atau kalau tidak, kamu pakai jasa orang lain. Kalau aku, bila lagi mood aku akan lakukan pekerjaan rumah, tapi kalau tidak, aku akan sewa jasa pembersih rumah dan memesan makanan dari luar. Beres, kan?""Tapi Kak, nanti uangku jadi cepat habis. Lagipula aku lihat si Viana ini tidak seperti yang Kakak harapkan. Dia sering memesan makanan dari luar, sesekali saja dia memasak dan itu pun hanya untuk dirinya sendiri, kalau untuk urusan bersih-bersih, dia hanya mau membersihkan kamarnya saja dan bagian dapur kalau dia selesai memasak serta piring bekas makan dan gelas bekas minumnya. Benar-benar bergaya seperti nyonya dia," adu Runi dengan maksud agar Feyla memarahi Viana."Aku tau itu. Makanya kemarin ini aku pekerjakan Bik







